
"Pak El, kamu bete ya nemenin aku?"
Marsha bertanya pada Ellio ketika mereka telah berada di jalan pulang.
"Nggak." jawab Ellio.
Tetapi pria itu telah mengantuk dan masih mencoba bertahan. Supaya jalan mereka tetap stabil dan bisa selamat sampai di rumah.
"Koq kusut gitu mukanya?" tanya Marsha lagi.
"Nggak, Sha. Aku baik-baik aja."
"Ah, kamu mah bohong." tiba-tiba Marsha malah menangis.
"Lah koq nangis?. Kan aku nggak ngapa-ngapain kamu." ujar Ellio.
Marsha yang hormon kehamilannya tengah mendominasi tersebut tetap menangis, bahkan makin menjadi-jadi.
"Sha, ini kita di tol. Jangan kayak gini, nanti aku nggak konsentrasi bisa celaka loh kita. Mana jalanan gelap, liat sendiri kan kamu."
Ellio mencoba membujuk istrinya itu. Marsha menyeka air matanya dengan tangan. Tak lama tangis wanita itu pun mereda dan Ellio bisa bernafas lega.
"Jangan nangis lagi ya, kita bentar lagi sampai rumah."
Ellio memberikan tissue yang ada di dashboard mobil pada Marsha. Tak lama Marsha pun menyeka keseluruhan sisa air matanya hingga kering.
Selang beberapa saat, mereka keluar dari tol. Ellio sengaja memberhentikan mobilnya di bahu jalan.
"Sini!" ujarnya pada Marsha.
Marsha pun menatap ke arah suaminya itu, lalu mendekat. Ellio kemudian memeluk dan menenangkan Marsha. Seketika ia teringat pada sikapnya selama ini, yang selalu baperan dan dikit-dikit ngambek pada Daniel dan juga Richard. Ellio sadar jika anak yang dikandung Marsha, mungkin menurun sifat yang dimilikinya.
"Kenapa kamu nggak nurut sifat mama kamu aja sih nak, kenapa mesti ikut papa coba?"
Ellio berucap dalam hati sambil mengelus perut istrinya.
"Kamu lagi mikirin sesuatu?"
Seakan memiliki indera keenam, lantaran tengah sensitif. Marsha pun bertanya pada suaminya itu.
"Hmm, iya. Lagi mikirin nama anak kita." dusta Ellio.
Kali ini Marsha tersenyum.
"Ketahuan aja belum laki apa perempuan." ucap wanita itu kemudian.
"Makanya aku mikirin dua nama." ujar Ellio.
"Siapa namanya kalau boleh tau?" Marsha balik melontarkan pertanyaan.
"Mmm, kalau cewek aku mau kasih nama Elsa." jawab Ellio sambil tersenyum.
"Elsa?"
"Iya, Ellio dan Marsha." ujarnya lagi.
Lagi-lagi Marsha tersenyum.
"Kalau cowok?"
"Marshel. Marsha dan Ellio."
"Iya juga ya."
Marsha baru kepikiran. Jujur kemarin-kemarin ia mulai mencari-cari nama anak di google meski tak begitu serius. Ternyata dari singkatan itu saja, bisa didapat nama yang bagus.
__ADS_1
"Gimana, kamu udah beneran tenang kan sekarang?"
Ellio memastikan. Marsha kemudian mengangguk.
"Ya udah, kita jalan lagi ya?" ucap Ellio. Dan lagi-lagi Marsha mengangguk.
Tak lama Ellio kembali menghidupkan mesin mobil dan mereka kembali tancap gas.
***
"Nin, lo mau makan apa?"
Tiba-tiba Sharon menghampiri kamar Nina dan bertanya. Mereka berdua kini tinggal di apartemen milik Sharon.
"Lo mau order makanan?" tanya Nina."
"Iya nih, laper soalnya."
Nina tersenyum. Akhirnya Sharon memiliki energi dan semangat hidupnya kembali. Selama mengalami trauma, jangankan makan. Untuk hidup saja ia seperti tak memiliki gairah. Kini dengan pendampingan psikiater, ia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Apa aja yang lo mau, gue juga mau." ucap Nina.
"Gue mau nasib goreng kambing, lo mau?. tanya Sharon.
"Atau mau yang lain?. Soalnya disini juga ada nasi goreng ayam, nasi gila, bakso dan gado-gado." lanjutnya lagi.
