
"Le, gue harus gimana ya?"
Marsha mengirim pesan singkat pada Lea.
"Gimana apanya kak?" tanya Lea kemudian.
"Gue lagi di rumah nyokap-bokap. Tadi gue tuh nggak bisa makan banyak, karena mual banget. Terus nyokap gue nanya gue kenapa."
"Terus lo jawab apa kak?" tanya Lea lagi.
"Gue bilang aja lagi nggak enak badan. Terus sekarang gue di kamar. Gue bingung banget nutupin semua ini. Tadi aja nyokap mau ngasih gue obat. Tapi kan nggak bisa asal minum obat kalau lagi begini."
"Iya nggak boleh kak, mesti konsultasi ke dokter dulu."
"Gue nanti gimana ya, Le. Takut orang tua gue murka sama gue. Takut mereka nanti jadi marah banget dan nyakitin pak Ellio."
Lea menghela nafas sambil membaca pesan tersebut. Jujur ia juga bingung dalam menghadapi permasalahan ini. Pasalnya ia tidak mengalami kasus hamil duluan seperti Marsha.
Ia dinikahi terlebih dahulu oleh Daniel, baru kemudian di hamili. Ia juga pasti akan kalut jika berada di posisi Marsha saat ini. Terlebih Marsha memiliki keluarga yang utuh dan juga berasal dari daerah dimana orang-orangnya terbilang keras. Pastilah ia sangat ketakutan dan berpikir macam-macam.
"Pokoknya lo tenang dan berpikir positif aja kak. Jangan terlalu mikirin kemungkinan yang belum tentu terjadi. Sebab kalau lo banyak mikir yang aneh-aneh, itu bisa berpengaruh terhadap kesehatan dan mental lo. Nanti pengaruh ke anak yang di dalam."
Marsha yang menghela nafas kali ini.
"Iya, Le. Tapi menurut lo gimana?. Pak Ellio serius nggak sih mau nikahin gue?"
"Iya, serius koq. Gue berani jamin dia nggak akan berubah pikiran. Kalau dia sampe kayak gitu, gue duluan yang bakal mencak-mencak." balas Lea.
"Makasih banyak ya, Le. Gue ini nggak ada cerita ke siapapun. Ke teman-teman dekat gue pun nggak. Takut di cibir gue sama mereka. Lagipula gue nggak nyangka bakalan hamil secepat ini. Gue pikir nggak akan kenapa-kenapa. Bodoh banget gue ya, Le?. Sekarang gue pusing sendiri."
"Lo nggak pusing sendirian koq kak. Om Ellio juga saat ini mikirin gimana kalian kedepannya. Nggak usah khawatir karena semua udah di siapkan. Tinggal nunggu dia lebih sehat lagi aja, terus mau langsung ke rumah orang tua lo."
Marsha lagi-lagi menarik nafas. Dalam hati ia lega, meski masih banyak ketakutan yang ia simpan. Seperti takut jika kedatangan Ellio akan di tolak, atau Ellio akan di hajar oleh keluarganya.
"Tapi Le, kalau nanti mereka nyakitin pak Ellio gimana?"
"Ya biarin aja. Mereka mau melampiaskan kemarahan. Dan om Ellio juga pastinya udah mempersiapkan diri. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Lagian kan ada ayah sama mas Daniel. Mereka berdua juga bakalan melindungi om Ellio koq, kalau sampai keluarga lo keterlaluan."
"Iya sih."
__ADS_1
"Udah kak, lo tenang aja." ujar Lea lagi.
"Iya deh, gue mau mencoba tenang dan berpikir positif dulu. Tapi sudah banget, Le."
"Emang susah, tapi di coba aja kak. Pikirin anak yang ada di dalam."
"Iya deh." jawab Marsha kemudian
"Oh ya Le, masa dokter bilang. Kalau mual ya gue harus makan. Gimana mau makan, kalau perut gue aja pengennya muntah."
"Hahaha." Lea balas tertawa.
"Gue juga dulu gitu koq kak." jawabnya kemudian.
