Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Periksa


__ADS_3

Sesuai janji, Lea dan Nina akhirnya menemani Vita. Mereka menyambangi sebuah rumah sakit, yang katanya menyediakan layanan pemeriksaan gratis untuk HIV, Sifilis dan berbagai penyakit menular seksual lainnya.


Setelah bertanya pada sekuriti yang menjaga di depan, mereka di arahkan untuk menuju ke sebuah ruang yang dinamai "Ruang Peduli".


Ruang itu memang dibuat khusus, bagi siapapun yang merasa dirinya beresiko dan ingin mengetahui kondisi tubuhnya lebih lanjut.


Berada di sebuah bangsal, ternyata ruangan tersebut cukup ramai pengunjung. Saat masih di depan, Lea, Vita dan Nina celingukan. Apa tidak ada orang lain selain mereka, yang mengunjungi tempat tersebut. Awalnya mereka sempat berfikir seperti itu, lantaran sekitar yang terlihat cukup sepi. Berbeda dengan bangsal-bangsal lainnya.


Namun ketika masuk, ruangan tersebut ternyata besar dan pengunjungnya cukup ramai. Hadir diantara mereka, orang-orang yang memang terlihat sangat beresiko.


Ada beberapa yang seperti mami Sonia, alias bimbang. Mereka terindikasi sebagai kaum yang menyukai sesama dari mereka. Namun baik Lea, Vita, dan Nina tak ada urusan dengan kehidupan pribadi orang-orang tersebut.


Mereka sendiri juga berdosa dan tak bersih. Ada juga pria-pria berumur, dengan penampilan ala sugar daddy. Sisanya perempuan yang sangat terlihat seperti seorang simpanan, atau pekerja asusila.


Sisanya lagi seperti wanita baik-baik atau ibu rumah tangga, yang mungkin beresiko karena suaminya berselingkuh atau apa.


Orang yang hadir disana berasal dari berbagai warna kulit dan berbagai pakaian. Mulai dari yang biasa, stylish, sampai yang berpakaian religius dan tertutup.


Lea lega melihatnya, ternyata banyak orang yang sudah sadar betul akan pentingnya pemeriksaan kesehatan seperti ini.


Wanita-wanita yang tampak religius itu misalnya, atau wanita yang tampak seperti seorang istri baik-baik. Jika hendak menurutkan ego, mereka tak seharusnya ada di sini. Mereka bisa dengan sangat percaya diri mengatakan, bahwa mereka tak mungkin tertular penyakit yang aneh-aneh. Apalagi penyakit menular seksual, karena tidak mungkin mereka melakukan perbuatan nista.


Namun resiko bisa di dapat siapa saja, apalagi ketika kita telah menikah. Kita tidak tahu kebiasaan suami-suami kita di luar. Apakah mereka jajan atau tidak, dan ketika dirumah suami masih berhubungan dengan kita. Bisa saja para perempuan baik-baik dan religius, tertular dari suaminya tersebut.


"Selamat siang."


Lea menyapa perawat di bagian penerimaan.


"Selamat siang, ini untuk pemeriksaan apa ya?" tanya perawat itu.


Lea, Vita, dan Nina saling bersitatap.


"Mmm, disini khusus pemeriksaan apa aja ya sus?" tanya Lea.


"Kalian belum pernah kesini sebelumnya?" Perawat itu balik bertanya.


"Mmm, belum sus." jawab Lea lagi.


"Disini ada dua jenis pemeriksaan yang paling sering dijalani. Pertama HIV, kedua sifilis. Bisa salah satu, bisa keduanya. Tetapi ada juga pemeriksaan lainnya, sesuai kebutuhan."

__ADS_1


Lea, Vita, dan Nina saling bersitatap.


"Sebaiknya kalian isi formulir dulu saja."


Perawat itu terlihat mengambil tiga lembar formulir. Lea dan Nina sejatinya hendak mengatakan, jika mereka tak ikut pemeriksaan. Namun si perawat telah terlanjur mengambil tiga formulir, karena mengira semuanya akan di periksa.


"Ini." ujarnya kemudian.


"Silahkan isi di mana saja." Lanjutnya seraya melihat ke sekitar ruangan.


Lea, Nina, dan Vita berterima kasih, lalu mereka mencari tempat duduk. Kebetulan ruangan tersebut di buat se-aesthetic dan senyaman mungkin. Ruang tunggunya ada di sisi kanan, sebelah bagian Informasi dan penerimaan.


