
Daniel mengantar Lea dan Darriel ke rumah sakit pagi itu. Sebab anak ikan lele ada jadwal untuk mengikuti program imunisasi. Di sepanjang perjalanan menuju kesana, Darriel hanya tidur dan hanya bangun sesekali.
Untungnya mereka datang lebih awal, sehingga mereka tak harus mengantri panjang demi mendapatkan imunisasi tersebut.
Ketika dipanggil, Lea berharap-harap cemas. Seperti yang telah terjadi sebelum-sebelumnya, ia sangat kasihan apabila melihat Darriel harus berurusan dengan jarum suntik.
Namun meskipun kasihan, itu adalah untuk kebaikan Darriel sendiri. Supaya ia tumbuh menjadi anak yang sehat dan tak gampang terinfeksi penyakit.
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
Darriel menangis keras saat jarum suntik ditusukkan ke tubuhnya. Hati Lea seperti di remas-remas. Daniel sendiri sempat menarik nafas beberapa kali, karena tak tega menyaksikan itu semua.
Usai di imunisasi, ia terus menangis. Bahkan Lea agak sedikit kualahan dalam menenangkan anaknya itu. Digendong Daniel pun ia tetap menjerit-jerit. Hingga seorang perawat akhirnya mendekat dan membantu mendiamkan bayi itu.
"Hhhhh."
Lea yang muda menghela nafas panjang saking leganya, begitupula dengan Daniel. Meski ia telah dewasa bukan berarti tak merasa iba pada sang anak. Mereka lalu berjalan dan masuk ke dalam mobil ketika imunisasi sudah selesai.
"Sakit ya?"
Daniel berbicara pada Darriel yang saat ini berada di belakang bersama sang ibu. Ia tengah diberi ASI dan matanya sudah sayup-sayup.
"Iya papa, tangan Darriel sakit. Tapi Darriel kuat dan pemberani ya sayang." Lea ikutan berujar pada anaknya itu.
Tak lama kemudian Darriel pun tertidur. Daniel menghidupkan mesin mobil, kemudian meninggalkan pelataran parkir rumah sakit.
***
Di sebuah kapal pesiar kecil yang tengah bergerak meninggalkan dermaga. Marvin duduk bersama para rekan kerja sambil menikmati wine.
Di ujung kapal tersebut tampak Clarissa dan beberapa gadis lain tengah berswafoto sambil mengenakan bikini.
"Gimana soal Daniel?"
Salah satu rekan Marvin menyinggung soal penghalang proyek mereka tersebut. Seperti yang telah diketahui sebelumnya, pihak perusahan Marvin memiliki sebuah proyek besar. Namun terhalang karena pihak Daniel menolak kerjasama.
Padahal kunci kemulusan jalan untuk meraih proyek tersebut ada di tangan Daniel. Sebab Daniel adalah salah satu orang yang dipercayai oleh penguasa daerah setempat.
"Tenang aja, bentar lagi juga bakalan hancur koq."
Marvin berujar dengan penuh percaya diri.
"Lo pada udah tau, kalau dia, Richard, dan Ellio itu hobi memelihara sugar baby?"
"Oh ya?"
Para rekan-rekan Marvin memasang mode paling munafik sedunia. Padahal sejatinya mereka juga merupakan pengguna jasa sugar baby. Masing-masing dari mereka menyembunyikan perempuan muda nan legit di belakang pasangan sah mereka.
"Ya, dia memelihara perempuan muda dari usia 16 tahun di penthousenya." ucap Marvin.
"Yang sekarang jadi istrinya itu?" tanya salah satu dari mereka.
"Ya." jawab Marvin sambil tertawa.
"Semudah itu ternyata, menjatuhkan seorang Daniel di mata publik. Dia akan menanggung malu soal ini." lanjutnya kemudian.
__ADS_1
Rekan-rekan Marvin saling bersitatap. Mereka saling memberi kode yang berarti bahwa mereka harus merahasiakan, jika mereka sebenarnya juga memiliki sugar baby.
Sebab ini adalah ajang untuk menjatuhkan harga diri Daniel. Bila perlu pria saingan mereka tersebut harus di pidana, atas kesalahan dan keteledoran yang telah ia buat selama ini.
Momen memanfaatkan sugar baby tersebut, memang paling pas untuk menjatuhkan sekaligus mempermalukan Daniel. Ia tak akan lagi mampu berkutik jika semua bukti sudah jelas.
***
Lea turun ke bawah sekitar pukul 11 malam. Saat itu Daniel tengah menonton tayangan natgeo wild seorang diri.
"Ayah sama om Ellio mana, mas?" tanya Lea pada suaminya itu.
"Udah pada tidur. Richard tadi agak flu, jadi di butuh istirahat."
