Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Menasehati Lea


__ADS_3

"Namanya juga lo nikahin bocil. Anak temen lo sendiri, harusnya lebih pantes jadi anak lo. Jadi ya sabar-sabar aja."


Ellio menasehati Daniel, sementara pria itu melempar pandangan ke suatu sudut.


"Seberapa pun usaha dia untuk menjadi dewasa, ya pasti akan muncul saat-saat dimana dia ngeselin elo. Apalagi bini lo itu sekarang tekdung, emosinya emang lagi naik turun, kayak roller coaster." lanjut Ellio lagi.


Ia terus menasehati Daniel panjang lebar kali tinggi, trapesium, jajaran genjang, dan segitiga sama sisi. Ia terus bercuap-cuap layaknya emak-emak yang tengah nyap-nyap.


Bisa dipastikan jika saat ini Daniel tengah membuat aliran darahnya tersumbat, akibat pusing dengan wejangan yang diberikan Ellio.


***


"Kamu harus sadar penuh, dengan siapa kamu menikah. Usia berapa dia, bagaimana tingkat kedewasaannya dalam menanggapi sesuatu. Apa kondisi yang sedang dialaminya saat ini dan lain sebagainya."


Daniel mendengarkan psikiaternya berbicara. Ketika akhirnya ia mengadukan masalah yang ia alami bersama Lea.


Psikiater tersebut sudah lama sekali mendampingi Daniel. Karena pada saat ayah ibunya bercerai dan sang ibu memutuskan untuk pergi entah kemana, mental Daniel sempat terganggu.


Psikiater tersebut bukan hanya sekedar tempat mengadu baginya, tapi sudah ia anggap seperti ayah sendiri. Lewat sesi konsultasi yang sering ia lakukan, Daniel seperti menemukan sosok orang tua yang tidak ia dapat dari ayah maupun ibunya selama ini.


"Saya benar-benar kaget dengan reaksi dia terhadap apa yang saya katakan. Dia berteriak, seperti bukan yang saya kenal di hari-hari sebelumnya." ujar Daniel lagi.


Psikiater tersebut kembali memberikan tanggapan atas apa yang diucapkan oleh Daniel. Kemudian diskusi itu pun berlanjut.


***


"Kalau ada masalah itu, jangan lari. Tapi di selesaikan."


Richard mulai menasehati puterinya, sekitar tiga jam setelah mereka makan malam bersama. Awal kepulangan ke rumah, Richard tak langsung membahas mengenai apa yang tengah dialami Lea dan juga suami dari anaknya tersebut.


Pria itu menanyakan terlebih dahulu kabar Lea dan mengajaknya membicarakan hal lain yang menyenangkan.


"Pasti mas Dan ngadu yang nggak-nggak nih?" Lea berkata dengan nada penuh curiga.


Richard tertawa kecil.


"Daniel itu nggak pernah melebihkan atau mengurangi sesuatu. Apa yang dia katakan, ya memang itulah adanya."


Lea menatap Richard.


"Ini di luar konteks persahabatan ayah sama dia ya." lanjut Richard.


"Ayah nggak akan membela siapapun yang menurut ayah nggak perlu di bela. Kamu tau sendiri, ayah sampe pernah berantem sama Daniel. Itu artinya disini, ayah sedang tidak memihak siapa-siapa."


Richard memberikan keyakinan pada anaknya itu, dan lanjut berbicara.


"Daniel tadi cerita sama ayah, dia nggak jelek-jelekin kamu. Dia cuma murni minta pendapat, karena kamu udah berhasil bikin dia jadi stress berat."


"Aku juga stress ngadepin mas Daniel." Lea tampak tidak mau kalah.

__ADS_1


"Iya, ayah tau. Kamu ngerasa hidup kamu di rampas kan?. Ngerasa kalau apa-apa itu, kamu harus mengalah dulu terhadap calon bayi yang sedang kamu kandung. Ngerasa kalau sekitar lebih perhatian ke bayi kamu, ketimbang ke kamu. Iya kan?"


Lea diam dan menjatuhkan pandangannya.


"Ini yang waktu itu ayah pertanyakan ke kamu, mau lanjut atau nggak. Masalahnya tuh ada disini, di ego kamu. Kamu masih butuh senang-senang, hura-hura, ke sana-sini sama teman-teman kamu. Kamu masih butuh waktu untuk diri kamu sendiri, dan ini yang ayah pertimbangkan waktu itu. Tapi kamu memilih mempertahankan kandungan kamu dengan segala resikonya. Jadi ya untuk saat ini, harusnya kamu nggak boleh menyesal. Karena kehamilan ini sudah jadi pilihan kamu, maka bertanggung jawablah secara penuh. Termasuk membatasi kegiatan, demi keselamatan bayi yang ada di kandungan kamu."


"Tapi yah, kan aku juga bisa jaga diri. Harusnya mas Dan nggak usah terlalu lebay mengkhawatirkan aku."


"Iya ayah tau."


Richard berkata dengan nada sehalus mungkin, sambil di belainya kepala dan rambut anaknya itu.


"Tapi kamu bisa ngomong kayak gitu, karena kamu nggak ada di posisi suami kamu. Dia mengkhawatirkan dua orang sekaligus, Lea. Kamu dan anak kamu. Keluarga paling terdekatnya Daniel saat ini, ya cuma kamu dan anak kamu."