Tetapi di bagian lain terdapat sofa, kursi, dan meja tambahan yang lebih mirip dengan suasana kafe ketimbang rumah sakit.


Lea, Vita, dan Nina memilih duduk di kursi dengan meja panjang yang menempel di dinding. Disana banyak terdapat pulpen untuk mengisi formulir skrining.


Dalam formulir tersebut, ada sebuah pertanyaan yang membuat Lea, Vita, dan Nina sedikit bingung.


"Kapan terakhir melakukan perilaku beresiko." Begitulah bunyi pertanyaannya.


"Ini maksudnya apa ya?" tanya Vita. Ketiganya pun terdiam, karena sama-sama bingung.


"Maybe." jawab Lea dan Vita serentak.


"Oh iya, lo berdua serius mau ikut tes ini juga?" Vita kembali bertanya.


"Ya nggak apa-apa sih, kita berdua lagi hamil juga. Menurut gue ini tuh perlu banget." ujar Lea.


"Iya Vit, setelah gue pikir-pikir. Laki kita kan sama-sama sugar daddy. Sebelum sama kita, kita nggak tau mereka udah sama siapa aja. Cewek yang sama mereka itu punya penyakit apa nggak." timpal Nina.


"Lagian gratis ini." lanjutnya kemudian.


"Iya Vit, bener apa kata Nina. Resiko kan ke gue sama Nina nih. Kalau nggak di cari tau sejak dini, gue takut malah menulari anak gue." ujar Lea lagi.


Vita kini mengerti, lalu mereka lanjut membaca dan mengisi formulir. Usai mengisi, mereka menyerahkan formulir tersebut ke tempat sebelumnya, dan kini ketiganya diminta untuk menunggu.


***


Satu persatu orang yang telah mendaftar di panggil. Lea, Vita, dan Nina sudah nyaris tertidur karena mengantuk, ditambah ruangan tersebut memang sejuk akibat air conditioner.

__ADS_1


"Lea Michela."


"Karenina Wijaya dan Vitalia Arinda Mayasari."


Nama mereka bertiga pun dipanggil. Lea, Vita dan Nina langsung mendekat ke bagian informasi dan penerimaan tersebut.


"Iya sus." ujar mereka serentak.


"Vitalia, disini ditulis bahwa terakhir melakukan perbuatan beresiko sekitar 3 bulan yang lalu."


"Iya, perbuatan beresiko itu berhubungan dengan pasangan kan sus?" Vita seakan ingin menuntaskan rasa penasarannya.


"Iya, bisa hubungan seksual, penggunaan jarum suntik berbarengan, untuk yang penguna narkoba. Bisa juga dari bersinggungan luka dengan orang yang dicurigai memiliki virus, atau bisa jadi dari donor darah yang terkontaminasi."


"Oh ok." jawab Vita.


"Disini, untuk pemeriksaan akurat. Minimal tiga bulan setelah perilaku beresiko di lakukan." ujar Perawat itu lagi.


"Gimana saya sama Nina dok?" tanya Lea.


"Untuk Lea dan Nina sendiri, melakukan hubungan atau perilaku beresiko beberapa hari yang lalu. Benar?"


"Iya sus, kan kita punya suami. Nggak mungkin kita liburkan mereka selama tiga bulan." timpal Nina.


"Iya sus, tapi kalau suami saya. Dia terakhir berhubungan dengan mantannya itu, satu tahun yang lalu. Jadi sisanya dia sekarang hanya sama saya. Apakah itu tetap bisa dilakukan pemeriksaan?" tanya Lea.


"Kalau kamu yakin suami kamu hanya melakukan dengan kamu selama setahun belakangan ini, bisa." jawab perawat tersebut.


"Tetapi kamu, kalian semua deh. Ketika hasilnya ini nanti negatif, mudah-mudahan. Kalian dianjurkan untuk kembali pada tiga bulan atau enam bulan berikutnya. Bila perlu dalam setahun itu, minimal kalian ada dua kali pemeriksaan secara berkala. Mengingat penyakit menular seksual itu bisa terjadi kapan saja."


"Ok, berarti kita bisa nih?" tanya Nina.


"Bisa, silahkan masuk ke ruangan yang itu untuk diambil sampel darah."


Ketiganya menoleh ke ruangan yang dimaksud.


"Dimulai dari Vita dulu ya." ujar perawat itu sekali lagi.


Vita lalu menghela nafas, untuk meredakan ketegangan. Tak lama ia pun masuk ke ruangan tersebut, sedang Lea dan kembali menunggu.

__ADS_1


__ADS_2