Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Curiga (Bonus Part)


__ADS_3

Richard tengah berjalan di sebuah pusat perbelanjaan. Ia baru saja mengganti tali jam tangannya dengan yang baru.


Ia menyusuri jalan depan pertokoan yang terdapat di dalam mall, dan tanpa sengaja ia bertemu muka dengan Nadya.


Tentu ia kaget, begitupula dengan Nadya sendiri. Tetapi wajah mereka tampak sumringah, lantaran mereka merasa begitu senang bisa bertemu satu sama lain tanpa sengaja.


"Hai, Nad. Kamu sedang apa disini?" tanya Richard pada wanita itu.


"Habis beli kado untuk anak teman yang baru lahir. Mas Richard sendiri?"


"Aku dari ganti tali jam tangan." jawab Richard.


"Oh, sama siapa?" tanya Nadya.


"Sendiri." jawab Richard.


"Kamu sendiri sama Arkana?" pria itu balik bertanya.


"Oh nggak, Arka lagi dirumah sama mbak Putri." jawab Nadya.


"Buru-buru?" tanya Richard pada wanita itu.


"Mmm, nggak sih." jawab Nadya lalu tersenyum.


"Ya udah, gimana kalau kita ngopi?" tanya Richard kemudian.


Nadya melihat ke kanan dan ke kiri. Mall tersebut cukup sepi dan ia pun menyetujui ajakan Richard. Mereka ngopi di sebuah tempat yang tak begitu terlihat oleh umum.


Mereka berbincang, tetapi Richard tak sedikitpun menyinggung soal perceraian antara Nadya dan Hanif. Ia hanya membicarakan pekerjaan dan juga Arkana.


"Dert."


"Dert."


Tiba-tiba handphone Nadya berbunyi dan itu ternyata dari sang supir. Nadya mengangkat telpon tersebut.


"Oh ya udah pak, kalau belum selesai. Nanti saya pulang naik taksi aja." ujar Nadya.


Si supir meminta maaf lalu berpamitan dan menyudahi telpon tersebut.


"Kenapa Nad?" tanya Richard kemudian.


"Itu, mobil saya kan lagi di servis. Katanya masih lama selesainya, bisa nanti sore." jawab Nadya.


"Ya udah, pulang naik mobil saya aja yuk!" ajak Richard.


"Emang nggak apa-apa pak?" tanya Nadya kemudian.


"Nggak apa-apa, aku sekalian mau ke rumah Lea. Mau ketemu Darriel." jawab Richard.


"Oh iya, si Darriel apa kabar?"


Nadya mempertanyakan kabar bayi itu pada Richard.


"Baik, udah makin gendut dia. Makin suka ngoceh." jawab Richard sambil tertawa.


Nadya pun ikut tertawa.

__ADS_1


"Di umur segitu emang lagi lucu-lucunya banget." ujar Nadya.


"Iya, makanya aku kangen terus." Richard menimpali.


Mereka lanjut ngopi dan berbincang. Hingga akhirnya Richard mengantar Nadya pulang ke rumah. Tiba dimuka kediaman wanita itu, dari jauh tampak mobil Hanif baru tiba dan hendak mendekat.


Ia melihat Nadya turun dari mobil Richard, namun ia tak tau jika sang istri diantar oleh pria itu.


Hanif ingin mendekat, tetapi di depannya ada gerombolan anak-anak kompleks yang tengah bermain sepatu roda.


Alhasil Hanif hanya bisa berjalan perlahan dan mobil Richard segera berlalu. Sementara Nadya sudah masuk ke dalam dan menutup pintu pagar rapat-rapat.


Ketika berhasil keluar dari kerumunan, ia berusaha mengejar mobil tersebut. Namun Richard telah jauh. Alhasil Hanif pun kehilangan jejak dan tak bisa menangkap basah.


***


"Taksi online kali, bro. Lo aja yang terlalu curiga, karena posisi lo lagi diminta cerai sama bini lo sekarang."


Salah satu teman baik Hanif mengungkapkan pendapatnya. Ketika akhirnya Hanif curhat perihal apa yang ia lihat dan curigai.


"Masa iya taksi online mobilnya mahal." ujar Hanif.


"Eh jangan salah, banyak loh orang kaya yang gabut dan iseng. Mager diam di rumah, akhirnya nyambi jadi driver taksi online." ujar temannya itu lagi.


