
Clarissa menunduk dan bersembunyi di dalam mobil, semata agar Daniel tak melihatnya. Ia benar-benar terkejut dan tak menyangka jika pria itu memiliki masalah dengan Marvin. Ia pikir dunia ini begitu sempit, sehingga setiap orang terhubung satu sama lain.
"Tap, tap, tap."
Richard yang menodongkan senjata api dari belakang, kini membuat gerakan mendekat ke arah Marvin. Sedang Daniel sendiri tetap berada di tempatnya dengan senjata yang tertuju ke arah Marvin.
"Lo kalau punya dendam terhadap gue, Daniel, ataupun Ellio. Harusnya lo menghadapi kami dengan lebih berani. Bukan malah menyuruh orang banyak untuk menyerang. Jelas Ellio kalah, sebab lawannya pengecut dan nggak seimbang."
Richard berujar seraya terus melangkah dan menodongkan senjata api. Sementara Marvin masih menatap ke arah Daniel dan mengancam pria itu dengan senjatanya.
"Sekarang lo bilang, mau lo apa?"
Richard kembali berujar. Senjata api miliknya sangat dekat dengan kepala Marvin. Marvin sendiri tak gentar sedikitpun, hanya Clarissa yang sangat ketakutan di dalam mobil. Takut Marvin benar-benar tertembak, dan juga takut jika Daniel mengetahui dirinya ada disitu.
"Gue tanya sekali lagi, mau lo apa?"
Richard kembali berujar, Marvin hanya menarik salah satu sudut bibirnya.
"Lo juga sama pengecut dengan gue." ujar Marvin kemudian.
"Kalau memang lo berani, kenapa mesti ngajak orang lain."
Marvin menyinggung soal Daniel, hingga menyebabkan suasana menjadi semakin panas.
"Bukannya lo ingin menghabisi gue, Richard dan juga Ellio." Kali ini Daniel bersuara.
"Kenapa mesti takut ketika gue juga ikut datang." lanjutnya kemudian.
Tak lama terdengar suara sirine mobil polisi. Ternyata itu adalah mobil polisi lalu lintas yang tengah berpatroli. Dengan tenang mereka semua kembali menyimpan senjata api ke dalam saku dalam jas masing-masing.
Bahkan ketika polisi lalu lintas itu mendekat, mereka tetap bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
"Selamat siang, pak. Apa telah terjadi sebuah kecelakaan?" tanya salah satu dari dua polisi lalu lintas tersebut.
"Aa, hanya hampir pak." jawab Richard.
"Semua aman?" tanya polisi itu lagi.
"Aman pak, ini kita mau melanjutkan perjalanan lagi." Kali ini Marvin yang berujar.
Polisi tersebut memeriksa kelengkapan kendaraan surat masing-masing, lalu mengizinkan mereka untuk melanjutkan perjalanan.
***
Di rumah sakit.
"Ayo pak, makan lagi. Habisin makanannya."
Marsha tengah sibuk memaksa Ellio untuk makan. Ellio tidak menyukai rasa masakan rumah sakit yang menurutnya hanya kuat di aroma, namun hambar.
"Udah ah, kenyang saya nya. Udah nggak bisa makan lagi." jawab Ellio gusar.
"Pak, tadi tuh baru dua-tiga suapan doang." ujar Marsha.
"Iya tapi itu udah cukup."
"Mana bisa sembuh kalau nggak makan."
__ADS_1
"Kan minum obat." Ellio bersikeras.
"Obat doang nggak nolong banyak pak, bapak pikir luka itu sembuhnya karena apa?. Karena makanan yang mengandung protein."
"Iya tapi ini tuh nggak enak makanannya, Sha."
"Ada apaan sih?"
Tiba-tiba Daniel dan Richard masuk ke ruangan Ellio.
"Ini pak, pak Ellio tuh nggak mau ngabisin makanan." Marsha mengadu pada kedua pria itu.
"Nggak enak, bro. Tau sendiri kan makanan rumah sakit." Ellio membela diri.
Daniel dan Richard saling menatap satu sama lain. Tak lama mereka pun pergi ke luar sejenak, kemudian kembali dengan empat bungkus makanan.
"Nih, kalau ini di jamin dia mau makan." ujar Daniel.
"Apa itu pak?" tanya Marsha heran.
"Nasi Padang." jawab Richard.
