Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Cinta Hangat (Extra Part)


__ADS_3

"Duh, udah deh mending Darriel pulang aja sama ayah."


Richard berujar ketika Darriel tertidur dalam pelukannya.


"Ntar yang ada ayah kangen lagi sama dia." lanjut pria itu.


"Ya kalau Darriel pulang, nanti kita yang kangen yah. Ayah ikut kita aja jalan yuk!" ajak Lea.


"Iya bro, ikut aja." Daniel menimpali.


Sejenak mereka terdiam, lantaran melihat wajah Ellio yang mendadak datar serta sewot.


"Iya, nggak jadi." ujar mereka secara serentak, demi menyenangkan kembali hati Ellio.


Ellio pun lalu nyengir.


"Nggak bisa banget orang gerak dikit, dasar." ucap Richard.


Ellio tetap nyengir bahkan kini makin lebar. Sore itu juga Richard dan Ellio bertolak meninggalkan Singapore. Disaat Darriel masih tertidur lelap.


Baru masuk ke dalam pesawat saja, Richard sudah kembali rindu pada cucunya tersebut. Namun ia senang hari ini bisa memeluk dan mengajak Darriel bermain.


***


"Pasti ntar kalau sampe, ayah baper lagi tuh pengen ketemu Darriel." ujar Lea.


"Pasti." ucap Daniel seraya makan makanan yang tadi ia beli, saat mengantar Richard serta Ellio ke bandara.


"Kakek-kakek mah gitu, kalau ke cucunya bela-belain banget. Giliran ke anaknya, nggak sampe gitu-gitu amat." ujar Lea.


Daniel diam.


"Iya juga ya, Le. Sama kamu biasa aja dia ya." ujar Daniel.


"Biasa banget malah. Khawatir berlebihan aja nggak." tukas Lea sambil tertawa.


"Mungkin dia ngerasa kamu udah punya suami kali. Jadi menurut dia nggak perlu di khawatirkan berlebihan juga."


"Iya sih." ujar Lea.


"Ah tapi nggak juga mas. Di mana-mana kakek-nenek tuh sama, lebih pro ke cucu. Sama anak malah kayak musuh kadang."


"Aku nggak tau, nggak dekat sih sama kakek nenek aku." ucap Daniel.

__ADS_1


Mendadak Lea pun merasa iba pada suaminya itu. Namun Daniel malah tertawa.


"Sedih banget aku ya. Udalah nggak dekat sama bapak sendiri, ditinggal ibu kawin lagi. Nggak dekat pula sama kakek nenek." ujarnya kemudian.


"Tapi kan kamu punya ayah, om Ellio. Ada aku sama Darriel juga." ucap Lea.


Daniel lalu memeluk istrinya itu dengan erat dan cukup lama.


"Kita, bikin keluarga besar yuk!" ajaknya kemudian.


"Maksudnya?" tanya Lea tak mengerti.


"Ya, beranak banyak." jawab Daniel.


"Itu mah bukan untuk membentuk keluarga besar, mas. Kamu nya aja yang gatel."


Daniel tertawa kali ini. Kemudian mata mereka saling bertemu dan keduanya sama-sama larut dalam diam.


Daniel mendekat dan mencium bibir Lea, begitupun sebaliknya. Lea membalas ciuman tersebut, lalu menoleh ke arah Darriel yang tengah tertidur lelap di atas tempat tidur.


"Disana aja yuk!"


Daniel mengajak Lea ke ruang depan. Karena yang mereka sewa adalah hotel yang besar. Ada tempat menerima tamu di depannya.


Maka keduanya pun berpindah dan memulai adegan panas disana. Dimana Daniel duduk lalu membiarkan Lea berada di atas pangkuannya. Mereka saling berhadapan, dan masih berciuman.


"Hmmh, maaas."


Ia tetap menjaga volume agar tak didengar oleh Darriel.


