
"Lele, itu ibu-ibu yang gue sama Ariana liat di rumah lo kemaren."
Adisty berujar sambil melirik ke suatu arah. Ia kini baru tiba di kampus. Benar saja, wanita yang tiada lain adalah ibu dari Daniel itu ada lagi. Bahkan kini seperti mengikuti dirinya.
Wanita itu berlalu, usai bertemu tatap dengan Lea. Kali ini Lea tak ingin kehilangan jejaknya lagi. Maka dengan setengah berlari, perempuan hamil itu menyusul sang ibu mertua.
"Bu, ibu. Tunggu bu...!"
Lea mencegat wanita itu dengan berdiri langsung dihadapannya. Wanita itu mencoba mencari jalan lain demi menghindari Lea, namun Lea bersikukuh menghalangi.
"Tunggu, bu!. Ibu ibunya mas Daniel kan?"
Wanita itu tersentak dan terdiam di hadapan Lea.
"Bu, kalau ibu mau menemui mas Daniel, temui aja. Nggak perlu ibu ikuti atau amati dari jauh."
Wanita itu masih diam.
"Kalau ibu perlu bicara, ibu harus bicara sama dia. Kalau kayak gini caranya, masalah diantara kalian nggak akan pernah selesai."
Wanita itu membuang pandangannya ke suatu sudut, dan detik berikutnya ia meninggalkan Lea. Dengan tanpa berucap sepatah kata pun.
"Le."
Adisty dan Ariana menghampiri Lea.
"Tuh ibu-ibu siapa sih?" tanya Adisty kemudian.
"Ibunya laki gue." jawab Lea.
"Hah?"
Adisty dan Ariana tampak terkejut.
"Gue juga baru tau, tempo hari gue nemuin fotonya dia lagi gendong mas Daniel yang masih kecil."
"Orang tua laki lo cerai apa gimana?" tanya Ariana.
"Iya cerai." jawab Lea.
"Dia nguntit lo karena pengen ngomong sesuatu kali Le, sama lo." Adisty
berasumsi.
"Orang tadi dia diem aja." ujar Lea.
"Beneran nggak ngomong apa-apa?" tanya Ariana.
"Kagak."
Ketiganya lalu diam sejenak.
"Tau ah, bingung gue." ujar Lea lagi.
"Tapi lo udah coba bicarakan belum sama laki lo?" tanya Adisty lagi.
"Udah, Dis. Tapi tuh mas Daniel kayak marah gitu, pas gue bahas mengenai hal ini. Soalnya dia punya kemarahan tersendiri terhadap ibunya itu. Orang dari umur 14 tahun di tinggalin, sampe sekarang ibunya baru nongol lagi."
__ADS_1
"Duh, jadi bingung ya." Adisty menggaruk-garuk kepalanya.
"Lo aja bingung, apalagi gue." ujar Lea.
"Eh, betinas masuk!. Gosip aja."
Dani berteriak dari kejauhan, tepat disisi Rama dan juga Iqbal yang tengah berdiri di dekat pintu lobi.
"Apaan betinas?" seloroh Ariana dengan nada setengah berteriak.
"Betina-betina." jawab Dani.
"Gue tambahin S biar jamak." lanjutnya kemudian.
Lea, Adisty dan Ariana tak kuasa menahan tawa.
"Emang goblok tuh anak." ujar Lea seraya terkekeh.
Detik berikutnya, mereka pun berjalan ke arah Iqbal, Rama, dan juga Dani. Sambil berbincang mereka kemudian masuk dan menghilang di pintu lobi.
***
"Ayah, ketemuan yuk."
Lea menelpon Richard ketika ia baru menyelesaikan mata kuliah pertamanya hari itu.
"Ketemu?. Mau ketemu dimana?" tanya Richard.
"Kemana kek, tempat ngopi atau tempat makan gitu. Tapi jangan bilang mas Daniel, ada yang mau aku bicarakan soalnya." ujar Lea.
"Nggak yah, baik-baik aja. Cuma ada masalah lain yang mau aku bicarakan sama ayah."
"Ya udah, tapi ayah kerja dulu. Ayah udah sering bolos siang hari, selama beberapa waktu belakangan ini. Walaupun ayah yang memimpin disini, tetap aja ayah nggak enak sama karyawan ayah."
