Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Merasa Heran (Bonus Part)


__ADS_3

Pulang ke rumah, Daniel kini terlihat bercerita pada Lea. Sementara anak mereka Darriel tampak bermain-main di dalam ayunan elektrik. Letaknya tak jauh dari tempat dimana mereka berada kini.


"Aku bingung aja sih, kan Dian udah segitunya banget sama Richard. Koq ya masih aja ditemui gitu loh. Bukan sekali dua, udah berapa kali malah."


Lea sedikit terdiam mendengar peryataan suaminya tersebut. Sejatinya ia pun bingung apakah Richard memang masih memiliki perasaan atau tidak terhadap Dian. Mengingat kini ayahnya itu menaruh hati dan memiliki hubungan dengan Nadya.


"Mungkin ayah emang berbaik hati aja mas." ucap Lea.


"Mungkin niatnya memberikan bantuan atau apa." lanjutnya kemudian.


Lalu Daniel tampak menghela nafas dalam-dalam. Dilemparnya pandangan jauh ke depan.


"Ya, mudah-mudahan sih gitu." ujar pria tersebut.


"Tuk!"


Terdengar suara benda jatuh, Lea dan Daniel kompak menoleh ke arah Darriel. Tampak bayi itu terdiam seperti hendak menangis. Sebab baru saja mainannya yang cukup keras terjatuh dan mengenai wajahnya sendiri.


Daniel mengernyitkan dahi sambil menahan senyum, begitupula dengan Lea. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan Darriel yang cukup kencang. Maka Daniel dan Lea pun lalu tertawa.


"Orang salah kamu sendiri, Delil. Kamu mainan diangkat tinggi-tinggi banget." ujar Lea.


Darriel semakin menangis, sementara Daniel lalu mengambil dan menggendong anaknya itu.


"Lain kali jangan gitu lagi ya." ucap pria tersebut.


Makin kencang lagi Darriel menangis, seolah meminta perhatian. Dan semakin tertawa pula kedua orang tuanya.


***


Di lain pihak, Richard akhirnya memutuskan untuk mengajak Nadya dan juga Arkana untuk pulang, sebab keadaan sudah tidak kondusif lagi. Meski sekitaran mall masih terlihat tenang, namun tidak dengan isi kepala pria tersebut.


Hal itu tentu saja mengundang prasangka serta pertanyaan dari Arkana. Ia tak mengerti mengapa mereka harus pulang saat itu juga.


"Yah, padahal kan Arka masih pengen sama om Richard. Kita belum main di fun world." ucapnya.


"Apa om bosen sama Arka dan mama?" tanya anak itu kemudian.


"Nggak gitu sayang." ujar Richard.


"Om lagi ada urusan mendadak." imbuhnya lagi.


"Urusan apa?" tanya Arkana heran.


"Urusan kerjaan, sayang."

__ADS_1


Kali ini Nadya yang menjawab, sebab ia mengira jika alasan Richard mengajak mereka pulang, adalah karena berkaitan dengan hal tersebut.


"Kerjaan?" Arkana menatap sang ibu, kemudian kembali menatap Richard.


"Iya sayang, om harus kerjakan sekarang juga." ujar Richard.


"Oh."


Arkana mengangguk-anggukkan kepalanya. Mencoba memahami alasan yang dikemukakan oleh kekasih ibunya tersebut.


Richard kemudian memanggil pelayan dan membayar bill, tak lama setelah itu mereka pun mulai bergerak.


di sepanjang perjalanan menuju halaman parkir, Richard memandang Nadya serta Arkana dengan penuh kekhawatiran. Khawatir jika nanti Hanif akan melakukan hal buruk pada mereka.


Sejatinya Richard tak akan membiarkan begitu saja. Sudah barang tentu ia akan melawan Hanif, jika sampai hal itu terjadi. Tapi masalahnya ia tinggal terpisah. Ia tak tau kapan Hanif akan datang dan mengacaukan semuanya.


"Mas, mas kenapa?"


Nadya yang menyadari perubahan wajah Richard, kini mendadak melontarkan pertanyaan.


Richard pun menghela nafas agak dalam, sebab ia ragu untuk mengungkapkan kebenaran. Ia takut semua ini akan membuat Nadya menjadi panik.


