
"Kenapa lo nggak cerita ke gue, kalau lo suka sama istrinya si Hanif?"
Ellio mencecar Richard dengan pertanyaan di suatu pagi. Ketik mereka sama-sama telah tiba di kantor, dan Ellio sengaja menyambangi ruangan sahabatnya tersebut.
Tentu saja Richard kaget mendengar semua itu. Ia kini menatap Ellio tanpa bisa menghindar lagi.
"Lo tau dari mana?" tanya nya kemudian.
Ellio menghela nafas agak panjang, kemudian menjawab.
"Gue ngeliat elo sama dia di mall, dan gue juga nggak sengaja denger pembantu lo si Lita cerita soal lo ke temanya."
Richard benar-benar terjebak kali ini.
"Gue..."
Ia bingung harus berkata apa. Belum sempat ia melanjutkan, Ellio sudah keburu menyela.
"Kalau lo nggak mau curhat sama Daniel, minimal ngomong sama gue. Siapa tau gue bisa kasih lo pandangan." ujarnya.
"Tapi lo nggak mungkin pro ke gue kan?. Pasti lo juga belain Daniel."
Richard seakan tau isi kepala Ellio.
"Gue sih cukup menyayangkan tindakan lo ini. Karena lo kayak nggak mikirin perasaan Daniel. Tapi ya udalah, kalau emang lo bener-bener suka sama si Nadya. Gue juga nggak bisa ngomong apa-apa. Cuma gue minta lo hati-hati, karena Nadya itu posisinya adalah istri orang." ujar Ellio.
Richard menjatuhkan pandangannya ke suatu sudut.
"Gue tau itu." ujarnya.
"Gue tau persis resiko apa yang tengah gue hadapi." lanjutnya lagi.
"Makanya gue nggak mau cerita ke Daniel ataupun lo sendiri. Karena suatu ketika semua ini bakal tercium oleh Hanif. Dan kalau lo berdua nggak tau apa-apa, Hanif nggak bisa menyalahkan salah satu diantara kalian. Terutama Daniel, Hanif nggak akan bisa menekan Daniel." Lagi-lagi Richard berkata.
"Tapi rencana lo ke dia itu gimana?" tanya Ellio.
"Gue pengen dia cerai dari Hanif dan menikah sama gue. Dia udah terlalu banyak menderita, dan gue pengen membahagiakan dia." jawab Richard.
Kali ini gantian Ellio yang menghela nafas panjang dan menjatuhkan pandangannya ke suatu sudut.
"Gue juga sebenarnya kasihan sih sama Nadya." ujarnya kemudian.
"Dia perempuan baik, lembut kelihatannya. Gue nggak habis pikir kenapa dia dapat suami yang kayak model si Hanif. Gue berharap dia dapat pasangan yang lebih baik lagi, tapi gue nggak nyangka kalau orangnya itu mesti elo." imbuh pria itu.
__ADS_1
"Gue juga nggak tau kenapa gue jatuh cinta sama dia." ucap Richard.
"Gue udah berusaha menepis semua itu sejak awal.Tapi semakin gue berusaha keras, gue malah jatuh semakin dalam." lanjutnya kemudian.
Lagi-lagi Ellio menghela nafas panjang, kali ini ditatapnya wajah Richard dengan lekat.
"Lo lakukan apa yang menurut hati lo benar, bro. Sebagai teman, gue paling cuma bisa mendoakan yang terbaik buat lo." tukasnya.
Richard mengangguk pelan.
"Thanks." jawab pria itu.
Gantian Ellio yang mengangguk.
"Soal Dian, lo bener-bener lupa sama dia?" tanya Ellio lagi.
Richard diam sejenak.
"Kayaknya dia udah bahagia sekarang, sama pilihannya. Karena dia nggak pernah lagi menghubungi gue."
"Okelah kalau gitu, gue mau balik ke kantor dulu." ucap Ellio.
