Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
So Close


__ADS_3

"Kenapa kamu biarkan anak seusia dia menikah?"


Richard berteriak di depan wajah ibu Lea dan teriakan tersebut pun di balas.


"Mau gimana lagi, anaknya yang menempuh jalan seperti itu. Aku nggak pernah nyuruh dia masuk agency untuk jual diri. Dia sendiri yang awalnya menolak hidup susah, karena kamu nggak ada tanggung jawabnya sebagai bapak."


"Apa kamu pernah kasih tau aku, kalau kamu hamil?"


"Aku harus kasih tau kemana?. Apa malam itu kamu kasih aku kontak, alamat, dan lain sebagainya?. Hah?"


Richard terdiam dengan nafas yang begitu memburu. Sementara Lea menangis, Ellio dan yang lainnya berada dalam situasi yang menegangkan. Mereka bingung harus berkata apa dan mulai dari mana.


"Bro udalah, nggak usah saling menyalahkan." Ferry mencoba menengahi.


"Lea, kamu ikut ayah."


Richard menarik lengan Lea, membuat perempuan itu terkejut. Begitupula dengan yang lainnya.


"Kamu nggak bisa membawa dia tanpa bertanggung jawab." Ibu Lea mencoba menghalangi.


"Tanggung jawab seperti apa yang kamu inginkan?"


"Saya membesarkan dia dengan biaya yang nggak sedikit. Dengan hinaan dari orang-orang di sekitar saya."


Richard terdiam, ia tau pastilah apa yang ia dengar tersebut hanya sebagian kecil saja. Bisa jadi ibu Lea lebih menderita daripada apa yang ia katakan.


"Apa yang kamu minta dari saya, kamu butuh berapa?. Nanti pengacara saya yang ngurus."


Ibu Lea terdiam, tatkala mata Lea menghujaninya dengan pandangan. Sepertinya Lea sangat tak habis pikir, dengan sikap ibunya yang menilai segala sesuatu dengan uang. Richard kemudian membawa anaknya itu untuk ikut bersamanya.


"Ayah, aku mau dibawa kemana?" tanya Lea.


Richard membuka pintu mobil dan menyuruh anaknya masuk. Sesaat kemudian ia pun duduk di sisi kemudi.


"Ayah, kita..."


"Ssstt."


Richard menggerakkan tangan dan jari telunjuknya untuk menyuruh Lea diam. Sedang mata pria itu fokus pada kemudi.


"Bisa kan kamu tenang?" ujarnya lagi.

__ADS_1


Lea pun akhirnya memilih untuk diam. Ia tak ingin berdebat dengan ayah yang baru saja di ketahuinya tersebut.


Sesampainya di kediaman Richard, usai meletakkan tas nya di sofa. Lea langsung disambut oleh dua orang maid yang bekerja di sana.


"Ria, Shanti. Kalian tolong urus anak saya." ujar Richard pada mereka.


Kedua maid itu agak sedikit terkejut sekaligus bingung. Mereka kini memperhatikan Richard, lalu menatap Lea.


"Jangan nanya apa-apa, saya akan jelaskan nanti." ujar Richard lagi.


"Baik pak." jawab mereka serentak.


Lea pun dibawa oleh kedua maid tersebut ke sebuah kamar di lantai dua. Ketika melangkah, Lea menemukan beberapa maid lain yang tengah bekerja. Ia tidak tahu jika Richard memiliki rumah lain yang begitu besar, dan kehidupan layaknya tokoh utama dalam sebuah drama Korea.


"Silahkan...!"


Maid tersebut mempersilahkan Lea untuk masuk ke dalam kamar, tak lama pintu pun di tutup. Lea melangkah dan melihat kesana kemari. Jujur kamar tersebut begitu luas, bahkan ada semacam ruang tamu di depannya. Seperti rumah di dalam rumah.


Lea melangkah lebih dalam, dan menemukan sebuah tempat tidur yang besar di sana. Ia lalu duduk di pinggiran tempat tidur tersebut, karena bingung harus bagaimana.


Tak lama dua maid yang tadi mengetuk pintu, Lea mempersilahkan mereka masuk. Ternyata mereka mengantarkan makanan.


Lea pun hanya bisa mengangguk, ia membiarkan kedua maid tersebut meletakkan makanan di meja. Sesaat kemudian mereka meninggalkan kamar.


