Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pertanyaan


__ADS_3

"Le, kamu tuh nanti mau melahirkan dengan cara apa. Caesar kah, normal kah, atau metode normal water birth?" Daniel bertanya pada Lea ketika mereka semua telah berada di rumah.


"Kalau bayinya di transfer gaib ke mas dan mas yang melahirkan bisa nggak?. Soalnya aku males mas." seloroh Lea.


"Ya kalau bisa, silahkan. Pindahin aja ke aku. Ntar aku keluarin lewat kuping." ujar Daniel.


Lea terkekeh.


"Aku serius loh, ini udah harus di persiapkan dari sekarang. Aku mau cari-cari rumah sakit juga yang kira-kira dekat tapi nyaman buat kamu." ujar Daniel lagi.


"Ini beneran mas?" Lea memastikan.


"Dari tadi juga beneran, Lele. Kamu kira aku lagi ngelawak, hah?" Daniel menjadi sewot, sementara Lea makin terkekeh.


"Hehehe. Terserah mas Daniel aja deh, aku bingung mau gimana. Semua ada plus minusnya dan sama-sama sakit. Kalau ada pilihan yang nggak sakit, baru aku akan bersuara dan memilih."


"Iya kalau enak bukan melahirkan anak namanya, tapi bikin anak." ujar Daniel lagi.


"Dasar mesum." tukas Lea.


"Habisnya kamu di suruh menentukan, tapi malah nyuruh aku. Kamu yang hamil, kamu yang nggak tau mau gimana."


"Katanya kamu juga ikut bertanggungjawab atas kehamilan aku. Jadi ya tanggung jawab juga mikirin lahirnya gimana dan dimana." ujar Lea.


"Iya deh." jawab Daniel kemudian.


"Kita pilih water birth aja ya, biar nggak terlalu sakit. Tapi kalau nggak bisa, mau nggak mau ya harus caecar."


Lea menghela nafas, dengan sejumput ketakutan yang masih tersisa di hatinya. Beberapa hari ini ia sudah cukup bisa mengendalikan ketakutan itu.


"Ya udah deh, apa kata mas aja." jawab Lea.


"Ya udah, aku mau cari rumah sakitnya dulu."


Daniel terus mencari rumah sakit mana yang hendak ia jadikan tempat untuk kelahiran anaknya nanti. Sementara Lea sibuk scroll online marketplace dan memasukkan barang pilihannya ke dalam keranjang.


***


Sebuah ketukan palu terdengar di dalam ruang sidang. Para ex sugar baby SB Agency yang turut hadir tersenyum puas dan bernafas lega.


Ketika akhirnya mami Bianca dan kroco- kroconya terbukti telah memperdagangkan manusia, dan dijatuhi hukuman yang berat.


Mami Bianca tertunduk dan menangis, tapi tidak dengan perempuan-perempuan muda itu. Mereka semua jutsru senang, karena akhirnya penipu seperti mami Bianca bisa menerima hukuman.


Awalnya kasus ini sempat pelik. Sebab mami Bianca menyatakan pembelaan bahwa siapapun yang masuk ke agency nya, adalah atas dasar kemauan mereka sendiri dan tanpa paksaan.


Ditambah lagi pengakuan dari para sugar baby penjilat, yang saat ini hidupnya bahagia dan pro terhadap mami Bianca.

__ADS_1


Para sugar baby itu menyatakan jika mereka masuk dengan sukarela, karena niat mereka memang ingin menikah dengan sugar daddy.


Para ex SB Agency yang kontra pun marah dengan sikap para sugar baby yang pro tersebut. Sebab mereka tak memikirkan yang lain sejak hidup mereka berhasil dan enak.


SB Agency memang membuat banyak perempuan yang malas bekerja, menemukan pria kaya baik hati. Namun di samping itu banyak juga yang mengalami kerugian. Bahkan belakangan kerugian yang diderita sugar baby mencapai 70%. Akibat sugar daddy pilihan mami Bianca banyak yang zonk dan suka kekerasan.


Kini Mami Bianca harus menghadapi ganjaran atas seluruh perbuatannya. Ia di jerat pasal berlapis yakni penipuan, eksploitasi anak di bawah umur, serta perdagangan manusia.


Sementara para sugar daddy yang bermasalah dengan hukum, harus menunggu giliran untuk disidang. Beberapa pejabat yang diduga terlibat, kini berada dalam proses pemanggilan dan juga penyelidikan.