"Iya sih, tapi ini terlalu mewah bro mobilnya. Rolls Royce anjir." jawab Hanif lagi.


"Lah emang kenapa kalau Rolls Royce?. Kayak kata gue tadi, orangnya iseng jadi driver taksi online."


Teman Hanif masih bersikukuh.


"Iya kali ya." ujar Hanif.


Maka Hanif pun berusaha untuk berhenti curiga, meski dalam hati ia tetap tak bisa percaya begitu saja.


***


Di lain pihak Susi tengah joget-joget tiktok, sambil memakai pakaian seksi yang memperlihatkan perut buncitnya. Ia benar-benar bahagia saat ini, karena jadwal libur tanpa Hanif masih sedemikian panjang.


Ia tak harus melayani pria itu dan bisa menonton K-drama atau K-Pop sepanjang waktu.


"Kan lumayan gue bisa ngeliat yang bening-bening di YouTube." ujar Susi ketika acara jogetnya telah selesai.


Ia kini menonton salah satu idol grup di YouTube.


"Semoga lah anak gue mirip idol Korea, jangan kayak bapaknya. Suram kalau mirip bapaknya." ujar Susi.


"Tapi kalaupun suram nggak apa-apa juga sih. Yang penting dia bisa jadi mesin ATM gue. Karena mas Hanif pasti akan membiayai dia. Lagipula pas gedenya tinggal di oplas." ujarnya lagi.


"Shela memposting sesuatu, buka Instagram untuk melihatnya."


Susi menerima notifikasi dari akun sosial media miliknya. Dan karena penasaran ia membuka akun tersebut lalu mengklik akun Shela.


Tampak Shela memposting dua foto sekaligus. Satu foto selfie depan kaca yang memperlihatkan iPhone terbarunya. Dua, ia memposting gelang Cartier yang ada dipergelangan tangan. Susi memperhatikan gelang tersebut, sebab itu sangat mirip dengan miliknya.


"Dapat duit darimana si Shela bisa beli semua ini?" tanya nya heran.


Ia lalu berpikir, apa jangan-jangan saat ini Shela sudah memiliki sugar daddy.

__ADS_1


"Beb, sugar daddy mana yang udah lo porotin?"


Susi iseng bertanya di direct message, namun sejatinya ia sangat kepo sekali. Tak lama Shela pun menjawab.


"Ada deh beb." ujarnya.


"Kenalin ke gue dong!" pinta Susi.


"Kapan-kapan ya, beb. Soalnya dia nggak mau di umbar-umbar." ujar Shela.


"Ok oke deh beb."


Susi menyudahi balasan tersebut.


"Paling juga laki orang, makanya malu buat di publikasi." ujarnya kemudian.


Ia bahkan tak sadar jika ia juga merupakan perebut laki orang. Susi lanjut kembali ke YouTube dan mencari idol K-Pop lain yang hendak ia dengarkan lagunya.


***


Di waktu yang sama, Lea mendadak kepo dengan Shela. Apakah perempuan itu masih ingin mengganggu Daniel atau tidak.


Maka ia pun membuka instagram milik Daniel yang password-nya sendiri masih tertaut di handphone miliknya. Ia lalu membuka direct message dan sudah tidak ada lagi pesan dari perempuan itu disana.


"Kapok kan lu, makanya jangan suka ganggu suami orang." ujarnya.


"Gatel sih." lanjutnya kemudian.


"Heheee."


Darriel yang ada di dekat perempuan itu pun lalu tertawa.


"Kamu kalau udah gede, cari cewek yang bener ya Delil." ujarnya menasehati.


Darriel sendiri hanya menggerak-gerakkan kaki seraya mengenyot jari tangan.


"Dengar nggak Delil?" tanya Lea.


"Heheee."


Lagi-lagi bayi itu hanya tertawa, sebab hanya itulah yang bisa ia lakukan saat ini.


"Dengar nggak kamu?"


"Hokhoaaa."


"Pinter." ujar Lea.


"Mau minum susu nggak?" tanya Lea lagi.


"Heheee."


"Hehe, hehe melulu."


Lea mencubit pipi Darriel, kemudian beranjak menuju kulkas untuk mengambil ASI. Tak lama ia kembali dengan botol susu berisi sumber makanan tersebut.


"Nih, habisin ya." ujar Lea.

__ADS_1


Maka Darriel pun menerimanya dengan penuh antusias.


__ADS_2