Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kepala Richard Yang Berasap.


__ADS_3

"Nggak mau."


Arsenio mengalihkan wajahnya ke arah lain, saat Reynald tengah ingin menyuapi anaknya tersebut untuk makan.


"Kamu harus makan, biar cepet sehat lagi." ujar Reynald.


Arsen bungkam dan tetap membuang pandangan ke arah lain.


"Saya mau pulang." ujarnya kemudian.


"Kamu akan pulang sama papa, nanti kalau udah sehat."


"Saya mau pulang ke rumah keluarga ibu saya." Arsen bersikeras.


"Silahkan, tapi resikonya keluarga ibu kamu bisa dipenjara."


Arsen tersentak mendengar semua itu, namun ia tetap berusaha bersikap dingin dan tak goyah sedikitpun. Ia tetap tak mau menatap mata Reynald.


"Kamu tau kan kalau papa bisa melakukan apa saja. Dan lagipula papa sudah berhasil mendapatkan bukti atas semua fitnah yang keluarga ibu kamu lakukan terhadap papa dulu. Papa akan gunakan itu untuk menjerat mereka, kalau mereka nggak mau menyerahkan kamu kepada papa."


"Saya nggak suka hidup saya di atur-atur, saya sudah lewat 17 tahun."


"Ok, berarti kamu nggak peduli dengan keselamatan keluarga ibu kamu."


Kali ini Arsen menatap Reynald dengan penuh kemarahan. Tak lama Richard dan Lea pun masuk. Sejatinya mereka sudah ada di pintu sejak tadi dan mendengarkan pertengkaran diantara keduanya. Lea mendekat ke arah Arsen. Sedang Richard berbalik keluar, mengikuti Reynald.


"Arsen, kamu baik-baik aja?" tanya Lea pada saudara sepupunya itu. Arsen tak menjawab.


Sementara di luar Reynald tampak begitu kacau. Meski di dalam tadi ia berhasil membuat Arsen terdiam dan kalah dalam perdebatan. Namun sebagai ayah ia tetap saja merasa hancur. Sebab ia gagal mendapatkan hati anaknya sendiri.


"Rey."


Richard menghentikan langkah Reynald. Pria itu kemudian menoleh dan menatap ke arah sang adik. Tak lama Richard pun semakin mendekat dan keduanya lalu berpelukan. Richard tau jika saat ini Reynald benar-benar sedih, meski ia tak mengatakan apapun.


"Lo makan ya, Sen."


Lea membujuk Arsen untuk makan.


"Kalau mau cepet sehat, lo harus makan." ujarnya lagi.


Lea terus berbicara kepada pemuda itu. Hingga lama kelamaan ia pun luluh dan akhirnya mau makan.


***


"Aaakh."


Lea meringis dan memegangi pinggang serta perutnya ketika masuk ke dalam mobil. Mereka kini memutuskan untuk pulang, setelah hampir satu jam menemani Reynald.


"Kenapa kamu?" tanya Richard panik.


"Sakit yah." jawab Lea.


"Kita perlu ke rumah sakit nggak?"

__ADS_1


Richard bertanya lantaran tak pernah menghadapi wanita hamil sebelumnya.


"Nggak perlu yah, kata dokter emang gini koq. Semakin bayinya gede, semakin ada aja gangguan yang bakal aku rasakan. Entah itu sakit pinggang lah, ngilu di bagian bawah perut, atau pengen pipis terus menerus."


Richard menghela nafas, ia begitu iba pada anaknya tersebut.


"Sakit banget nggak?" tanya nya lagi. Ia masih saja panik seperti tadi.


"Udah nggak." jawab Lea lalu bersandar pada jok mobil.


"Serius?. Jangan bohong sama ayah."


"Serius yah, udah nggak apa-apa koq."


"Perutnya sakit nggak?" tanya Richard lagi.


"Nggak sih, tadi agak ngilu aja karena dia nendang aku yah."


Richard mengehela nafas, wajahnya kian menjadi tegang.


"Serius, kita nggak harus ke rumah sakit?"


"Serius yah, nggak apa-apa."


Richard diam sejenak dan menatap Lea.


"Ya udah, tapi kalau sakit lagi dan butuh ke dokter bilang ya."


"Iya yah."


***


Sesampainya di rumah, Richard membukakan pintu untuk Lea lalu menggendongnya.


"Yah maaf ya." ujar Lea merasa tak enak hati.


"Udah nggak apa-apa." jawab Richard.