"Gue nasi goreng kambing aja, sama kayak lo." ucap Nina.
"Minumnya?" tanya Sharon lagi.
"Ada apa aja?" Nina balik bertanya.
"Es teh manis, es jeruk, Es Milo sama Es Ovaltine. Lo mau yang mana?"
"Nasi gorengnya pedes nggak?" tanya Sharon.
"Sedang aja."
"Ya udah, gue order ya." ujar Sharon.
"Iya."
Maka perempuan itu pun memesan apa-apa yang yang telah mereka pilih tersebut. Sambil menunggu, Sharon kembali ke meja ruang tengah dan berkutat dengan laptop. Agaknya ia tengah mengerjakan tugas kampus.
Nina tersenyum menyaksikan semua itu. Ia hanya berharap kondisi Sharon akan lebih baik lagi kedepannya.
***
Esok hari.
"Huuuk."
"Huuuk."
"Huuuk."
Untuk kesekian kali dalam hidupnya yang baru beberapa bulan, Darriel cegukan. Ia yang tengah terbaring di atas tempat tidur Lea tersebut kini tampak menggerakkan tangan serta kaki.
"Semangat banget anak hiu."
Lea meledek anaknya itu, seraya masih berkutat mengerjakan tugas kampus.
"Huuuk."
"Huuuk."
__ADS_1
"Huuuk."
Bayi itu kembali cegukan.
"Anak hiu."
Lea mendekat dan menggoda Darriel. Sementara Darriel kini berusaha tertawa di tengah kondisi dirinya yang masih cengukan.
"Kalau anak hiu nggak nangis ya kamu." ujar Lea lagi. Dan lagi-lagi Darriel tertawa.
"Kalau anak lele?"
Darriel mendadak diam dan seolah mencerna ucapan sang ibu.
"Lele berekor, licin, kumisan."
"Heeek."
Darriel merengek.
"Di goreng nyuuuus, di geprek pake sambel."
"Oeeeeek."
Darriel benar-benar menangis kali ini. Daniel yang tengah berada di luar buru-buru masuk ke dalam kamar dan menghampiri puteranya itu. Sementara Lea berpura-pura seakan baru saja hendak beranjak dari depan laptop.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Daniel pada Darriel.
"Nggak tau mas, tiba-tiba aja ngamuk." dusta Lea.
"Mungkin karena aku merhatiin laptop terus dari tadi."
"Mama sibuk ya nak ya?" tanya Daniel pada Darriel. Bayi itu masih terus menangis.
"Ya udah, sama papa ya."
Daniel menggendong Darriel dan membawanya menuju keluar. Tanpa sepengetahuan pria itu, Lea menjulurkan lidah pada Darriel yang tak sengaja melirik ke arahnya. Tak lama mereka keluar, Lea kemudian tertawa-tawa layaknya anak kecil yang berhasil berebut mainan.
***
"Kenapa Darriel tadi?. Nggak di perhatiin mama ya?"
Daniel bertanya pada sang putera, ketika mereka telah berada di ruang depan.
"Hokhoa."
Darriel bersuara seakan mengadukan sesuatu. Namun Daniel jelas tak mengerti dengan apa yang dimaksud. Mungkin bagi Darriel, ia mengadukan kejahilan ibunya. Tapi bagi Daniel itu tak lebih dari sekedar celotehan belaka.
"Mama lagi ngerjain tugas kuliah, nanti main sama Darriel lagi ya."
"Heeek."
Darriel seakan hendak kembali menangis.
"Sama papa dulu ya sekarang."
Mendadak ia diam. Daniel tersenyum lalu menyeka air mata anak itu dengan tangan.
"Jangan nangis dan jangan takut, papa disini buat Darriel ya." ucap Daniel lagi.
Darriel pun lalu tersenyum, dan mendadak ada damai menyeruak di hati Daniel. Ia seperti memiliki energi baru untuk menghadapi apapun yang akan terjadi di depan nanti.
Siapapun yang ingin menjatuhkan dirinya, akan ia lawan dengan sekuat tenaga. Sebab ia adalah seorang ayah sekaligus seorang suami, yang harus melindungi seisi rumah.
Ia tak akan membiarkan siapapun berani mengusik ketenangan yang ia miliki. Apalagi sampai membuat keluarganya menjadi hancur berantakan.
__ADS_1