Lea kembali menatap Richard.


"Kalau ayah sama om Ellio, kadang kami punya urusan lain. Nggak setiap saat kami bisa berada di dekat Daniel. Wajar kalau dia khawatir sama kamu, namanya juga dia sayang."


"Tapi sayang juga artinya nggak mengekang."


"Lea, kamu sering buka sosial media kan?" tanya Richard.


Lea mengangguk, meski tak begitu mengerti dengan maksud pertanyaan ayahnya tersebut.


"Sekali-kali liat curhatan istri-istri yang suaminya nggak perhatian, yang nggak peduli sama mereka. Mau mereka jungkir balik, salto, di culik alien, suaminya tetap nggak peduli. Lebih peduli ngeliatin fotonya Anya Geraldine sama main Mobile Legends. Harapan para istri tersebut, mereka pengen punya suami kayak yang kamu punya."


Lea menarik nafas dan terus memperhatikan sang ayah.


Lea mendadak menunduk, sekelumit rasa bersalah kini memenuhi pikiran batinnya. Ia mengingat pertengkaran antara dirinya dan Daniel dengan jelas. Ia memang berteriak pada Daniel seakan Daniel adalah musuh yang seumur dengannya. Ia lupa jika Daniel adalah suami yang juga harus ia hormati.


"Maafin aku, ayah. Aku bener-bener emosi, hati aku tuh meledak-ledak rasanya."


Lea berujar dengan nada yang setengah terisak. Richard lalu mencium kening dan memeluk anaknya itu.


"Iya ayah ngerti. Kamu tuh lagi hamil, makanya begitu. Tapi semarah apapun, kamu harus berusaha untuk kontrol. Jangan sampai kemarahan kamu melukai hati orang lain."


"Mas Dan juga pernah nyakitin hati aku waktu itu, yang waktu dia dorong aku depan ayah sama om Ellio."


Richard mengangguk.


"Iya, tapi masalah nggak akan selesai kalau kita hanya sibuk membandingkan. Daniel pernah salah, dan sekarang kamu juga salah. Jalan tengahnya ya, berusahalah untuk berbaikan."


"Masa aku yang pulang, bukan mas Dan yang jemput?" Lea tetap bersikeras.


"Dia udah mau jemput, dari tadi WhatsApp ayah."


"Nggak usah yah, biar aku aja yang pulang sendiri." Tiba-tiba ia berubah sewot.


"Kenapa kalau di jemput?" tanya Richard.

__ADS_1


"E, nggak apa-apa. Biar aku pulang sendiri aja." jawab Lea.


Padahal alasan sesungguhnya adalah, Lea belum begitu mau berinteraksi banyak dengan Daniel. Karena ia masih sangat dongkol sekali terhadap suaminya itu.


Ia tak ingin berbaikan dengan cepat. Jika Daniel menjemput, akan ada ruang berdua selama perjalanan menuju rumah. Ia tak ingin Daniel memanfaatkan situasi tersebut untuk berbaikan dengannya.


Ia masih ingin mendiamkan Daniel barang sejenak, meski sejatinya ia menyesal atas pertengkaran mereka malam itu.


***


"Kata ayah aku harus pulang, karena aku udah punya suami."


Lea berkata di hadapan Daniel, saat akhirnya ia pulang ke rumah. Perempuan muda itu masih gengsi mengakui, jika permintaan maaf itu berasal dari hatinya sendiri. Ia mengatakan jika Richard lah yang meminta dirinya untuk pulang. Sambil menahan senyum, Daniel pun mendengarkan ucapan istrinya tersebut.


"Kata ayah juga, aku harus minta maaf duluan. Walaupun aku ngerasa aku nggak salah."


Lea mulai berimprovisasi, padahal Richard tak ada mengatakan hal tersebut. Ia sejatinya ingin meminta maaf pada Daniel, namun ego dan gengsi yang ia miliki masih mendominasi.


"Biar aku nggak hutang janji sama ayah, aku minta maaf sama kamu." ujarnya lagi.


Lea kemudian berlalu, meninggalkan Daniel ke dalam kamar. Sementara Daniel kini masih menahan tersenyum.


"Braaak." Lea kembali membuka pintu dan berkata pada Daniel.


"Udah dimaafin kan akunya?"


Daniel menghela nafas dan mengangguk. Lalu Lea kembali menutup pintu kamar, karena sejatinya ia masih enggan terlihat kalah di mata suaminya tersebut.


"Braaak."


***


"Lea udah sampe?"


Richard menelpon Daniel di menit berikutnya. Di saat suara Lea sudah tak terdengar lagi. Entah ia tidur atau apa.


"Udah, udah masuk kamar." jawab Daniel.


"Masalah kalian sudah selesai?" tanya Richard lagi.


"Masih proses." jawab Daniel.


"Maksudnya?" Richard tak mengerti.


"Dia sih udah minta maaf, tapi ya caranya gitu. Gengsi abis."


Richard tertawa.


"Ya sabar-sabar lah sama anak gue. Lo yang lebih tua, ya elo yang ngasuh."

__ADS_1


Daniel tertawa kali ini. Obrolan mereka lalu berlanjut hingga beberapa saat ke depan.


__ADS_2