
"Kamu datang ya."
Clarissa mengirim pesan pada Marvin siang itu. Ia sudah tak sabar ingin membuat video reaksi dari Marvin mengenai kehamilannya.
"Iya nanti aku kesana. jawab Marvin.
Clarissa pun kini jadi sumringah. Ia telah membersikan tempat dan juga memasang beberapa kamera di beberapa titik sejak tadi.
"Aku ada surprise buat kamu." ujar perempuan itu kemudian.
"Surprise apa?" tanya Marvin.
"Ada deh. Kalau aku bilang sekarang, jadinya nggak surprise lagi dong." jawab Clarissa.
"Iya sih, hehe. Ya udah tunggu aja, aku pasti ke sana." ujar Marvin.
Maka Clarissa pun menyudahi percakapan di chat tersebut dan duduk manis menunggu Marvin.
***
Pada saat yang bersamaan, Lea mengecek lokasi pernikahan bersama Ariana dan juga Adisty. Tempat tersebut telah mulai dikerjakan sekitar empat puluh persen.
"Wah luas ya bund, tempatnya." ucap Ariana pada Lea dan juga Adisty. Mereka sama-sama memandang ke sekitar.
"Lumayan bund, tapi area sampai sini doang yang bakal dipake." Lea berkata seraya memetakan lokasi dari total jumlah luas wilayah tempat itu.
"Nggak apa-apa Le, ini juga termasuk gede koq." ucap Ariana.
"Iya sih, lagian juga temen gue nggak banyak-banyak amat." ujar Lea.
"Paling kalian, anak-anak sekelas. Nina, Vita, itu doang." lanjut perempuan itu lagi.
"Temen laki lo yang banyak ya." tukas Adisty.
"Iya, kalau dia mah. Karyawannya juga banyak." jawab Lea.
"Eh coba liat dekorasinya yang mana?"
Adisty meminta di perlihatkan gambar desain yang akan digunakan Lea. Maka ibu dari Darriel itu pun mengambil handphone dan membuka galeri foto.
"Nih, kayak gini." ucapnya seraya menunjukkan foto tersebut.
"Wah nggak sabar liat hasil akhirnya." ujar Adisty seraya kembali melihat ke sekitar.
"Sama, gue juga." Ariana menimpali.
Mereka terus melihat-lihat sampai ke arah dalam. Tepatnya ke sebuah resort yang juga dijadikan bagian dari wilayah perhelatan.
***
__ADS_1
Marvin sudah akan berjalan, sementara Clarissa tak sabar menunggu kehadirannya. Pria itu melangkah ke arah mobil sampai kemudian, ia mendapat sebuah telpon dari salah seorang asisten rumah tangga yang bekerja pada orang tuanya.
Asisten rumah tangga tersebut mengatakan jika ayah Marvin terkena serangan jantung. Saat ini ia tengah di larikan ke rumah sakit.
Tanpa membuang banyak waktu, Marvin pun segera merubah tujuan. Yang tadinya hendak menemui Clarissa, kini jadi terfokus pada kondisi sang ayah. Ia mengemudikan mobil ke arah rumah sakit, setelah diberitahu terlebih dahulu dimana rumah sakit tempat sang ayah dibawa.
***
"Nomor yang anda tuju tidak menjawab."
Clarissa yang mencoba menelpon Marvin mendapat jawaban yang sama berkali-kali. Sebab Marvin sudah tak mempedulikan handphonenya lagi dan handphone tersebut kebetulan di silent. Hingga ia pun tak mendengarkan panggilan dari Clarissa.
"Duh, dimana sih ini orang?"
Clarissa mulai mengeluh.
"Katanya udah mau datang." lanjutnya lagi.
"Apa jangan-jangan dia kecelakaan ya?" gumam perempuan itu.
Seketika jutaan kecemasan membuncah di hatinya. Ia mengirim pesan beruntun pada Marvin dalam hitungan detik.
"Kamu dimana?. Katanya udah jalan?. Koq belum sampai?"
"Ini aku nungguin kamu."
"Kamu beneran udah dijalan kan?"
"Ini kamu ketiduran atau apa sih?"
"Koq nggak di jawab?"
