
"Kamu tau Sharon?"
Maya bertanya pada Nic, dan Nic langsung menyerahkan kertas tulisan tangan Sharon kepada Maya. Seketika Maya pun terkejut, ia membaca tulisan itu dengan seksama.
"Ini kamu ketemu dimana?" tanya nya dengan nada cemas sekaligus takut.
Nic menarik Maya ke suatu sudut dan mereka pun berbicara disana. Ia menjelaskan dimana ia menemukan kertas tersebut.
Setelah itu Maya langsung buru-buru menghubungi Tasya. Tak lama Tasya datang dari sebuah arah sambil berlarian.
"May, Sharon udah ketemu?" tanya Tasya pada Maya.
Segera saja gadis itu menempelkan jari telunjuk di bibir. Tanda menyuruh Tasya diam.
"Ssssttt, jangan keras-keras." ujarnya.
"Nanti ada yang dengar." lanjutnya lagi.
"Sebaiknya kita cari tempat aman untuk bicara." ujar Nic pada Tasya dan juga Maya.
"Ok." jawab kedua orang itu kemudian.
Mereka pun lalu mencari tempat yang kira-kira cukup sepi.
***
Kembali ke rumah.
Lea menyandarkan kepalanya di pelukan Daniel. Keduanya kini berada di dalam bathtub berisi air dingin, tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka. Ini adalah kegiatan yang mereka sukai sehabis bercinta.
"Mas."
"Hmm?"
"Bisa nggak sih melahirkannya di rumah aja. Biar nyaman gitu." ujar Lea.
"Bisa aja sih, tapi kan rumah kita jauh dari rumah sakit. Kalau ada apa-apa sama kamu dan anak kita habis itu, lama lagi mesti bawa kamu ke rumah sakit. Lama lagi kalian baru dapat pertolongan."
"Ya jangan di doakan begitu. Doakan aja yang baik-baik." ujar Lea lagi.
"Le, lebih baik persiapan yang matang dulu. Baru sisanya berdoa. Ini anak pertama loh, aku nggak mau coba-coba. Nanti kalau kenapa-kenapa kita yang bakal nyesel."
Lea diam.
"Lagian kenapa sih, kalau di rumah sakit. Apa yang kamu takutkan?" tanya Daniel.
"Ya rumah sakit kan gitu mas. Vibes nya kayak penuh rasa sakit gitu loh." jawab Lea.
__ADS_1
Daniel tertawa.
"Tempat melahirkan yang aku pilih, suasananya kayak rumah koq." ujar Daniel lagi.
"Oh ya?" tanya Lea tak percaya.
"Iya, dan udah aku sewa satu lantai juga. Biar nggak banyak yang berisik."
"Serius mas, kayak artis-artis gitu?"
"Iya, serius. Tapi Richard yang bayar." ujar Daniel sambil tertawa.
"Koq ayah yang bayar?" tanya Lea lagi.
"Dia yang mau bayarin, maksa-maksa. Daripada durhaka sama mertua, ya udah aku terima aja."
"Emang ayah maksa-maksa?"
"Tanya sama Ellio, orang ada Ellio koq pas dia maksa aku. Intinya dia mau ikut andil dalam kelahiran cucu pertamanya."
Lea tertawa kali ini.
"Ayah mah ada-ada aja, apa-apa mau ngikut." ujarnya lagi.
"Namanya juga Richard, mana mau dia kalah." tukas Daniel.
Kali ini mereka sama-sama tertawa.
***
Di suatu tempat, Maya, Tasya dan juga Nic mendatangi Marcell. Kebetulan Daniel memberikan akses agar teman Sharon dan juga Marcell bisa terhubung. Sebab setiap waktu Marcell akan butuh keterangan mengenai Sharon.
Meski yang bergerak menyelidiki kasus tersebut adalah teman Marcell. Sebab Marcell sendiri mengaku jika dirinya sudah banyak menangani kasus. Tetapi ia masih ikut serta di beberapa bagian. Jika ada informasi apapun itu Daniel akan menghubungi dan memberitahu dirinya.
Kini, ia mendapat informasi dari kedua teman Sharon dan juga Nic.
