
"Dian, aku suka sama kamu."
Sean berkata pada Dian malam itu. Di bawah lampu kelap-kelip yang menyala di suatu tempat. Dian sendiri terdiam, tak menjawab namun juga tak menampik.
Sean muda, tampan, dan selalu ada di dekatnya akhir-akhir ini. Bahkan hari-hari lebih banyak ia habiskan dengan pemuda itu.
"Kamu nggak perlu menjawab. Sebab aku cuma mau bilang soal perasaan aku." ucap Sean lagi.
Sementara di lain pihak, Daniel dan Lea tengah mengintip dari suatu sudut. Melihat ke arah Richard yang saat ini tengah di ceramahi sang ibu mengenai pernikahan.
Ibunya kembali kumat, meski kali ini tak memaksa Richard untuk harus menikah dengan pilihannya. Tapi lagi-lagi sang ibu mendesak puteranya itu untuk segera menikah. Hal tersebut tentu membuat Richard terlihat gerah, namun tak bisa berbuat apa-apa kecuali duduk dan mendengarkan.
"Oma kumat lagi tuh mas."
Seloroh Lea pada Daniel.
"Iya, kasihan Richard." ucap Daniel.
Mereka terus mengintip. Hingga kemudian Lea yang tengah menggendong Darriel itu pun menyadari. Bahwasannya Darriel juga melirik ke arah kakek dan juga nenek buyutnya tersebut.
"Astaga, Darriel. Mas liat mas." ujar Lea.
Maka Daniel pun memperhatikan anaknya itu.
"Astaga." ucap Daniel seraya tertawa namun tanpa suara. Sebab mereka saat ini masih dalam misi mengintip Richard.
Tampak Darriel begitu julid menatap ke arah dua orang, yang juga tengah diintip oleh ayah dan ibunya itu.
"Darriel nggak boleh gitu ya." ujar Lea seakan menasehati.
"Eh, Darriel. Papa maunya kamu jadi orang berguna loh nantinya. Jadi apa kek, pilot kek, dokter, aparat gitu. Jangan jadi admin lambe turah."
Daniel berkata dengan nada super pelan, Lea memukul lengan sang suami itu sambil tertawa.
"Udah mas, kita jadi contoh yang nggak baik nih buat Darriel." ucap Lea lalu menjauh. Daniel pun akhirnya mengekor, sementara mata Darriel masih seperti tadi.
"Eh Darriel, udah." Lea menowel pipi anaknya itu. Darriel pun kini beralih menatap Lea.
Daniel sendiri masih tertawa-tawa memperhatikan wajah Darriel yang menggemaskan.
"Ya udah Le, aku berangkat dulu ya." ujarnya tak lama setelah itu.
"Mau jalan sekarang?" tanya Lea.
"Iya, udah jam segini juga." ujar pria itu lagi.
"Oh oke deh, hati-hati di jalan ya mas."
"Sip."
Daniel mencium kening dan bibir Lea, lalu mereka sadar jika Darriel kembali julid.
"Nggak, papa sayang sama Darriel koq."
Daniel mencium bayi itu dan ia pun seketika sumringah.
"Heh, dasar piyik." ujar Lea pada sang anak dengan nada sewot.
Daniel tertawa lalu mulai beranjak.
"Bye." ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Bye papa."
Daniel berangkat ke kantor, Lea naik ke lantai dua. Sementara Richard tengah mencari cara untuk segera kabur dari ibunya.
***
"Sebenarnya hubungan lo sama Dian itu gimana sih?"
Ellio membuka omongan di jam makan siang kantor.
"Baik-baik aja kan?" tanya nya kemudian.
"Nggak begitu baik sih, akhir-akhir ini gue ngerasa dia kayak selingkuh." jawab Richard.
Daniel dan Ellio yang makan dengan jurus ngebut itu kini seakan menginjak rem secara mendadak. Mereka menatap Richard secara bersamaan.
"Maksudnya gimana?" tanya Daniel.
"Dia ada pernah salah kirim chat ke gue. Pokoknya inti dari chat itu dia lagi berterima kasih pada seseorang yang ngajak dia dinner. Pas gue tanya, dia bilangnya pergi rame-rame."
Daniel Ellio sama-sama menarik nafas.
"Ya, resiko macarin bocah bro." seloroh Ellio.
"Daniel doang udah, yang berhasil." lanjutnya lagi.
"Tapi gue juga selama ini pacaran sana-sini koq. Gue menyadari hal itu." ujar Richard.
