Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Canggung


__ADS_3

Pagi harinya, saat bertemu di meja makan. Daniel dan Lea terlihat canggung. Daniel merasa dirinya sudah melihat tubuh Lea dan begitupun sebaliknya. Tanpa mereka sadari jika masing-masing dari mereka, sebenarnya sudah saling melihat.


Daniel mengira hanya dirinya yang memegang rahasia soal tubuh Lea. Lea pun mengira hanya dirinya yang memegang rahasia soal tubuh Daniel. Jadilah kini keduanya seperti orang yang penuh kekakuan.


Daniel makan, begitupun dengan Lea. Mata keduanya tertunduk ke arah piring. Daniel mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Lea. Matanya tertuju pada gundukan besar yang ada di bagian dada gadis itu.


Daniel ingat persis bagaimana bentuknya. Saat Lea melintas hanya mengenakan sehelai pakaian tidur tipis, yang dulu pernah digunakan oleh Grace.


Daniel ingat baju yang dipakai oleh Lea adalah milik Grace, namun ia tak ingin mempermasalahkan hal tersebut.


Lea mengangkat kepala, Daniel refleks membuang pandangan ke arah lain. Kini gantian Lea yang menatap pria itu.


Hati Lea berdebar hebat, ia mengingat betul ekspresi wajah Daniel dan juga bentuk yang dimilikinya semalam. Ia membayangkan bagaimana jika Daniel mencium bibirnya dan memaksa memasukkan benda itu padanya.


Ia memang belum pernah melakukan hal tersebut, namun ia pernah melihat adegannya dalam sebuah film biru. Ia menemukan sebuah flashdisk saat tengah membersihkan bawah lemari dirumahnya. Dan flashdisk tersebut ternyata berisi banyak film tak senonoh. Sepertinya itu adalah milik ayah tirinya.


Sebuah hal yang sangat ceroboh, mengingat ada empat anak yang tinggal didalam rumah tersebut. Harusnya sang ayah tiri lebih berhati-hati lagi, dalam menyimpan segala sesuatu yang belum pantas diketahui oleh anak.


"Saya sudah selesai." ujar Daniel membuyarkan lamunan Lea. Seketika Lea pun menyelesaikan makanannya.


"Ok, saya juga." ujar gadis itu kemudian. Lea pun beranjak, meletakkan piring ke atas wastafel. Lalu ia dan Daniel menuju halaman parkir.


Disepanjang menuju perjalanan ke sekolah, Lea dan Daniel tak begitu banyak berinteraksi. Memang di hari-hari sebelumnya, mereka pun tak begitu banyak bicara. Namun kali ini dibarengi rasa yang canggung pula. Masing-masing dari mereka masih terus terpikir akan hal semalam.


***


Lea tengah berbalas pesan dengan Vita sambil berjalan menyusuri koridor sekolah. Secara tiba-tiba Sharon datang bersama kedua temannya dan langsung merebut handphone Lea secara serta merta.


Lea terkejut dan berusaha meraih handphone nya tersebut. Namun seperti waktu itu, Sharon dan teman-temannya kembali bermain-main. Ia melempar handphone Lea kesana kemari. Kadang ditangkap oleh Maya, kadang juga oleh Tasya.


Lea yang sadar betapa mahalnya handphone tersebut pun, tak bisa tinggal diam. Ia berusaha keras mengambil handphone itu namun,


"Braaak..."


Lagi dan lagi handphone Lea terjatuh, kali ini terjatuh dari lantai dua gedung sekolah. Lea buru-buru turun dan berlari ke arah handphonenya itu. Ternyata perangkat tersebut retak layarnya. Penuh kemarahan Lea pun mengambil handphone itu dan kembali pada Sharon.

__ADS_1


"Plaaak...!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Sharon. Gadis itu terkejut, tak menyangka jika Lea akan melakukan hal itu padanya.


"Kurang ajar lo ya."


Sharon berusaha memukul Lea, namun Lea menangkis tangannya dan kembali memukul Sharon sebanyak dua kali.


"Plaaak...!"


"Plaaak...!"


Melihat hal tersebut, Maya dan Tasya maju untuk mengeroyok Lea. Seketika suasana pun menjadi riuh, para siswa dan siswi mulai berkumpul untuk menyaksikan hal tersebut.


