
"Le, makan ayam goreng lengkuas mau?" tanya Daniel pada Lea yang tampak begitu malas di sofa ruang kerjanya.
"Emang ini udah siang ya mas?"
"Ya itu jam di handphone kamu."
"Oh iya, udah jam 12." ujar Lea.
"Disini istirahatnya jam 1, tapi kita pesen aja makanannya dari sekarang. Jadi pas sampe nanti udah mepet istirahat."
"Ya udah terserah mas. Mau mas apa aku yang pesen?"
"Aku aja, ini udah dapat tempatnya." ujar Daniel.
"Oh ya udah, aku mau keluar bentar boleh ya mas." ujar Lea kemudian.
"Boleh tapi jangan jauh-jauh, ke sekitaran sini aja."
"Ok."
Lea lalu beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Ia berjalan-jalan mengitari kantor Daniel, hingga tiba di sebuah lorong yang menyambungkan gedung itu ke gedung yang ada di sebelah.
Lea menyusuri lorong tersebut. Tampak ia menjadi pusat perhatian dari beberapa karyawan gedung sebelah. Lea muda dan perutnya membesar karena hamil. Mereka heran mengapa ada perempuan belia hamil yang berjalan-jalan di tempat tersebut.
"Lea."
Tiba-tiba Richard menghampiri Lea, karena perempuan itu tiba di kantor sang ayah terlebih dahulu. Lea tersenyum pada Richard. Mendadak karyawan Richard berkumpul dan langsung membentuk kelompok gosip saat itu juga.
"Siapa tuh, sugar baby nya bos?" tanya salah seorang dari mereka penuh curiga.
"Tau, iya kali." celetuk yang lainnya lagi.
"Pasti nih, pasti. Liat aja perut tuh cewek melendung." Karyawan yang lain berspekulasi.
"Bos kita emang playboy cap badak." celetuk salah seorang lagi.
"Pacaran sama siapa, yang bunting siapa." lanjutnya kemudian.
"Ehem."
Tiba-tiba kepala Ellio muncul di antara mereka semua. Mereka terkejut setengah mati, Richard dan Lea pun tak kalah terkejutnya. Mereka menyadari jika kini mereka sedang diperhatikan oleh sekelompok orang itu.
"Itu anaknya Richard, kandung." ujar Ellio menjelaskan pada karyawan Richard.
"Oh." Mereka berujar serentak, seraya memperhatikan perut Lea.
"Bukan yang didalam perutnya, tapi itu cewek anaknya Richard." Ellio memperjelas.
"Haaah?"
Para karyawan itu kaget setengah mati, mereka tadi menduga jika anak Richard ada di dalam kandungan Lea.
"Awas kalau lo pada gosipin Richard lagi...!"
"Terus yang di dalam perutnya itu anak siapa pak?" tanya salah satu dari mereka.
"Ya anak Daniel lah, orang itu istrinya Daniel."
"Haaah?" Lagi-lagi mereka semua kaget.
"Jadi anaknya pak Richard, nikah sama pak Daniel?" Salah satu dari mereka melontarkan pertanyaan.
"Iya, tadinya Richard nggak tau kalau si Lea itu anaknya dia. Duluan jadi istrinya Daniel, baru Richard tau."
__ADS_1
"Ooooh." ujar mereka serentak.
"Berarti pak Richard bakal jadi kakek dong." ujar salah satu dari mereka lagi.
"Padahal belum nikah." lanjutnya kemudian.
"Iya, ya." ujar mereka serentak.
Ellio melebarkan bibir hingga kuping.
"Ini manusia, dibilangin jujur soal itu siapa biar nggak pada gosip. Malah muncul gosip baru, soal Richard yang belum nikah. Bener-bener nggak ada habisnya ya kalian."
"Abis topiknya menarik sih pak." celetuk salah seorang dari mereka sambil senyum-senyum. Richard yang sudah selesai berbincang dengan Lea kini mendekat bersama anaknya itu.
"Ngomongin apaan sih?" tanya Richard pada mereka semua.
Mereka saling sikut-sikutan lalu nyengir.
"Ee, nggak pak. Cuma mau nanya, kapan pak Richard nikah?"
Salah satu dari karyawan Richard bertanya, kemudian berlari sambil cengengesan karena takut dimarahi. Yang lainnya juga begitu, mereka mengikuti langkah teman mereka yang sebelumnya sambil cekikikan. Richard hanya menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Karyawan lo bener-bener." ujar Ellio.
"Ya gitu lah, untung aja kerjanya bagus. Walau gosip every time." ujar Richard lalu melangkah masuk ke dalam diikuti Lea dan juga Ellio.
***
Makanan yang dipesan Daniel sudah sampai, tak lama kemudian jam istirahat pun tiba. Daniel menelpon Lea dan menanyakan perihal keberadaan Istrinya itu. Lea bilang ia akan kembali dalam beberapa menit.