Asisten rumah tangga membukakan pintu, sebab ia sudah mendengar suara mobil Richard sejak masih di luar pagar tadi. Richard membawa Lea dan meletakkannya di sofa. Kemudian ia melepaskan sepatu yang dikenakan anaknya itu.


"Lea kenapa?" Tiba-tiba Daniel muncul dan mendekat.


"Gara-gara lo, anak gue jadi buncit dan kesakitan di sana sini." Richard berseloroh pada Daniel.


"Kan gue begitu karena gue sayang sama dia."


Daniel menjawab seperti jawaban seorang remaja yang tengah dimarahi ayahnya. Richard menatap Daniel lalu tersenyum, ia menepuk bahu menantunya itu kemudian berlalu.


"Urusin, jangan nggak." Seloroh Richard lagi.


"Iya bawel."


Daniel menjawab seraya tertawa menatap Lea, begitupun sebaliknya.

__ADS_1


"Kamu kecapean ya?" tanya nya sambil duduk disisi perempuan itu. Lea kini tampak berbaring di sofa tersebut.


"Kayaknya iya deh mas, pinggang aku sakit soalnya." jawab Lea.


Daniel menghela nafas, lalu mengambil bantal. Ia menarik sebentar tubuh sang istri dan mengganjal pinggangnya dengan bantal itu. Lea kemudian kembali berbaring dan rasanya ia lebih nyaman ketimbang tadi.


"Perutnya sakit nggak?"


Lagi-lagi Daniel bertanya. Kali ini sambil mengusap-usap perut Lea.


"Nggak mas." jawab Lea.


"Cuma tadi agak ngilu aja sedikit." lanjutnya kemudian.


"Ngilu nya kuat nggak?" Daniel mulai khawatir.


"Nggak, dia cuma nendang aku aja."


Daniel kembali mengusap-usap perut Lea.


"Nggak boleh gitu ya, dek. Papa marah loh kalau mamanya di tendangin mulu."


Terasa ada getaran di perut Lea. Daniel dan istrinya itu sama-sama tersenyum, lalu mereka saling berciuman dengan mesra.


Sementara di meja makan, Richard tengah mereguk air putih yang barusan ia ambil dari kulkas. Ia memandang ke arah Daniel dan juga Lea sambil menarik nafas.


Ditariknya salah satu sudut bibir yang ia miliki. Pertanda ia bahagia melihat semua itu, meski sebagai seorang ayah sekaligus laki-laki hatinya agak keki. Sebab Lea adalah anaknya dan saat ini ia berada jauh dari Dian.


Richard lalu meletakkan gelas ke atas meja makan dan berbalik ke arah lain. Namun kemudian matanya menangkap sebuah pemandangan yang membuat kepalanya berasap.


Ya, pasalnya diluar tepatnya di dalam kolam renang. Ellio dan Marsha tampak berpelukan sambil berciuman. Richard pun lalu keluar dan menghampiri keduanya.


"Heh, Bambang. Ngapain lo disini?" tanya Richard dengan nada sewot.


Ellio yang merasa kemesraannya terganggu tersebut pun langsung menoleh, begitupula dengan Marsha.


"Ganggu aja lo." Ellio tak kalah sewot.


"Pacar-pacaran lo di kolam renang gue." Richard menggerutu seraya mencomot roti bakar yang ada di atas meja dekat kolam.


"Bayar." lanjutnya kemudian.


Marsha pun tertawa, karena meskipun sewot Richard memang hanya tengah bercanda.


"Bilang aja lo iri." ujar Ellio lagi.


"Emang." jawab Richard sambil terus makan roti bakar.


"Eh abis, monyong. Sana-sana lu...!"


Ellio mengusir Richard karena pria itu terus saja memakan roti bakarnya dengan binal. Richard tertawa lalu berlalu, sebelum Ellio mengamuk dan menyiramnya dengan air kolam.


Richard kembali ke dalam, dan naik ke lantai atas. Di lantai tersebut pun ia kembali keki. Pasalnya dua asisten rumah tangga tampak tengah menelpon kekasih mereka dengan mesra sekali.

__ADS_1


"Iya sayang, nanti kalau pak Richard kasih libur kita ketemu ya. Pak Richard itu baik kalau soal uang, makanan, tunjangan. Tapi pelit banget kalau kasih libur, kayak jaman penjajahan sistem kerjanya."


Kepala Richard kembali berasap. Asisten rumah tangganya itu tak tau jika Richard tengah melintas. Namun Richard mencoba menahan diri dan langsung masuk ke dalam kamar.


__ADS_2