"Cuma masalahnya disini, kalaupun gue memaafkan segala perbuatan dia yang nggak gue ketahui. Dia masih mau dan masih punya rasa nggak sama gue?. Gue maafkan, gue terima, tapi dia pengen lepas dan pengen sama laki-laki lain kan percuma juga."
"Iya sih." jawab Daniel.
"Makanya dari awal udah gue bilang, buntingin. Kalau udah bunting, nggak bisa lari lagi." seloroh Ellio.
"Ya udah, lo apa kek, samperin kek. Atau lo telpon dan ajak ngomong bener-bener. Maunya dia apa, kedepannya mau gimana." ucap Daniel.
"Bener banget, semua harus di perjelas bro. Kalau udah diajak ngomong baik-baik, dan dia maunya lepas dari elo. Ya udah, tinggal cari lagi cewek lain ini. Kalaupun mentok-mentok nggak dapet, masih ada ibunya Lea noh sama Maryam." celetuk Ellio.
Kali ini Richard tertawa diikuti tawa Daniel.
"Gue setuju sama Ellio." ucap Daniel.
"Tapi nggak mungkin juga sih, elo bakal sulit dapetin cewek lain. Kalau Dian udah nggak mau sama lo." lanjut Daniel lagi.
"Bener bro, banyak yang ngantri minta di nafkahin." timpal Ellio.
"Tapi hati-hati juga sama yang morotin doang." lanjutnya lagi.
Mereka bertiga pun lalu tertawa-tawa.
"Marsha nggak lo ajak makan?"
Daniel menyadari jika Ellio telah beristri dan istrinya berada di kantor yang sama.
"Astaga, bro." wajah Richard panik.
"Gue lupa udah punya bini anjir."
Daniel dan Richard saling menatap satu sama lain dengan bibir yang sama-sama menganga.
"Gimana sih, Bambang. Masa iya bisa lupa." ujar Richard heran. Ia masih bengong menatap Ellio.
__ADS_1
"Astaga."
Ello menepuk dahi dan tampaknya ia serius. Daniel dan Richard kembali saling menatap, kali ini keduanya tak kuasa menahan tawa.
"Hahahaha."
"Hahahaha."
"Akibat terlalu kepo sih lo, ngurusin masalah hidup gue." ujar Richard.
Ellio melebarkan bibir hingga kuping.
"Namanya juga gue pengantin baru, wajar lah gue masih kagok." ujarnya membela diri.
"Udah sana ajak Marsha makan." seloroh Daniel.
"Iya ini mau gue telpon." ujar Ellio.
Maka ia pun akhirnya menelpon Marsha.
"Hallo, Sha."
"Iya pak."
Suara Marsha terdengar agak lesu di seberang.
"Kamu udah makan sayang?" Ia bertanya dengan nada suara agak terburu-buru. Antara takut Marsha marah dan juga merasa bersalah pada wanita itu.
"Udah, ini udah abis." jawab Marsha.
"Oh." Ellio terdiam, padahal ia hendak mengajak Marsha makan bersama di bawah.
"Abisnya tadi bapak lalu-lalang depan aku. Tapi nggak ada nawarin mau ikut apa nggak, kayak nggak kenal."
Ellio jadi makan merasa bersalah.
"Sorry, Sha. Aku agak belum terbiasa sama perubahan status. Masih sering lupa."
Marsha diam, hatinya kini dongkol setengah mati.
"Untung udah dinikahin ya, pak. Kalau nggak, udalah aku bunting, di lupain lagi." Marsha tampaknya benar-benar tersinggung.
"Aku minta maaf, Sha." ujar Ellio dengan nada memohon.
"Iya, aku maafin. Aku mau kerja, bye."
"Sha."
"Tuuuut." Marsha menutup sambungan telpon. Sontak Ellio kini menjadi ketar-ketir.
"Bro, gue duluan ya." ujarnya.
Daniel dan Richard menahan tawa.
"Bangsat lo berdua ya, masih sempat aja nahan ketawa."
Ellio sewot lalu beranjak, sementara Daniel dan Richard kini tertawa geli.
"Bisa gitu ya." seloroh Daniel.
"Untung di lupainnya di kantor. Kalau lagi kemana, terus lupa. Tinggal dah tuh Marsha, nyangkut dimana tau." lanjutnya lagi.
__ADS_1
Maka mereka pun kembali tertawa-tawa.
"Ellio, Ellio. Ada-ada aja." celetuk Richard.