"Aku khawatir tau, takut kamu kenapa-kenapa."
Clarissa menunggu sejenak, namun ia tak kuasa untuk bersabar diri. Maka ia pun kembali mengirim pesan secara beruntun.
"Balas dong!"
"Kamu dimana, jangan bikin khawatir."
"Pikiran aku kemana-mana ini."
"P."
"P."
"P."
"Please jawab."
__ADS_1
"P."
"Jangan kayak gini, tolonglah."
"Please!"
Clarissa mondar-mandir kesana kemari. Ia ingin untuk tidak khawatir, namun rasa tersebut tak mampu ia bendung. Padahal jika ingin berpikir positif, bisa jadi saat ini Marvin tengah ketiduran. Atau berada di jalan dan handphonenya tengah di silent.
***
"Marvin."
Sang ibu menghambur ke arah Marvin sambil terisak. Ketika pria itu sudah tiba di muka ruang, tempat dimana ayahnya tengah ditangani oleh dokter.
"Ma, kejadiannya gimana ma?" tanya Marvin sambil melepaskan pelukan. Tadi ia menyambut pelukan ibunya itu ketika sang ibu datang berlarian.
"Ini salah mama, Marvin." Ibunya kian terisak.
"Mama nggak memperhatikan kesehatan papa kamu akhir-akhir ini. Biasanya mama selalu awasi dia kalau makan. Akhir-akhir ini mama agak cuek, karena mama pikir kasihan kalau papa di larang terus-menerus." lanjut wanita itu.
"Udah ma, udah. Ini bukan salah mama. Papa memang lagi sakit aja, dan nggak perlu menyalahkan diri sendiri. Yang kita perlu hanyalah berdoa untuk kesembuhan papa."
Sang ibu mengangguk, lalu kembali memeluk Marvin dengan erat.
***
Richard yang hatinya kini tengah dilanda kegalauan, melintas di sebuah jalan untuk mencari makan siang.
Sudah jadi kebiasaan di kantornya, setiap jam makan siang ia selalu keliaran. Padahal ada kantin di kantornya tersebut.
Kadang ia ingin makan di tempat yang berbeda, dan hal tersebut yang membuat pria itu pergi kesana-kemari. Kali ini ia melintasi sebuah jalan, namun tiba-tiba ia melihat toko kue milik ibu Lea.
Richard tiba-tiba ingin mampir ke tempat itu, lalu pergilah ia kesana. Ketika memarkir mobil, ibu Lea tampak melihat Richard dan ia pun sumringah. Ia menyambut kedatangan pria itu dan melayaninya dengan baik.
Mereka bertegur sapa dan saling menanyakan kabar. Setidaknya berinteraksi dengan orang lain membuat hati Richard sedikit tenang.
"Dad, jangan lupa makan siang." Dian mengirim pesan singkat secara tiba-tiba. Namun entah mengapa Richard merasa jika hal tersebut terkesan di paksakan.
Mungkin karena hubungan mereka sudah jauh, jadi Richard bisa merasakan segala perasaan yang ditampilkan oleh sugar baby nya itu.
Tetapi ia sedang tidak ingin mencari masalah dan malas bertengkar. Ia bukan lagi remaja yang masih berapi-api dalam menjalani sebuah hubungan.
"Ya lo harus sadar juga bro. Selama ini lo kan bebas kesana-sini."
Richard mengingat perkataan Ellio di rooftop tempo hari. Saat Richard mengatakan jika dirinya merasa khawatir. Khawatir kalau seandainya Dian selingkuh.
Saat itu baik Ellio maupun Daniel mengingatkan kebiasaan buruk Richard selama ini. Yang kadang sering selingkuh di belakang Dian meski tidak serius.
"Lo serius atau iseng tuh sama aja. Sama-sama bohong di belakang."
__ADS_1
Lagi-lagi Ellio berkata dan saat itu Richard hanya mendengarkan. Ia ingin sedikit membela diri, tapi apa yang dikatakan Ellio adalah benar adanya.
Selama ini memang Richard masih sering kemana-mana. Hatinya belum begitu mantap untuk satu pilihan. Dan mungkin saat ini kejadiannya malah berbalik. Dian lah yang melakukan hal serupa.