
"Braaak."
Seseorang menggebrak meja di ruangan SB agency.
"Pokoknya kami mau menuntut." ujar orang tersebut penuh kemarahan. Mami Sonia dan mami Bianca yang saat itu tengah berada di dalam ruangan tersebut pun, menjadi gelagapan.
"Mau tanggung jawab soal apa?. Kalau sudah lepas dari sini, berarti bukan tanggung jawab kami lagi." ujar mami Bianca membela diri, diikuti anggukan kepala dari mami Sonia.
"Enak aja lo bilang bukan tanggung jawab lo." Salah seorang nyeletuk dengan penuh emosi, diikuti celetukan yang lainnya.
"Iya enak banget bacot lo ngomong, kita merasa dirugikan."
"Dirugikan apa?"
Mami Bianca menghardik mereka.
"Kalian sudah dicarikan pasangan yang kaya-raya, bukan orang miskin. Hidup kalian masing-masing sudah enak, masih aja nggak tau terima kasih." ujarnya kemudian.
"Tapi lo nyalahin perjanjian, bangsat. Banyak bohongnya." Celetukan bernada kasar terdengar dari sebuah sudut.
"Betul itu."
"Betul, pembohong."
"Betul."
"Betul."
"Bohong soal apa?" Mami Bianca semakin emosi.
"Eh, mi. Lo sama mami Sonia bilang kalau sugar daddy yang masuk kesini udah pasti single, buktinya gue dapat yang punya bini."
"Iya gue juga."
"Gue juga, dasar pembohong lo."
"Sekarang kita semua di lepehin gitu aja, karena sugar daddy kami rata-rata nggak mau cerai dari istri sah nya."
"Iya bener, gimana nasib kami sekarang."
"Betul itu, gimana?"
"Gimana?"
Suasana ruang SB Agency kini riuh. Para sugar baby asuhan mereka dari angkatan sebelum Lea maupun yang seangkatan dengan Lea, kini menuntut pertanggungjawaban. Sebab sugar daddy mereka banyak yang telah memiliki istri ternyata.
Padahal baik mami Bianca maupun mami Sonia mengatakan, jika mereka menjamin nasib para sugar baby tersebut. Mereka dipastikan tidak akan mendapatkan sugar daddy yang sudah memiliki istri.
Namun sejak kasus Clarissa dan sugar daddy nya mencuat, Clarissa tampaknya tak ingin sial sendirian. Saat Friska mengetahui jika suaminya berselingkuh, Friska melabrak Clarissa dan Clarissa tak mau malu seorang diri.
Ia mencari tahu, apakah ada sugar baby lain yang pasangannya memiliki istri. Ternyata banyak sekali, hanya saja sebagian besar sugar baby tidak mengetahuinya. Berbeda dengan Clarissa yang sudah tahu sejak awal dan masih berniat meneruskan. Hingga kemudian istri sah sugar daddy nya melabrak.
Kini banyak dari perempuan-perempuan itu yang mendapatkan masalah, sebab Clarissa melaporkan kepada para istri sah. Bahwasannya suami mereka memiliki simpanan, yang diambil dari sebuah agency bernama SB.
Kini selain menghadapi komplain dari para sugar baby, SB Agency pun akan dihadapkan pada proses hukum. Dengan indikasi adanya perdagangan manusia berkedok sekolah modeling serta agency.
***
"Vit, koq gitu banget ya suaminya Nina?"
__ADS_1
Lea ingat saat ia bertanya pada sahabatnya itu, kini ia telah berada di rumah. Ia baru saja selesai masak dan mandi, sambil menunggu suaminya pulang.
"Sibuk mungkin." ujar Vita kala itu.
Lea terus memperhatikan suami Nina yang sejak awal kedatangan ke rumah sakit, tampak sangat sibuk menelpon. Ia bahkan belum masuk dan menjenguk Nina di dalam.
Padahal tadi dokter mengatakan pada Vita dan juga Lea, jika Nina tengah hamil muda. Suami Nina pun telah diberitahu oleh Vita melalui telpon.
Namun ketika sampai suami Nina malah bukan langsung masuk ke ruang rawat, tetapi masih sibuk entah menelpon siapa. Tampak pria itu begitu gusar dan sedikit-sedikit Lea maupun vita mendengar soal pekerjaan. Sepertinya pria itu memang sibuk dengan pekerjaan.
