
Di sebuah pusat perbelanjaan, tepatnya di sebuah counter yang menjual beragam fashion. Lea terlihat tengah memilah-milah baju untuk dirinya sendiri. Daniel mengajaknya berbelanja hari itu.
"Mas ini bagus kan kayak gini."
Lea menunjukkan setelah dress dengan luaran yang kece punya. Bisa dipakai oleh perempuan hamil, namun tetap terlihat stylish.
"Mmm, ok." ujar Daniel.
"Tapi coba nanti kamu pake ya di ruang ganti, biar kita liatin satu-satu." lanjut Daniel lagi.
"Ok, aku kumpulin dulu deh." tukas Lea.
Perempuan itu pun kembali memilah-milah dengan sesuka hati. Sementara Daniel membantu memilihkan, apa yang menurutnya bagus dan cocok untuk Lea.
Selang beberapa saat, mereka sudah tampak di ruang ganti. Daniel menunggu di luar dan Lea masuk ke dalam. Tak lama ia kembali dengan baju yang sudah terpakai.
"Gimana mas?" tanya Lea sambil menunjukkan penampilannya.
"Mmm."
Daniel memperhatikan Lea dari bawah hingga ke atas.
"Nggak, kurang." jawab Daniel.
Lea pun kembali dan berganti dengan baju yang ke dua. Lalu ia kembali menunjukkannya pada sang suami.
"Ini gimana?" tanya nya.
"Mmm, ini ok." ujar Daniel.
"Berarti yang ini ambil ya mas?"
"Iya."
Lea lanjut berganti baju yang ketiga.
"Ini gimana mas?" tanya nya lagi.
"Mm, ok."
Kemudian ia lanjut baju yang keempat.
"Nggak." jawab Daniel.
Lanjut kelima, ke-enam hingga ke sepuluh. Dan hasilnya sebagian ok menurut Daniel, sebagian juga tidak.
Akhirnya di dapatlah tiga dress, tiga setelan dan empat pilihan Lea sendiri yang tidak melalui persetujuan Daniel. Karena Daniel membebaskan untuk itu. Jika tidak dituruti, ia khawatir Lea akan mengamuk nantinya. Menjaga perasaan wanita hamil itu ngeri-ngeri sedap. Salah sedikit, bisa meledak.
"Mas, abis ini kita kemana?" tanya Lea setelah semuanya usai dibayar.
"Beli perlengkapan bayi." jawab Daniel..
"Tapi kan kata orang pamali mas."
"Halah, pamali-pamali banget. Boleh kali dikit-dikit, ntar kalau kandungan kamu udah gede, waktu udah mepet, lebih repot lagi. Kelabakan nanti, mending sekarang."
"Mmm, ya udah deh. Lagian juga aku belum mau pulang, masih pengen belanja."
"Ya udah ayok...!" ajak Daniel.
__ADS_1
Lea pun menggandeng lengan suaminya itu, mereka keluar dari counter baju dewasa dan menuju ke counter yang menjual segala perlengkapan bayi.
Sesampainya disana, Lea tampak sangat bahagia. Karena banyak sekali pilihan yang menurutnya sangat lucu.
"Ih gemes banget mas." ujarnya menunjuk ke sebuah setelan.
"Ini juga lucu." timpal Daniel sambil memperlihatkan baju yang menarik perhatiannya.
"Tapi yang punya anak cewek lebih banyak pilihan ya mas." Lea melihat-lihat baju dan segala pernik bayi perempuan.
"Ya kan perempuan, dipakein apa juga ok. Kalau anak cowok kan dari dulu ya gitu-gitu aja."
"Iya sih, tapi nggak apa-apa lah. Banyak juga koq yang lucu." ujar Lea lagi.
"Liat deh...!"
Daniel mengambil sepatu bayi laki-laki, yang modelnya seperti sneaker dengan merk tertentu.
"Ih lucu mas."
"Ada-ada aja ya orang bikin." ujar Daniel lagi.
"Iya, makanya. Sulit loh bikin begini." tukas Lea.
Daniel lalu memasukkan sepatu itu ke dalam keranjang, lalu mereka lanjut mencari yang lainnya.
***
Perlengkapan bayi akhirnya selesai dibeli, Lea menuju ke counter yang menjual skincare.
