
Lea keluar dari kamar, sesaat setelah ia terbangun dari tidurnya. Gadis itu masih mengenakan pakaian sekolah dan belum berganti. Karena ketika tadi pulang dari apartemen Hans, ia langsung ketiduran saking mengantuknya.
Lea melihat Daniel masuk ke dalam lift yang menuju ke lantai atas, namun laptop Daniel masih ada di meja makan. Itu artinya kemungkinan Daniel akan kembali lagi ke lantai ini.
"Aha."
Mendadak muncul ide cemerlang di benak Lea. Ya, gadis itu ingin sekali lagi menchallenge dirinya dalam menarik perhatian Daniel. Ia masih penasaran pada perasaan pria itu, namun ia pun gengsi untuk bertanya secara langsung. Sebab ia tak ingin terkesan mengemis cinta dan status, meski itu yang saat ini tengah ia butuhkan.
"Buuuk."
Lea pura-pura pingsan dan tergeletak di lantai, ia menunggu kedatangan Daniel dan ingin melihat reaksi pria itu.
Beberapa saat berlalu, Daniel tak jua muncul. Akhirnya Lea pun menyudahi kepura-puraannya dan beranjak. Pada saat ia mencoba berdiri, disaat itu pula Daniel muncul dari dalam lift.
"Kamu ngapain di lantai?" tanya Daniel seraya mengerutkan kening. Sementara wajah Lea kini mirip udang rebus, saking malunya.
"Eh, nggak om dari senam lantai." ujarnya lalu nyengir.
Daniel yang masih bingung itupun hanya berlalu, dan duduk didepan laptopnya yang masih berada di atas meja makan.
"Duh, kenapa gue nggak sabar aja sih tadi. Harusnya gue tungguin dulu jangan langsung bangun kayak gini." gerutu Lea dalam hati.
"Bodoh, bodoh, bodoh." lanjutnya lagi.
***
"Gimana bro?"
Ellio bertanya pada Richard ditelpon, pria itu kini tengah berada di luar negri. Karena sugar baby nya melanjutkan pendidikan di sana. Meski masih sesekali bermain wanita, namun agaknya Richard memang lebih menyukai sugar baby nya itu ketimbang yang lain. Sehingga kemanapun perempuan itu pergi, Richard selalu siap menyusul. Meski hanya untuk barang sejenak.
"Soal apa?" tanya Richard.
"Ya soal Daniel lah, kalau elo mah gue yakin pasti udah nyoblos berkali-kali sejak kedatangan lo ke sana."
"Hahaha."
Richard tertawa.
"Iya, abisnya legit bro. Sugar baby gue ini lain dari pada yang lain servicenya. Kalau Daniel, gue nggak berani juga nanya terlalu detail. Mengenai hubungan dia sama Lea, udah sampe begituan apa belum. Ngeliat dia udah nggak terlalu mikirin Grace aja, gue udah seneng banget."
"Iya sih." ujar Ellio.
"Dan udah banyak banget kemajuannya, sejak ada Lea. Apalagi sejak dia ciuman tempo hari, yang kita kepergok. Agaknya dia mulai menyerah sama keadaan." lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Ya, kita berharap yang terbaik aja. Gue pengen kita semua seneng, bahagia. Apa itu galau-galau, gara-gara perempuan doang."
Kali ini mereka berdua yang tertawa.
"Hubungan lo sama Niken gimana?" tanya Richard.
"Enak, bro. Denyutnya kenceng." seloroh Ellio, menceritakan kekasih barunya. Yang sejak dua bulan terakhir ia dapatkan..
"Hahaha."
Richard tertawa.
"Denyut hati gue sama hati dia, maksudnya. Satu frekuensi dan nyambung gitu loh." ujar Ellio seraya tertawa.
"Elah, kayak gue nggak tau aja denyut mana yang lo maksud."
Lagi-lagi kedua sahabat itu tertawa, tak lama mereka menelpon Daniel dan ketiganya pun bercakap untuk waktu yang cukup lama.
***
"Om Dan?"
Lea menemukan Daniel tengah berjalan ke suatu arah, ini terjadi di siang hari tepat setelah Lea pulang sekolah.
Ada beberapa universitas yang ia impikan, namun ia juga tidak tahu bisa lolos atau tidak nantinya.
"Tap, tap, tap."