"Iya, aku juga masih ada beberapa mata kuliah lagi. Sorean deh."
"Ya udah, nanti hubungi ayah aja kalau kamu udah selesai. Sekalian kamu yang cari tempat, jadi ayah tinggal datang aja kesana."
"Ok yah." jawab Lea.
Tak lama telpon tersebut pun disudahi.
***
Waktu kembali berlalu, seluruh mata kuliah hari itu akhirnya diselesaikan dengan baik oleh Lea. Kebetulan Richard juga sudah merampungkan seluruh pekerjaannya.
Lea memberitahu dimana dirinya kini, maka Richard pun bergegas menuju ke tempat tersebut.
"Buru-buru amat pulang." ujar Daniel ketika ia menelpon Richard dan mengajaknya untuk ngopi sejenak. Richard menolak dengan mengatakan jika ia harus pulang, lantaran ia ada janji dengan Lea.
"Iya, ada janji sama nyokap." ujar Richard berdusta.
"Mau di jodohin lu yak." goda Daniel dengan nada meledek.
Richard tertawa. Tak lama Daniel pun menyudahi telponnya dan Richard segera berjalan. Richard tiba di sebuah kafe pada beberapa saat kemudian, dan menemui Lea disana.
"Hai sayang."
__ADS_1
Richard mencium kening Lea, sebelum akhirnya ia duduk dihadapan anaknya itu.
"Ayah pesen minuman dulu gih." ujar Lea.
"Atau makan deh, makan ya biar nemenin aku."
"Ayah lagi diet, Lea."
"Diet mulu, ntar sakit lagi loh."
Lea memberikan lirikan yang cukup seram pada ayahnya itu.
"Ya udah deh." Richard akhirnya mengalah.
Pria itu kemudian melihat-lihat menu makanan di tab yang tersedia dan menentukan pilihan. Setelah itu ia menekan tombol pesan pada menu digital tersebut.
"So, kamu mau cerita apa?" tanya Richard pada Lea. Usai ia meletakan kembali tablet menu ke atas meja.
"Ibunya mas Daniel, yah." jawab Lea.
"Ibunya Daniel?" Richard mengerutkan kening.
"Iya, beberapa hari ini ibunya mas Daniel tuh muncul lagi dan sering ngikutin kemana mas Daniel dan aku pergi."
"Kamu yakin itu ibunya Daniel?" tanya Richard lagi.
"Yakin koq, orang sama mukanya dengan foto yang aku temuin di kamar mas Dan."
"Foto yang mana?" lagi-lagi Richard melontarkan pertanyaan.
"Pokoknya ada, mas Daniel nya masih kecil disitu. Pas aku konfirmasi ke mas Dan, mas Dan bilang itu ibunya."
"Terus, apa Daniel tau kalau ibunya itu muncul lagi?"
"Dia nggak tau. Aku mau ngomong soal itu, tapi mas Dan keburu tersinggung. Aku tanya kan ke dia, gimana kalau seandainya ibunya itu datang ke dia tiba-tiba. Terus mas Dan bilang, dia nggak mau bahas soal itu. Malah mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Belum sempat aku ngomong, kalau dalam beberapa waktu belakangan ibunya itu ada di sekitar aku sama dia."
Richard menghela nafas, dan terlihat agak sedikit berfikir.
"Agak sulit sih, Le. Daniel tuh keras orangnya. Ya nggak jauh beda lah sama sifat ibunya. Kalau udah sekali A, ya A."
"Tapi aku kasihan yah liat ibunya. Kayaknya ngarep banget biar bisa ketemu mas Daniel. Tadi aja dia ngikutin aku sampai ke kampus."
"Oh ya?"
"Iya, akhirnya aku kejar kan. Terus aku ajak ngomong. Dia tuh kayak mau menyampaikan sesuatu, tapi ragu dan keliatan nggak berani."
"Terus, akhirnya dia ngomong sama kamu?"
"Nggak, dia berlalu gitu aja." ujar Lea.
Daniel kembali menghela nafas.
"Nanti, ayah coba bicarakan hal ini sama Daniel. Tapi ayah nggak janji hasilnya gimana. Masalahnya suami kamu itu agak batu, kalau sudah menyangkut orang yang pernah nyakitin hatinya dia."
Kali ini Lea yang menghela nafas.
"Ok deh yah." jawabnya kemudian.
__ADS_1