"Emosi gue waktu dokter ngomong kayak gitu. Gue pikir gimana bisa makan, saat kondisi perut lagi mual parah. Tapi ternyata setelah di coba pelan-pelan, makan itu mengurangi mual dengan signifikan."
"Lo makan apa waktu itu?" tanya Marsha lagi.
"Gue makan yang anget-anget, kak. Kayak sop ayam, bakso, atau sup daging gitu. Enak deh setelahnya, coba aja."
"Ntar deh gue bikin. Disini nggak enak, nyokap gue masak banyak tadi. Itu aja gue nggak bisa makan. Lagi gue minta bikinin sup ini dan itu. Bisa mencak-mencak nyokap gue."
"Ya udah sini, ke rumah ayah. Ntar gue buatin." ujar Lea.
"Kan jadwal gue lagi nginep, Le."
"Oh ya?"
"Iya, jadwal nginep mingguan. Makanya gue tuh dari kemaren takut, deg-degan mau kesini. Secara nyokap gue itu kan pernah hamil, banyak lagi anaknya. Takut aja dia curiga kalau gue lagi on the way melendung."
"Iya sih, kadang naluri dan firasat seorang ibu nggak bisa di remehkan. Mereka itu lebih dari penyidik kalau udah curigaan."
"Makanya. Gue itu sampe menyesali diri banget, Le. Kenapa juga gue luluh dan mau waktu dipaksa pak Ellio. Harusnya gue bisa nolak."
"Udalah kak, jangan di sesali terus. Sekarang kan yang penting kedepannya gimana. Om Ellio kan udah mau bertanggung jawab sama lo, jadi ya udah. Banyak loh cowok yang asal menghamili anak orang, terus ilang. Ini om Ellio mau mengakui dan nggak pergi kemana-mana."
"Iya, gue drama banget ya Le?"
"Wkwkkwk, biasa aja koq kak. Gue paham lo khawatir dalam situasi ini. Gue juga kalau ada di posisi lo, bakalan sama kalutnya. Pokoknya lo tenang-tenang. Istirahat yang cukup. Trisemester pertama itu adalah masa paling rentan buat ibu hamil."
__ADS_1
"Iya, makasih banyak ya Le. Gue jadi sedikit lega sekarang. Tadi pikiran gue kayak sesak banget. Kayak kepala gue tuh ketimpa batu gede. Tapi sekarang udah nggak begitu."
"Iya kak, sama-sama. Pokoknya kalau ada apa-apa bilang aja ke gue. Siapa tau gue bisa bantu."
"Oke deh, makasih sekali lagi. Ntar gue chat lo lagi deh. Mau ngerjain tugas kantor dulu dikit."
"Oke kak." jawab Lea.
***
"Chat sama siapa, Le. Serius amat."
Daniel yang baru saja masuk memperhatikan Lea. Lea sendiri masih berada di laman WhatsApp dan belum keluar.
"Ini mas, si Marsha." jawab Lea.
"Kenapa dia?" tanya Daniel kemudian.
"Dia curhat, lagi balik ke rumah orang tuanya. Terus pas disana dia mual parah, nggak bisa makan banyak. Orang tuanya nanyain Marsha kenapa."
"Terus dia jawab apa?"
"Dia jawab lagi mual karena asam lambung. Terus ibunya mau kasih dia obat."
"Lah terus dia minum obat?"
"Nggak sih, dia sekarang di kamar. Tapi tuh dia takut dan bingung ke depannya gimana."
Daniel menghela nafas lalu duduk disisi Lea.
"Aku, Richard sama Ellio akan usahakan secepatnya menghadap orang tua Marsha. Paling dalam Minggu ini." ujar Daniel.
"Janji ya mas, jangan ngulur-ngur waktu. Ntar keburu buncit anak orang. Kasian dia nanti malu pas nikah."
"Iya, aku pastikan itu koq. Bilang sama Marsha jangan mikir macem-macem, Ellio nggak akan lari kemana-mana."
"Iya mas." jawab Lea kemudian.
***
__ADS_1