
"Jangan menghindar."
Sean menghalangi langkah Dian yang hendak menjauh dari hadapannya.
"Aku sibuk, Sean. Ada yang harus aku kerjakan."
Dian beralasan, padahal perempuan itu memang tengah menghindari Sean. Bukan karena ia tidak memiliki rasa yang sama. Tapi karena masih terikat pada sebuah hubungan yang lain. Ia belum ingin memperjelas apapun diantara mereka.
"Kamu bohong dan aku tau itu." ucap Sean lagi.
"Bohong apanya?"
Tiba-tiba Sean mencium bibir Dian secara serta merta. Dian terdiam, dengan jantung yang berdegup kencang. Namun lama kelamaan ia pun luluh, dan membalas semua itu.
Mereka berciuman sampai keduanya larut dalam lupa. Tanpa sadar di kejauhan, sepasang mata menyaksikan hal tersebut dengan hati yang hancur.
"Aku cinta sama kamu." ucap Sean pada Dian sambil menatap matanya.
Dian membalas tatapan tersebut, lalu keduanya kembali berpelukan. Bahkan lebih erat dari sebelumnya.
"Aku juga." jawab Dian.
Sean menatap Dian, Dian pun demikian. Lalu keduanya sama-sama tertawa.
"Kita jalan yuk!" ajak Sean pada detik berikutnya.
Dian tersenyum lalu mengangguk. Mereka mulai melangkah, namun kemudian langkah itu terhenti. Tatkala mata mereka menatap sosok Richard yang berdiri di suatu titik.
Sean tak mengenal Richard, namun ia tau tatapan laki-laki itu tertuju ke arahnya dan juga Dian. Sementara jantung Dian berdegup dengan kencang. Ia terkejut sekaligus tak menyangka dengan apa yang ia lihat.
Richard saat itu hanya diam, meski ia memiliki power untuk menghajar Sean. Namun pria tersebut merasa tak perlu menjatuhkan harga dirinya terlalu banyak.
Ia kemudian berlalu, membuat sekujur tubuh Dian seakan habis tenaganya. Perempuan itu menjadi lemah seketika.
"Dian, dia itu tadi siapa?"
Sean melontarkan pertanyaan. Sebab ia merasa perlu tau mengenai siapa Richard. Sementara Dian bibirnya seolah tiba-tiba menjadi kelu.
"Kamu kenal dengan dia?" tanya Sean lagi.
Kali ini Dian yang menunduk. Sean menyadari jika dugaannya tidaklah salah. Bahwasannya pria yang ia lihat tadi saling mengenal satu sama lain dengan Dian.
"Dia...." Dian mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur.
"Dia Richard, pacarku." lanjutnya kemudian.
__ADS_1
Tubuh Sean seakan dihantam benda keras. Seluruh tungkainya kini terasa lemas. Bukan hanya Richard yang dibuat kecewa, tapi juga dirinya.
"Harusnya kamu bilang." ucap Sean dengan nada yang begitu dingin namun lemah.
Dian menunduk dalam.
"I'm sorry." ujarnya kemudian.
"Tapi soal perasaan aku ke kamu, itu nggak bohong." lanjutnya lagi.
Kali ini Sean menatap perempuan itu. Ia memang dapat merasakan hal tersebut, dari ciuman yang mereka lakukan tadi. Bahwasannya mereka memang memiliki rasa yang sama. Hanya saja di awal, Dian lebih terkesan ingin mengingkari.
***
Di lain pihak.
Lea tengah sibuk membersihkan rumah, dengan Darriel yang melihat dari atas ayunan elektrik. Kemana Lea bergerak, disitu mata Darriel mengikuti. Ia tertawa-tawa, seakan segala hal membuatnya merasa senang.
"Dert."
"Dert."
"Dert."
"Hallo, yah." ujar Lea membuka percakapan.
Richard hanya diam, tak ada suara apapun yang Lea dengar kecuali nafas pria itu yang sayup-sayup.
"Yah, ayah."
Tetap tak ada jawaban. Lalu kemudian sambungan tersebut di sudahi secara serta merta oleh Richard. Lea pikir mungkin gangguan sinyal. Sehingga ia kini kembali ke kegiatannya dalam membereskan rumah. Sebab setelah itu Richard tak mengulangi panggilannya.
