Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pengganggu


__ADS_3

"Lo lagi ngapain, Le?" Nina bertanya pada Lea di telpon.


"Gue lagi masak makan siang buat laki gue, rencana mau gue anterin ke kantornya dia."


"Mau lo ojekin gitu?" tanya Nina lagi.


"Iya, dia bilang kalau gue nggak keberatan. Dia pengen makan siang masakan gue. Makanya tadi begitu dia ke kantor, gue buru-buru masak. Untung bahan masih banyak."


"Ini udah bentar lagi jam makan siang loh, Le."


"Iya, ini udah dikit lagi kelar koq. Lo lagi ngapain?"


"Gue di dokter." jawab Nina.


"Periksa kandungan?"


"Iya, apalagi coba."


"Sama laki lo?"


"Kagak, sendiri."


"Lah, lo kagak ditemenin gitu?" tanya Lea heran.


"Laki gue sibuk, Le."


"Ipar sama mertua lo?"


"Sama."


Lea menghela nafas, ia tak habis pikir pada suami Nina yang membiarkan istrinya pergi sendirian. Padahal Nina masih sering mual dan pingsan mendadak.


"Lo hati-hati, Nin. Coba lo minta temenin Vita."


"Vita pergi sama lakinya."


"Ya udah, abis ini nggak usah ngelayap. Ntar pingsan lagi, lo di tempat umum."


"Iya, Le. Abis ini gue langsung pulang koq."


Tak lama terdengar suara perawat yang memanggil nama Nina."


"Eh Le, gue udah dipanggil tuh." ujar Nina.


"Oh, ok-ok."


"Bye Lea."


"Bye, Nin."


Nina menutup telpon, Lea kembali pada aktivitasnya yakni menyiapkan makan siang untuk Daniel. Ia segera memasukkan nasi dan hasil masakannya ke dalam kotak bekal. Tiba-tiba telponnya kembali berbunyi, ternyata dari Rama teman sekelasnya.


"Iya, Ram."


"Le, besok persentasi kita disuruh beli buku tau."


"Buku apaan?"


Rama pun menjelaskan buku apa yang mereka perlukan. Kebetulan Lea satu kelompok dengan Rama untuk tugas salah satu mata kuliah.


"Bisa minta tolong nggak Le, lo yang beli. Gue transfer sekarang duitnya. Soalnya gue masih nemenin nyokap gue ke Surabaya, ntar subuh gue baru balik."


"Ya udah, biar gue aja yang beli." ujar Lea.


"Nomor rekening lo berapa?" tanya Rama.

__ADS_1


"Udalah gampang, ntar aja."


"Eh jangan gitu Le, ini kan buat sama-sama."


"Iya maksud gue gampang, bayar aja besok. Ribet lu, kayak warga fesbuk."


"Hahaha." Rama tertawa, Lea pun akhirnya ikut-ikutan.


"Ya udah, Le. Tolong ya, Le."


"Sip."


Rama menyudahi telponnya, Lea pun bersiap untuk ke toko buku. Kemudian tiba-tiba saja ia berfikir.


"Sekalian aja gue anterin ke kantornya mas Dan, ya."


Lea tersenyum.


"Biar dia kaget, ada gue." lanjutnya kemudian.


Lea akhirnya berangkat, ia tiba di kantor Daniel tepat pada jam makan siang.


"Mas, kang ojeknya di lobi timur." ujar lea pada Daniel di WhatsApp.


Ia sengaja membohongi suaminya itu, untuk memberi surprise. Ia sengaja menunggu di lobi timur, karena tadi lobi utama sangat ramai karyawan lalu-lalang. Lea malu jika dilihat banyak orang, ia takut karyawan Daniel akan bertanya-tanya perihal siapa dirinya.


Karena menurut cerita Daniel, tak banyak karyawannya yang tau jika ia telah menikah. Awalnya Lea hanya mencari tempat sepi, namun kemudian ia melihat ada lobi timur, yang kebetulan tak ada resepsionisnya.


"Ya udah, aku kesana." jawab Daniel di WhatsApp.


Pria tampan berwajah blasteran itu pun turun, dengan tenang ia berjalan ke arah lobi bagian timur. Namun kemudian, Clarissa tiba-tiba datang menghampirinya. Agaknya Clarissa terlah mengikutinya sejak masih di atas tadi.


"Dan."


"Apalagi Clarissa?" Daniel sepertinya lelah menghadapi perempuan itu.


"Aku nggak menganggap kamu musuh, aku cuma nggak mau berbicara banyak ataupun akrab lagi dengan kamu."


"Kenapa?. Karena kamu tau kalau aku masih mengharap lebih, iya?"


Daniel diam, tanpa ia sadari jika Lea melihat dan mendengar semua itu.


"Clarissa, I told you, I'm merried."


"I still love you."


"I'm not."


"Bohong."


Clarissa semakin mendekat pada Daniel.


"Kalau kamu udah nggak cinta lagi sama aku, harusnya kamu bersikap biasa aja. Kamu bersikap kayak gini karena masih sakit hati kan sama aku, karena masih ada rasa kan?"


"Clarissa, kamu mau percakapan ini di dengar semua orang?"


"Biar semua orang tau, sekalian istri kamu yang kampungan itu juga tau kalau bisa."


"Gue denger koq, kak."


Tiba-tiba Lea bersuara, membuat Daniel dan Clarissa amat sangat terkejut.


"Lea?"


Daniel tak percaya istrinya ada disitu. Lea kini berjalan mendekat, sambil menatap tajam ke mata Clarissa.

__ADS_1


"Gue nggak tau ada apa diantara kalian, dulu. Tapi yang jelas, mas Dan adalah suami gue. Dia menikahi gue secara sah, dan lo harusnya punya malu."


