
"Jadi status hubungan lo belum jelas?"
Vita bertanya pada keesokan harinya, ketika ia kembali bertemu dengan Lea. Sesaat Lea telah pulang dari sekolah.
Vita dan Nina sendiri telah masuk ke universitas dan menyandang status sebagai mahasiswa. Namun Nina kini juga mencoba menjadi seorang YouTuber, ia mengatakan ingin mencari penghasilan tambahan. Lea dan Vita baru saja menemani Nina membuat konten review makanan, pada sebuah tempat makan yang menjual mie ayam dengan toping super penuh.
"Ya gitu deh, nggak tau gue." jawab Lea kemudian.
"Om Daniel nggak ada omongan apa-apa?" tanya Nina.
Lea menggelengkan kepala, karena Daniel memang tidak mengatakan perihal mereka kini jadian atau tidak. Pasca kepulangan mereka kemarin dari ulang tahun Richard, Daniel masih bersikap seperti biasa. Memang ia jadi agak lebih sedikit mau bicara pada Lea, ketimbang sebelum ciuman tersebut terjadi. Namun itu bukan perubahan yang terlalu signifikan.
"Lo jangan diem aja, Le. Harus jelas statusnya." ujar Vita lagi.
"Bener, biar kata kita ini dibeli. Jangan mau diperlakukan seenaknya tanpa status." Nina menimpali.
"Gue aja minta perjelas, sekarang gue udah tunangan sama sugar daddy gue." lanjut Nina lagi.
"Oh ya?" tanya Lea tak percaya. Namun ia bahagia untuk sahabatnya itu.
"Iya, Le. Nina udah dilamar sama daddy nya." Vita memvalidasi pernyataan Nina.
"Karena dia emang niat cari istri sih." ujar Nina lagi.
"Nah lo juga jangan mau nggak dikasih status. Apalagi om Dan itu single, bukan suami orang. Dia harus bisa tegas dalam hubungan." ujar Vita.
Lea diam, bahkan ia baru saja berciuman kemarin. Belum jelas arah hubungan mereka akan kemana.
"Pas pulang ke rumah, dia sikapnya masih baik kan ke elo?" tanya Nina.
"I, iya. Baik koq." ujar Lea.
"Pokoknya, lo harus tanya sama om Dan. Dia cinta nggak sama lo dan apa status hubungan kalian berdua." Vita kembali berujar diikuti anggukan Nina.
Ketika kembali ke kediaman Daniel sore itu, Lea terus mencuri pandang ke arah sang sugar daddy yang tengah sibuk mengetik sesuatu di laptop. Daniel saat itu tengah duduk di kursi meja makan, sambil sesekali mereguk kopi yang ada disisi laptopnya.
__ADS_1
Mungkin saking fokusnya pada pekerjaan, ia bahkan tak melihat kehadiran Lea. Entah benar tidak sadar atau memang sengaja mengabaikan.
"Degh."
Hati Lea pun bergemuruh, ia teringat setiap perkataan yang Vita dan Nina lontarkan padanya.
"Om Dan cinta nggak sih sama gue?" tanya Lea dalam hati.
"Apa jangan-jangan peristiwa kemaren itu cuma angin lalu doang buat dia?" lanjutnya lagi.
Lea lalu memiliki ide di otaknya, supaya ia mengetahui Daniel mencintainya atau tidak. Gadis itu mengambil handphone dari dalam sakunya.
"Iya sayang?"
Lea pura-pura menelpon Hans, karena sampai saat ini hubungan mereka belum lagi berakhir. Lea ingin memperjelas dulu status hubungannya dengan Daniel, baru kemudian memikirkan bagaimana cara menyudahi hubungannya dengan kekasihnya itu. Sebab bilamana ia mengakhiri terlebih dahulu, tak ada yang menjamin ia akan mendapat status dari Daniel.
Lea memang masih labil dan egois. Ia tak ingin mengharap hujan jatuh dari langit, sementara air di tempayan ditumpahkan. Intinya ia tidak ingin menyudahi hubungan dengan Hans, sebelum Daniel menyatakan cinta terhadap dirinya.
Sebab ia akan sangat merugi ketika telah meninggalkan Hans, namun Daniel pun tak menyukai dirinya.
