
"Dad, orang tua daddy itu gimana?. Aku nggak enak kalau kayak gini."
Dian yang kini tengah berada di mobil Richard, tampak berbicara sambil tertunduk.
"Gimana apanya?" tanya Richard.
"Ya, dia kayak nggak suka sama aku. Gimana kita mau melanjutkan hubungan, kalau salah satu pihak aja udah ada yang nggak suka."
"Kamu itu apa-apa terlalu dimasukkan ke hati, namanya orang tua laki-laki ya begitu semua rata-rata. Kalau anak laki-laki nya memilih perempuan, pasti di judesin dulu. Kamu juga kalau punya anak laki laki nanti bakalan sama kayak begitu. Emang udah sifat alami kalian, ribet dan selalu nggak suka sama kehadiran perempuan lain." ujar Richard.
"Aku kalau punya anak nanti nggak bakal gitu." ujar Dian.
"Semua perempuan juga rata-rata omongannya sama, sayang. Tapi pada prakteknya biasanya lupa."
Richard berujar seraya tersenyum menatap Dian. Dian menekuk manja bibirnya, hingga Richard pun akhirnya memeluk wanita itu. Kebetulan mobil mereka saat ini memang tengah berhenti di bahu jalan. Sebab mereka sedang istirahat, setelah menempuh perjalanan cukup jauh.
"Kita lanjut nggak nih jalannya?" tanya Richard kemudian.
"Lanjut dong, masa tidur disini." seloroh Dian.
Richard tertawa lalu menghidupkan kembali mesin mobil.
"Ngajak makan di puncak, padahal tempat makan di dekat kita banyak." ujar pria itu lagi, seraya menginjak pedal gas.
"Ngidam kali kamu, hamil nih pasti." Richard mengusap perut Dian.
"Ih, nggak lah." Dian sewot.
"Kalau iya gimana?" tanya Richard lagi.
"Ya nggak mau, orang masih sibuk ini itu."
"Lah, di enakin doang maunya. Buncitnya nggak mau." ujar Richard.
"Ih, kamu mah." Dian kembali sewot dan lagi-lagi Richard tertawa.
***
Sore hari menjelang malam. Kampus sudah di bubarkan. Namun sama seperti mahasiswa lainnya, Arsenio masih terlibat beberapa urusan di tempat itu.
Reynald sendiri sudah bergerak untuk menjemputnya. Ia tak lagi diizinkan membawa sepeda motor oleh ayahnya itu. Dan dengan berbagai ancaman, akhirnya Arsen pun menurut.
Ia selalu kalah apabila berdebat dengan Reynald. Pria itu memiliki segudang argumen yang bisa ia pakai untuk membantah ucapan Arsen. Daripada terus bersitegang, Arsen lebih memilih untuk mengalah. Sebab tak ada gunanya menghabiskan waktu bersitegang dengan orang seperti Reynald. Hanya akan ada kelelahan yang didapat.
"Sen, gue duluan ya." Salah satu teman baiknya berujar.
"Hati-hati, bro." ujar Arsen kemudian.
"Iya lo juga. Eh, lo dijemput om-om lo ya?"
Teman Arsen tersebut bercanda. Arsen telah menceritakan jika Reynald adalah ayah kandungnya, meski ia sendiri belum menerima pria itu.
Menurut teman-teman Arsen, vibes yang dimiliki Reynald persis seperti om-om berduit yang mempunyai banyak berondong simpanan. Maka hal tersebut pun kini jadi bahan guyonan di circle pertemanan mereka.
"Iye, kalau lo mau ambil aja. Sebel gue, bawel banget kayak emak-emak." ujar Arsen.
"Hahaha." teman Arsen tertawa.
"Jangan terlalu lama benci sama orang tua, bro. Kita nggak tau berapa lama lagi waktu yang mereka miliki."
Arsen diam, namun kemudian mereka sama-sama tersenyum.
__ADS_1
"Ya udah gue jalan yak." ujar temannya lagi.
"Yoi, hati-hati."
"Sip."
Teman Arsen tersebut pulang duluan, kini tinggallah Arsen sendiri.
***
Reynald terjebak sebuah kemacetan cukup panjang. Arsen yang sudah bersiap pulang itu pun menerima sebuah pesan.
"Kalau mau makan, makan dulu aja. Papa lagi kejebak macet." ujar Reynald dalam sebuah pesan singkat di WhatsApp.
Arsen membaca pesan itu, namun tak menjawab. Ia kini pergi ke perpustakaan untuk membaca buku.
Beberapa menit berlalu, Reynald mengabarkan jika ia sudah dekat. Arsen menyudahi aktivitasnya dan bergegas keluar dari gedung kampus.
Ia kini menunggu di jalanan sisi timur pagar kampus yang sepi. Sebab di jalan tersebutlah Reynald biasanya akan sampai, lalu tinggal lurus saja untuk bisa sampai ke rumah yang kini mereka tempati.
"Buuuk."
Sebuah pukulan Arsen terima di bagian punggungnya secara serta merta. Meski nyaris terjatuh, pemuda itu menoleh dan langsung bersiaga. Ia terkejut tatkala menatap beberapa orang yang membawa balok kayu dan menatap kearahnya.
