
"Mas, nanti kurangi ngerokok sama ngopi." tukas Lea setelah mereka keluar dari rumah sakit, dan kini tengah berada di mobil. Tetapi mereka masih berada di parkiran.
"Kamu percaya aja lagi sama Richard. Udah aku bilang dia tadi pura-pura, cuma akting doang. Richard tuh ular tau nggak kamu." ujar Daniel.
"Mas, ayah tuh cuma pengen kamu sama om Ellio bisa sehat. Jangan sakit kayak dia. Kenapa sih nggak bisa banget menerima saran yang baik."
Lea bersikukuh membela sang ayah. Kali ini Daniel benar-benar ingin mendaftarkan Richard pada misi satu arah ke planet mars.
Supaya ia berkembang biak di planet tersebut, dan tak lagi memberikan dampak serius bagi kehidupan Daniel serta Ellio di bumi.
"Awas aja kalau nggak mau dengerin aku. Aku ngambek pokoknya." ancam Lea.
Daniel ingin mendebat istrinya itu. Tetapi ia juga tak ingin masalah ini jadi kian bertambah panjang.
"Iya, Le. Terserah kamu aja." ucap pria itu.
"Nah, gitu dong. Kan aku senang."
Lea mencium pipi sang suami. Daniel antara masih kesal namun tersentuh hatinya menerima perlakuan tersebut.
"Oh ya, Darriel dimana?"
Daniel mempertanyakan perihal sang anak.
"Di rumah ibu, tadi dibawa kesana. Ibu katanya kangen." jawab Lea.
"Oh ya udah, berarti kita jemput Darriel dulu nih sekarang?" tanya Daniel lagi.
"Iya." jawab Lea.
Maka Daniel pun lalu menekan pedal gas kendaraan dan mereka melaju meninggalkan pelataran parkir rumah sakit. Mereka menjemput Darriel terlebih dahulu, baru kemudian kembali ke rumah.
***
Esok hari.
Nadya kembali mengunjungi Richard. Tentu saja Richard menjadi senang bukan kepalang. Meski hal tersebut sangat beresiko ketahuan oleh Daniel ataupun Ellio.
Tetapi backstreet memberikan sensasi tersendiri di hati pria itu. Seperti adrenalin terus terpacu dan membuat suasana menjadi penuh kewaspadaan, tetapi sekaligus menyenangkan.
"Nad, kamu sama siapa?" tanya Richard pada perempuan itu.
"Sendiri mas." jawab Nadya.
"Arka mana?" tanya Richard lagi.
"Arka sekolah sampai sore." jawab Nadya.
"Dia baik-baik aja kan?" tanya Richard.
"Baik, dia nanyain mas terus. Tadi katanya bilang sama om Richard, semoga cepat sembuh." jawab Nadya.
__ADS_1
"Dia khawatir banget sama kamu mas." lanjut wanita itu.
Richard tersenyum mendengar hal tersebut.
"Aku boleh nanya lagi nggak, tapi ini sifatnya pribadi dan sensitif." ujar Richard.
"Boleh mas, nanya aja." tukas Nadya.
"Urusan perceraian kamu dengan Hanif gimana?"
Richard melontarkan pertanyaan itu dengan nada ragu-ragu. Ia takut Nadya akan merasa risih, apabila urusan rumah tangganya dicampuri. Tetapi saat ini ia sangat ingin mengetahui hal tersebut.
"Aku minggu ini sidang mas." jawab Nadya.
Richard tak lagi melanjutkan pertanyaan, sebab ia takut Nadya menjadi tidak nyaman. Yang terpenting saat ini adalah, ia tau progresnya secara garis besar.
"Di rumah aman-aman aja kan?" tanya Richard.
"Aman koq mas, nggak ada apa-apa."
"Kalau ada sesuatu yang mengganggu, jangan lupa kasih tau aku." ucap pria itu lagi.
"Iya mas." jawab Nadya.
Mereka pun lanjut memperbincangkan hal lain.
***
Susi tengah berbelanja di sebuah minimarket. Dan secara kebetulan setelah membayar dan hendak kembali ke mobil, ia melihat Hanif yang juga masuk ke dalam mobil.
"Mas Hanif?"