"Lo nggak akan pernah bisa milih, untuk mencintai siapa. Termasuk suami orang." Clarissa menjawab dengan suara lantang.


"Yes, tapi lo bisa memilih untuk mengganggu rumah tangga orang itu atau nggak. Lo nggak usah kayak pelakor tiktok yang mencari kebenaran, dengan mengatakan kalau cinta itu takdir Tuhan. Perasaan dan perbuatan itu adalah dua hal yang berbeda. Lo mungkin nggak bisa mengontrol perasaan lo terhadap suami gue, tapi lo bisa mengontrol perbuatan lo. Karena merusak rumah tangga orang itu perihal perbuatan, bukan perasaan."


Clarissa diam, Daniel memejamkan matanya sejenak dan meletakkan kepalan tangannya di dahi dalam waktu yang sejenak pula. Ia berusaha mengambil nafas karena udara mendadak menipis baginya. Ia benar-benar bingung kali ini.


"Sekali lagi lo melakukan ini, gue pecahin pala lo."


Lea benar-benar marah pada Clarissa, ia pun berlalu meninggalkan tempat itu dan di susul oleh Daniel. Tinggal lah kini Clarissa dalam kebekuan yang mendalam. Ia marah, namun tak bisa berbuat apa-apa.


***


Sebuah ruangan, di basemen. Tempat yang diperuntukkan bagi karyawan, jika mereka membawa makanan sendiri. Ruangan itu cukup besar, memiliki tiga air conditioner. Serta banyak terdapat kursi dan meja di sana.


Namun tak ada satu orang pun ditempat itu, kecuali Lea dan juga Daniel. Sebab para karyawan lebih nyaman nongkrong di warteg atau kantin dekat kantor. Tak ada satupun dari mereka yang membawa bekal makan. Jika pun ada, mereka lebih suka makan di meja kerja mereka masing-masing.


"Kenapa mas nggak pernah bilang, kalau pernah ada hubungan sama Clarissa."


Lea berujar setelah beberapa menit mereka tenggelam dalam diam. Daniel menghela nafas, ia tak menggubris Lea dan terus saja makan. Ia keliatan lelah sekali dengan semua ini, belum lagi harus memikirkan masalah pekerjaan.


"Terserah kamu Le, aku laper." ujarnya kembali menyuap makanan. Lea diam dan terus memperhatikan Daniel.


"Aku nggak cerita, karena aku rasa nggak perlu. Aku udah selesai sama dia, dan nggak ada sisa apa-apa lagi. Aku udah nggak punya perasaan, aku juga nggak tau kalau dia bakalan kerja disini."


"Kan kamu bosnya mas."


"Le, disini tuh ada banyak divisi. Tiap divisi sengaja aku kasih kebebasan, untuk menambah atau mengurangi karyawannya dengan syarat-syarat tertentu. Dan lagi pula, aku nggak masalah siapapun itu yang bekerja asal dia kerja."


Lea menghela nafas.


"Kalau kamu mau marah, marah aja. Aku dengerin."


Daniel mereguk air putih, lalu kembali melanjutkan makannya. Rasa enak masakan yang dibawa istrinya itu, nyaris tidak terasa. Karena Daniel sejatinya juga kesal atas kejadian ini. Ia kesal pada Clarissa namun tak bisa memukul gadis itu, karena ia perempuan.


Ia kesal karena masalah yang ia hadapi sudah banyak dan harus ditambahi lagi. Sementara ia tak mungkin memecat Clarissa tanpa alasan. Bisa-bisa akan muncul pertanyaan besar, oleh divisi tempat dimana gadis itu bernaung. Daniel tidak boleh mencampuradukkan masalah pekerjaan dengan urusan pribadi, meski Clarissa telah melakukannya duluan. Ia adalah pemimpin di perusahaan itu dan ia harus bersikap sebijak mungkin.


"Uhuk." Daniel tersedak.


"Pelan-pelan, mas." ujar Lea.


Daniel menarik nafas lalu meraih air mineral dan meminumnya. Ketika ia hendak melanjutkan kembali makan, tiba-tiba Lea membelai kepalanya dan mencium kening suaminya itu dengan lembut. Seketika Daniel pun berhenti dan menatap Lea.


"Aku tau mas dari tadi nggak mau menatap mata aku, dan nggak mau bicara banyak. Karena mas nggak mau kita bertengkar kan?"


Lea melontarkan pertanyaan sambil menatap mata suaminya itu. Daniel mengiyakan lewat tatapan matanya, meski ia tak bergeming sama sekali.


"Aku capek, Le. Aku nggak mau ribut."


"Aku nggak akan mempermasalahkan hal ini koq, mas. Aku percaya sama kamu."


Daniel diam dan terus menatap Lea.


"Thanks." ujarnya kemudian. Lea mengangguk.


"And I'm sorry for this." ujar Daniel lagi.


"Makanannya nggak enak ya?"


Lea mengalihkan topik pembicaraan, Daniel menoleh sejenak ke arah makanan lalu kembali menatap Lea dan mereka pun tertawa.


"Enak koq, cuma tadi aku kesel campur tegang juga. Aku udah mikir kamu bakalan ngamuk nyusahin kayak bocil FF."


Keduanya kian tertawa, Lea mengambil sendok dan mulai menyuapi suaminya itu. Karena makanannya masih tersisa.

__ADS_1


"Aaa'k." ujar Lea.


Daniel pun menerima suapan tersebut, lalu suasana kembali menjadi cair dan penuh tawa. Terakhir, keduanya saling berpelukan dengan erat di ruangan tersebut.


__ADS_2