
"Lele, mau juga dong di suapin."
Daniel bertingkah manja dan menyebalkan, ketika ia dan Lea telah pulang ke rumah. Keadaan Richard cukup serius, namun tak perlu terlalu di jaga ketat.
Maka dari itu baik Daniel, Lea, maupun Ellio memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Mereka telah menitipkan Richard pada seorang perawat.
"Mau di suapin apaan mas?. Makan sendiri aja ah, kalau mau makan. Aku mau rebahan soalnya."
"Oh ya udah." ujar Daniel dengan nada pelan.
Lea merebahkan diri ditempat tidur, ia tengah berada di kamar atas. Sedang Daniel tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Koq nggak jadi makan mas?" tanya Lea pada Daniel, yang sejak tadi tak bergerak dan hanya fokus pada pekerjaan.
"Ntar aja, tanggung." jawab pria itu kemudian.
Lea menghela nafas, lalu ia pun beranjak dan turun ke bawah. Dua puluh menit kemudian ia kembali dengan membawa nasi dan juga beef slice teriyaki, lengkap dengan beberapa jenis sayuran yang ditumis menjadi satu.
"Nih makan dulu." ujar Lea seraya mendekat. Daniel mendadak menoleh dan jadi sumringah.
"Tadi aja cemberat-cemberut." gerutu Lea pada sang suami.
Daniel pun semakin nyengir.
"Sekali ini doang Le, besok-besok selama sebulan ke depan aku nggak akan minta di suapin koq. Aku bakal makan sendiri."
"Janji?" Lea meminta kepastian.
"Iya." jawab Daniel.
Lea pun lalu menyuapi suaminya itu.
"Aaa'k." ujarnya seraya menyodorkan sendok berisi nasi dan lauk pauk.
"Hmm."
"Enak?" tanya Lea.
Daniel mengangguk meski tak menjawab, karena mulutnya kini penuh makanan. Lea menyuapi sang suami dengan sendok barbar.
"Kamu nggak makan?. Biasanya tergoda liat beginian." Daniel bertanya pada Lea, usai menelan sebagian makanannya.
"Mas pikir tadi aku dibawah ngapain sebelum kesini?"
"Oh." Daniel terbahak, ternyata Lea sudah makan duluan.
"Kirain jamu hebat banget bisa tahan godaan." seloroh Daniel lagi.
"Mana bisa mas, anak kamu aja minta makan mulu." jawab Lea seraya tertawa kecil.
"Nggak tiap saat, laper mulu bawaannya." lanjut Lea lagi.
__ADS_1
Daniel tertawa lalu mengelus perut istrinya itu.
"Kamu bentar lagi udah 6 bulan ya nak?"
"Oh iya, aku aja lupa mas."
"Aku nggak dong." ujar Daniel lalu menerima kembali suapan dari Lea.
"Di kepala aku tuh udah menghitung hari. Aku udah nggak sabar mau ketemu dia."
"Pokoknya ntar kalau ada dia, aku jangan di cuekin ya mas. Ntar main sama dia mulu, kamu. Akunya di kacangin." ujar Lea.
Daniel tersenyum.
"Nggak koq, tetap kamu yang utama di hati aku." ujar Daniel.
"Pokoknya mas harus adil, antara anak sama aku. Kalau nggak aku ngambek."
"Iya Lele, nggak usah khawatir soal itu." Daniel berusaha meyakinkan.
Lea pun kembali menyuapi suaminya tersebut hingga makanan yang ia sajikan habis tak bersisa.
***
Esok hari pun tiba, dan itu adalah tanggal merah. Dimana Lea libur kuliah dan kantor Daniel pun tutup. Keduanya sama-sama berada di rumah.
"Kletak."
"Braaak."
Lea mendengar ada aktivitas dari sebuah ruangan, disisi kanan dapur. Perempuan itu baru saja bangun dan turun ke bawah untuk mengambil air minum. Saat ia bangun tadi Daniel sudah tak berada di sampingnya.
Dan yang beraktivitas di sebuah ruangan tersebut sudah pasti adalah Daniel. Siapa lagi yang suka sibuk di pagi hari kecuali dirinya.