Beberapa orang memisahkan, termasuk Dian sang kakak kelas. Lalu dalam sekejap, mereka semua dibawa ke ruang guru.


Seperti biasa, pihak sekolah tidak mau mendengarkan penjelasan Lea. Ia dianggap salah karena kini wajah Sharon memar, sedang pemukulan yang terjadi pada dirinya tak diperhitungkan. Padahal Sharon, Maya dan Tasya juga tak kalah menyakiti dirinya.


Jelas-jelas ada memar biru di sudut bibir Lea. Namun itu tak dianggap, karena memar yang dialami Sharon lebih luas. Hampir ke separuh pipinya. Kini Lea terancam akan di stop beasiswa nya, bahkan bisa saja dikeluarkan.


Ia menerima surat panggilan orang tua atau wali, yang wajib datang pada keesokan harinya. Kini Lea menghadapi masalah yang bertumpuk-tumpuk.


Bagaimana mungkin Lea pulang mendadak lalu mengadukan masalahnya kepada sang ibu. Bisa-bisa ia akan didamprat. Belum lagi ayah tirinya, pastilah laki-laki itu akan melemparkan perkataan yang bernada menyakitkan.


"Udah pergi nggak ada kabar, pulang bawa masalah."


Lea membayangkan kata-kata itu dalam pikirannya. Berikut ekspresi wajah ayah tirinya yang sudah pasti akan sangat menyebalkan. Seolah-olah Lea sangat butuh kepada dirinya.


Lea pulang dari sekolah dengan pikiran yang berkecamuk. Ia berfikir, apakah ia menyerah saja dan pindah sekolah. Tapi ia sendiri sudah berada di tahun ke dua dan sebentar lagi akan naik ke kelas tiga. Lea benar-benar bingung kali ini.


Sementara di lain pihak, bayangan akan Lea semalam. Terus menghantui benak Daniel, pria berusia hampir 40 tahun itu lagi-lagi berdesir. Ingin rasanya ia segera melakukan hal tersebut. Ia telah mendapatkan kembali gairahnya, walaupun belum tentu akan berhasil atau tidak jika benar-benar di lakukan.


Daniel mengambil handphone, entah mengapa tiba-tiba saja ia mengirim pesan singkat pada Lea.


"Sudah pulang?"

__ADS_1


Begitulah bunyi pesan singkat yang di ketik oleh Daniel. Ia hampir saja mengirim pesan tersebut, namun pria itu kembali berfikir.


"Ngapain gue ngirim chat ke bocah itu." pikir Daniel. Pria itu pun lalu meletakkan handphone ke atas meja dan menepis segala ingatan mengenai gadis belia itu. Ia menyibukkan diri dengan pekerjaan dan juga urusan dengan klien.


***


Daniel pulang sore itu, ia mengira jika Lea ada dikamar. Namun ketika malam tiba, Daniel yang ingin mengambil air minum ke lantai bawah. Tiba-tiba melihat Lea yang baru keluar dari lift pribadi. Gadis itu masih mengenakan baju sekolahnya.


"Dari mana kamu, jam segini baru pulang?"


Lea tersentak, ia tak menyangka jika Daniel akan memarahinya. Ia pikir Daniel akan tak peduli, mau dirinya pulang jam berapapun.


"Hmmm tadi saya."


Lea menatap Daniel yang kini berdiri dihadapannya.


"Saya dari."


"Dari mana?"


Daniel mendekat, ia menemukan ada memar di sudut bibir Lea.


"Ini kenapa?" tanya Daniel dengan tatapan yang seolah hendak menelan.


"I, ini."


"Siapa yang mukul kamu?"


Daniel benar-benar marah kali ini.


"Ini nggak di pukul, ini cuma."


"Apalagi selain ini?"


"Ma, maksud om?"

__ADS_1


"Kamu dipukul di bagian mana aja dan apa lagi yang dia lakukan ke kamu. Siapa orang itu, pacar kamu?"


Daniel mengira jika Lea dipukuli oleh pacarnya, yang sempat Daniel lihat waktu itu. Karena terdesak, Lea pun akhirnya menceritakan semua yang ia alami. Termasuk handphone nya yang kembali rusak.


__ADS_2