Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Hadiah


__ADS_3

"Ayah ini apa?"


Lea menelpon Richard, sebab ia banyak sekali menerima kado yang entah isinya apa. Dan kado tersebut dikirim atas nama Richard.


"Itu buat anak kamu nanti. Kan bentar lagi cucu ayah bakalan lahir."


"Oke. Ma, makasih ya yah."


Lea menjawab sedikit terbata-bata. Sebab ada banyak ojol yang mengantarkan barang pemberian Richard.


"Ya udah ayah mau kerja dulu ya, bye."


"Bye."


Lea masih bingung sekaligus bengong, di tempat dimana ia kini berdiri.


"Mbak Lea ini orderan mbak?" tanya security bawah pada Lea.


"Dari ayah, pak." jawabnya kemudian.


Maka security pun membantu perempuan itu untuk menerima dan mengumpulkan kado-kado tersebut.


"Kenapa Le?" Adisty yang menerima telpon dari Lea melontarkan pertanyaan. Saat ini Lea sudah berada di atas.


"Bapak gue, Dis. Dia ngirim banyak hadiah buat cucunya."


"Emang lo udah ngelahirin?" tanya Adisty kaget.


"Ya belom, tapi bapak gue udah ngirim hadiah banyak banget. Nih lo liat, nih."


Lea mengirim foto kado-kado tersebut melalui WhatsApp. Adisty melihatnya dan ia pun tertawa-tawa.


"Banyak banget, Le." ujar gadis itu kemudian.


"Makanya, gue takut mubazir aja. Namanya bayi kan, cepet gedenya nanti." ujar Lea.


Adisty masih tertawa-tawa.


"Ya udah Le, kan bisa lo sumbangkan kalau emang nggak kepake."


"Iya sih, lagian bokap gue berlebihan banget. Cucu satu, udah kayak punya cucu kembar sebelas."


"Hahaha." Adisty makin terbahak.


Tiba-tiba ada telpon masuk ke telpon rumah.


"Dis bentar, ada telpon." ucap Lea.


"Oke."


Adisty menunggu, Lea kemudian mengangkat telpon tersebut. Ternyata dari security bawah.


"Mbak Lea ada paket lagi nih, dari pak Ellio katanya."


"Paket apaan pak?"


"Nggak tau saya. Tapi dari kotak-kotaknya, kayaknya buat bayi deh bu."


"Astaga, ok deh pak. Nanti bawa aja ke atas."


"Ok mbak."


Lea kembali kepada Adisty.

__ADS_1


"Ada lagi Dis, dari om Ellio." ujarnya kemudian.


"Hahaha." Adisty tertawa untuk yang kesekian kali.


"Anak lo belum lahir aja, udah segitu Le. Apalagi kalau anak lo udah lahir nanti." ujar gadis itu.


"Makanya, lo punya ponakan nggak sih?. Atau tetangga yang hamil gitu, biar ntar gue bagi. Ini masa bokap gue ada beli baju bayi setelan satu warna, dua belas biji."


"Hah, serius?" Adisty kaget, namun ia terus saja tertawa.


"Iya, serius. Kalau lo ada tetangga atau keluarga yang hamil, ambil nih!"


"Siapa ya, tetangga atau keluarga gue yang hamil?. Kayaknya nggak ada deh, udah pada gede-gede semua anaknya."


"Ya kali aja ada, biar gue bagi-bagi rejeki." ujar Lea.


"Iya deh, ntar gue cari. Lo broadcast in aja kalau nggak di grup kampus. Siapa tau ada yang butuh."


"Ok deh."


"Apa mau gue bantu?" ujar Adisty lagi.


"Ya udah boleh, tolong ya dis."


"Oke, oke."


Mereka pun melanjutkan obrolan seputar kekonyolan Richard dan juga Ellio.


***


Ketika pulang kerja, Daniel kaget melihat ada banyak kotak hadiah di ruang tamu. Ia juga melihat Lea yang tengah berada di antara tumpukan kado tersebut.


"Dari siapa, Le?" tanya nya kemudian.


"Siapa lagi kalau bukan sahabat kamu."


Lea melebarkan bibir dan mengecilkan mata sambil mengangguk.


"Astagaaaa."


"Ini semua?" tanya Daniel.


Lagi-lagi Lea mengangguk.


Daniel kemudian menelpon Richard dan Ellio dalam sebuah panggilan konferensi.


