Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Cerita Kondangan (Ekstra Part)


__ADS_3

Flashback.


Kembali ke saat dimana Maryam baru saja pulang. Saat itu Daniel tiba bersama Ellio. Awalnya Ellio bertanya pada Daniel mau makan atau tidak.


Hari itu Marsha sedang tidak masuk, jadi hanya Ellio sendirian yang pergi ke kantor. Daniel mengatakan ia ingin makan di rumah Richard, sekalian mengawasi Darriel. Lalu Ellio pun ingin ikut.


"Gue ikut ya, bro. Biar gratis makannya." ujar Ellio.


"Ya udah, lo bawa mobil kan?. Jalan aja langsung." jawab Daniel.


Ketika sampai, mereka di suguhi oleh Richard nasi mandhi kambing, yang tadi diantar oleh Maryam.


Daniel ada bertanya dari mana Richard mendapatkan masakan ala timur tengah tersebut. Dan Richard pun menceritakan, berikut dengan kejadian Maryam yang memberi undangan resepsi.


"Hmmmp."


Daniel dan Ellio hampir tersedak karena menahan tawa. Tak lama kemudian terdengar suara mereka yang cekikikan.


"Seneng lo berdua?" tanya Richard sewot.


Daniel dan Ellio masih saja tertawa.


"Ketawa lagi, kambingnya gue ambil semua nih." ancam Richard.


"Jangan dong." ujar Ellio sambil masih menahan rasa geli di perutnya.


"Makanya, bro." Daniel bersuara, tapi masih tertawa sedikit-sedikit.


"Makanya jadi laki-laki itu, jangan plin-plan. Udah di tawarin Maryam, maunya Dian. Udah Dian depan mata, menunda mulu pernikahan." lanjutnya kemudian.


"Akhirnya Dian lepas, Maryam tak tergapai." Ellio menimpali.


"Udeh ah." Richard makin sewot, sementara Daniel dan Ellio kian geli tertawa.


"Gue tuh tujuannya cerita, bukan mau denger lo berdua ngeledekin dan ngatain gue." ujar Richard lagi.


Daniel dan Ellio high five.


"Akhirnya Richard double kill." tukas Ellio.


"Dari di tinggalin Dian, terus ditinggal Maryam." tambahnya.


"Halah jodoh itu nggak akan ketuker koq." ujar Richard.


"Dasar tuh cewek berdua aja nggak beruntung. Bukan jodoh gue." lanjutnya kemudian.


"Gue percaya sih soal jodoh." ujar Daniel.


"Tapi gue pengen ketawa dulu aja."


"Hahahaha."


Tawa Daniel tersebut diikuti tawa Ellio. Richard lalu menyuapi mereka nasi dengan centong. Akhirnya kedua kecoa terbang itu sama-sama diam, sebab mulut mereka sama-sama penuh. Kali ini gantian Richard yang menertawai mereka.


***

__ADS_1


Kembali ke saat ini.


"Jadi ayah ketemu Maryam di rumah, si Maryam nganterin makanan pesanannya Oma?"


Lea bertanya pada Daniel usai suaminya itu mengatakan apa yang hendak ia katakan.


"Iya." jawab Daniel sambil tertawa.


"Si Maryam udah nikah ternyata." ucap Lea lagi.


"Iya, emang jodohnya orang itu bukan Richard. Cuma aku sama Ellio nggak tahan aja untuk nggak ketawa."


"Terus ayah gimana?" tanya Lea.


"Biasa aja, cengar-cengir. Tau sendiri kan ayah kamu orangnya gimana. Dia mah santuy aja. Mau hujan, badai, halilintar, dia tetap jadi Richard. Mana pernah dia mempermasalahkan sesuatu sampai bikin dia kepikiran dalam banget. Kecuali waktu itu, yang pada saat dia baru tau kamu anaknya. Itu Richard kayak bukan Richard." ucap Daniel.


"Iya waktu itu ayah sampe mau misahin kita."


Lea mengingat hal tersebut.


"Karena kamu kan anaknya. Waktu itu juga aku keterlaluan marah sama kamu. Richard kan tau sendiri, kalau sama teman, keluarga. Dia bakal membela mati-matian. Mau dunia jungkir balik juga, dia nggak akan mundur." ujar Daniel lagi.


"Maryam udah gugur nih, bukan jodoh ayah. Kira-kira siapa ya jodoh ayah?" tanya Lea.