Susi heran, sebab seharusnya pria itu saat ini tengah berada di kantor. Tetapi ia malah keluar dari sebuah kafe yang ada di seberang swalayan, tempat dimana kini Susi berada.
Hanif menghidupkan mesin mobil. Susi lalu menelpon suaminya itu, dan Hanif mengangkat.
"Hallo sayang, kenapa?" tanya Hanif padanya.
"Kamu lagi dimana mas?. Koq ada suara kendaraan gitu di sekitar?"
Susi berpura-pura tidak tau.
"Oh, aku baru keluar dari bengkel. Tadi sempat ada masalah dikit di mobil." Hanif berbohong.
"Oh, gitu. Tadi udah sampai kantor apa belum?" tanya Susi.
"Belum, soalnya bermasalah di jalan." dusta Hanif lagi.
"Oh, oke. Berarti mau baru mau berangkat ini?"
"Iya, udah dulu ya sayang." ujar Hanif.
__ADS_1
"Iya mas." jawab Susi.
Hanif menyudahi telpon tersebut dan Susi sudah mengantongi kebohongan Hanif. Pria itu berpura-pura dari bengkel, padahal terlihat jelas baru keluar dari sebuah kafe.
Hanif berlalu, Susi hendak masuk ke dalam mobil. Tapi kemudian mendadak ia tersentak, ketika menyaksikan Shela juga keluar dari dalam kafe tersebut.
Shela lalu naik mobil yang tampaknya merupakan sebuah taksi online. Sebab mobil tersebut datang menghampiri perempuan itu di muka lobi.
Mendadak pikiran Susi pun berkecamuk. Secara tiba-tiba ia merasa ada sesuatu di antara suami dan sahabatnya itu.
"Bu, kita jadi pulang kan?"
Sang supir bertanya pada susi, sebab Susi hanya terpaku diam ditempatnya berdiri kini.
"Eh, iya pak." ucapnya kemudian.
Tak lama ia pun masuk ke dalam mobil. Sang supir lalu menghidupkan mesin kendaraan tersebut, dan sesaat setelah itu mereka terlihat meninggalkan pelataran parkir.
***
Sore hari, Daniel kembali mengunjungi sang mertua. Ia datang sesaat setelah kantor bubar. Tetapi Ellio tidak ikut, sebab harus menemani Marsha periksa ke dokter kandungan.
Usai parkir, Daniel berjalan ke dalam dan menyusuri koridor. Namun ketika hampir tiba di muka pintu ruang rawat Richard, ia melihat ada Nadya yang berdiri di muka ruangan tersebut.
Wanita itu tampak tengah memperhatikan handphone, sambil mengetik sesuatu disana. Tentu batin Daniel tersentak, sebab hal tersebut sangatlah aneh.
Ia tak paham mengapa bisa istri dari temannya tersebut, berada di muka pintu kamar rawat sang mertua.
Daniel mendekat dan ingin bertanya secara langsung. Namun Nadya keburu bergerak ke arah lain, tanpa ia menyadari kehadiran Daniel.
Sesampainya di ruang rawat Richard, Daniel melihat ada banyak makanan serta buah-buahan untuknya di atas meja.
Entah mengapa pikiran suami Lea itu kembali tertuju pada Nadya yang tadi ia lihat. Ia merasa jika semua ini ada hubungannya.
"Banyak banget makanan lo. Siapa yang bawain?" tanya Daniel.
"Orang-orang kantor." jawab Richard.
Daniel pun terdiam lalu tertawa dalam hati. Bisa-bisanya ia mengira semua itu adalah pemberian dari Nadya. Ia lalu menepis anggapan tersebut dan mencoba berpikir positif.
Siapa tau Nadya tadi hanya kebetulan saja berdiri di muka pintu kamar Richard. Mungkin ia hanya tengah melintas atau habis mengunjungi teman atau keluarga yang sakit.
"Si Ellio mana?" tanya Richard.
"Nemenin si Marsha ke dokter." jawab Daniel.
"Oh."
Tak lama Richard lalu menanyakan sesuatu yang ada hubungannya dengan pekerjaan. Maka Daniel pun jadi fokus ke arah situ dan memberikan jawaban demi jawaban yang dibutuhkan sang mertua.
***
__ADS_1