Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Bimbang Dan Ragu


__ADS_3

"Jadi Dian, Cindy, apa ibunya Lea nih?"


Ellio menggoda Richard, sedang Daniel tertawa memperhatikan ayah mertuanya itu.


"Tau ah, bingung gue." ujar Richard kemudian.


"Kalau gue jadi lo, gue nikahin aja tiga-tiganya. Lo kaya raya ini. Kan enak, kalau satu satu berhalangan bisa mampir ke rumah yang lain." ujar Ellio lagi.


"Iya, apesnya berhalangan bareng." Daniel menimpali.


Kali ini ia dan Ellio terkekeh.


"Seneng lo pada?" ujar Richard sewot.


"Elu sih, sok playboy." tukas Daniel.


"Lo sebenernya punya perasaan sama siapa sih?" Ellio makin kepo.


"Nggak tau gue, bingung." jawab Richard.


"Maksudnya paling gede ke siapa?" timpal Daniel.


Richard diam untuk sejenak, ia menimbang dan membanding-bandingkan.


"Nggak tau gue, kayaknya sama deh." ujarnya lagi.


"Emang dasar elu nya serakah." seloroh Ellio.


"Iya bener kata lo tadi, El." timpal Daniel pada Ellio.


"Nikahin aja tiga-tiganya." lanjut pria itu kemudian.


"Yoi, itu udah paling bener." jawab Ellio.


Daniel dan Ellio lalu nyengir, sementara Richard kini tak kuasa menahan senyuman.


"Gila." ujar Richard pada kedua sahabatnya itu.


***


Di lain pihak.


"Lea."


Sebuah suara memanggil Lea terdengar dari suatu arah. Perempuan hamil yang tengah memegangi pinggangnya tersebut pun menoleh.


"Ibu?"


Lea tercengang. Bukan ibu kandungnya yang barusan bersuara, melainkan ibu dari Daniel. Entah dari arah mana wanita itu muncul, yang jelas kini ia ada di hadapan Lea.


Dalam sekejap, mereka sudah terlihat mengobrol di kantin kampus. Sebab Lea mengajak wanita itu kesana.


"Ibu tau nama saya dari mana?" tanya Lea seraya tersenyum.


"Dari apa yang sering ibu dengar. Maafkan ibu ya, ibu sering mengikuti kamu beberapa waktu belakangan ini."


Wanita tersebut berujar sambil menunjukkan rasa penyesalannya.


"Nggak apa-apa koq, bu." jawab Lea masih terus tersenyum.


"Maaf, kamu ini istrinya Daniel kan?" tanya wanita itu pada Lea.

__ADS_1


"Iya bu, saya istrinya mas Daniel." Lagi-lagi Lea menjawab.


"Usia kalian sepertinya jauh sekali, apa kamu istri kedua Daniel?"


Lea diam.


"Maaf, soalnya ibu benar-benar tidak tahu lagi kabar Daniel sejak belasan tahun lalu."


Lea pun kembali tersenyum.


"Saya istri pertamanya bu, dan amit-amit semoga nggak ada yang kedua."


"Daniel baru menikah di usia segini?"


Lea mengangguk.


"Iya bu." jawabnya kemudian.


"Mas Daniel, dia punya ketakutan untuk menikah selama ini."


"Takut?" Ibu Daniel menatap Lea.


Lea kini agak menarik nafas, ia berfikir cepat apakah harus jujur atau tidak. Namun akhirnya ia memilih untuk mengatakan semuanya.


"Mas Daniel bilang, dia trauma sama pernikahan orang tuanya. Takut dia akan jadi seperti ayahnya. Takut kalau istrinya nanti pergi dan ninggalin anaknya sendirian, seperti apa yang dia pernah alami."


Jantung ibu Daniel berdegup dengan kencang, wanita itu kini menyadari kesalahannya.


"Maafin saya bu, bukan bermaksud menyinggung. Tapi itulah yang mas Daniel bilang ke saya."


Ibu Daniel tertunduk.


"Ibu tau ini salah ibu, ibu nggak marah sama kamu."


"Apa dia sehat?" Ibu Daniel mempertanyakan soal puteranya.


"Iya bu, mas Daniel sehat-sehat aja. Dia sekarang juga udah jarang minum alkohol, jarang pergi ke klub malam dan lain-lain sejak nikah sama saya. Kadang walau saya bebaskan, tapi dia memilih untuk dirumah. Dia lebih suka berlama-lama dengan anaknya, sambil ngajak ngobrol walau nggak ada jawaban."


"Kalian punya anak lain?" tanya ibu Daniel lagi.


"Nggak bu, ini baru mau satu." ujar Lea.


Ibu Daniel tersenyum, tampak jelas ada ribuan penyesalan dalam diri wanita itu.