Ellio sumringah.
"Tapi kan pak, pak Ellio lagi sakit. Jangan makan pedes dulu."
"Marsha, kamu tenang aja. Serahkan sama aku dan Richard. Sekarang mendingan kamu makan, nih."
Daniel membukakan salah satu bungkus makanan tersebut untuk Marsha. Kebetulan mereka juga membeli piring sterofoam di minimarket samping warung nasi padang tadi.
"Emang nggak apa-apa pak?"
"Nggak apa-apa, santai aja." ujar Daniel.
Richard lalu membuka makanan dan mendekat ke arah Ellio. Ia pun lalu menyuapi temannya itu , supaya Ellio tak repot mencuci tangan. Dan lagi jika ada perawat atau dokter yang masuk, ia akan berdalih jika itu adalah makanannya.
"Tuh kan, makan banyak kalau gini."
Richard berujar pada Marsha yang juga tengah makan bersama Daniel. Ellio menang tampak lahap sekali memakan makanan tersebut.
"Kalian mah menyesatkan." ujar Marsha kemudian.
Daniel, Richard, dan Ellio tertawa.
"Daripada dia nggak makan?. Hayo." tukas Daniel.
"Iya sih, tapi malah memunculkan permasalahan baru nantinya. Kolesterol tinggi." ujar Marsha.
"Tenang aja, ntar suruh minum herbal di Ellio biar nggak kolesterol dan asam urat."
Mereka lanjut makan, Richard menyuapi Ellio sampai bungkus nasinya bersih. Tak lama ia pun mencuci tangan, memberi minum kepada Ellio, lalu ia sendiri pergi makan. Saat itu Daniel dan Marsha sudah hampir selesai.
***
"Mas, tadi makan apa?"
Lea menelpon Daniel ketika Daniel telah berada di jalan pulang.
__ADS_1
"Aku belum makan, bingung mau makan apa?" ujar Lea lagi.
"Aku tadi makan nasi Padang, Le. Sama Richard, Ello, sama Marsha juga."
"Ih mau mas, enak kali ya sore-sore gini makan nasi Padang."
"Kamu mau?"
"Mau."
"Mbak-mbak di rumah mau nggak, coba tanyain dulu."
"Bentar ya mas."
Lea kemudian menanyai asisten rumah tangga Richard.
"Mau mas katanya." ujar Lea.
"Ya udah, ntar aku beliin sekalian." ujar Daniel.
"Makasih ya mas."
"Sama-sama, Darriel mana?"
"Itu di box."
"Tidur nggak?"
"Nggak, melek aja tuh kerjaannya. Udah di ganti popok, kasih susu, masih aja nggak tidur."
"Ya udah, yang penting dia nggak nangis."
"Iya mas."
"Ya udah aku jalan dulu, tunggu aja dirumah."
"Oke."
Lea lalu menyudahi telponnya terhadap Daniel dan menunggu di rumah. Beberapa saat berlalu Daniel tiba dengan membawa apa yang ia inginkan.
Daniel membawa satu ke kamar, berikut air minum untuk Lea.
"Nih Le, ayo makan." ujar Daniel.
Maka mereka pun duduk di kursi balkon dan Lea makan di sana, dengan ditemani oleh Daniel.
"Dari tadi dia nggak nangis?" tanya Daniel seraya menoleh ke arah box bayi yang ada di dalam. Ia sengaja tak langsung menggendong Darriel, sebab ia tadi dari rumah sakit dan belum mandi.
"Nggak mas, kalem aja. Matanya melek Mulu, ngeliatin mainan gantung itu. Kan bunyi tuh, aku hidupkan bunyi nya. Terus dia fokus ngeliatin."
"Ada aku liat di Instagram, bayi diiketin balon helium di tangan dan kakinya. Terus dia seneng gitu liatin balon." ujar Daniel.
"Itu nanti juga akan aku praktekkan kalau Darriel udah agak gedean. Biar nggak gangguin kegiatan mamanya."
"Oh udah rencana buruk ya mama." Seloroh Daniel sambil tertawa.
"Hahaha, iya dong. Mama Lele gitu loh."
__ADS_1
Daniel masih tertawa, dan mengusap kepala Lea dengan lembut.
"Yang penting kamu seneng aja dan selama itu itu nggak bahaya buat Darriel." ujarnya kemudian.