Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Beasiswa di Cabut


__ADS_3

"Rusak lagi?"


"Jadi yang waktu itu juga sama?. Kamu juga dibully di sekolah dan handphone kamu dirusak oleh mereka?"


Lea mengangguk, lalu menundukkan kepalanya.


Daniel menghela nafas.


"Kenapa kamu nggak lawan?" Daniel mengeluarkan kata-kata yang membuat Lea tersentak.


"Segitu doang keberanian kamu?. Hah?"


Lea mengangkat kepalanya dan menatap pria itu.


"Kamu beberapa kali nampar muka saya, berani kamu. Kenapa sama perempuan yang seumuran, kamu malah nggak berani. Sampe barang kamu bisa dirusak dua kali."


Lea kembali menundukkan pandangannya.


"Kamu tau kan handphone ini harganya berapa?. Saya nggak masalah kehilangan uang segitu. Yang jadi masalahnya adalah, sampai kapan kamu mau diperlakukan seperti itu. Sampai kapan kamu mau mengalah begitu saja, sama orang yang mengintimidasi kamu. Manusia itu harus bisa fight untuk hidupnya sendiri. Kalau nggak, kamu akan tertindas dan dibawah terus."


Lea menelan ludah, ia benar-benar tau harus menjawab apa.


"Kenapa kamu nggak ngelawan?" tanya Daniel lagi.


"Sa, saya. Saya lawan mereka om." jawab Lea terbata-bata.


"Terus?"


"Tapi pihak sekolah menyalahkan saya."


"Why?. Kalau kamu menjelaskan dengan benar dan rinci. Mustahil pihak sekolah kamu nggak bersikap adil. Kan kamu bilang, mereka yang mulai duluan."


"Saya sudah menceritakan semuanya secara rinci, om."


"Terus kenapa tadi kamu bilang mereka nggak mendapat sangsi dari pihak sekolah."


"Karena saya ini ditanggung beasiswa dan saya miskin."


Daniel terdiam mendengar ucapan tersebut.


"Nggak ada hubungannya dengan beasiswa ataupun miskin. Yang namanya salah ya salah, pihak sekolah harus bisa memberikan keadilan."

__ADS_1


"Dunia nggak segampang yang om kira."


Daniel lagi-lagi terdiam, ia benar-benar tak mengerti maksud dari perkataan Lea barusan.


"Om bisa bicara kayak gini, karena om nggak pernah ada di posisi saya. Karena sepertinya om kaya dari lahir. Om nggak pernah tau apa arti keadilan bagi orang seperti saya."


Lea berkata seraya menatap Daniel, sementara yang ditatap kini diam memperhatikan.


"Saya masuk ke sekolah itu berkat beasiswa. Sekolah itu tadinya hanya menerima anak orang kaya. Saya harus sekolah ditempat yang bagus, karena saya butuh bertemu guru-guru yang berkualitas serta mendapatkan fasilitas yang memadai juga. Walau saya miskin, paling tidak saya harus berpendidikan. Syukur-syukur bisa masuk universitas impian saya. Saya nggak mau menerima kemiskinan keluarga saya begitu saja."


Daniel masih terdiam.


"Tadinya saya pikir, masuk ke sekolah yang rata-rata isinya anak orang kaya. Mereka akan punya attitude baik dan ramah terhadap saya. Tetapi saya malah di kotak kan sebagai orang yang nggak pantes temenan sama mereka. Ternyata mendapatkan beasiswa itu, saya harus membayar dengan mematuhi peraturan konyol sekolah. Bahwa saya nggak boleh membuat kekacauan, sekalipun bukan saya yang salah. Karena rata-rata anak disana, orang tuanya menyumbang uang setiap tahun. Sedangkan saya hanya penerima, orang tua saya tidak pernah menyumbang apapun. Jadi mereka nggak mungkin disalahkan atas perbuatan mereka terhadap saya."


"Kenapa kamu nggak keluar dari sekolah, kan banyak sekolah lain. Itu artinya kamu menyusahkan diri sendiri loh."


"Kalau saya punya banyak uang untuk pindah kesana-sini, saya sudah lakukan dari dulu. Om pikir pindah sekolah itu, kita nggak bayar di sekolah yang baru?. Iya kalau saya tetap dapat beasiswa di tempat yang baru itu, kalau nggak?. Mau bayar dari mana saya?"


"Hhhh." Daniel menghela nafas.


Ia menyudahi perdebatan itu, lalu pergi ke suatu arah dan kembali dengan kotak P3K."


"Sana, duduk...!"


"Sshh."