***


Kembali pada Daniel.


Ia mengemudi dengan kecepatan tinggi dan menyambangi kediaman Richard. Dibelakang mobilnya ada mobil Ellio yang mengikuti sejak tadi.


Ketika sampai, Daniel dihadapkan pada kenyataan jika Richard tak berada di rumah tersebut, maka ia pun bermaksud menyambangi rumah yang satunya lagi. Richard memiliki dua rumah dan satu apartemen mewah.


Daniel memiliki akses ke apartemen temannya itu, karena memang dari dulu mereka bertiga sangat akrab dan bisa menjangkau wilayah privasi dari masing-masing teman mereka. Namun meski begitu ketiganya tetap saling membatasi diri. Walau memiliki akses, namun mereka selalu menelpon teman mereka terlebih dahulu dan mengadakan janji temu.


Tetapi kali ini Daniel tak lagi menelpon Richard. Pasalnya ia sedang dalam hubungan yang kurang baik dengan sahabatnya itu. Daniel memang sengaja datang diam-diam, karena takut Richard akan semakin menyembunyikan Lea darinya. Jika ia tau Daniel tengah mencari Lea.


Sementara itu dirumah, Richard menemui Lea di kamar. Anaknya itu baru saja selesai makan, ia tak bisa menunda lapar karena tengah mengandung.


"Sayang, kamu udah makan?" tanya Richard lalu duduk di sisi anaknya tersebut. Lea mengangguk, dan mencoba tersenyum meski tipis.


Richard membelai kepala dan rambut Lea dengan lembut, ada rasa iba dan bersalah yang terus membuncah di hati pria itu.

__ADS_1


"Maafin ayah, ayah bener-bener nggak tau kalau kamu ada."


Lea menunduk lalu menganggukkan kepala.


"Ayah boleh tau, kenapa kamu sampai masuk ke agency itu?. Saat itu kamu masih 16 tahun, Lea. Kenapa sudah berfikir sejauh itu?"


Lea menelan ludah, jantungnya kini berdegup dengan kencang.


"Aku, aku selalu di bully dan dikatain miskin. Aku juga pernah dihina sama orang tua pacarku saat itu. Aku dipermalukan di depan orang banyak. Aku nggak bisa terus-terusan diam, sementara nggak ada satu pun orang yang mau membela aku. Jangankan membela, berteman pun mereka nggak mau."


Hati Richard begitu terpukul mendengar semua itu. Memang dulu Daniel sempat bercerita perihal kelakuan teman-teman sekolah Lea. Sampai pada sebuah peristiwa, Richard melihat sendiri bagaimana Lea di bully.


Namun Richard tak tau secara mendetail bagaimana kejadian sesungguhnya. Kini dihadapannya Lea bercerita dengan tak ada yang di tutup-tutupi.


"Harusnya kamu nggak begitu. Dengan memutuskan masuk di sekolah yang isinya orang kaya, dan kamu berbeda sendiri. Sudah pasti resikonya kamu akan dikucilkan. Kamu sendiri yang memilih mengikuti program beasiswa dan bersekolah di sana, lalu kamu marah ketika keadaan sekolah itu nggak sesuai keinginan kamu."


Lea menundukkan kepalanya.


"Aku cuma mau merasakan sekolah di sekolah yang bagus, kayak anak-anak lain. Aku pengen jadi orang yang setidaknya beruntung di satu sisi, meski di sisi lain aku berantakan."


Richard menghela nafas lalu memeluk anaknya itu dengan erat.


"Kamu tau agency itu dari mana?" tanya Richard kemudian.


"Dari kakak kelas aku, dia juga pernah ikut agency itu sebelumnya."


"Siapa orangnya?"


"Namanya Dian." jawab Lea.


Richard terdiam.


"Dia sekolah ditempat yang sama dengan kamu?"


"Iya."


Seketika nafas Richard pun terdengar memburu, Lea tak tau mengapa ayahnya menjadi begitu marah.


"Maaf yah." ujar Lea sekali lagi.


"Kamu tetap disini." ujar Richard. Pria itu pun bergegas meninggalkan tempat itu. Tanpa memberitahu Lea, apa sejatinya yang membuat ia begitu emosi.

__ADS_1


__ADS_2