"Ini kan orangnya?" tanya salah seroang dari mereka.
"Siapa kalian?" tanya Arsen dengan nada penuh keingintahuan.
"Lo nggak perlu tau siapa kami, yang jelas hari ini lo akan dihabisi."
Tanpa banyak bicara lagi, orang-orang tersebut langsung menyerang Arsen. Pemuda itu melawan dan membalas serangan dengan sengit.
Meski akhirnya ia mengalami banyak memar akibat kena pukulan. Sakit yang ia derita membuat dirinya rentan mengalami pendarahan di bagian dalam.
Mereka berkelahi, Arsen menghadapi mereka sendiri. Ia masih cukup kuat serta berani menghadapi orang-orang tersebut. Sampai kemudian,
"Arseeen."
Reynald tiba dan langsung keluar dari dalam mobil. Secara serta merta pria itu masuk ke tengah-tengah perkelahian dan membela anaknya. Meski ia belum tau duduk perkara yang melatarbelakangi perkelahian tersebut.
"Buuuk."
"Buuuk."
Reynald memukuli mereka satu persatu.
"Lari ke mobil!" ujar Reynald pada Arsen.
"Nggak!"
Arsen masih bersikeras dan terus berkelahi, begitupula dengan Reynald. Hingga di suatu titik, seorang diantara penyerang itu mengambil sebilah pisau.
Ia menyerang ke arah Arsen, namun secara tiba-tiba Reynald menghalangi. Hingga pisau tersebut tertancap di bagian kiri perutnya.
Waktu seakan berhenti berputar. Tubuh Arsen membeku melihat ayahnya yang terjatuh bersimbah darah. Pada saat yang bersamaan sekelompok mahasiswa menyadari adanya keributan di tempat itu.
Mereka memanggil masa dari dalam dan keluar beramai-ramai. Orang-orang yang menyerang Arsen serta Reynald tersebut kocar-kacir, sebagian dari mereka tertangkap dan jadi sasaran amukan para mahasiswa.
Arsen sendiri kini terjatuh air matanya, ia bahkan tak bisa berkata apa-apa lagi melihat kondisi Reynald.
"Arsen."
__ADS_1
Salah orang mahasiswa yang satu kelas dengannya mendekat dan mencoba membantu Arsen bersama mahasiswa yang lain.
"Tolong, tolong!"
Arsen berujar dengan penuh emosional. Salah seorang diantara mahasiswa menghubungi ambulans. Air mata Arsen kini tak henti mengalir. Sambil menahan sakit, Reynald mengeluarkan handphone dan memberikannya pada Arsen.
"Password nya, hhhh. Ta, tanggal lahir kamu."
Reynald berujar dengan susah payah. Nafasnya seperti terpenggal-penggal.
"Jangan ngomong apa-apa dulu."
Arsen berujar pada ayahnya itu sambil masih berurai air mata.
"Semua password tabungan dan aset-aset papa, kodenya sama."
Mata Reynald terpejam, seiring dengan hilangnya kesadaran yang ia miliki. Arsen histeris, tak lama ambulans pun datang. Arsen berteriak-teriak memangil ayahnya itu. Dan teman-temannya berusaha menenangkan.
***
"Richard dan Dian kembali dari puncak. Dian sangat bahagia sebab permintaannya selalu di turuti."
"Tadi sate Maranggi nya enak banget." ujar perempuan itu.
"Iya sih, emang agak beda sama yang dijual dimana-mana. Disana rasanya lebih mantap." timpal Richard.
"Makanya aku suka yang disana. Aku udah pikirin dari jauh-jauh hari. Kalau pulang, aku mau makan sate Maranggi itu disana."
"Sekarang udah terealisasi kan?" tanya Richard.
"Udah dong dan aku bahagia." jawab Dian seraya tersenyum.
Richard balas tersenyum, tiba-tiba ada notifikasi panggilan dari Reynald di handphonenya.
"Hallo, Rey."
"Om ini Arsen."
Richard dapat mendengar suara keponakannya yang tengah terisak tersebut. Seketika kekhawatiran pun menyerbu batin pria itu.
"Arsen, kamu kenapa?"
"Papa, om." ujar Arsen masih menangis.
"Papa kenapa?" tanya Richard cemas.
"Papa."
"Iya, papa kenapa. Jelaskan sama om, kamu tenang dulu."
Arsen pun bersusah payah menjelaskan apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kecemasan Richard benar-benar naik ke puncak.
"Ok, kamu tenang. Jangan kemana-mana." ujar Richard dengan nada penuh gemetaran.
"Tunggu om disitu, ok."
Telpon tersebut pun disudahi, Richard kini terlihat sangat resah.
"Kenapa dad?" tanya Dian kemudian.
"Kakakku, Rey. Dia kritis, di tusuk orang nggak dikenal." Sara Richard mulai kacau.
__ADS_1
"Ok dad, tenang dulu. Tenang, dan kita kesana." ujar Dian.
Richard menarik nafas dalam-dalam, sesaat kemudian ia pun mengemudi dengan kecepatan tinggi.