
"Dan, maafkan Lea ya. Kalau dia kadang masih seperti anak kecil."
Ibu Lea berujar, ketika ia akhirnya diajak bertemu oleh Daniel dan juga Lea. Daniel beserta ibu mertuanya itu tengah duduk di pojok toko roti. Sedang Lea dan Adisty juga Ellio tengah memilih roti dan cake yang mereka inginkan.
Kebetulan Adisty diajak oleh Lea. Sebab tadi saat di kampus, Lea mengatakan jika ia akan menemui Daniel dan juga Ellio di toko roti milik ibunya. Maka Adisty pun memutuskan untuk ikut. Sedang Ariana sudah ada janji dengan Hans.
"Nggak apa-apa, bu. Emang Lea juga masih kecil, masih umur segitu. Mau dipaksa jadi sedewasa apapun, nggak akan bisa. Biarin aja dia menjadi dewasa secara normal, seiring dengan berjalannya waktu." jawab Daniel.
"Semuanya butuh proses." lanjutnya lagi.
"Ibu tuh cuma khawatir. Kamu kan pria dewasa, dan banyak bertemu dengan perempuan dewasa juga di luar sana. Nggak enak kalau mendengar kamu dibuat nyaman oleh wanita dewasa yang kamu temui, dan akhirnya Lea kamu tinggalkan. Karena sifatnya yang masih begitu. Kadang ibu lihat dia suka menjawab nasehat kamu, ngambek minta dituruti keinginannya. Ibu merasa gagal mendidik Lea."
Kali ini Daniel tersenyum, bahkan tertawa kecil.
"Lea itu cukup dewasa untuk usianya bu, kadang." ujar Daniel pada sang ibu mertua.
"Di beberapa sisi dia dewasa. Tapi adakalanya juga dia bersikap seperti anak kecil. Suka ngambek, menjawab apa yang saya bilang ke dia, dan suka merengek sama saya. Saya mencoba memahami dia dari sisi psikologis. Sejak kecil dia nggak punya ayah yang bisa dia jadikan tempat untuk bermanja-manja. Baru sekarang dia ketemu sama ayahnya. Jadi sangat wajar kalau sikap dia ke saya kadang begitu. Ya, saya memaklumi aja sambil saya ajari pelan-pelan dan berusaha kasih contoh yang baik. Sebab sebaik-baiknya nasehat itu adalah memberi contoh. Bukan hanya menuntut supaya orang begini dan begitu, sementara kita sendiri tidak mencontohkan, tidak mencerminkan."
Ibu Lea mendengar semua yang dikatakan Daniel.
"Lagipula saya mau menutut Lea gimana lagi sih?. Harus menjadikan dia sesempurna tokoh di dalam fiksi?. Yang bersikap seperti bidadari, lemah lembut, penuh puisi dan perumpamaan kepada suami. Saya rasa itu terlalu omong kosong dan cuma ada di novel atau dongeng."
Ibu Lea tertawa, begitupula dengan Daniel.
"Bener kan?" tanya Daniel pada wanita itu.
Sang ibu mertua pun mengangguk-anggukan kepalanya sambil masih terus tertawa. lalu Daniel kembali melanjutkan perkataan.
__ADS_1
"Pada kenyataannya, orang yang menikah itu harus sama-sama pengertian dan saling memberikan ruang untuk tumbuh serta berkembang. Kita nggak bisa merubah karakter atau sifat dan sikap seseorang, hanya karena kita ini sudah terikat sebuah pernikahan."
Ibu Lea kembali mengangguk-anggukan kepalanya.
"Sering kan kita dengar, "Kamu itu udah nikah, kamu harus menjadi dewasa. Inilah, itulah." Pernah kan bu denger yang kayak gitu?"
"Iya." jawab ibu Lea kemudian.
"Padahal kedewasaan itu sangat membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Kedewasaan itu nggak bisa dipaksa hanya karena kita sudah menikah. Karena menikah itu bukan ajang untuk merubah karakter seseorang. Kecuali soal ibadah, keuangan, kebiasaan suka mabuk dan hura-hura mungkin bisa di ubah. Masalah sifat dan sikap atau karakter seseorang sendiri sangat sulit. Kalau nggak mau menikah sama orang yang sikap atau sifatnya nggak kita suka, ya jangan nikahi orang itu. Nikahi aja yang kita suka sifat dan sikapnya."
