Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Malam Hangat


__ADS_3

Daniel membalas chat Lea, memberitahukan tempat dimana ia menginap. Namun setelah itu ia harus menghadiri pertemuan selanjutnya. dikarenakan terburu-buru, pria itu lupa membawa handphone.


Perangkat tersebut tertinggal di kamar hotelnya. Hingga ketika Lea membalas dan menanyakan apa yang tengah dilakukan Daniel, ia justru tak mendapat jawaban apa-apa. Sementara mobil telah berjalan, Lea pergi ke Bandung menggunakan transportasi umum.


Esok pagi, Daniel dan Marsha sarapan bersama di hotel. Mereka juga membicarakan perihal pekerjaan.


"Siang ini, kita pergi menemui dua orang lagi. Nanti malam, salah satu klien kita ada yang ngajakin party pak." ujar Marsha.


Daniel hanya mengangguk sambil melanjutkan makan. Usai sarapan mereka lalu bergerak menyelesaikan urusan pekerjaan satu persatu. Hingga ketika sore hari Daniel kembali ke hotel.


"Kamu siap-siap ya." ujar Daniel pada Marsha, ketika mereka telah sampai di lobi hotel.


"Mas."


Lea muncul tiba-tiba, membuat Daniel terkejut begitupula dengan Marsha. Tatapan mata sekretaris Daniel tersebut tak begitu ramah, ia juga tak mencoba untuk tersenyum. Ia setia pada sikapnya yang dingin terhadap Lea.


"Hei." Daniel tersenyum, entah mengapa ia menyukai kejutan ini.


Detik berikutnya Daniel langsung membawa sang istri ke kamar hotel. Lea sempat melihat Marsha masuk ke kamar hotel, yang ada diseberang kamar Daniel. Mendadak hatinya dipenuhi rasa curiga, namun ia enggan mempermasalahkan hal tersebut. Ia tak ingin menjadi istri yang datang-datang bawa keributan.


"Mas, aku kangen."


Lea memeluk sang suami, ketika mereka telah berada di dalam kamar. Daniel membalas pelukan sang istri sambil tersenyum.


"Kan udah aku ajak, kamunya aja yang jual mahal. Kangen kan sekarang?"


Lea nyengir dan masih memeluk sang suami.


"Nanti malem nggak apa-apa ya, aku tinggal. Salah satu rekan bisnis aku, ada yang ngajak minum."


"Mas mau pergi mabok?" tanya Lea seraya mengeluarkan handphone dari dalam tasnya. Ia kini duduk di atas sofa kamar, tempat dimana Daniel menginap.


"Iya, nggak enak diajakin soalnya."


"Sama Marsha?"


Daniel menatap ke arah Lea, ia menangkap adanya nada kecemburuan dalam intonasi ucapan istrinya tersebut.


"Mm, kemungkinan iya." jawab Daniel kemudian.


"Kenapa aku nggak diajak?"


Lea bertanya dengan nada yang kian dipenuhi kecemburuan, sementara Daniel tersenyum tipis lalu mendekat.


"Kamu kan lagi dalam proses dihamili, jadi nggak boleh masuk ke klub malam. Nanti kena asap rokok dan lain-lain."


"Tadi juga aku kena polusi sepanjang menuju kesini, kena asap rokok orang lain pas aku lagi jalan."


Daniel tertawa.

__ADS_1


"Pokoknya aku bilang nggak ya nggak."


Lea menyilangkan tangan di dada, bibirnya ditekuk dihadapan sang suami.


"Bilang aja supaya mas bisa berduaan sama Marsha."


Kali ini Daniel tertawa.


"Sekretaris aku yang sebelumnya, dia jauh lebih cantik dan lebih **** dari Marsha. Nggak ada aku punya hubungan sama dia, nggak ada niat juga buat nidurin dia."


"Emang iya?" tanya Lea tak percaya.


"Tanya sama orangnya langsung, aku masih ada nomornya. Atau kamu tanya Richard sama Ellio."


"Nanya sama om Richard dan om Ellio mah, mereka pasti pro ke kamu."


Lagi-lagi Daniel tertawa.


"Aku, Richard sama Ellio itu nggak ada yang punya affair sama orang kantor. Sebejat-bejatnya mereka berdua, pasti cari cewek di luaran. Kami nggak pernah memanfaatkan posisi dan jabatan kami, buat deketin orang yang bekerja dengan kami. Masa kamu sama suami sendiri nggak percaya."


