Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kenyataan Untuk Nina


__ADS_3

Di malam yang sama, saat Lea dan Daniel masih merasakan kemesraan. Saat itu justru Nina merasakan kebalikan. Ia dan suaminya bertengkar, lantaran Nina enggan di sentuh lagi oleh pria itu.


"Kamu kenapa sih?. Beberapa hari ini selalu menghindar, selalu aja ada alasan kamu saat aku lagi pengen. Padahal aku minta baik-baik loh. Jangan-jangan kamu selingkuh di belakang aku, sampe kamu nggak mau kayak gini."


Nina menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis.


"Jangan-jangan selingkuh?" ujarnya seraya mendekat ke arah sang suami.


"Kamu menuduh aku jangan-jangan selingkuh, biakannya kamu yang selingkuh mas?" lanjutnya kemudian.


Sang suami tampak terkejut, namun berusaha menyembunyikan keterkejutannya itu.


"Jangan sembarangan kamu kalau bicara, ingat kamu itu sedang bicara dengan orang yang menyelamatkan kamu dari tempat hina."


"Eh mas, aku nggak maksa kamu ya buat pilih aku waktu itu. Kamu yang memilih aku dan membawa aku kesini. Nggak udah sok ngomongin tempat hina, kalau kamu aja suka berada di sana dan suka dengan hal-hal hina yang ada di dalamnya."


"Braaak."


Suami Nina menggebrak meja sudut dengan keras, karena kebetulan ia ada di dekat sana. Nina pun seketika terkejut, dan jantungnya kini berdegup dengan kencang.


"Siapa yang sudah mengajari kamu untuk menjadi istri yang kurang ajar dan melawan."


Sang suami membentak Nina.


"Nggak usah mengalihkan pembicaraan, mas. Siapa itu Imelda?"


Kali ini suami Nina seperti dihantam benda keras.


"Apa maksud kamu?" tanya nya dengan nada marah.


"Loh, kenapa harus marah kalau memang mas nggak punya dosa. Dia selingkuhan mas kan, pelacur simpanan mas yang lain."


"Tutup mulut kamu...!"


"Jangan pernah berani mengatakan Imelda seperti itu."


"Oh jadi mas mengakui." ujar Nina seraya tertawa kecut. Ia memang telah siap untuk ini, namun tetap saja sakit bila mendengarnya secara langsung.


"Jadi mas mengakui kalau memang mas ada main sama pelacur murahan itu."


"Dia bukan pelacur, dia perempuan baik-baik."


"Mana ada perempuan baik-baik yang merebut suami orang."


"Dia nggak merebut suami siapa-siapa, justru kamu orangnya."


Langit seperti mendadak mendung dan petir menggelegar tiba-tiba. Hati Nina seperti di tusuk-tusuk ribuan pisau. Penuh bergetar ia berkata,


"Apa kamu bilang mas?"


Suaminya terdiam, agaknya ia menyesal telah berani mengatakan hal tersebut. Namun semuanya terjadi secara spontan, lantaran ia terlalu emosi. Ia tak bisa lagi menahan diri dan menyembunyikan semuanya.

__ADS_1


"Jawab aku mas, jawab...!"


Suara Nina terdengar begitu keras, bahkan ibu mertua dan kakak iparnya yang di bawah bisa mendengar.


"Kamu tenang dulu." ujar suaminya seraya menyentuh tangan Nina, namun buru-buru di tepis oleh perempuan itu.


Ia saat ini sangat syok dan tak percaya pada apa yang suaminya tersebut katakan. Ia pikir Imelda adalah selingkuhan, namun ternyata ialah yang sejatinya selingkuhan itu.


"Nin."


"Cukup mas, aku mau bercerai."


"Nin jangan seperti itu, aku juga sayang sama kamu."


"Sayang kamu bilang?. Di saat seperti ini kamu masih berani bilang sayang?. Dimana otak kamu mas, kamu itu udah membohongi aku. Padahal besar harapan yang aku gantungkan terhadap kamu. Aku pikir kamu laki-laki baik."


Suami Nina menarik nafas dalam-dalam.


"Maafkan aku Nin, aku tau aku salah. Aku mencintai Imelda, tapi aku juga menginginkan seorang anak." ujarnya kemudian.