"Iya, kayak contoh ibu dulu. Berharap suami ibu itu seperti suami orang. Yang baik, lembut kepada anak istri, tidak suka berjudi, kuat cari nafkah untuk keluarga. Tapi ibu menikahi orang yang salah. Hanya berharap dia berubah menjadi apa yang ibu inginkan dan itu nggak bisa."
Daniel menarik nafas dan memperhatikan sang ibu mertua.
"Kayak gitu juga Lea, bu. Dari awal menikahi dia saya juga udah sadar, bahwa yang saya hadapi itu remaja. Kadang saya lepas kendali juga. Saya marah, saya bentak dia. Dan berbalik jadi dia yang ngertiin saya. Ngasih saya ruang dan waktu untuk marah ke dia. Itu kekurangan saya, saya sadari hal tersebut. Dia saja yang usia segitu bisa menerima segala kekurangan yang saya punya. Masa saya nggak bisa menerima kekurangan dia. Harus menuntut dia sempurna."
"Kalau mau membicarakan kekurangan seorang istri atau suami, nggak akan ada habisnya. Ujungnya kita harus saling menerima. Tapi kembali lagi ini soal karakter. Kalau yang suaminya suka memukul, memiliki seksual menyimpang, menghabiskan uang untuk judi dan selingkuh, tidak menafkahi istri dan anak-anak dengan baik. Itu wajib ditinggalkan. Begitu juga dengan istri. Kalau istri terbukti tidur dengan laki-laki lain, memperlakukan suami dengan kasar seperti hewan, jahat dan sebagainya juga wajib ditinggalkan. Tapi kalau masih mau bertahan ya selamat berjuang."
Daniel berujar sambil tertawa.
"Tapi Lea nggak lupa kan, kewajibannya sebagai seorang istri?"
Daniel menatap Lea dari kejauhan sambil tersenyum. Lalu ia kembali menatap sang mertua.
"Kadang kalau saya sakit, dia nungguin saya sampe pagi. Dia bahkan nggak tidur, bu. Dia rajin masakin saya, bersihin rumah, menyiapkan dan membereskan perlengkapan kerja saya, tiba-tiba dia datang ke kantor dan bawain saya makan siang. Menurut saya itu sudah lebih dari cukup. Mau apa lagi coba?. Masih kurang juga sebagai suami?. Mati aja."
Kali ini Daniel dan ibu Lea sama-sama tertawa. Lea terlihat berbincang dengan Adisty dan juga Ellio seusai membayar. Mereka duduk sambil makan dan minum di sebuah meja.
__ADS_1
Ketika Ellio hampir menghabiskan rotinya dan tersisa bagian coklat yang banyak. Lea menatap ke arah roti tersebut, membuat Ellio jadi merasa bersalah.
"Itu pasti enak banget om, bagian itu."
Ellio melebarkan bibir lalu menyuapkannya ke mulut Lea.
"Hmmm, coklat banget." ujarnya kemudian.
Lea lalu mengambil lagi beberapa roti yang sama dan memberikannya pada Ellio.
"Nih, buat gantinya om."
"Ya percuma Lele, kamu ganti segini banyak tapi bagian coklat paling enaknya kamu yang makan." Ellio menggerutu. Adisty tertawa, sementara Lea nyengir bajing.
"Hehehe."
"Nggak lagi koq om, asal jangan terlihat sama aku bagian coklatnya." lanjut perempuan itu.
Maka Ellio pun mengambil satu roti, lalu melirik Lea layaknya anak kecil yang takut direbut makanannya.
Daniel dan ibu Lea yang melihat hal tersebut kini sama-sama tertawa.
"Makasih udah sayang sama Lea, dan makasih juga udah take care untuk Leo."
Daniel tersenyum pada ibu mertuanya itu untuk yang kesekian kali.
"Sama-sama bu." jawabnya kemudian.
__ADS_1