"Apa dia masih menderita alergi?"


"Masih, bu. Kadang bandel juga kalau di ingetin. Pas kambuh baru nyesel."


Ibu Daniel masih tersenyum, sambil mengenang saat-saat berharga yang pernah ia lewati bersama dengan puteranya tersebut.


"Ibu kenapa nggak temui mas Daniel aja. Atau mau saya bantu ketemu?"


"Jangan, Lea...!"


Ibu Daniel menolak.


"Daniel nggak akan bisa memaafkan ibu. Ibu belum siap di caci maki oleh anak ibu sendiri."


"Kita kan nggak tau bu, kita cuma bisa mengira-ngira aja. Siapa tau mas Daniel kangen sama ibu, dan siapa tau juga ketakutan ibu sekarang nggak akan terjadi."


Ibu Daniel menghela nafas.

__ADS_1


"Ibu sudah tau apa yang akan terjadi, kalau ibu memaksa ketemu dia. Dia itu anak ibu, ibu tau persis sifatnya Daniel kalau sudah marah dan kecewa sama orang."


"Tapi kan ibu ini ibunya mas Daniel, bukan orang lain. Mas Daniel nggak mungkin menyamaratakan sikap, antara orang lain dan ibunya sendiri."


Ibu Daniel kembali tersenyum lalu menggenggam tangan Lea.


"Ibu nggak masalah, kalau ibu nggak bisa berbicara secara langsung ataupun memeluk Daniel. Ibu sudah melihat dia beberapa kali. Ibu kesini hanya mau berpesan sama kamu. Jangan tinggalkan Daniel apapun yang terjadi. Sayangi Daniel dengan sepenuh hati kamu."


Air mata ibu Daniel merebak di pelupuk mata, meski ia berhasil untuk tidak menjatuhkannya. Lea sendiri tak bisa berbuat banyak, kecuali diam dan mendengarkan secara seksama.


"Ini."


Ibu Daniel mengeluarkan sebuah kotak perhiasan. Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah gelang yang harganya cukup mahal. Ibu Daniel lalu memakaikan gelang tersebut pada lengan sang menantu.


"Bu, ini...?"


"Kamu pakai ini, ibu nggak bisa kasih apa-apa ke kamu kecuali ini."


Ibu Daniel menatap Lea dan begitupun sebaliknya.


"Tolong jaga Daniel dengan baik. Dalam waktu dekat ibu akan kembali ke negara suami ibu yang sekarang."


"Ibu beneran nggak mau menemui mas Daniel dulu?"


"Maafkan ibu, Lea. Tapi ibu benar-benar nggak bisa."


Lea tak bisa memaksa lagi.


"Kapan ibu akan kembali ke negara suaminya ibu?" tanya Lea kemudian.


"Dalam waktu dekat ini." jawab ibu Daniel.


"Boleh saya minta nomor ibu." pinta Lea


Ibu Daniel mengangguk, lalu memberikan nomor telponnya pada Lea.


***


"Kamu ketemu ibu Daniel lagi?"


Richard bertanya pada Lea, saat ia menjemput puterinya itu dari kampus. Lea tadi menyuruh supirnya pulang, sebab ia ada janji pada Richard. Kini ia dan Richard berada di sebuah jalanan.


"Iya yah, dia kasih aku gelang ini."


Lea memperlihatkan gelang pemberian sang ibu mertua, Richard pun lalu menghela nafas.


"Harusnya dia ketemu aja sama Daniel, ngomong baik-baik dan minta maaf. Ayah rasa Daniel bakalan memaafkan."


"Apa ayah sudah bicara sama mas Daniel soal ini?" tanya Lea kemudian.


"Belum, Le. Ayah tuh lupa mulu, urusan kantor ayah lagi bikin mumet akhir-akhir ini. Tapi nanti ayah sempatkan bicara deh sama dia."


"Iya yah, soalnya ibu mas Dan tuh cuma tinggal beberapa hari lagi disini. Dia mau balik ke negara suaminya."


"Oh, ayah pikir dia pulang dan menetap selamanya disini."


"Nggak yah, dia pulang." jawab Lea.


"Ya udah deh, ntar ayah bicarakan sama Daniel. Kalau nggak nanti malam, besok paling lambat." ujar Richard kemudian.


***

__ADS_1


CATATAN PENTING :


YANG NANYA KAPAN BAYI NYA LAHIR, LAMA LAH APA LAH. DI LAPAK SAYA, DILARANG MENGATUR ATAU MENDESAK-DESAK. KARENA LAPAK SAYA, SAYA YANG BERHAK 100% ATAS SEMUANYA. SAYA INDEPENDEN DAN TIDAK BISA DI SETIR ATAU DI ATUR SIAPAPUN. THANK YOU.


__ADS_2