Sementara nun jauh di sana, Richard terduduk lesu di lantai, sambil bersandar pada tempat tidur. Tangannya masih menggenggam handphone dan tatapan matanya jatuh ke lantai.
Hati pria itu berantakan, dan ia membiarkannya begitu saja. Ia memilih diam di tengah power besar yang ia miliki. Sebab ia menyadari betapa ia juga memiliki banyak salah kepada Dian. Ia masih sering bersama perempuan lain di belakang perempuan itu.
Meski belakangan, sejak Darriel lahir. Ia jadi lebih banyak mengurangi bahkan menyetop semua hal yang tidak baik. Lantaran ia ingin menjalani hubungan yang serius.
Namun ternyata niat baik belum tentu berbuah baik pula. Karena inilah yang akhirnya ia dapatkan. Tetapi mungkin ini merupakan sebuah karma, atas segala tingkah lakunya selama ini.
Kini ia hanya ingin merenungi dan memikirkan langkah selanjutnya. Apakah ia akan akhiri saja hubungan diantara dirinya dengan Dian, atau memilih memperjuangkan dengan mengesampingkan rasa sakit di hatinya.
Toh selama ini Dian juga mendampingi dirinya dengan mengesampingkan rasa sakit. Sebab sedikit banyak diam mengetahui perkara kelakuan playboy Richard, dibelakang dirinya.
***
__ADS_1
"Richard kemana ya, koq nggak ada ngabarin hari ini?"
Daniel berkata pada Lea, ketika dirinya telah berada di rumah. Pria itu tampak mengambil air minum dari dispenser, kemudian meminumnya sampai habis. Lalu dia menarik kursi meja makan dan duduk disana sambil membuka laptop.
"Tadi sih ada nelpon ke aku, mas. Tapi nggak ada suara apa-apa, cuma kayak kresek-kresek gitu sama suara nafas. Gangguan kali ya." ucap Lea.
"Bisa jadi sih." ujar Daniel.
"Oh ya kamu mau makan sekarang?" tanya Lea.
"Bentar lagi lah, masih ada kerjaan sedikit." jawab Daniel.
"Ya udah, ntar kalau mau minta temenin panggil aku aja ya mas." ujar Lea lagi.
"Emangnya kamu mau kemana?" gantian Daniel yang bertanya.
"Mau ngerjain tugas kuliah dulu."
"Oh, ya udah sana kerjain. Aku mah gampang, makan tinggal ambil sendiri ini."
"Oke deh."
Lea pergi ke lantai atas, agar bisa berkonsentrasi. Sebab bila mana mengerjakan tugas di dekat Darriel, konsentrasinya akan terganggu.
Hal tersebut bukan di sebabkan karena Darriel berisik atau menangis mencari perhatian. Tapi Lea jadi ingin menggangu Darriel dan menjahilinya setiap saat. Maka itu lebih baik ia belajar di tempat lain.
"Heh, Heee."
Darriel mengeluarkan celotehan demi celotehan, tatkala Lea sudah berada di lantai atas. Bayi yang tengah berada dalam ayunan wajibnya tersebut bersuara kepada sang ayah, yang tengah berkutat dengan pekerjaan di meja makan.
"Hoahaa."
Daniel mulai tercuri perhatiannya dengan melirik ke arah Darriel. Tampak Darriel berusaha keras mendapat perhatian sang ayah. Ia menggerak-gerakkan tangan dan kakinya sambil terus menatap Daniel.
Awalnya Daniel cuek, dan tetap berkonsentrasi pada pekerjaan. Namun semakin Darriel bersuara, semakin terusik pula pertahanannya. Sehingga pria itu kemudian menyerah.
Ia menyudahi pekerjaan, menutup laptop, lalu segera menghampiri Darriel. Bayi itu terlihat antusias, karena telah berhasil menjalani misinya.
"Seneng kamu ya, udah berhasil bikin papa males kerja." Daniel berkata pada anaknya itu.
Darriel terus tertawa sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.
"Mau main sama papa?" tanya Daniel lagi.
Darriel makin bersemangat, kemudian Daniel mengambil bayi itu dan menggendongnya.
__ADS_1