Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Dia (Extra Part)


__ADS_3

Malam menjelang, Lea dan Daniel berada di dua kamar yang berbeda dan masing-masing dari mereka mendoakan kesembuhan Richard. Bahkan sama seperti saat curhat pada Darriel, mereka sampai menitikkan air mata.


"Tolong jangan ambil Richard dulu, hamba masih membutuhkan dia." ujar Daniel terisak dalam ucapnya.


"Dia bukan hanya sekedar teman, tapi juga saudara dan kadang bisa menjadi figur ayah bagi hamba."


Darriel yang berada di sisi Daniel fokus mendengarkan doa dari ayahnya tersebut. Namun ia tertawa-tawa meski tanpa suara.


Tak jauh berbeda dari sang suami, isi doa Lea pun sama seperti itu. Ia juga mengatakan jika dirinya belum mau kehilangan Richard untuk saat ini.


Ia berdoa dengan sungguh-sungguh dan benar-benar memohon pada sang pencipta. Ia mengatakan jika Darriel juga masih membutuhkan sosok kakek dalam tumbuh kembangnya.


Intinya malam itu Lea dan Daniel dipenuhi harapan dan permintaan. Sedang Richard baru saja menyelesaikan proses cuci mobilnya yang berakhir basah. Ia mandi di luar dengan senyuman yang terus menghiasi bibir.


Beberapa asisten rumah tangga beruntung dengan mengambilkan handuk bagi pria itu. Pasalnya mereka bisa melihat tubuh sixpack Richard dari dekat.


Setelah selama ini semua itu tersembunyi di balik pakaian yang ia kenakan. Richard juga jarang mengenakan celana pendek di rumah. Ia selalu mengenakan celana panjang dari bahan dan kaos polos.


Tapi kali ini semua asisten rumah tangga mendapat rejeki nomplok. Mereka melihat tubuh pria itu meski tak seluruh bagian.


"Lumayan lah buat menghalu malam ini." celetuk Ayu.


"Hus, masa bos sendiri dilecehkan." ujar Lita.


Ayu tertawa, Richard selesai dan naik ke atas. Ia ada membilas tubuhnya sejenak di kamar mandi lalu mengeringkannya dengan handuk. Sebelum akhirnya ia berpakaian.


***


Di penthouse Daniel dan Lea telah selesai berdoa. Tak lama handphone Daniel pun bergetar, ternyata dari Richard.


"Hallo, mana cucu papa Rich." ujarnya bersemangat.


"Hei." Daniel tersenyum melihat sahabatnya itu.


"Mana Darriel?" tanya Richard sekali lagi.


"Nih.


Daniel memperlihatkan Darriel yang sampai saat ini belum tidur dan masih berada di kasur orang tuanya.


"Heheee."


Ia yang tadinya diam kini bersemangat sekali setelah melihat Richard. Daniel hendak menitikkan air mata, sebab melihat betapa Darriel sangat dekat dengan kakeknya tersebut.


Tak bisa ia bayangkan bagaimana jika Darriel harus kehilangan. Meski ia belum mengenali Richard untuk saat ini.


"Darriel lagi apa sayang?. Kenapa belum tidur?" tanya Richard.

__ADS_1


"Hokhoaaa."


Darriel seakan bersuara.


"Bobok dong, udah jam berapa ini."


"Heheee."


"Nggak mau dia, udah dari tadi disuruh tidur sama ibunya. Masih aja melek gini." ujar Daniel.


"Lea mana?" Richard menanyakan perihal anaknya.


"Ada di bawah, lagi di dapur kayaknya." jawab Daniel.


Richard lalu kembali pada Darriel.


"Darriel, seharian ini ngapain aja coba?" tanya Richard lagi.


"Hokhoaaa."


"Main ya kamu?"


"Hokhoaaa."


"Sini liat papa." ujar Richard lagi.


"Heheee." Ia kembali tertawa.


Tak lama Lea muncul sambil membawa dua gelas susu hangat serta sebotol ASI.


"Ayah, ayah baik-baik aja?" tanya nya usai meletakkan nampan ke atas meja. Kini ia memberikan botol susu berisi ASI pada Darriel.


"Baik-baik aja, itu mata kamu kenapa sembab."


Richard menyadari juga jika mata Daniel pun sama keadaannya.


"Dari berantem lo berdua ya?" tanya Richard pada Daniel.


Padahal keduanya dari sama-sama mendoakan Richard.


"Nggak koq yah, kita dari curhat." ucap Lea.


"Ya bagus kalau gitu. Tapi kalau berantem jangan sering-sering, apalagi sampai di depan Darriel. Nanti merusak mental." ujar pria itu kemudian.


"Iya bro."


"Iya yah." jawab keduanya.

__ADS_1


"Heheee."


Lagi dan lagi Darriel tertawa. Mereka lanjut berbincang hingga lama-kelamaan Darriel pun tertidur. Maka Richard berpamitan, sebab ia sudah ngantuk.


Telpon tersebut di sudahi. Sebelum memejamkan mata, Richard ada memikirkan Nadya. Dan di kediaman Nadya pun sama. Meski telah ia tepis berulangkali. Wajah yang di ingat wanita itu hanyalah wajah Richard.


***


Si kediaman ibu Lea.


"Beneran bu. Ibu sama papa mau balikan?"


Leo tampak antusias mendengar kabar tersebut. Remaja itu sampai menitikkan air mata saking senangnya.


"Iya, Leo. Kami berdua mau anak-anak punya keluarga utuh lagi. Sepertinya papamu juga bisa menyayangi adik-adik, walau mereka bukan anak kandung papamu. Adik-adik juga sudah mulai lengket sama dia."


"Makasih bu, Leo senang banget."


Leo memeluk sang ibu dan begitupun sebaliknya. Bukan tanpa pertimbangan semua ini terjadi. Ibu Lea memang menilai jika anak-anaknya masih membutuhkan sosok ayah.


Sedangkan ayah Leo adalah pria yang baik meski mereka sempat berpisah. Dulu mereka berpisah karena ayah Leo bangkrut dan ingin mencari penghidupan yang baru dan layak.


Kini ia sudah mapan, dan tak akan bergantung pada usaha yang ibu Lea miliki. Ia berjanji akan membahagiakan keluarga kecil mereka jika mereka telah kembali bersatu nanti.


***


"Kamu tadi nangis ya Le, dibawah?"


Daniel bertanya ketika mereka sudah akan berangkat tidur.


"Iya mas, aku abis doain ayah." jawab Lea.


"Mas juga nangis kan?"


Ia membalikkan pertanyaan."


"Iya." jawab Daniel kemudian.


"Aku juga mendoakan Richard dan mendoakan kebaikan kita semua. Semoga kita semua selalu bisa bersama-bersama terus sampai tua." ucap pria itu.


Lea lalu menyandarkan kepala di dada sang suami, sedang Daniel kini merangkul dan mencium kening Lea dengan lembut.


"Percaya aja sama kekuatan doa, Le. Apalagi yang diucapkan dengan sungguh-sungguh." ucap Daniel lagi.


"Iya mas, aku percaya itu." jawab Lea.


Kemudian mereka saling berpelukan satu sama lain, dan tak lama berselang mereka pergi tidur. Sementara Darriel sudah nyenyak sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2