"Nggak bisa diprediksi lah. Aku aja nggak nyangka jodohnya bocil piyik kayak kamu." ucap Daniel sambil tertawa.


"Aku udah nggak piyik ya mas, udah lewat jauh. Udah dewasa ini usianya." tukas Lea.


Daniel makin tertawa.


"Enak aja, mas tuh tua."


"Eh, tua-tua begini ganteng ya. Si otong juga masih oke performanya. Tuh buktinya kamu hamil Darriel cepat kan." Daniel membela diri.


"Iya." Lea menjawab sambil tertawa.


"Mampir ke ibu kamu yuk, Le. Aku pengen makan bluder." ujar Daniel.


"Udah jam berapa ini mas?. Ibu tutup jam sembilan tadi."


"Oh iya." Daniel seperti menyesalkan.


"Kenapa nggak dari sore tadi ya. Padahal aku udah kepengen makan bluder dari sore tadi loh."


"Makanya kalau pengen sesuatu itu, langsung aja beli. Kan punya duit."


"Iya sih. Cuma kadang tuh nggak kepikiran, pas udah jam segini baru. Padahal rasanya udah di ujung lidah banget ini." ucap Daniel.


Lea pun tertawa.


"Besok aja, kan masih ada besok." ucap perempuan itu.


"Iya sih, tapi pengennya sekarang." ujar Daniel.


"Kayak gregetan gitu ya mas, nggak dapat."

__ADS_1


"Iya." jawab Daniel.


"Tadi sih ada di ulang tahunnya Iqbal, tapi aku nggak makan. Soalnya nggak kepengen." ucap Lea.


"Yah, aturan kamu bawain aku." ujar Daniel.


"Masa aku bungkus-bungkus makanan, mas. Kan malu diliatin teman-temannya Iqbal yang nggak aku kenal."


Daniel tertawa.


"Kayak jamannya ibu dulu, bungkusin ayam pake tissue." ujar Lea.


"Maksudnya?" tanya Daniel seraya mengerutkan dahi.


"Emang mas nggak pernah di bungkusin lauk dari kondangan gitu sama mamanya mas?"


Daniel makin mengerutkan dahi.


"Nggak pernah." jawabnya kemudian.


"Oh iya." Lea tertawa.


"Anak orang kaya sih ya. Jadi nggak ngerasain." ucapnya lagi.


"Maksudnya gimana sih?. Bungkus lauk dari kondangan, pake tissue gitu?" Daniel semakin penasaran.


"Iya, jadi tuh ibu sama ibu-ibu lain bakalan ngambil ayam tuh kayak dua atau tiga gitu di piring. Ya sambil nahan rasa malu lah mungkin, nggak mungkin nggak malu. Tapi demi anak ya kan." ucap Lea.


"Abis itu di bungkus tissue, mas. Di masukin tas."


"Dimasukin plastik juga gitu?" tanya Daniel.


"Ya kadang kalau ingat bawa plastik, dimasukin plastik. Kalau nggak ingat ya udah, masuk aja." jawab Lea.


"Tissue kan tipis, apa nggak melebar kemana-mana tuh minyaknya. Misalkan ayam goreng nih." tanya Daniel.


"Tissue nya yang kayak rumah makan Padang itu loh mas, yang keras. Kalau kondangan jaman dulu tuh pake tissue nya yang begitu."


"Iya tetap aja kan minyaknya bisa melebar kemana-mana."


"Emang, kadang pas sampe rumah ayamnya udah pipih. Karena kegencet tas kondangan yang dalamnya ngepres."


Daniel tertawa terpingkal-pingkal kali ini.


"Serius, Le?" tanya nya kemudian.


"Serius mas. Makanya jadi orang susah biar tau." ujar Lea.


Daniel masih tertawa. Namun jujur dalam hati ia miris dan kasihan melihat kehidupan istrinya dulu.


Dia tidak tau kalau dirinya adalah anak dari seorang pria kaya raya. Namun pengalaman hidup Lea memberi warna tersendiri dalam rumah tangga mereka.


Daniel belajar banyak hal dari istrinya itu. Akan berbeda kejadiannya bila ia menikahi perempuan kaya. Mungkin cerita-cerita seperti ini tak akan pernah ia dengar. Bisa jadi hidupnya akan flat atau datar, sebab sama-sama berasal dari keluarga kaya.


Daniel bersyukur dipertemukan dengan Lea. Saat ini dirinya hanya ingin berfokus membahagiakan perempuan itu dan juga anak mereka, Darriel.

__ADS_1


__ADS_2