Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Perjodohan


__ADS_3

Basa-basi yang terasa basi di telinga Richard, terdengar sejak beberapa menit yang lalu di ruang tamu.


Sesekali terdengar pula riuh canda tawa disana, membuat Richard semakin gusar dan rasanya ingin segera mengakhiri semua ini.


"Syifa, bawa Maryam kesini!"


Ibu dari Maryam memerintahkan seorang keponakan untuk membawa Maryam masuk. Sebab sejak tadi gadis itu masih mereka sembunyikan.


"Itu si Maryam di simpan di bagasi mobil apa gimana sama ibunya?" tanya Lea pada Marsha.


"Tau, iya kali. Panas, panas dah tuh." ujar Marsha.


"Yuk, agak turun yuk...!" ajak Lea.


Maka kedua perempuan itu mengendap-endap dan turun perlahan meniti anak tangga. Mereka terus mengintip pergerakan yang ada. Tak lama perempuan yang bernama Maryam itu pun di bawa.


"Nunduknya dalem amat, kayak sumur bor. Gimana mau liat mukanya?" ujar Lea.


"Sssstt, mungkin dia diajarkan menundukkan pandangan. Nggak boleh gitu sama orang, Le." Marsha menasehati Lea.


"Iya kak, hehehe." Lea nyengir.


"Rey, panggil Richie...!"


Perintah ibu Richard kepada Reynald. Kakak dari Richard itu bergerak ke tempat dimana kini sang adik berada.


Tak lama Richard pun dipanggil dan pria itu kini berjalan. Diikuti oleh Daniel dan juga Ellio. Mereka bertiga duduk di sebuah sofa, di hadapan Maryam. Maryam sendiri didampingi oleh orang tua dan juga saudaranya.


"Maryam ini Richard, calon suami kamu.


"Richard ini, Maryam."


Lalu orang tua Maryam seperti berbisik pada anak mereka tersebut. Sementara Lea dan Marsha juga para asisten rumah tangga yang kepo mampus, kini mengintip dari jarak dekat. Bahkan Lea dan Marsha telah turun dari tangga sejak tadi saking penasarannya.


Maryam mengangkat wajah, dan waktu pun seakan berhenti. Pasalnya perempuan itu begitu cantik, membuat semua orang yang memandangnya seketika terdiam.


Richard sendiri sejatinya terpukau, namun ia tetap mencoba bersikap biasa saja bahkan terkesan cuek.


Saat menatap Maryam tadi, Ellio sampai tenganga. Namun kepalanya di gebuk oleh Daniel, hingga ia pun seketika tersadar. Maryam kembali menunduk, dan suasana kembali normal.


Dalam beberapa waktu berikutnya, Richard dan Maryam di tinggalkan berdua, pada kursi yang saling berhadapan. Namun tetap diawasi dari jarak cukup dekat oleh orang tua mereka.


Masih dalam pandangan mata. Namun diperkirakan tak bisa mendengar, apa yang nanti akan mereka bicarakan.


Lea sendiri masih mengintip bersama Marsha. Namun kali ini ada Daniel dan juga Ellio.


"Dia cantik banget, anjir." ujar Marsha masih memperhatikan.


"Gimana mas nasib kak Dian, saingannya cantik banget begitu?" tanya Lea pada Daniel.

__ADS_1


Namun dengan suara pelan karena tak enak jika di dengar Maryam ataupun keluarganya.


"Belum tentu juga Richard suka, Le." jawab Daniel.


"Kalau modelnya gini mah, mustahil nggak suka mas. Namanya juga cowok, pasti kalian tuh objektif. Ngeliat fisik dulu, iya kan?" ujar Lea lagi.


Daniel tak menjawab, karena ia sendiri pun belum berani memastikan. Apakah Richard bisa menyukai Maryam atau tidak.


"Udah kamu tenang aja, nggak usah mikir macem-macem." ujar Daniel lagi.


"Masalahnya kak Dian tuh baik dan sayang banget sama ayah."


"Iya, ntar kita bicara sama Richard." jawab Daniel.


***


"Kamu yakin mau menikah dengan saya?"


Richard akhirnya membuka suara di hadapan Maryam, setelah sekian lama mereka saling diam. Richard membuang pandangan ke arah lain, sementara Maryam terus menunduk.


"Kalau orang tua yakin, saya juga akan yakin." jawab Maryam.


"Kenapa harus melihat keyakinan orang tua?. Bukankah tubuh kita itu hak kita?"


Maryam tersenyum meski tetap terus menunduk.