"Braaak."
Lea membuka pintu ruangan, tempat dimana suara kesibukan tersebut berasal. Itu adalah ruang piano, tempat yang menjadi favorit Daniel maupun Grace. Namun Lea sangat terkejut, saat melihat hal yang dilakukan oleh Daniel.
Ia melihat suaminya itu tengah merangkai sebuah box bayi. Ruangan tersebut juga sudah kosong melompong. Tak ada perabotan-perabotan sebelumnya. Piano dan foto-foto Grace pun menghilang.
"Mas kapan beli box bayi ini?" tanya Lea pada Daniel. Ia menyukai box bayi yang berwarna hitam tersebut.
"Mmm, tiga atau empat hari lalu lah." jawab pria itu.
"Koq aku nggak tau?" Lea kembali bertanya.
"Orang aku nyampe dan bawa-bawa ini aja, kamu udah tidur."
"Oh yang aku tidur cepet itu ya mas?"
"Iya."
__ADS_1
Daniel terus memaku dan mengebor lubang antara kayu dengan kayu. Ia mulai merangkai itu semua dan Lea berdiri menyaksikan.
Pianonya kemana mas?" tanya Lea kemudian.
"Ada, aku pindahin ke sebelah." jawab Daniel
"Foto-foto mas sama Grace?"
"Udah aku buang." jawab Daniel lagi.
Tak lama pria itu mengebor dan memaku sisi lain dari box bayi tersebut.
"Kenapa dibuang mas, aku nggak masalah loh soal foto-foto itu. Jangan karena ada aku kamu jadi terpaksa merubah segalanya."
Kali ini Daniel menghela nafas.
"Buat apa juga masih disimpan. Yang harusnya lalu biarlah berlalu."
"Kan kenangan mas."
"Masa mau hidup dalam kenangan mulu."
Kali ini Lea terdiam.
"Lagian kamu sakit hati juga kan ngeliat itu semua?"
Kali ini Daniel menoleh dan menatap dalam ke mata Lea. Hingga perempuan itu agak sedikit gelagapan.
"Mmm, nggak koq. Aku..."
"Apa?" Daniel makin dalam menatap ke mata istrinya itu.
"Mau sok dewasa dengan bilang kalau kamu nggak apa-apa. Mau bilang kalau kamu nggak punya rasa cemburu sama sekali sama aku?"
Lea masih diam, kali ini Daniel mendekat. Dan sambil terus menatap mata Lea, Daniel mengelus perut istrinya itu.
"Perut udah segede gini, masih bilang kalau kamu nggak punya rasa cemburu sama aku."
Daniel mendekatkan wajahnya ke telinga Lea.
"Bohong banget tau nggak." bisiknya membuat Lea seketika tersenyum.
"Efek dari apa yang udah aku tarok di dalam perut kamu ini, itu bisa bikin kamu sangat cemburu dan aku tau itu." ujar Daniel lagi.
Pria itu kemudian bergerak ke arah pintu, ia berniat mengambil sesuatu di gudang penyimpanan. Namun kemudian Lea menyusul dan memeluknya dari belakang sambil tersenyum. Daniel yang terkejut itu pun ikut tersenyum, melihat tingkah remaja yang merupakan istrinya tersebut.
"Lele sayang sama mas Dan." ujarnya kemudian.
Daniel kemudian berbalik, lalu mencium kening istrinya itu dengan lembut. Tak lama mereka pun tampak berciuman. Daniel tersenyum menatap Lea dan begitupun sebaliknya.
Lalu pada menit-menit berikutnya, mereka pun terlihat membereskan dan mendekorasi kamar tersebut secara bersama-sama.
__ADS_1
Tak hanya box bayi saja yang ternyata sudah di beli oleh Daniel. Tapi juga beberapa perlengkapan lain seperti lemari kecil, kursi untuk menyusui, tempat mengganti popok, segala pernak-pernik dan mainan serta hiasan dinding pun sudah ada semuanya.
Hingga mereka kini hanya tinggal menyusun saja dan menentukan dimana letak masing-masing barang. Agar terlihat nyaman dan aesthetic.