"Iya deh aku percaya, tapi mas jangan pulang pagi."


"Nggak koq, aku paling satu atau dua jam aja di sana. Oh ya, kamu kesini tadi naik kendaraan umum?"


"Ya iyalah mas, mana aku bisa nyetir sendiri."


"Belum makan?"


"Ya udah, aku pesenin makan ya."


Lagi-lagi Lea mengangguk, Daniel pun memesan makanan untuk istrinya itu.


***


Sore itu Daniel bersiap untuk pergi, ke acara yang telah di jadwalkan padanya. Didalam kamarnya, Marsha juga telah bersiap. Jika Daniel menghubunginya, maka wanita itupun akan pergi.


"Lea, aku bentar lagi pergi."


Daniel berujar, namun tiba-tiba ia terpaku. Pasalnya kini ia melihat Lea dalam balutan gaun yang sangat tipis, membuat naluri kejantanannya seketika bangkit.


"Hei."


Daniel mendekat, dengan tatapan mata yang nyaris tak berkedip. Keindahan tubuh sang istri seolah menghipnotis kesadarannya.


"Sayang." bisiknya kemudian.


Ia lalu mencium bibir Lea dengan kedua tangan meremas dua bongkahan sintal padat, yang ada di bagian belakang tubuh istrinya.


"Hmmh."

__ADS_1


Lea bersuara sambil menarik nafas, ia membalas ciuman sang suami dengan sangat. Daniel makin terbuai oleh gairah, dilepaskannya jam tangan yang tadi telah ia pakai. Lanjut ia membuka kancing kemeja yang membalut tubuhnya, kemudian melepaskan dan membuangnya begitu saja ke lantai.


Di dorongnya tubuh Lea hingga terjerembab ke atas tempat tidur yang empuk. Ditindihnya kemudian tubuh sintal itu, sambil tetap memberikan ciuman dan remasan di setiap bagian.


"Mas."


"Iya sayang."


Daniel mulai melepaskan sisa penutup di tubuhnya, juga melucuti pelindung bagian dalam tubuh istrinya.


"Mas."


Daniel mulai mengatur nafas dan mengarahkan cintanya ke liang milik sang istri. Perlahan ia pun mendorong sambil terus menatap mata Lea.


"Mas."


Mata Lea mulai kehilangan bagian hitamnya, lantaran ia begitu menikmati pergerakan Daniel. Sampai kemudian,


"Aaakh."


Semuanya terbenam sempurna.


"Mas."


Daniel mulai bergerak, sambil sesekali meracau dan mencium Lea. Begitupula dengan Lea, bibirnya tak henti meneriakkan nama sang suami.


Entah mungkin penghuni hotel sebelah mendengar erangan dan desah dari mulut mereka yang begitu kencang. Namun mereka sudah tidak peduli lagi, keduanya telah dibuai kenikmatan yang tiada tara.


"Mas, hmmh, mas."


"Lea sayang, aku mau....."


"Aaaakh."


Keduanya berteriak usai menyatu cukup lama, tubuh keduanya bergetar hebat. Lea menerima benih sang suami yang begitu banyak, seketika Daniel pun ambruk di sisi Lea. Tubuhnya lemas, namun ia puas dan tertawa kecil.


"Haduh, kayaknya aku nggak jadi pergi deh." ujar Daniel kemudian.


"Kenapa mas?" tanya Lea heran.


"Ngantuk." jawab Daniel.


Pria itu masih tertawa, namun memejamkan matanya meski tidak tidur sungguhan. Dalam hati Lea berkata, ada untungnya juga datang kesini tepat waktu. Jika tidak, mungkin Daniel sudah pergi minum-minum bersama rekan kerjanya dan juga Marsha.


Sementara di dalam kamarnya, Marsha masih menunggu instruksi dari Daniel. Beberapa saat kemudian Daniel menelpon dan mengabarkan jika mereka tak jadi berangkat. Tentu saja Marsha kesal, karena ia sudah berdandan sedemikian rupa.


Namun apalah daya, ia hanya seorang karyawan baru. Yang tak mungkin melayangkan protes terhadap bos nya tersebut.


"Oh ya udah pak, nanti saya kabarkan ke rekan bisnis bapak."

__ADS_1


Daniel menyudahi telponnya dan kembali memeluk Lea. Sementara Marsha masih terpaku dengan rasa kesal yang belum padam.


__ADS_2