"Aku nggak apa-apa, Nad. Cuma mikirin kerjaan aja." ucap pria itu.


Maka Nadya pun mempercayai hal tersebut, dan kini mereka telah tiba di pelataran parkir. Ketiganya masuk ke dalam mobil dan tak lama mobil itu mulai bergerak.


"Mas Richard kenapa?. Sakit?"


Perempuan itu menatap Richard yang kini berusaha fokus menyetir.


"Ah, nggak koq Nad."


Richard mencoba bersikap santai. Sementara Arkana sudah tertidur di kursi tengah.


"Aku bener-bener lagi mikirin kerjaan aja." lanjutnya kemudian.


"Emang ada masalah serius?"


Lagi-lagi Nadya melontarkan pertanyaan.


"Nggak, biasa aja koq."


Richard berusaha untuk tersenyum dan Nadya pun merasa jika ia tak perlu menanyakan hal itu lebih lanjut. Sebab takut jika pikiran Richard akan bertambah runyam nantinya.


***

__ADS_1


Di waktu yang sama.


Ellio terlihat baru saja keluar dari sebuah restoran, bersama istrinya Marsha. Saat itu secara kebetulan Hanif tengah melintas dan tak sengaja melihat keduanya. Kemudian pria itu mendadak menepikan mobil dan langsung bergerak menghampiri.


"Eh, pak Hanif."


Ellio yang kaget berusaha bersikap ramah, sementara Marsha hanya mencoba tersenyum tipis.


"Dimana Richard?" tanya Hanif dengan suara yang tidak bersahabat.


"Richard?"


Ellio mengernyitkan dahi.


"Ya, anda teman baik Richard kan?. Pasti anda tau dimana dia membawa istri dan anak saya."


Kali ini Ellio menatap Marsha dan begitupun sebaliknya. Ia memang telah mengetahui jika Richard memiliki hubungan dengan Nadya, tetapi ia tidak tau jika Hanif juga telah mengetahui semua itu. Dan ia pun tak tau saat ini Richard pergi kemana.


"Maksudnya apa ya?"


Ellio pura-pura tak mengerti. Sementara Marsha yang berdiri di samping sang suami, memberikan reaksi yang sama.


"Apa maksudnya pak Richard membawa istri bapak?" tanya nya kemudian.


"Saya nggak yakin kalau kalian nggak tau. Yang jelas tolong peringatkan Richard, supaya segera menjauhi istri dan anak saya. Kalau tidak, saya akan buat perhitungan. Atau Nadya yang akan menerima akibatnya."


Hanif memberikan ancaman, kemudian berlalu. Sementara kini Ellio berada di dalam kebingungan. Marsha sendiri tak tau harus berbuat apa.


"Gimana ini?" tanya Marsha pada sang suami.


Ellio tak bisa menjawab dan kini wajahnya tampak diliputi kekhawatiran. Meskipun ia tau jika Richard bukanlah orang yang penakut dalam menghadapi orang semacam Hanif. Tetapi peringatan yang diberikan oleh Hanif tadi, tak bisa diabaikan begitu saja.


Sebab ada Nadya dan Arkana yang dikhawatirkan dapat menjadi korban. Mengingat status Nadya saat ini masih istri Hanif, dan Ellio tidak mengetahui perkara jika Hanif dan istrinya itu berada dalam proses perceraian.


"Pak Daniel harus tau soal ini."


Lagi-lagi Marsha berujar dan kali ini Ellio sontak menatap istrinya tersebut.


"Nggak, itu bukan keputusan yang tepat." ucap pria itu kemudian.


"Loh, kenapa?. Kita nggak mungkin menanggung ini semua sendirian. Lagi pula lambat laun pak Daniel pasti akan tau juga." ujar Marsha.


Ellio tampak menarik nafas dalam-dalam. Kali ini ia semakin bingung, perihal tindakan apa yang akan ia ambil. Sedang kepada Richard sendiri, ia belum bercerita sedikitpun. Mengenai jika ia telah mengendus hubungan terlarang yang dilakukan sahabatnya itu.


"Kita pulang dulu aja, kamu butuh istirahat." ucap Ellio.

__ADS_1


Maka Marsha pun hanya menuruti dan akhirnya mereka berdua masuk ke dalam mobil.


__ADS_2