"Sebab ridho orang tua itu bisa membuka jalan kebaikan untuk kita." jawabnya.


"Kalau ternyata keyakinan orang tua kamu terhadap saya salah, dan saya bukan orang yang tepat untuk kamu, gimana?"


"Ya, itu berarti sudah menjadi takdir saya." jawab Maryam lagi.


"Bukankah kita itu diberi otak dan hati untuk berfikir serta menilai. Kita bisa menilai sendiri seseorangorang, tanpa harus mengikuti keyakinan orang lain."


"Mereka orang tua saya, bukan orang lain. Apapun yang mereka yakini, saya akan menurut."ujar Maryam lagi.


"Berarti kamu tidak pernah menentukan sendiri pilihan hidup kamu?" tanya Richard lagi.


Maryam menggelengkan kepalanya.


"Selalu menuruti keinginan orang tua kamu?"


Lagi-lagi Maryam mengangguk.


"Lantas kalau salah, maka takdir yang di kambing hitamkan?"


Kali ini Maryam mengangkat wajahnya dan menatap Richard. Agaknya ia tersinggung dengan nada ucapan pria tersebut, yang terkesan menyindir.


Namun tak lama kedua orang tua dari masing-masing pihak kembali hadir diantara keduanya. Mereka membicarakan pertemuan selanjutnya, tanpa bertanya terlebih dahulu baik pada Richard maupun Maryam sendiri.

__ADS_1


Hari itu akhirnya terlewati. Maryam dan keluarganya pulang dengan banyak membawa pemberian dari keluarga Richard. Ibu Richard sangat suka kepada Maryam, sedang ayah Richard hanya mengikuti saja.


Reynald yang tau perasaan Richard, mencoba untuk tidak mendukung siapa-siapa. Richard sendiri langsung masuk ke kamar dan berganti pakaian. Setelah itu ia meminta kunci mobil pada ibunya.


"Gimana, cantik kan pilihan mami?"


Richard hanya diam dan berlalu. Daniel dan Ellio turut pamit dengan mengajak Marsha serta Lea.


"Lea, makanannya bawa itu. Marsha juga bawa sana...!" ujar ibu Richard.


Maka para asisten rumah tangga pun membungkus makanan untuk mereka.


***


"Ayah judes banget mas mukanya pas pulang tadi. Apa ayah nggak suka ya sama Maryam?" tanya Lea pada Daniel.


"Aku nggak tau, Le. Mesti nanya dulu sama Richard, soal perasan dia ke Maryam dan gimana nasib Dian. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk menghubungi Richard ataupun banyak tanya ke dia. Bisa-bisa dia jadi makin marah." ujar Daniel.


"Iya sih, kira-kira tadi ayah sama Maryam ngomongin apa ya?. Sampe bisa sama-sama kusut gitu muka mereka. Maryam juga kayak agak tertekan, liat nggak sih."


"Iya aku ngeliat, tapi ntar aja. Kita nggak usah kepo dulu untuk saat ini."


Lea mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kita cari baju aja yuk, buat maternity shoot nanti." ujar Daniel lagi.


"Emang mas udah dapat fotografernya? tanya Lea.


"Udah, tinggal tentukan harinya aja sama beli baju."


"Ih aku mau dress yang kayak princess dong mas."


"Ya udah ayok kita cari. Jangan yang mahal-mahal banget tapi." ujar Daniel.


"Nggak, aku bisa milih koq. Biar murah tapi bagus."


Daniel tertawa, sejatinya ia bisa membelikan dengan harga semahal apapun. Namun ia saat ini tengah ingin mengajari Lea soal efisien terhadap sesuatu. Terutama tentang menggunakan uang.


"Kamu nggak capek kan tapi?" tanya Daniel pada Lea.


"Kalau belanja mah, nggak akan ada capeknya mas. Seharian, seharian aku ikutin. Yang penting belanja." ujar Lea.


Daniel kembali tertawa, lalu kemudian pria itu menginjak pedal gas mobilnya sedikit lebih dalam. Hingga mobil yang tadinya pelan tersebut, kini melaju dengan kecepatan sedang.


***


Instagram @p_devyara


Untuk yang BOSAN MEMBACA KISAH CEO COWOK YANG SUKA MELECEHKAN KAUM PEREMPUAN, LALU BUCIN KEPADA KORBANNYA. SILAHKAN MENCOBA BACA NOVEL SAYA " BERONDONG BAYARAN, CEO CANTIK." DI CERITA INI YANG JADI CEO ADALAH CEWEK, YANG MISKIN SI COWOK.

__ADS_1



__ADS_2