"Kalau memang mas mencintai dia, mas nggak akan melalukan semua ini. Banyak cara untuk mendapatkan anak, mas. Mas masih muda, Imelda juga kelihatannya seumur dengan masa. Kalian masih bisa mengusahakan itu semua, dengan bayi tabung kek, inseminasi buatan atau adopsi. Nggak harus dengan cara menyakiti dua hati kayak gini."


Suami Nina makin terdiam, ia tau ia sangat terburu-buru dalam mengambil keputusan untuk menikahi Nina waktu itu. Tetapi ia sudah sangat ingin memiliki keturunan. Sebab ia dan Imelda telah menikah hampir 6 tahun lamanya.


"Aku mau pergi mas, ceraikan aku."


"Nin, aku mohon."


"Aku nggak bisa."


Tegas suara laki-laki itu terdengar, seolah mengatakan jika memang Imelda adalah orang yang sangat penting dalam hidupnya. Air mata Nina menetes, ia mengambil tas dan juga handphone lalu bergerak ke arah pintu.


"Nin, jangan pergi...!"


Suaminya menghalangi pintu.


"Biarkan aku pergi mas."


"Mau kemana, ini sudah malam."


"Mas nggak usah berubah sok perhatian sekarang. Padahal biasanya mas cuek, mau aku kenapa-kenapa juga mas nggak terlalu peduli. Sekarang setelah semua kebusukan mas terbongkar, mas jadi sok peduli dan perhatian sama aku."


"Nin, please. Ini udah malam, kita bisa selesaikan perkara ini baik-baik."


"Udah nggak ada kata baik-baik lagi mas, kamu yang nggak baik."


Suami Nina masih berdiri di pintu, sedang Nina sudah sangat ingin keluar.


"Minggir...!" ujar Nina kemudian.


"Nina."

__ADS_1


Mata Nina melihat pisau yang masih tertancap pada buah di atas meja sofa kamarnya. Nina bergerak cepat dan meraih pisau tersebut dan mengarahkan pisau itu ke perutnya.


"Nin, kamu apa-apaan sih?"


Suaminya begitu panik dan marah.


"Minggir mas, atau aku lukain anak kamu."


"Tapi dia juga anak kamu."


"Minggir...!"


Suami Nina pun akhirnya mengalah, karena takut terjadi apa-apa terhadap perempuan itu dan juga anak mereka. Bukan hanya Nina dan anak yang sedang di kandung saja yang akan mengalami bahaya. Tapi dirinya juga bisa menjadi tertuduh dan kemungkinan masuk penjara.


Nina turun ke bawah, masih dengan pisau di tangannya. Sang mertua dan ipar melihat kepergian perempuan muda itu. Nina keluar pagar, kemudian menyetop sebuah taxi. Sang suami bergegas mengambil mobil lalu menyusul.


Di sepanjang perjalanan, Nina menangis. Namun ia berusaha untuk tetap tegar. Perempuan itu kemudian menelpon Vita.


"Vit."


"Hmm, kenapa Nin?"


Vita yang semula sudah tidur itu menjawab dengan suara yang pelan. Ia masih sangat mengantuk.


"Gue ketempat lo ya, gue lagi di taksi sendirian."


"Hah?"


Vita benar-benar terkejut, masalahnya ini sudah larut malam dan berani-beraninya perempuan hamil itu pergi sendirian.


"Lo kenapa Nin, berantem sama orang rumah?" tebakan Vita langsung mengarah kesana.


"Iya Vit." jawab Nina masih setengah terisak.


"Kenapa Nin?" tanya Vita lagi.


"Sebabnya apa?" lanjutnya kemudian.


"Ntar gue ceritain kalau udah sampe." jawab Nina.


"Ok, ok. Ini lo masih jauh nggak?"


"Lumayan."


"Ya udah gue tungguin. Tetap chat gue, jangan stop. Bahaya soalnya, ini malem. Mana lo sendirian lagi."


"Iya Vit, gue matiin telpon dulu."


"Ok."


Nina pun menyudahi telpon tersebut, namun ia kini masuk ke laman WhatsApp. Ia saling berkirim pesan dengan Vita, supaya terus terhubung hingga ia sampai nanti.

__ADS_1


__ADS_2