"Kamu dapat ini dimana?" tanya Marcell pada Nic.
Nic pun memberitahu lokasi dimana ia mendapatkannya. Ternyata ada sebuah kompleks perumahan yang sejatinya banyak dihuni oleh orang penting.
"Disini dia bilang nama penculiknya itu Herman." ujar Nic lagi.
"Ok, tapi apa kamu sempat melihat ke rumah itu. Apakah ada tanda-tanda mencurigakan atau apa?" tanya Marcell.
"Sempat pak, dari lantai dua. Tapi kemudian ada laki laki yang memergoki saya. Saya nggak tau itu pemilik rumah atau penjaga. Dia terus ngeliatin saya, sampai saya keluar dan masuk mobil. Dia tiba-tiba udah berdiri di depan rumah itu dan ngeliatin saya."
"Itu yang punya rumah atau siapa?" tanya Marcell lagi.
__ADS_1
"Saya nggak tau pak, soalnya saya juga lihat di rumah itu banyak orang. Kayak semacam penjaga gitu."
"Ok, kalau gitu kita akan langsung melakukan penyelidikan saja. Supaya tidak membuang waktu lagi." Marcell kembali berujar.
"Baik pak." jawab Nic diikuti anggukan Maya dan juga Tasya.
***
"Mami kenapa, beberapa hari ini selau resah."
Ayah Richard yang sangat jarang bicara, kini berkata pada suaminya. Setelah beberapa waktu belakangan ia diam saja, akan sikap istrinya tersebut.
"Papi tuh cobalah ngomong sama Richie. Masalah pernikahannya dengan Maryam. Mami ini nggak enak sama keluarganya Maryam."
Ayah Richard menghela nafas. Ia adalah seroang bule, dan terbiasa tinggal di lingkungan keluarga yang tidak ikut campur urusan pribadi anak. Apalagi jika anaknya itu sudah dewasa.
"Cobalah nanti dulu, Reynald itu masih sakit. Masih ada di rumah sakit dan belum pulih. Lebih baik mengurus Reynald dan Arsen terlebih dahulu, daripada mengurusi perasaan keluarga orang lain. Lagipula Richard tidak menyukai Maryam, kenapa harus di paksakan?"
"Tapi pi, Maryam itu perempuan baik."
"Kita tidak bisa menilai orang hanya dari apa yang kita lihat sekilas. Mungkin pilihan Richard tidak baik di mata kita, tapi belum tentu di mata Richard sendiri. Biarkan anak memilih, karena mereka yang akan menjalani. Lagipula Richard itu laki-laki, kalaupun dia salah pilih dia bisa meninggalkan perempuan itu. Biarkan dia mencari jalan hidupnya sendiri, dia sudah dewasa. Sudah hampir empat puluh tahun. Nggak usah diatur terlalu banyak."
Ibu Richard diam, ia tak bisa lagi membantah ucapan suaminya tersebut. Meski dalam hati ia masih saja dongkol dan berharap Richard menurut kepadanya.
***
Di rumah sakit.
"Arsen, kamu udah tanya sama dokter. Kapan papa boleh pulang?"
Reynald bertanya pada anaknya yang kini baru saja masuk. Arsen tadi pamit untuk makan siang di kantin rumah sakit.
"Masih lama, pa. Lukanya aja masih belum kering banget."
Arsen menjawab seraya meletakkan tas ke atas sofa, yang tak jauh dari tempat dimana ayahnya tengah terbaring.
"Papa bosen disini."
"Iya sabar dulu, tunggu sembuh bisa kan?" ujarnya kemudian.
"Koq kamu malah jadi yang ngatur papa sih?"
Reynald bertanya sambil menahan tawa.
"Kalau papa mau Arsen dengerin, papa juga harus dengerin Arsen. Setidaknya papa mencontohkan bagaimana menjadi ayah yang baik, yang mendengarkan. Biar Arsen bisa mencontoh papa."
Reynald benar-benar tersenyum kali ini. Meski Arsen masih terlihat dingin seperti biasa, namun ia sudah terlihat cukup perhatian pada Reynald. Ia akan sangat marah jika Reynald tak mengikuti aturan yang ia buat.
__ADS_1