"Udah minum obat?" tanya Lea lagi.
"Udah." jawab Daniel.
"Mau makan kamu ya?" Pria itu balik melontarkan pertanyaan.
"Iya, laper. Disedot semua sama Darriel sampe gemetar emaknya."
Lea mulai mengambil makanan di meja makan. Sedang Daniel belum beranjak dari tempat dimana ia duduk.
"Nonton apaan sih mas?"
Lea mendekat sambil membawa piring berisi nasi, berikut dengan segala lauk-pauknya.
"Ini natgeo wild."
"Kamu mah nontonnya ini mulu. Apa kek, sinetron gitu."
Lea mulai menyuap nasinya dengan tangan. Kedua kaki perempuan itu kini ikut naik di sofa.
"Eh mas, by the way kita disini mulu. Nggak pulang-pulang."
Lea menyuap dengan mulut super besar.
"Aku sih tergantung kamu aja. Mau pulang ya ayo, masih mau disini juga nggak masalah. Toh aku juga laki-laki dan mertua aku Richard ini. Ya kali Richard mau menjadi mertua super julid. Anak sama menantunya nebeng, terus di sindir-sindir sama dia."
Lea tertawa kali ini, begitu pula dengan Daniel.
"Untungnya hidup aku nggak ada drama mertua mas. Kalau nggak minggat mulu kali aku, sambil bawa Darriel."
Daniel makin tertawa.
"Semoga nggak ada juga masalah yang lain." ujar Lea lagi.
Daniel mengangguk, lalu kembali memperhatikan televisi.
"Darriel nggak rewel?" tanya nya kemudian.
"Nggak sih, tapi nggak tau kalau besok. Takutnya reaksi imunisasi nya telat. Tapi mudah-mudahan aja nggak. Jangan nangis dulu deh, emaknya ngantuk soalnya." jawab Lea.
"Ya udah abisin makannya, abis itu tidur."
Lea mengangguk lalu melanjutkan makan. Ia kini turut memperhatikan televisi. Usai makan ia mengobrol dan menonton sejenak bersama Daniel.
__ADS_1
Pria itu membawanya ke dalam pelukan. Sesekali mereka tertawa lantaran membahas sesuatu yang lucu. Sampai kemudian Lea menyerah pada kantuk dan tertidur di pelukan suaminya.
Daniel mematikan televisi. Lalu menggendong tubuh Lea ke atas dan sekalian pergi tidur.
***
Esok harinya di kantor. Ellio tengah berjalan menyusuri lorong koridor, demi menemui Daniel dan Richard di ruangan Daniel.
"Pak mau kemana?"
Salah seorang karyawan Daniel berbicara padanya.
"Ya mau ke sana lah, mau ketemu Daniel. Masa mau ke Wakanda." selorohnya kemudian.
"Nggak boleh pak, ada kunjungan warning buat bapak." ujar karyawan itu.
"Kunjungan warning?. Kunjungan warning apaan?" Ellio mulai sewot.
"Bapak di banned selama pesta pernikahan bapak belum di gelar."
Ellio terkejut mendengar semua itu. Setelah kemarin karyawan Daniel protes atas dirinya, kini ia pun di banned atau di larang mendekat.
"Siapa yang membuat peraturan kayak gini?" tanya nya kemudian.
"Ini berdasarkan musyawarah antar karyawan pak. Kalau bapak melanggar, kami akan mogok kerja sama pak Daniel."
Ellio makin terdesak.
"I, iya tapi kan?"
"Sana pak, mending bapak pulang."
Salah satu karyawan Daniel mendorong Ellio, dan menyuruhnya berbalik arah. Ellio kemudian hanya bisa pasrah dengan hati yang begitu dongkol.
"Dan."
Ia menelpon Daniel. Terdengar Daniel yang cengengesan di telpon.
"Gue tau ini pasti kerjaan lo kan?"
Ellio menuduh sahabatnya itu.
"Kerjaan apaan?" tanya Daniel bingung.
"Ini karyawan lo ngebanned gue. Gue nggak boleh ketempat lo. Masa lo nggak tau kelakuan karyawan lo sendiri."
Daniel tertawa.
"Lo juga kesini paling juga mau liat Marsha kan?"
"Lah terus, emang nggak boleh gitu?" tanya Ellio kemudian.
"Udah biarin dulu aja. Toh karyawan pulang semua nanti, lo juga bisa pulang sama Marsha."
"Lo bener-bener ya, Dan. Pro karyawan banget lo."
"Emang."
__ADS_1
Daniel menjawab sambil masih tertawa. Setidaknya ini semua menjadi hiburan bagi dirinya dan juga Richard
"Awas lo." Ellio sewot lalu menutup telpon.