Lea berkata dengan nada keras, ia sengaja supaya Daniel mendengar percakapan palsunya tersebut.
"Ya ampun, Hans. Baru juga ketemu tadi, udah kangen lagi. Kamu bisa aja bikin hati meleleh."
Daniel melirik sekilas ke arah Lea, entah apa yang dipikirkan laki-laki itu. Yang jelas ia terlihat cukup gusar, sampai kemudian ia kembali menatap ke arah laptop.
Lea terus memperpanjang percakapan palsunya itu. Ia semakin menanas-manasi Daniel dengan mengemukakan gombalan-gombalan ala anak alay yang dimilikinya. Ia berharap betul hati Daniel terbakar, sampai kemudian muncul panggilan di handphone Daniel dengan nama Hans Sebastian di sana.
Daniel menatap handphonenya yang di silent tersebut, lalu tertawa kecil seraya menatap ke arah Lea. Sementara Lea tak melihat ke arah Daniel, ia terus melanjutkan akting pura-pura menelponnya sambil menghadap ke arah pintu kamar.
"Iya." ujar Daniel kemudian, setelah ia mengangkat telpon tersebut.
"Om Dan, ini Hans."
"Iya, om tau." jawab pria itu.
__ADS_1
Daniel menahan senyumnya, karena Lea masih terus berpura-pura berbicara pada Hans.
"Ih sayang, kamu mah. Aku malu dibilang cantik sama kamu." ujar Lea dengan nada bicara yang sengaja dibuat manja. Ia tidak mengetahui bahwasannya kini Hans tengah mengobrol dengan Daniel di telpon.
"Om itu kayak ada suara cewek di dekat om." tanya Hans.
"Sorry ya om, kalau ganggu."
Hans sejatinya agak sedikit terkejut sekaligus tak percaya, karena ia mengenal suara Lea.
"E, itu TV." ujar Daniel seraya menjauh ke ruangan lain. Ketempat dimana suara Lea yang cempreng itu tak terdengar.
"Oh kirain om Dan lagi sama ceweknya, nggak enak aku takut ganggu."
Daniel tertawa.
"Kenapa Hans?"
"Ini papa, minta Hans ngurus beberapa urusannya sama perusahan om. Soalnya kata papa, dia perpanjangan waktu sampe dua minggu di luar negri. Urusannya belum kelar, terus dia juga sibuk. Nggak sempet ngurus yang ini."
"Oh kirain kenapa."
Daniel dan Hans lalu lanjut berbincang masalah pekerjaan. Frans ayah Hans memang sering melibatkan puteranya dalam urusan-urusan perusahaan yang tak begitu rumit. Alasannya tentu saja karena Hans adalah harapan Frans, guna melanjutkan bisnisnya. Setelah kedua kakak Hans memilih jalannya sendiri.
Cukup lama Daniel berbincang dengan anak itu, sampai kemudian Hans pamit dan menutup sambungan telpon. Ketika kembali ketempat semula, Daniel masih menemukan Lea yang terus berpura-pura. Daniel tertawa lalu menggelengkan kepalanya, tak lama kemudian ia pun membawa laptop menuju ke lantai atas.
Seketika Lea menghentikan kebohongannya, ia kini berpikir dan mengira-ngira. Apakah usahanya tadi berhasil atau tidak.
"Kira-kira, om Dan cemburu nggak ya?" tanyanya dalam hati, sambil senyum-senyum sendiri.
"Dia mendadak pindah ke atas. Berarti dia panas, denger percakapan palsu gue sama Hans." lanjutnya lagi.
Lea makin tersenyum-senyum sendiri, ia kini tau bagaimana caranya memancing emosi Daniel. Supaya pria dewasa itu semakin cemburu dan semakin tak ingin kehilangan dirinya.
Sementara dari lantai atas, Daniel melihat ke arah tablet yang tersambung dengan kamera CCTV. Di lantai tempat dimana Lea berada, sejatinya terdapat kamera pengawas tersebut. Hingga kini tanpa Lea sadari, Daniel tengah memperhatikan tingkahnya. Daniel pun tertawa, seraya kembali menggelengkan kepalanya.
__ADS_1