Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Begah


__ADS_3

Lea membolak-balikan badan setiap beberapa detik sekali. Perempuan itu tampak begitu gusar, entah untuk alasan apa. Hingga Daniel yang hendak tidur pun akhirnya tak bisa memejamkan mata.


"Kamu kenapa sih, Le?" tanya nya heran.


"Begah perutnya mas. Kenceng gitu, nggak nyaman." ujar Lea.


Daniel lalu memegang perut istrinya itu dan mengusapnya dengan lembut.


"Mau senderan?" tanya nya kemudian.


Lea mengangguk. Daniel lalu mengambil tiga bantal, dan membantu Lea untuk bersandar. Pria yang sudah mengantuk berat itupun kini duduk dan ikut bersandar juga di samping Lea.


"Sini aku elus lagi perutnya." ujar pria itu.


Ia kembali mengusap-usap perut Lea, dengan harapan bahwa perempuan itu akan merasa lebih baik.


"Tuh kan mas, dia tuh gerak-gerak mulu. Aku mau tidur jadi nggak bisa, kadang sakit."


"Iya, sabar ya. Nggak lama lagi koq."


Daniel berkata seraya menatap mata istrinya itu dalam-dalam. Lea agak sedikit menekuk bibir dan menghela nafas kesal bercampur lelah. Untuk ukuran usianya, ia memang masih lazim mengeluh. Apalagi ini kehamilan pertama baginya.


"Mau aku bacain cerita nggak, biar dia tidur?" tanya Daniel pada Lea.


"Cerita?"


"Iya."


Daniel masih menatap Lea. Ia tidak tau apakah usahanya ini akan membuat sang istri jadi lebih baik atau tidak. Tapi yang jelas ia hanya ingin berbuat sesuatu yang menyenangkan hati Lea.


"Mau." jawab Lea.


Daniel lalu mengambil handphone dan mencari cerita-cerita dongeng menarik, melalui laman google. Saat menemukan yang menurutnya pas, ia pun membacakan dongeng tersebut di dekat perut Lea.


"Pada suatu hari, hiduplah...."


Daniel benar-benar serius sekaligus lucu dalam membacakan dongeng tersebut. Ia kadang menyentuk perut sang istri, layaknya sedang berinteraksi dengan anak yang tengah dikandung.


Perasaan Lea yang dongkol akibat sulit tidur itu pun berubah menjadi damai. Hatinya seakan meleleh menerima perlakuan dari Daniel. Ketika pikirannya telah dipenuhi rasa haru dan bahagia, perlahan ketegangan di perutnya pun mereda.


Ia mulai membelai kepala dan rambut Daniel sambil tersenyum. Sementara Daniel terus membacakan dongeng hingga selesai.


***


"Kamu laper nggak?" tanya Daniel ketika bayinya didalam sudah tenang.


"Emang mas laper ya?" Lea balik bertanya.


"Iya sih sedikit." jawab Daniel.


"Aku nggak terlalu sih mas. Tapi pengen ngemil masa."


"Buah mau?" tanya Daniel.


"Mmm, pengennya gorengan." Lea menjawab sambil tersenyum.


"Aku liat bahan di kulkas dulu ya." ujar Daniel.


"Kayaknya kita masih punya sayuran, daun bawang, terigu, tahu dan tempe kalo nggak salah. Mau aku bikinin gorengan?"


"Mau, tapi mas capek nggak?. Kalau capek nggak usah, besok aja aku order online. Kalau jam segini kan udah nggak ada yang jual." ujar Lea.


"Nggak apa-apa Le. Bikin gorengan doang, gampang." tukas Daniel.

__ADS_1


"Ya udah, mau. Nggak usah banyak-banyak tapi mas, nanti takut nggak abis."


"Iya sayang, aku buat sedikit-sedikit aja." jawab Daniel lalu beranjak.


"Aku bikin dulu ya." ujarnya kemudian.


"Iya mas, semangat ya."


Lea mengatakan hal tersebut sambil tertawa. Daniel pun jadi ikut-ikutan tertawa. Tak lama pria itu meninggalkan kamar dan menuju dapur.


Ia membuatkan apa yang diinginkan oleh sang istri. Meski dengan rasa kantuk yang begitu berat. Untuk mengusir hal tersebut, terlebih dahulu ia membuat segelas kopi.


