
Ellio kembali menemani Marsha periksa kandungan. Sebab sebentar lagi pernikahan mereka akan dilangsungkan.
Mereka banyak berkonsultasi dengan dokter mengenai ini dan itu. Marsha diminta untuk tidak terlalu lelah saat acara pernikahan itu nanti berlangsung.
"Sehat-sehat ya anak papa."
Ellio mengusap-usap perut Marsha ketika mereka sudah berada di mobil. Marsha tersenyum memperhatikan Ellio, lalu mereka pun berciuman.
Tak lama Ellio menghidupkan mesin mobil dan tancap gas meninggalkan pelataran parkir rumah sakit. Hari ini mereka akan menjalani perawatan tubuh dan kulit di tempat yang masing-masing telah di sediakan.
Marsha akan menjalani perawatan di sebuah salon spa dan kecantikan dengan ditemani Lea, beserta teman-teman Lea yang perempuan. Teman-teman akrab Marsha rata-rata sudah tinggal di luar kota atau luar negri.
Sulit bagi mereka untuk datang dan menemani saat-saat menjelang pernikahan dari perempuan itu.
Untuk itulah Lea menawarkan diri untuk menemani dan Marsha pun menyetujui. Lagipula sudah lama Lea dan teman-temanya tidak nyalon. Semua dimaksudkan agar Marsha merasa gembira dan tidak sendirian.
Sebab di kucilkan dan dibuang keluarga pada saat hendak menikah itu, bebannya sangat berat. Meski Marsha tak menunjukkannya dan tak menangis di depan semua orang. Tapi Lea yakin jika dalam hati perempuan itu sangat berantakan.
"Ayah, aku nemenin Marsha ya?"
Lea meminta izin pada Richard via telpon. Setelah sebelumnya ia melakukan hal yang sama terhadap Daniel. Daniel sejatinya mengizinkan. Namun ia berkata pada Lea untuk meminta persetujuan Richard terlebih dahulu.
Sebab Richard sedang sangat melindungi keluarganya saat ini. Ia tak ingin terjadi apa-apa pada seluruh anggota keluarganya.
"Ya udah nggak apa-apa, supir dan bodyguard udah ayah persenjatai dan mereka terlatih. Tapi tetap waspada, jaga Marsha dan teman-teman kamu juga. Ayah juga udah sewa salon spa nya hanya untuk kalian koq."
"Oh ya?" Lea begitu senang.
"Iya, untuk seharian full." ucap Richard.
"Asik." Lea tampak antusias.
"Makasih ya ayah." ujarnya kemudian.
"Iya sama-sama sayang. Nanti kalau mau pulang kabarin ayah atau Daniel atau Ellio. Jadi bisa di pantau sampai semuanya tiba di rumah masing-masing.
"Iya yah, love you."
"Love you too, bye."
__ADS_1
"Bye ayah."
Lea menyudahi telponnya dan siap berangkat. Saking senangnya akan pergi ke salon dan memanjakan diri, ia kemudian menari-nari di depan Darriel yang sudah terbangun sejak tadi.
"Darriel anak ikan lele, lele nya besar."
Wajah Darriel tentu saja berubah, karena itu merupakan lagu horor baginya.
"Lele nya kumisan, badannya licin. Meliuk-liuk, berenang di sungai, di empang."
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
Darriel menangis, sedang kini Lea tertawa-tawa.
***
Beberapa saat berlalu, Lea dan teman-temanya sudah di tiba di salon spa yang dimaksud. Tempat tersebut berada di area yang sangat luas dan vibes tempatnya seperti villa-villa di pulau Dewata.
Memiliki kolam renang dan juga aliran sungai buatan yang menambah sejuk serta tenang suasana.
"Ah, ini baru healing." ucap Ariana seraya menikmati udara sekitar yang sejuk.
Tak lama kemudian Vita dan Nina sampai. Paling terakhir Marsha, sebab tadi ia ada pergi membeli perhiasan dan cincin pernikahan bersama Ellio.
"Cieee, calon pengantin."
Lea dan teman-temannya langsung menyerbu Marsha. Perempuan hamil itu pun tersenyum bahkan tertawa. Pipinya tersipu merah dan terlihat sekali jika ia cukup bahagia.