"Udah Le, nggak usah diliatin. Beneran sibuk kali dia." ujar Vita, lalu menyenderkan punggungnya ke kursi ruang tunggu.
"Ya kan bisa Vit, di stop dulu nelponnya. Liat kek Nina didalam, lagi hamil anaknya loh dia."
Tak lama kemudian suami Nina mendekat.
"Nina di dalam?" tanya nya pada Lea dan juga Vita.
"Di luar angkasa." jawab Lea ketus, lalu kakinya diinjak oleh Vita.
"Iya di dalam, mas." ujar Vita.
Suami Nina siap melangkah, namun kemudian ia kembali mendapat telpon.
"Hallo."
Ia menjauh, Lea menghela nafas kesal demi melihat tingkah pria itu.
"Lea."
Daniel pulang dan membuyarkan lamunan Lea mengenai Nina dan suaminya. Buru-buru perempuan itu keluar dari kamar, lalu menghampiri sang suami.
Daniel tersenyum, Lea mencium tangan pria itu. Lalu mengambil tas kerja Daniel dan meletakkannya ke atas meja. Sementara Daniel kini mengambil segelas air putih dari dalam kulkas dan meminumnya.
"Kamu masak apa?" tanya Daniel seraya memperhatikan meja makan.
"Tuh liat aja." ujar Lea.
Daniel tersenyum, lalu mencomot sepotong bakwan jagung yang di buat oleh Lea. Di atas meja makan tersebut juga terdapat sayur bening bayam, ikan goreng dan sambal.
"Aku mau makan." ujar Daniel kemudian.
"Mau sekarang?" tanya Lea.
Daniel mengangguk.
"Tadi aku nggak makan siang loh, ujarnya seraya mengambil piring."
"Sini aku aja, mas." Lea bermaksud membantu sang suami mengambil piring.
"Udah nggak apa-apa." Daniel mengambil dua lalu kembali ke meja makan.
"Kamu belum makan kan?" tanya nya kemudian.
"Mmm, belum mas. Nungguin mas, sengaja."
Daniel memberikan satu piring untuk Lea, sementara perempuan itu kini menuangkan air minum.
"Kenapa mas tadi siang nggak makan di kantor?"
__ADS_1
"Banyak kerjaan, nggak sempat lagi buat makan."
"Jangan kayak gitu, jangan sering menunda makan. Ntar sakit, loh."
"Iya, besok-besok nggak koq. Hari ini aja."
Daniel mengambil nasi, berikut lauknya. Begitu pula dengan Lea, tak lama kemudian mereka pun makan.
"Mas."
"Hmm?"
"Nina hamil."
Daniel menghentikan sejenak makannya dan menatap Lea.
"Oh ya?" tanya nya pada sang istri, Lea mengangguk. Daniel kembali melanjutkan makan, ia turut gembira untuk itu.
"Tapi masa, reaksi suaminya biasa aja."
"Maksudnya?" tanya Daniel seraya mengerutkan kening.
"Ya biasa aja, nggak antusias. Padahal katanya pengen banget punya anak."
"Kamu bisa menilai gitu dari mana?"
"Ya dari ekspresinya dia, waktu datang ke rumah sakit."
"Emangnya kalian ketemu?"
"Ketemu, orang kita nungguin Nina sampai tuh laki dateng. Tapi dia malah sibuk nelpon mulu, bukannya si Nina yang di prioritaskan."
Daniel tertawa.
"Urusan kantor mungkin."
"Ya, nggak gitu juga mas. Masa iya urusan kantor nggak bisa ditinggal semenit-dua menit."
Lagi-lagi Daniel tertawa.
"Ya, setiap orang kan punya keadaannya masing-masing. Terus Nina gimana?"
"Baik sih, baik-baik aja." jawab Lea.
Daniel mengambil air putih dan mereguknya hingga setengah gelas.
"Pokoknya kalau aku hamil, mas jangan gitu ya. Aku sedih loh, kalau mas datar aja mukanya."
Lagi dan lagi Daniel tertawa.
"Koq mas ketawa?" Lea berubah sewot.
"Ya abisnya kamu ketakutan duluan, seolah kamu samain aku dengan suaminya Nina."
"Pokoknya awas kalau mas kayak gitu, hamilnya aku batalin."
"Hahaha." Daniel terbahak bahkan nyaris tersedak.
"Emangnya belanja online, bisa dibatalin." ujarnya kemudian.
__ADS_1
Lea makin sewot, namun akhirnya perempuan itu tersenyum.