Ketika gorengan itu selesai dibuat, Daniel menuju ke kamar atas untuk membawa makanan tersebut kepada Lea. Namun Lea sudah tertidur dengan lelap dan agak sedikit mendengkur.


Daniel hanya tersenyum, bahkan tertawa kecil. Ia lalu menyelimuti Lea, kemudian mengambil sebungkus rokok miliknya di laci. Daniel pergi merokok di bawah untuk beberapa saat.


Lea tiba-tiba muncul setelah beberapa menit berlalu. Daniel mendadak mematikan rokoknya dan membuka pintu, supaya asap yang masih mengebul di sekitar ruangan segera keluar.


"Koq kamu bangun?" tanya Daniel kemudian.


"Mencium bau gorengan ini mas." jawab Lea seraya tertawa. Ia membawa gorengan itu ke dekat Daniel.


"Makan bareng yuk, aku nggak mau makan sendirian." tukasnya.


"Emang kamu cukup segitu di bagi dua, itu kan dikit." ujar Daniel.


"Udahlah buat kamu aja." lanjutnya lagi.


"Nggak mau, maunya sama mas."


"Ya udah ayok. Mau sambil nonton TV nggak?" tanya Daniel lagi.


"Nggak usah mas, nonton YouTube aja di handphone." jawab Lea.


"Ayo." ajak Daniel.


"Enak nggak gorengannya?" tanya Daniel pada Lea.


"Enak mas, asin sama gurihnya pas. Lebih enak ini dari gorengan abang-abang." jawab perempuan itu.


"Oh iya dong, kan abang Daniel ganteng yang bikin."


Seloroh Daniel sambil tersenyum. Membuat Lea sewot dan memasukkan gorengan ke mulut suaminya itu.


"Nih makan tahu." ujarnya kemudian.


Daniel tertawa.


"Cabe nya dong sayang?" pinta Daniel.


"Lea lalu mengambil cabe rawit dan menyuapkannya pada Daniel.


"Nggak pedes." ujar Daniel.


"Muda kali ya?" tanya Lea.


"Iya, yang lain dong." pinta Daniel lagi.


Lea mencari cabe rawit yang menurutnya tua, lalu ia memasukkan cabe tersebut ke mulut Daniel.


"Mmm, yang ini tua banget Le. Pedes, haaah."


"Mas bawel banget sih, heran."

__ADS_1


Lea sewot, Daniel tertawa lalu meminum segelas air putih yang ada di hadapannya.


"Ya, orang pedes."


"Ambil sendiri makanya."


"Kan aku megang handphone, meluk kamu juga."


"Eh iya ding, hehehe." Lea nyengir.


Ia lalu kembali menyuapi Daniel.


"Mas."


"Hmm?"


"Fix ya namanya Darriel?"


Lea mempertanyakan soal nama anak mereka kelak.


"Boleh." jawab Daniel sambil terus di suapi oleh istrinya itu.


"Apa Darrel atau Darren?" Lea kembali bertanya.


"Itu juga bagus." jawab Daniel.


"Terus apa dong?. Masa tiga-tiganya. Darriel Darren Darrel Roberts gitu?"


Daniel hendak tertawa namun,


"Unik juga ya kalau gitu?" ujarnya kemudian.


"Unik, njelimet iya." Lea sewot.


Kali ini Daniel benar-benar tertawa.


"Ayo dong mas, apaan?"


"Ya udah terserah kamu, orang kamu yang hamil. Mau Darriel, Darren, Darrel. Nggak apa-apa, pilih aja." jawab Daniel.


"Darriel aja?"


"Boleh."


"Tapi Darren juga bagus mas."


"Ya udah Darren." Lagi-lagi Daniel menjawab.


"Darrel cute tapi."


"Ya udah Bambang ajalah, daripada ribet."


Kali ini Daniel yang sewot dan malah Lea yang tertawa.


"Aw, sakit." Tiba-tiba Lea meringis memegangi perutnya.


"Kenapa kamu?" tanya Daniel panik.


Lea diam, namun tak lama ia tersenyum.


"Nggak ding, bohong." ujarnya kemudian.


"Tuh kamu mah, bikin jantungan aja."

__ADS_1


"Iya-iya maaf, gantengnya ilang loh kalau marah."


Daniel melirik Lea, lalu dua-duanya sama-sama tersenyum.


__ADS_2