Mereka lalu bercinta di tempat tersebut dengan berbagai gaya. Daniel masih perkasa seperti biasa dan Lea di mata Daniel, masih mengigit serta memberikan sensasi nikmat tersendiri baginya. Ia sangat menyukai permainan tersebut.


***


Tak jauh berbeda dengan Daniel, ketika mendarat di tanah air dan pulang ke rumah. Tiba-tiba Ellio tertegun saat melihat istrinya Marsha yang baru selesai mandi.


Wanita itu mengenakan dress dengan belahan rendah. Memperlihatkan dadanya yang penuh serta perutnya yang agak sedikit membuncit.


Gairah Ellio tiba-tiba saja memuncak drastis. Juniornya menegang melihat pemandangan indah tersebut.


"Bapak dari mana aja tadi." tanya Marsha pada suaminya itu.


"Dari Singapore, nyamperin Daniel. Nih aku bawain sesuatu."

__ADS_1


Ellio menyerahkan satu buah paper bag, yang ternyata berisi sebuah tas dari brand ternama.


"Koq nggak bilang-bilang sih kalau pergi kesana." ujar Marsha seraya bibirnya di tekuk.


"Kan kamu nggak bisa ikut, sayang."


Ellio membelai rambut istrinya itu.


"Kalau aku bilang nanti kamunya mau ikut, sementara aku nggak mungkin bisa ajak." lanjutnya lagi.


"Iya, tapi kan harusnya kamu bilang dulu. Kalau ada apa-apa sama kamu gimana?"


"Iya, aku minta maaf. Lain kali nggak jujur lagi deh sama kamu." ujar Ellio.


"Lah koq gitu?" tanya Marsha.


"Abisnya, aku jujur salah juga."


"Bukan kayak gitu, pak. Aku lagi hamil begini. Kalau maaf ngomong, kamu kecelakaan pesawat gimana?. Anak kamu mau manggil bapak sama siapa nantinya?"


Marsha mengeluarkan pernyataan dengan agak emosi, membuat Ellio yang egois jadi mendadak terdiam dan berpikir.


"Maafin aku ya, aku egois banget nggak mikirin kamu." ujarnya kemudian.


Marsha pun mengangguk dan menyudahi kekesalannya. Sebab bila ia menjadi lebih marah lagi, takutnya ke depan nanti Ellio akan malas untuk berkata jujur padanya mengenai hal apapun.


"Ya udah, lain kali jangan di ulangi ya pak. Aku bakal mengizinkan koq, kalau memang memungkinkan. Yang penting ngomong, biar aku tau suami aku lagi kemana dan dimana. Bapak nggak mau kan aku pergi main pergi aja, nggak ngomong."


Ellio menatap Marsha.


"Kalau mau istri jujur, jadilah contoh yang baik." ujar wanita itu lagi.


Ellio mengangguk lalu mereka saling berpelukan. Tak lama Ellio pergi mandi, kemudian mereka makan malam bersama.


Ketika waktu mulai menginjak tengah malam, hasrat dalam diri Ellio kembali hadir. Ia kemudian mendekati Marsha dan mencium bibir wanita itu.


Gayung bersambut, Marsha pun membalas. Ellio mengusap-usap bayinya sambil memberikan sentuhan demi sentuhan di area lain.


Hingga akhirnya mereka mulai bercinta dan saling memberikan kenikmatan satu sama lain.


***


Berbeda dengan Ellio, Richard justru malah menscroll galeri dan melihat foto-fotonya tadi bersama Darriel.

__ADS_1


Ada juga beberapa video saat cucunya itu berceloteh. Tak jelas apa yang tengah ia katakan, tapi yang pasti Darriel seperti berbicara pada Richard.


Richard pun tertawa-tawa dibuatnya. Tubuh pria itu seperti mendapat energi tersendiri. Walaupun jujur, ia sudah mulai merindukan Darriel lagi saat ini.


__ADS_2