Lea mendesis, ia merasakan nyeri yang cukup hebat. Namun yang masuk ke otak Daniel berbeda. Pria itu justru membayangkan Lea mendesis, saat Daniel menyentuk bagian sensitifnya.


"Hhhh." Daniel menepis pikiran kotornya.


Lea itu masih gadis belia. Mengapa ia harus menjadi penyuka anak dibawah umur, pikirnya.


"Sshh." Lagi-lagi Lea mendesis.


Daniel kini menatap gadis itu dan begitupun sebaliknya. Jarak kedua bibir mereka begitu dekat, hingga keduanya bisa merasakan hangatnya nafas masing-masing.


Setan seakan menyusup, Daniel sudah sangat ingin melakukannya dan tampaknya Lea pun demikian. Ia penasaran dengan om-om tampan tersebut.


Mereka berdua kian mendekat satu sama lain, namun Daniel menyudahi semua itu. Ia menjauhkan wajahnya sebelum terjadi sesuatu, dan mencoba bersikap seperti biasa saja. Lea pun akhirnya kembali bersikap seperti sediakala.


"Mana lagi yang dipukul?" tanya Daniel pada gadis itu.

__ADS_1


Lea membuka sedikit kancing bajunya dan menunjukkan ada memar lain di bahu kirinya. Daniel terdiam sejenak, karena kini penampakkan amat menggiurkan ada didepan matanya.


Dua buah gundukan yang tertutup cup, terlihat jelas. Membuat bagian bawahnya seketika bergejolak. Namun Daniel berusaha fokus mengompres memar tersebut, dengan air hangat.


Malam itu, mereka makan berdua seperti biasa dan kembali saling mencuri pandang. Esok harinya ketika bangun, Lea mendapati sebuah handphone baru di atas meja makan. Lengkap dengan uang jajan harian, sejumlah yang sering diberikan oleh Daniel setiap hari.


Daniel telah pergi pagi-pagi sekali, karena ada meeting penting hari itu. Lea sendiri enggan bertanya, mengapa Daniel tak menunggu dirinya. Sudah pasti pria itu sibuk.


Lea tersenyum, lalu mengganti handphone nya dengan yang baru. Yang lama mungkin akan ia perbaiki dan ia jual nantinya. Lea pergi ke sekolah, dan kali ini ia sangat hati-hati. Ia tidak ingin barang kesayangannya rusak kembali, akibat ulah Sharon.


Sebuah keanehan terjadi, ketika sampai disekolah. Entah mengapa guru-guru mendadak ramah terhadap Lea. Banyak dari siswa-siswi yang tak ia kenal pun, mulai menyapa dirinya. Lea heran, ada setan apa yang merasuki mereka semua.


"Hai Lea."


Dina dan Nasya. Teman satu kelas Lea yang bahkan selama ini tak pernah menegur dirinya, kini tiba-tiba menghampiri dan bersikap ramah padanya.


"Hai, ada apa ya?" tanya Lea heran.


"Selamat ya, lo udah naik status sekarang." ujar Felicia seraya tersenyum.


"Na, naik status?" tanya Lea makin heran.


"Iya, sekarang lo udah bukan penerima beasiswa lagi."


"Ma, maksud lo. Gue di stop gitu beasiswa nya?" tanya Lea cemas. Ia tak menyangka jika masalahnya dengan Sharon kemarin, akan membuat ia kehilangan hal tersebut.


"Oh God."


Dunia Lea seakan runtuh seketika. Dari mana ia akan membayar uang sekolah, yang sejumlah belasan juta setiap bulannya. Wajah Lea mendadak pucat, ia tidak ingin pindah ke sekolah lain. Ia menyukai fasilitas yang disediakan sekolah ini.


"Gue nggak nyangka, lo punya om yang kaya raya." ujar Nasya kemudian.


"Om, kaya raya?" Lea mengerutkan keningnya.


"Iya, tadi dua om lo dateng kesini. Mereka kasih dana besar ke sekolah ini, ada siswa yang kebetulan berada di ruangan kepsek. Mereka lah yang membocorkan ini ke kita-kita."


Lea makin melongo.


"Iya Lea. Om lo bilang selama ini, lo emang sengaja memakai image miskin. Karena lo pengen mandiri dan nggak mau tergantung sama keluarga lo yang kaya raya." timpal Dina.


Lea masih tak mengerti. Namun dari tempat dimana ia berdiri, tiba-tiba ia melihat Richard dan Ellio yang kini hendak masuk ke dalam sebuah mobil. Lea tersentak, pikirannya mendadak tertuju pada Daniel.

__ADS_1


Ya, sudah pasti Daniel yang melakukan semua ini. Ia lah yang menyuruh kedua om-om itu.


__ADS_2