Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Berbagi


__ADS_3

Vita mengirim pesan pada Lea.


"Le, temenin gue beli skincare yuk...!"


Begitulah bunyi pesan yang dikirim oleh gadis itu, sesaat setelah Lea berada di jam istirahat sekolah.


"Ayok." jawab Lea.


Kebetulan ia juga sudah gatal ingin berbelanja. Karena kini ia memegang uang pemberian dari Daniel semalam.


"Nina gimana?" tanya Lea pada Vita.


"Dia juga mau ikut, nanti pulang sekolah dia nyamper ke gue."


"Kita ke mall mana nih?" Lagi-lagi Lea bertanya. Vita pun menyebutkan mall yang ingin ia tuju.


"Ya udah, janjian disana aja ntar." ujar Lea.


"Gue mau nemuin adek gue dulu bentar, pulang sekolah ini. Bentar doang koq, nggak lama." lanjutnya lagi.


"Ok, Le. Berkabar aja, ntar." jawab Vita.


Mereka pun lanjut memperbincangkan hal lain.


"Si rumput hape baru tuh."


Maya melirik ke arah Lea yang tengah sibuk berbalas pesan dengan Vita di kantin. Sharon yang tadinya tak melihat, kini memperhatikan Lea.


"Widih, iPhone 11 yang dia pake." ujar Tasya menimpali.


"Halah, palingan juga HDC." ucap Sharon dengan nada sinis.


"Anak kayak dia mana mampu beli yang asli." lanjutnya lagi.


Maya dan Tasya kompak tersenyum mengejek ke arah Lea. Meski Lea tak melihat ke arah mereka.


Sepulang dari sekolah, Lea pergi untuk menemui Leo. Mereka sudah janjian sebelumnya melalui WhatsApp, di depan sekolah adiknya itu. Seperti biasa, Lea mengajak Leo untuk makan. Namun kali ini di restoran cepat saji, yang agak sedikit jauh dari sekolah Leo.


Mereka makan, berbincang dan membicarakan soal sekolah. Hingga kemudian Lea teringat, jika ia mesti memenuhi janjinya dengan Vita.


"Lo naik ojek online aja." ujar Lea ketika ia memutuskan untuk menyudahi pertemuan itu.


Leo mengangguk. Lea lalu mengeluarkan 10 lembar uang 100ribu an dan memberikannya pada Leo.


"Nih buat lo." ujar Lea menyerahkan uang tersebut. Leo pun tercengang.


"Banyak banget Lea, lo dapat duit dari mana?" tanya Leo seraya mengernyitkan dahi. Ia heran melihat Lea memberikan uang sebanyak itu.


"Udah, lo ambil aja."


"Ja, jangan Lea. Lo sendiri juga butuh duit. Gue nggak apa-apa, gue masih megang duit tiap hari, dari gaji gue jaga warnet."


"Udah, ambil aja. Gue masih ada koq." ujar Lea memaksa.

__ADS_1


"Serius lo?" tanya Leo masih tak percaya. Ia menatap wajah kakak perempuannya itu lekat-lekat.


"Serius, ambil aja."


"Iya, tapi lo dari mana dapat duit ini. Lo nggak jual diri kan?" tanya Leo cemas.


"Nggak, gue dapat itu dari reward kerja gue. Karena gue dianggap berhasil, menjalankan pekerjaan dengan baik di bulan ini." dusta Lea.


Leo pun akhirnya menerima uang tersebut, meski masih sedikit ragu.


"Lo beneran masih punya uang lain?" tanya Leo. Ia khawatir kakaknya itu memberikan semua uangnya demi Leo. Sedang ia tak memikirkan dirinya sendiri.


"Nggak Leo, lo tenang aja udah."


Leo pun akhirnya tak lagi bertanya.


"Jangan dipake buat beli amer atau ngelem


Gue nggak akan kasih lagi, kalau lo bego."


"Iya, nggak koq. Mana mau gue begitu-begituan."


"Ya udah, nih...!"


Usai menerima uang tersebut, Leo pamit pada Lea. Ia naik ojek online dan pulang menuju ke rumah temannya.


Dari tempat tersebut, Lea menuju ke kediaman ibu dan ayah tirinya. Ia tak memiliki niat untuk melihat sang ibu, yang dinilainya terlalu abai terhadap dirinya. Namun kedatangan Lea adalah untuk melihat Ryan dan Ryana.


Siang itu, kebetulan Ryan dan Ryana terlihat tengah bermain di dekat gerbang cluster. Dan itu artinya Lea tak harus capek-capek pergi kerumah dan bertemu dengan ibunya. Karena tujuan Lea memang kedua anak itu.


"Lea."


Ryana pertama kali melihat Lea, anak kecil itu berlarian ke arah Lea diikuti kembarannya.


"Lea, kamu kemana aja." Kedua anak itu memeluk Lea dengan erat.


