Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pulang (Ekstra Part)


__ADS_3

Pagi itu Richard tengah berjalan di kawasan sekitar gedung perkantoran. Ia telah sampai di kantor sejak tadi, namun karena belum masuk ia pun berjalan mencari kafe terdekat. Sebab ia ingin sekali mendapatkan kopi yang hangat.


Ketika tiba di tempat tersebut Richard mendadak tertegun. Pasalnya ia melihat Marvin yang tengah duduk termenung di salah satu kursi, yang berada di luar kafe.


Richard kemudian masuk ke dalam dan keluar dengan membawa dua cup kopi. Ia meletakan kedua cup kopi itu di meja yang kini ditempati Marvin.


Marvin pun terkejut dengan kehadiran Richard. Namun Richard malah menarik salah satu kursi dan duduk dihadapan pria itu.


Ia juga mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku, kemudian membuka dan membakar sebatang. Richard menghisap rokok dihadapan Marvin yang nyaris tak bergeming.


"Mereka menolak gue datang."


Marvin melontarkan sebuah pernyataan, namun dengan pandangan mata yang masih tertunduk.


Richard menarik nafas lalu menyeruput kopi. Kemudian ia kembali menghisap batang rokok dan menghembuskan asapnya.


"Kalau anak perempuan gue mengalami hal serupa. Gue juga akan menolak kedatangan laki-lakinya ke hadapan gue. Apalagi keluarga si laki-laki berlaku bejat terhadap anak gue." ujar Richard.


"Sejelek-jeleknya kelakuan anak gue sebelum itu. Sebagai anggota keluarganya, gue sudah pasti akan marah." lanjutnya kemudian.


Marvin menjadi semakin tertunduk dalam. Terlihat jelas ia menyesal dan merasa bersalah atas apa yang telah ia perbuat terhadap Clarissa.


"Tapi kalau lo memang berniat baik dan bertekad memperbaiki semuanya. Lo datang terus aja walau di tolak. Sampai mereka capek sendiri dan mau menerima kedatangan lo." ujar Richard lagi.


Richard mematikan rokok, lalu ia meraih cup kopi miliknya kemudian beranjak. Ia sempat menepuk bahu Marvin terlebih dahulu, sebelum akhirnya benar-benar berlalu.


***


Daniel terus mengajak istri dan anaknya berlibur ke negara-negara sekitar. Sampai akhirnya kantor memanggil dan Daniel terpaksa menyudahi itu semua.


"Darriel kita pulang ya, besok. Papa nggak bisa lebih lama lagi ngajak kamu liburan."


"Heheee."


"Dia mah hehe doang, mas. Minta di hap pipinya yang gembul ini."


"Hap."


Lea mulai memakan pipi Darriel dan Darriel makin tertawa.


"Heheee."


"Besok ketemu papa Rich ya." ujar Lea.


"Heheee."

__ADS_1


"Aturan kalau masih panjang waktunya, kita bisa ke Turki Le."


"Oh iya, ketemu mama kamu ya mas." tukas Lea.


"Iya, makanya. Tapi ya udalah, bisa lain kali. Atau bisa juga kita beliin tiket buat mama dan adik-adik aku yang disana, buat kesini lagi."


"Nah, ide bagus tuh mas. Biar Darriel ketemu neneknya." tukas Lea.


"Ntar aku bicarakan dulu ke mama." ucap Daniel.


"Yang jelas kita selesaikan dulu hari terakhir kita liburan ini dengan belanja lagi." lanjut pria itu.


"Asik." ujar Lea bersemangat.


"Heheee." Lagi-lagi Darriel tertawa.


"Yuk Delil, kita siap-siap." ujar Lea.


Bayi itu sangat antusias menggerak-gerakkan kaki serta tangannya.


"Walah, walah, semangat sekali Delil. Sini, ganti popok dulu." ujar Lea.


Maka perempuan itu pun mengganti popok sang anak.


"Hmmm, ternyata penuh. Delil bau." ucap Lea.


"Heheee."


"Heheee."


"Heh, kamu itu hehe-hehe dari tadi ya."


Daniel mendekat lalu menggelitik bayinya itu meski tidak terlalu kuat.


"Heheee."


"Anaknya papa." ujar Daniel lagi, dan lagi-lagi Darriel tertawa.


Popok bayi itu pun kemudian di ganti. Tak lama setelahnya Daniel dan Lea beserta anak mereka tersebut mulai berjalan-jalan sambil berbelanja.


***


"Ayo pulang buruan, papa Rich kangen. Ini udah cukup lama loh dari terakhir kita ketemu."


Richard menghubungi Daniel dan seolah berbicara pada Darriel yang kini berada dalam gendongan menantunya itu.

__ADS_1


Darriel melihat ke layar handphone dengan mata fokus, lalu ia pun tertawa-tawa.


"Kamu main ketawa-ketawa aja nak, tau nggak siapa ini?" tanya Lea.


"Heheee."


"Dia mah nggak perlu identifikasi lagi kalau ngeliat Richard. Kalau ngeliat kita baru, Le." ucap Daniel.


Mereka semua pun kini tertawa.


"Ntar malem kita jalan pulang ya, papa." ucap Daniel pada Richard seolah-olah Darriel yang tengah berbicara.


"Ya udah papa tunggu. Jangan lupa ke tempat papa besok." jawab Richard.


"Iya, besok nginep di papa ya nak."


"Heheee."


"Kita flight malam ini ya." ucap Daniel lagi.


"Heheee."


"Eh, papa Rich beli mainan banyak noh buat Darriel."


Richard menunjukkan tumpukan mainan yang ia beli selama beberapa hari ini.


"Astaga yah, mau kasih cucu apa mau buka grosir." ujar Lea seraya tertawa. Richard pun jadi ikut-ikutan tertawa.


"Heheee."


Melihat kedua orang tuanya tertawa, Darriel jadi ikut-ikutan.


"Tuh papa Rich beliin Darriel mainan tuh." ujar Daniel.


"Nanti kita main bareng ya." Richard menimpali.


Mereka kemudian kembali mengobrol cukup lama. Sampai akhirnya Richard berpamitan. Sebab masih ada pekerjaan yang mesti ia urus.


***


Lea dan Daniel menyelesaikan kegiatan belanja mereka hari itu. Kemudian malam harinya mereka bertolak untuk kembali ke tanah air.


Saat landing, Darriel tertidur nyenyak. Daniel dan Lea pun sudah mengantuk, tetapi harus menahannya hingga sampai rumah.


Saat tiba mereka langsung mandi dan kemudian pergi tidur. Ketika pagi menjelang Daniel langsung pergi ke kantor. Di kantor sudah banyak pekerjaan yang menunggu pria itu.

__ADS_1


Namun baginya tak masalah, toh ia sudah bebas tugas cukup lama dan menghabiskan waktunya untuk liburan. Ini adalah saatnya ia kembali bekerja.


Lea agak meleset dari janji dalam membawa Darriel ke tempat ayahnya. Sebab mereka masih lelah dan kadang tertidur cukup lama. Akhirnya di hari kedua pulang, barulah Darriel di bawa ke kediaman Richard. Kebetulan itu adalah akhir pekan, dan mereka juga ikut menginap di sana.


__ADS_2