"Mana nih dedek bayinya." Adisty mengusap perut Marsha dan perempuan itu lagi-lagi tersenyum.
"Kayaknya dia lagi tidur deh." jawab perempuan itu kemudian.
"Cie yang mau jadi istrinya pak Ellio. Padahal pak Ellio nya adalah incaran kita semua." seloroh Ariana."
Mereka semua pun tertawa-tawa. Lalu tak lama kemudian mereka masuk ke dalam salon dan memulai rangkaian perawatan. Dimulai dari perawatan kuku tangan dan kaki.
Mereka dilayani dengan sangat baik, sebab Richard pun sudah membayar mahal tempat itu. Ia bahkan mendahului Daniel dan juga Ellio yang berpikir juga untuk menyewa tempat tersebut.
__ADS_1
Richard memang selalu gerak paling cepat dalam hal apapun. Terutama hal untuk menyenangkan orang-orang yang ia sayangi.
***
"Kalian beneran nggak akan datang?"
Ellio menemui ketiga kakak Marsha tanpa sepengetahuan sang kekasih. Tadi Ellio hanya mengatakan pada Marsha bahwa ia akan kembali ke kantor. Namun ia janjian untuk bertemu dengan kakak dari calon istrinya itu, di sebuah tempat.
"Kalau kita sih nggak masalah, bisa aja kita datang kesana. Tapi papa dan mama nggak akan melakukan hal itu. Mama akan menuruti papa dan papa kami itu orang yang sangat keras kepala." salah satu kakak Marsha berujar.
Ellio menghela nafas dan sedikit menunduk. Kali ini kakak kedua Marsha yang membuka suara.
"Kalau kami hadir disana. Otomatis Marsha akan bertanya, kenapa papa dan mama nggak datang. Dan jawaban kami nggak mungkin bohong, kami pasti akan jawab jujur kenapa. Semestinya Marsha sudah tau apa isi dari jawaban itu. Kami cuma nggak mau dia sedih di hari pernikahannya. Jadi lebih baik kami juga nggak datang." ucap pria itu.
"Iya, dia pasti emosional kalau ngeliat kami." kakak ketiga Marsha menimpali.
Ellio mengerti dan tak ada gunanya ia memaksa ketiga orang itu. Namun sebagai laki-laki yang hendak menikah dan ditolak oleh keluarga mempelai perempuan. Ellio harus tetap memperjuangkan semua itu sampai akhir.
Ia tetap harus mengusahakan orang tua dan keluarga Marsha hadir. Agar kebahagiaan wanita itu bisa utuh di hari pernikahannya.
Namun jika sudah begini apa boleh buat. Mungkin setelah ini ia masih akan berusaha, selagi masih ada waktu yang tersisa.
"Ini undangan pernikahan kami."
Ellio meletakkan undangan ke atas meja.
"Tolong sampaikan ke papa dan mama. Sekaligus permintaan maaf saya sekali lagi. Marsha saat ini baik, kondisinya stabil, bayinya juga sehat. Tapi saya tau hatinya sedih dan selalu memikirkan keluarganya."
Ketiga kakak Marsha terdiam. Sejatinya mereka tak setega sang ayah. Sebab mereka dan Marsha tumbuh bersama dan memiliki bonding yang cukup kuat antara satu sama lain.
"Kami akan coba membujuk papa lagi, semoga papa melunak dan mau menghadiri pernikahan itu nantinya."
Kakak pertama Marsha kembali berujar. Ellio mengangguk dan berterima kasih.
"Tapi kalau kami nggak bisa, tolong titip Marsha." lanjut pria itu kemudian.
Dan Ellio pun kembali mengangguk.
"Jangan sekali-kali sakiti adik kami, karena kami pasti akan marah dan melakukan tindakan yang seharusnya seorang kakak lakukan."
__ADS_1
Kakak kedua Marsha menimpali dan lagi-lagi Ellio mengangguk.
"Saya janji, saya tidak akan menyakiti dia. Dan saya menjamin kebahagiaan selamanya." jawab Ellio.