***


Esok hari.


Arsenio akhirnya dibawa pindah ke kediaman Reynald. Meski dengan tanpa kerelaan dari anak itu sendiri.


Reynald mengancam akan memperkarakan kejahatan keluarga mendiang istrinya, jika mereka menghalangi Reynald untuk membawa sang anak bersamanya.


Mau tidak mau meskipun kesal, Arsen akhirnya menurut. Ia sejatinya telah keluar dari rumah sakit sejak beberapa hari yang lalu. Namun baru hari ini ia bersedia mengikuti ajakan serta desakan sang ayah. Sebab ia tak ingin keluarga ibunya mendapat masalah.


"Kamu mau kemana?" tanya Reynald ketika melihat anaknya bersiap untuk pergi.


"Ya mau kuliah lah." jawab Arsen sedikit gusar.


"Naik motor?"


"Kamu diantar aja sama supir."


"Ngapain sih?" tanya Arsen pada Reynald dengan nada sedikit marah. Ia tidak suka diatur-atur oleh ayahnya itu.


"Kamu tau kan penyakit kamu apa, kalau misalkan tabrakan atau jatuh dari motor gimana?"


"Emang mobil yang dikemudikan supir nggak bisa tabrakan?" Arsen membalikkan omongan.


"Setidaknya itu jauh lebih aman ketimbang kamu naik motor."


"Saya udah naik motor bahkan dari tiga tahun lalu, dan saya nggak kenapa-kenapa." ujarnya kemudian.


"Nggak, disini bukan kamu yang membuat peraturan."


"Ya udah saya nggak mau kuliah."


"Arsen."


Arsen diam dan melempar pandangannya ke arah lain.


"Kamu bisa nyetir?" tanya Reynald kemudian.

__ADS_1


Arsen mengangguk.


"Ya udah, kamu pake ini. Jangan naik motor."


Reynald memberikan kunci mobil pada anaknya itu, dan sesaat kemudian Arsen pun terlihat sudah menghilang di balik pintu. Tinggallah Reynald kini melangkah ke arah sofa, lalu duduk di tempat itu dan terdiam.


***


"Nah iya mas di situ mas. Pegel banget itu."


Lea menyuruh sang suami untuk memijat bagian punggung serta pinggangnya yang terasa sakit. Akibat desakan bayi yang sudah kian membesar dalam rahimnya.


"Agak kuat dikit, mas." ujarnya lagi.


Daniel pun lebih melakukan penekanan di area-area yang ia pijat tersebut.


"Lebih keras mas."


"Nggak boleh, Le. Kamu tuh bukan lagi pegel karena apa. Di perut kamu itu ada isinya. Ntar kalau aku terlalu kuat, bayi nya kenapa-kenapa gimana?"


"Ya salahin kamu lah, kamu yang mijitin." seloroh Lea santai. Daniel memukul kepala istrinya itu dengan bantal.


"Aduh." Lea menggerak-gerakkan bahu dan juga kedua tangannya.


"Tau gini aku dengerin kata ayah dulu. Ternyata hamil itu banyak nggak enaknya. Enak kalau lagi begituannya doang." ujar Lea.


Daniel diam.


"Jadi nggak ikhlas nih, hamil anak aku?" tanya nya kemudian.


"Kenapa mas baper? tanya Lea.


"Ya udah baper aja, tapi jangan lupa pijitin terus." lanjutnya lagi.


Daniel tetap diam, Lea kemudian menoleh. Namun secara serta merta Daniel mencium bibir istrinya itu. Lea yang gampang terpancing tersebut pun, langsung tersulut gairahnya. Ia kini membalikkan tubuh dan membalas ciuman Daniel.


Lama kelamaan keduanya semakin panas. Daniel dengan tangan agresifnya segera melucuti pakaian sang istri dan begitupun sebaliknya.


"Kamu kuliah hari ini?" tanya Daniel pada Lea?"


"Iya, bentar lagi." jawab Lea.


"Aku masukin dulu ya sayang."


Daniel berujar sambil *******-***** seluruh bagian depan tubuh istirnya.


"Yaaa." jawab Lea penuh menggoda.

__ADS_1


Tak lama hal tersebut pun terjadi. Mereka mengawali hari itu dengan sesuatu yang dipenuhi kenikmatan.


__ADS_2