Daniel menunggu di ruangan, tak lama setelahnya Lea pun muncul. Mereka lalu makan bersama-sama.
"Enak nggak menurut kamu?" tanya Daniel pada Lea.
"Ayamnya di goreng kering, aku suka." ujar Daniel.
"Iya aku juga." timpal Lea.
Daniel menyuapi Lea sambil tertawa kecil. Lea memasukkan selada dan berbagai lalapan ke mulut suaminya itu. Sebab ia sedang hamil dan tak boleh mengkonsumsi makanan mentah.
"Oh ya mas, nanti jenguk Nina ya." ujar Lea lagi.
"Iya, pulang dari sini." ujar Daniel.
Lea mengangguk, mereka pun melanjutkan makan.
***
Sore hari Lea mendatangi rumah sakit dan menjenguk Nina, ia diantar oleh Daniel. Kondisi Nina sudah lebih baik dari kemarin, meskipun kadang masih menangis bila ingat peristiwa yang menimpa dirinya. Ditambah ia menyaksikan perut Lea yang masih berisi bayi. Hal tersebut tentu saja menambah kesedihan di hati Nina.
"Besok atau lusa, gue kesini lagi ya Nin. Sekarang gue mau nemenin mas Daniel dulu. Dia mau ada yang dibeli katanya."
Lea berdusta pada Nina. Sejatinya ia masih memiliki banyak waktu untuk tetap berada di tempat itu. Namun ia tak ingin menambah kesedihan di hati sahabatnya tersebut. Mungkin besok atau lusa ia tidak akan mampir dulu, agar Nina tak terus kepikiran saat melihat perut Lea.
"Ya udah, makasih ya Le. Lo sama mas Daniel udah mau datang kesini."
"Sama-sama." Lea dan Daniel berujar di waktu yang nyaris bersamaan.
"Nanti Vita kesini kan?" tanya Lea.
"Iya, tadi pagi Iqbal, Rama, sama Dani udah kesini. Ntar sore Vita sama anak kelas gue ada yang mau kesini juga."
"Ya udah kalau ada apa-apa, kamu kabari Lea ya Nin." Daniel berujar pada Nina.
__ADS_1
"Iya mas, makasih ya mas sekali lagi."
"Sama-sama." jawab Daniel lalu tersenyum.
Sesaat kemudian Daniel dan Lea pun pamit.
Ketika mereka tiba di halaman parkir, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil.
"Pa."
"Papa."
Daniel dan Lea menoleh ke suatu arah. Ada sesosok pemuda tampan yang usianya tak begitu jauh dari Lea.
"Nic?"
Daniel terlihat kaget namun begitu senang, begitupula dengan pemuda bernama Nic tersebut.
"Papa apa kabar?"
Nic mendekat, ia dan Daniel saling berpelukan. Seperti dua orang yang saling merindukan satu sama lain. Bahkan mata keduanya berkaca-kaca penuh haru.
Nic datang bersama seorang gadis. Lea sendiri bingung, bahkan sangat bingung. Mengapa Nic memanggil Daniel dengan sebutan papa. Apa jangan-jangan Daniel memiliki anak di luar nikah, pikirnya.
"Papa baik, kamu baik-baik aja kan?" Daniel balik bertanya pada Nic.
"Nic baik, pa."
"Kenapa nggak ngabarin papa kalau udah pulang?"
"Niatnya mau ngasih surprise besok, eh ketemu disini. Papa dari mana?"
Nic bertanya lalu melirik ke arah Lea. Lea menatap pemuda itu dengan masih penuh prasangka.
"Dari ngeliat temen sakit." jawab Daniel.
"Oh ya ini, Lea. Istri papa."
"Oh yang papa ceritain waktu itu?"
"Iya." jawab Daniel seraya tersenyum. Nic tersenyum pada Lea dan menyapanya.
"Hai." ujar Nic kemudian.
Melihat pemuda itu tersenyum, tak ada alasan bagi Lea untuk tidak menjawab. Ia pun membalas senyuman Nic, meski otaknya kini berkecamuk.
"Oh ya, ini?" Daniel melirik gadis yang bersama Nic.
"Ini Amanda, pa. Mm, pacar Nic."
"Oh, hai Amanda."
Daniel tersenyum dan menyalami Amanda, Amanda membalas sambil tersenyum. Ia juga menyalami Lea.
"Oh ya pa, Nic nganter Amanda dulu. Tadi kita dari jenguk mamanya yang sakit. Nanti Nic hubungin papa, sekalian kita nongkrong bareng."
"Ok, jangan nggak ya." ujar Daniel.
"Sip, Nic jalan dulu."
"Hati-hati di jalan." ujar Daniel.
Nic mengangguk, lalu ia dan Amanda pun berpamitan.
__ADS_1