Lea terus melangkah mengikuti Daniel dan mengurungkan niatnya ke toko buku. Padahal toko buku tersebut tadi sudah di depan mata.
"Ngapain sih, om Dan jalan di tempat kayak gini. Ini kan kawasan pertokoan rakyat jelata." gumam Lea lagi.
Sementara dari kejauhan, tampak sepasang mata kini tertuju pada Lea. Mata itu adalah milik Hans yang kebetulan juga ada di dekat sana.
"Lea, mau kemana dia?"
Pandangan mata Hans masih mengikuti, namun jauh didepan ia mendapati Daniel.
"Degh."
Batin Hans kembali bergemuruh, sepertinya Lea memang mengikuti langkah pria itu. Hans pun kini membuntuti Lea, ia ingin tahu kemana Lea pergi.
"Om Daniel."
__ADS_1
Anak-anak kecil dari sebuah panti asuhan berteriak dan menghampiri Daniel, ketika ia akhirnya masuk ketempat itu Beberapa orang pengurus panti mendekat ke arah Daniel dan menyapanya dengan ramah.
"Apa kabar, Dan." ujar salah seorang dari mereka.
"Saya baik, bu. Maaf udah lama nggak kesini." ujar Daniel pada ibu-ibu tersebut.
"Anak-anak sudah rindu sekali, mereka nanya kapan om Daniel kesini lagi dan mengajak mereka main, ngajarin mereka ini itu."
Daniel tersenyum, ia menatap anak-anak itu sejenak.
"Saya sangat sibuk beberapa waktu belakangan ini, bu." ujar Daniel lagi.
"Tapi semua yang saya kirimkan, sampai kan kesini?" lanjutnya kemudian.
Mereka semua mengangguk.
"Terima kasih atas bantuan kamu di setiap bulan, anak-anak sekarang sudah punya ruang komputer sendiri dan ruang jahit bagi yang sudah remaja. Mereka jadi ada kegiatan setelah pulang sekolah. Uang yang kamu kirimkan juga sangat cukup untuk makan hari-hari mereka."
"Syukurlah kalau begitu, bu. Boleh saya kedalam sama anak-anak?"
"Mari, mari, silahkan."
Daniel dipersilahkan masuk, sementara dari pagar panti asuhan tersebut Lea tersenyum. Ia tak menyangka Daniel memiliki sisi lain dalam hidupnya.
Daniel yang selama ini selalu berpesta, hidup mewah, dikelilingi perempuan cantik. Ternyata bisa juga melakukan hal-hal yang bersifat kemanusiaan.
Melihat Lea yang tersenyum penuh haru menatap Daniel, Hans pun kini menjadi semakin curiga. Perlahan pemuda itu mengambil handphone dan mencoba mengirim pesan singkat pada Lea.
"Sayang, dimana?" begitulah bunyi pesan tersebut. Lea tak mengetahui jika Hans berada tak jauh darinya.
"Aku dirumah." balas Lea.
Hans menatap pesan itu, ada rasa kecewa yang seketika membuncah dihatinya kini. Lea telah berbohong kepadanya, membuat kecurigaan di hati Hans kian menjadi-jadi.
"Kamu dirumah orang tua, apa dirumah om Ellio?" lanjut Hans.
"Dirumah om Ellio." jawab Lea.
Tak lama Lea pun berlalu dari tempat itu, ia menyambangi toko buku dan membeli apa yang ia inginkan. Selang beberapa saat kemudian ia pulang, namun masih diikuti oleh Hans. Hans bahkan mendahuluinya ke kediaman Daniel dan menunggu depan pintu gerbang utama. Ia parkir agak jauh, namun tetap bisa memonitor titik yang ia curigai.
Ia berharap anggapannya terhadap Lea tidaklah benar. Namun beberapa saat kemudian dengan mata kepalanya sendiri. Hans menyaksikan Lea turun dari bus dan langsung masuk ke pintu gerbang kediaman Daniel tersebut.
"Degh."
__ADS_1
Batin Hans bergemuruh untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi Lea berbohong, kali ini Hans tidak mau mengingkarinya lagi. Ia sudah harus menerima kenyataan, jika sebenarnya Lea menyimpan sebuah rahasia. Ya, rahasia antara dirinya dan juga Daniel. Meski belum memastikan apa itu, namun Hans akan segera mencari tau.