Lea tersenyum lalu berbicara pada mereka berdua.


"Lea sekarang kerja." ujar Lea pada keduanya.


"Makanya Lea nggak pulang-pulang?" tanya Ryan.


Lea tersenyum dan mengangguk, meski sejatinya bukan itu permasalahan sesungguhnya.


"Ayo Lea, kita kerumah." Ryana menarik lengan Lea. Namun Lea tak bergerak sama sekali, hingga membuat Ryana bingung.


"Lea nggak kerumah." ujar Lea pada adiknya itu.


"Kenapa?" tanya Ryana diikuti tatapan Ryan.


"Lea harus berangkat kerja, soalnya Lea jam kerjanya sepulang sekolah." lagi-lagi Lea berdusta. Ryan dan Ryana hanya bisa diam memperhatikan. Lea lalu mengeluarkan sejumlah uang untuk kedua adiknya itu.


"Ini buat Ryan, ini buat Ryana."

__ADS_1


Lea membagi uang tersebut, 500 ribu untuk Ryan dan 500 ribu lagi untuk Ryana. Kedua anak itu bingung, mereka mengerti pecahan mata uang. Cuma masalahnya uang tersebut hanya pernah mereka lihat di tangan ayah dan ibu mereka. Sedang mereka biasanya jajan dengan pecahan uang 1000-10.000 rupiah saja.


"Lea, ini banyak banget." ujar Ryan.


"Iya nggak apa-apa, mungkin kalian mau beli buku, mainan atau apa."


"Bener Lea, kita boleh beli mainan?" tanya Ryan.


Lea mengangguk sambil tersenyum, kedua anak itu bersorak kegirangan. Lea pamit, setelah sebelumnya menyuruh kedua adiknya itu untuk pulang terlebih dahulu dan menyimpan uang tersebut dirumah.


Kedua adiknya itu pun menurut, mereka kini telah terlihat di muka pintu rumah dan siap masuk kedalam, sementara Lea lanjut menemui Vita.


Ia pergi ke mall, tempat dimana mereka telah janjian. Sesampainya disana ternyata Nina pun telah tiba. Praktis mereka bertiga saling temu kangen. Raut wajah bahagia terlihat di wajah ketiga perempuan belia itu.


Pasalnya masing-masing dari mereka memegang uang jajan cukup lumayan, dari para sugar daddy mereka. Jadilah hari itu mereka berbelanja. Mereka membeli apapun yang mereka inginkan.


***


Di kantor.


Daniel terpikir akan kebersamaannya semalam dengan Lea. Ada beberapa part yang membuatnya kini tersenyum. Seperti pada saat Lea menyuapinya makan, atau saat gadis itu tersedak sesuatu yang pedas. Bukanlah sebuah hal lucu, namun entah mengapa ia jadi ingin terus tersenyum.


"Kenapa temen lu?" bisik Ellio pada Richard.


"Tau, kesurupan patung MCD kali. Liat aja noh, lebar gitu senyumnya. Bentar lagi jual burger tuh dia." ujaran Richard membuat Ellio tertawa geli. Namun ia masih menahan volume suaranya, karena mereka tengah berada di kantor.


"Napa lu, Dan?. Senyum-senyum sendiri." Richard nyeletuk, membuat Daniel sadar jika dirinya tengah diperhatikan.


"Sejak kapan lo berdua disitu?" tanya Daniel sewot.


"Hush santai dong, bro. Gue tau lo pasti abis jebol gawang kan?" tanya Ellio sok tahu.


Laki-laki itu kini duduk di hadapan Daniel, sambil meminum kopi yang belum tersentuh sejak tadi. Sedang kini Richard, duduk di pinggir meja.


"Gimana semalem?" tanya Richard dengan tatapan yang sangat menyebalkan. Layaknya mata lambe turah yang ingin tau segalanya.


"Semalem apanya?" tanya Daniel bingung.


"Hmm, masih munafik dia bro." ujar Richard pada Ellio.


"Udeh, ngaku aja kalau si Lea udah lo beri tusukan benda tumpul. Ya kan?" Ellio menaik turunkan alisnya seraya tersenyum. Daniel tertawa kecil lalu menghidupkan sebatang rokok.


"Sampe detik ini pun, gue nggak ada selera sama dia. Mending gue tinggalin tidur." ujarnya kemudian.


"Terus kenapa tadi lo senyum-senyum sendiri, kalau nggak lagi mengingat peristiwa itu?"


Richard agak memaksa.


"Lo berdua kenapa sih, maksa banget gue bilang iya. Kalau gue nggak ngelakuin gimana?"


"Richard dan Ellio saling menatap dan sama-sama tersenyum.


"Sabar aja, bro." ntar juga ngaku sendiri. ujar Ellio pada Richard. Daniel kembali menghisap batang rokoknya lalu tertawa.

__ADS_1


__ADS_2