"Liatin Le, bahannya. Udah konsultasi ke dokter kan, apa aja yang boleh dan nggak boleh."
"Iya mas, ini mau aku bacain satu-satu koq." ujar Lea.
"Mas, aku laper." bisik Lea pada Daniel.
"Ya udah, abis ini kita makan. Kamu mau beli yang mana aja?" tanya Daniel.
"Ini udah semua, dalam keranjang." jawab Lea.
"Ok."
"Mas sendiri?"
"Mmm, nggak deh. Masih banyak punya aku."
"Oh ya udah, aku bayar dulu." ujar Lea kemudian.
Ia pun membayar di kasir. Setelah itu mereka menyambangi sebuah restoran Korea, karena Lea sedang ingin makan ke Korea-Koreaan.
"Annyeonghaseyo." pelayan yang berdiri di depan menyapa keduanya.
"Annyeong." jawab keduanya serentak.
"Saya mau yang non smoking area untuk berdua." ujar Daniel.
Kemudian mereka berdua diarahkan oleh pelayan tersebut, menuju ke sebuah meja yang ada di sudut kiri ruangan. Meja semi private yang memiliki pembatas atau sekat dengan yang lainnya.
"Silahkan...!"
__ADS_1
Pelayan itu mempersilahkan, kemudian pergi.
"Huh, udah pengen banget duduk dan rebahan dari tadi." ujar Lea seraya meletakkan barang bawaannya ke dekat kursi, lalu duduk.
Daniel juga melakukan hal yang sama, kemudian duduk di sisi Lea.
"Pegel ya kamu?" tanya Daniel pada Lea.
"Pegel mas, tapi seneng." jawab Lea kemudian.
Daniel pun tersenyum, baginya kebahagiaan Lea adalah hal terpenting.
"Makanya doain terus aku, biar kerjaan aku lancar, nggak ada masalah. Biar bisa cuan terus, supaya kamu dan dia bisa belanja tiap saat." Daniel berujar seraya mengusap perut sang istri.
"Kita seneng ya dek ya, belanja. Iya kan?"
Terasa ada gerakan di perutnya. Daniel dan Lea pun sama-sama tertawa.
"Kamu mau makan apa mas?" tanya Lea.
"Aku pengennya, banyak sih." ujar Daniel lalu tertawa.
Tak lama mereka pun sama-sama melihat menu.
"Aku mau ini, ini, dan ini, ditambah ini." ujar Daniel.
"Ok." jawab Lea.
"Kalau aku, mau ini, ini, ini, ini, dan ini. Sama ini juga, dan ini."
Daniel menatap Lea, dan begitupun sebaliknya. Detik kemudian mereka kembali tertawa.
"Gedean badan kamu, tapi banyakan aku yang makan." ujar Lea.
"Ya nggak apa-apa, kalian kan berdua." ujar Daniel.
"Oh iya ya."
Seorang pelayan dipanggil oleh Lea. Pelayan itu mendekat dan mencatat semua pesanan suami istri tersebut. Sambil menunggu, mereka berbincang mengenai banyak hal. Setelah beberapa saat, makanan yang mereka pesan pun tiba.
"Wah itadakimasu." seloroh Lea sambil bersiap untuk makan.
"Ini kan restoran Korea, Jamilah." Daniel nyeletuk sambil tertawa.
"Eh iya ya, hahaha." Lea pun ikut-ikutan tertawa."
"Kalau gitu apa dong?" tanya Lea.
Daniel yang sudah mulai makan itu agak berfikir.
"Aku nggak terlalu tau bahasanya." ujar pria itu.
"Selamat makan, oppa." ujar Lea sambil menunjukkan finger Heart. Seketika Daniel pun tersedak, karena menahan tawa.
"Muka kamu nyebelin banget." tukas Daniel.
"Oppaaaa."
Lea berkata menggunakan logat Korea, dengan wajah yang terbilang sangat sok imut. Sesaat kemudian ia pun makan dengan lahap.
__ADS_1
"Hmm, enak mas." ujarnya sambil menyeruput kuah kaldu hangat yang tersedia.
Daniel mengangguk sambil terus makan. Usai makan, mereka beristirahat sejenak sambil berbincang. Ketika semua dirasa cukup, keduanya memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah, mereka berdua pun tertidur lelap.