"Hallo."


Richard dan Ellio berucap di waktu yang nyaris bersamaan.


"Heh Bambang, Haryanto. Ini lo mau ngasih anak gue, apa nyuruh Lea jadi grosir?"


Lea berusaha keras menahan tawa meski gagal. Ekspresi wajah sewot suaminya memang selalu berhasil membuat ia terbahak.


"Ye, kan buat cucu gue." Richard membela diri.


"Tau, kan gue euforia menyambut keponakan." timpal Ellio.


"Euforia sih euforia, nggak menjadikan tempat gue sebagai warehouse juga."


"Heh masih untung gue belinya segitu, tadinya mau gue beliin dua kali lipat." ujar Richard.


"Kan gue papa Rich." lanjutnya kemudian.

__ADS_1


Daniel tertawa kali ini.


"Gue belum beliin stroller, soalnya masih bingung pilih warna. Pengennya sih gue beli ketiganya." ujar Ellio.


"Eh nggak ada ya, kalau mau beliin satu aja." Daniel kembali sewot.


"Ntar rumah gue nggak aesthetic lagi, kebanyakan produk bayi." lanjutnya kemudian.


"Kan bisa satu-satu, Bambang. Satu di rumah lo, rumah gue, dan rumah Richard. Kalau Lo dan anak lo lagi main ke rumah gue atau rumah Richard, punya stroller sendiri."


"Udah satu aja, lo mau ngajarin anak gue hedon dari lahir?" ujar Daniel lagi.


"Iya dong, kan om nya kaya." Ellio tak mau kalah.


Maka perbincangan itu pun berlanjut. Sampai kemudian Ellio pamit untuk menjemput Marsha makan malam, dan Richard ingin pergi mandi.


"Jadi ini kita apain mas?" tanya Lea menatap kotak-kotak tersebut.


"Ntar kita bongkar dan susun di kamar dia aja. Aku mau mandi dulu." ujar Daniel.


"Oke deh." jawab Lea.


Maka Daniel pun pergi ke ruangan atas untuk mandi. Tak lama setelah itu ia turun, cukup lama Daniel menatap kotak-kotak tersebut. Sebab ia bingung dan berpikir mesti di letakkan di bagian mana.


"Mas, apa nggak sebaiknya kita kasih ke orang yang membutuhkan beberapa. Soalnya ayah ada beli lusinan." ujar Lea.


"Serius kamu?" tanya Daniel kemudian.


"Serius, nih."


Lea membuka box yang isinya satu lusin pakaian bayi, dengan model dan warna yang sama. Pakaian tersebut bermerk dan memang cukup mahal harganya.


"Astaga Richard."


Daniel menggeleng-gelengkan kepala.


"Sayang kan mas kalau nggak kepake?"


"Iya sih."


Daniel masih memperhatikan baju-baju tersebut dengan tak habis pikir.


"Ya udah ambil beberapa aja, Le. Sisanya buat kasih ke orang." ujar Daniel.


"Oke."


Maka ia dan Lea pun mulai memilah-milah. Mereka juga membuka kotak-kotak kado lain dan memisahkan mana yang akan diambil, dan mana yang hendak disumbangkan.


"Nih liat mas, boneka gajah warna sama empat biji." ujar Lea seraya menunjukkan barang tersebut.


Daniel kembali menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa.


"Ayah mikir karena murah kali ya, bagi dia. Jadi dia main pencet-pencet aja."


"Richard kan emang gitu orangnya. Kita milih barang nih misalkan, depan dia. Bingung banget mau ngambil yang mana. Sama dia di suruh ambil dua-duanya." ucap Daniel.


Kali ini Lea yang tertawa.


"Aku nggak kebayang mas, kalau anak kita udah remaja nanti. Kita marahin misalkan, kita larang apa gitu. Tapi ntar om Ellio sama ayah yang manjain dia."


"Bakalan ngelunjak pasti." ujar Daniel.


Keduanya pun lalu membayangkan peristiwa tersebut. Dimana anak mereka sudah remaja, kemudian ia berbuat nakal. Lalu Lea dan Daniel memarahi anak mereka itu. Tapi Richard dan Ellio datang sebagai superhero yang membela.

__ADS_1


"Awas aja pokoknya"


Daniel dan Lea menggerutu sendiri. Mereka terbawa akan khayalan tersebut, padahal bayi mereka masih di dalam kandungan.


__ADS_2