Tiba-tiba Daniel muncul, membuat keduanya agak sedikit terkejut. Namun berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Dih, ge-er lu anjay."
Ellio melangkah, sementara Richard tertawa kecil di sela ketegangan yang masih tersisa.
"Mau kemana lo?" tanya Daniel pada sahabatnya itu.
"Ya mau kerja lah, Bambang. Udah jam berapa ini?"
"Halah tumben nyadar." ujar Daniel lagi.
Ellio tertawa kecil kemudian berpamitan, sedang Daniel berbicara pada Richard mengenai hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Ia ingin meminta sedikit bantuan kepada mertuanya itu, guna mengurus beberapa keperluan.
***
Hari itu Lea selesai ujian semester, setelah beberapa hari berkutat dengan soal-soal yang diberikan. Akhirnya ia kini akan menghadapi masa libur. Tentu saja ia senang, karena ia punya waktu lebih banyak untuk pergi kemana-mana atau sekedar diam di rumah.
"Le, ntar malem ke ulang tahun Rama ya."
Iqbal berbicara dari jarak yang agak jauh pada Lea. Sebab pemuda itu kini sudah hendak menuju ke halaman parkir.
__ADS_1
"Iya, tenang aja. Gue pasti datang." jawab Lea.
"Ya udah, gue cabut ya." tukas Iqbal lagi.
"Hati-hati." balas Lea.
Kemudian Iqbal berlalu dan Lea kemudian di hampiri oleh Adisty serta Ariana.
"Le, ntar malem ke Rama?"
"Iya, gue udah bilang sama mas Dan. Katanya boleh koq." jawab Lea.
"Asik, laki lu mah enak ya nggak ribet." ujar Adisty.
"Dia mah diminta jaga anak juga mau." balas Lea.
Mereka bertiga lalu tertawa.
"Eh, beliin hadiah apa ya Rama nanti?" tanya Ariana pada Lea dan juga Adisty.
Seketika keduanya pun terpikir ke arah sana.
"Hmm, gimana kalau kita cari sama-sama aja?" Lea memberi ide.
"Oke juga, ya udah yuk!"
Adisty dan Ariana bersemangat. Tak lama mereka terlihat sudah masuk ke mobil yang biasa mengantar Lea. Mereka lalu menyambangi mall dan mencari-cari hadiah apa yang akan mereka berikan untuk Rama, yang berulang tahun malam nanti.
***
Dilain pihak Nadya semakin kepikiran akan ucapan Putri. Kali ini entah mengapa ia memberanikan diri untuk mencari informasi di google. Tentang bagaimana caranya membuat gugatan cerai.
Ia benar-benar awam, karena belum pernah melakukan hal tersebut sama sekali. Dan lagi selama ini ia tak pernah berpikir jika kesabaran dihatinya akan hilang, dan ia sulit untuk ikhlas menerima keadaan.
Ia tak pernah menduga bahwa pada akhirnya, ia ingin bercerai dari Hanif. Ia pikir kehidupannya tak jauh seperti di beberapa film. Dimana ada tokoh istri yang suaminya menikah lagi.
Disana terlihat si istri begitu tegar menerima dan mengikhlaskan jika dirinya di madu. Namun ternyata kenyataan berkali-kali lipat sakitnya ketimbang di dalam film ataupun serial televisi.
Pada kenyataannya ikhlas merelakan suami berbagi cinta tidaklah sesimpel yang dikira. Semua terasa rumit sekaligus sakit.
Kini ia mencari-cari informasi, bagaimana agar gugatan cerai bisa dikabulkan. Meski orang tuanya belum begitu tau mengenai hal ini, tetapi Nadya sepertinya sudah tidak mau lagi mundur ke belakang.
Ia merasa selama ini sudah cukup mengalah dan menderita. Ia sudah tidak mau menjalankan hal ini lagi, tidak untuk sekali-kali.
__ADS_1