
Kalau kemarin Lea dan Daniel mengingat saat terjadi seblak war. Hari ini mereka melintas di sebuah rumah sakit tempat dimana Daniel pernah dirawat.
"Inget nggak Le, waktu itu kamu nyosor aku duluan." ucap Daniel seraya menoleh sejenak lalu kembali fokus mengemudi.
"Dih yang mana?" tanya Lea dengan nada bicara seperti malu, namun juga pura-pura tidak tahu.
"Nggak usah sok lugu kamu. Pas aku sakit, ada kamu nyosor aku duluan."
"Dih itu kan mas yang duluan narik aku."
"Emang iya?" Daniel mengerutkan dahi.
"Iya, yang aku nyosor duluan mah di pesta ulang tahunnya ayah. Yang pas kamu kecebur dan hampir kelelep di kolam."
Daniel kembali mengerutkan dahi.
"Nggak inget kamu?" tanya Lea.
"Eh iya ya." ucap pria itu.
"Ye, jangan apa-apa ingatnya aku mulu yang agresif duluan. Orang mas juga ganjen koq." seloroh Lea.
"Tapi kebanyakan kamu kan yang suka dan ngarep ke aku." Daniel masih tak mau mengalah.
"Tapi kamu juga yang nyoblos aku duluan sampe aku bunting si Darriel."
"Heheee."
Darriel tertawa antusias dari car seat belakang. Seketika Daniel dan Lea pun sadar jika mereka berbicara di dekat anak mereka sendiri. Mereka kini diam sambil menahan senyum.
"Mulut kamu, Le." ujar Daniel.
"Mas mancing duluan." jawab Lea.
"Hokhoaaa." Darriel mengeluarkan suara.
"Uwawawa." Lanjutnya lagi.
"Hoaahoeks"
Kemudian ia seperti ingin muntah.
"Kenapa dia?" tanya Daniel seraya melihat ke kaca atas, sementara Lea kini menoleh.
"Biasa, ngisep jari sampe dalam." ucap Lea.
"Hokhoaaa."
__ADS_1
"Eh Delil, kamu besok harus nimbang badan tau. Baru inget mama." ujar Lea kemudian.
"Kira-kira dia beratnya udah berapa ya?" tanya Daniel.
"Tau, liat aja tuh gembul banget." seloroh Lea.
"Pas lahir aja gede." ujar Daniel.
"Iya, sampe mau abis nafas aku ngeluarin dia. Makanya kalau mau punya anak lagi ntar-ntar dulu deh." tukas Lea.
"Kapok ngelahirin." lanjutnya lagi.
"Tapi bikinnya tetap nikmat kan?" seloroh Daniel.
"Iya nikmat, abis itu bengkak." jawab Lea.
"Heheee."
Darriel tertawa.
"Kamu ketawa mulu, mama cubit nanti." Lea gemas sendiri pada bayi itu, sementara Daniel hanya bisa tertawa.
Mobil yang membawa mereka terus melaju dengan kecepatan sedang. Memasuki sebuah kawasan, mereka kembali diingatkan pada sesuatu.
"Nih disini nih baru aku yang nyosor duluan." ujar Lea seraya menunjuk sebuah gedung, yang pernah digunakan untuk merayakan ulang tahun Richard. Saat itu Daniel tercebur di kolam renang dan Lea menolongnya.
Lea seperti lupa-lupa ingat dengan itu semua.
"Kamu duluan." ujar Daniel.
"Ih nggak, kamu yang duluan."
"Kamu yang duluan, Le."
"Mas Dan."
"Orang kamu yang duluan."
"Hekheee."
Darriel tiba-tiba menangis dengan kencang.
Daniel dan Lea menyudahi perdebatan tersebut.
"Nggak nak, nggak sayang. Mama sama papa nggak berantem." ucap Lea.
"Papa sama mama baik-baik aja ya Darriel."
__ADS_1
Daniel mencoba menenangkan. Tak lama Darriel pun mereda tangisnya. Daniel dan Lea mengalihkan topik pembicaraan.
Kini soal siapa yang suka nyosor duluan tidaklah penting. Yang terpenting adalah mereka telah hidup bersama dan saling mencintai satu sama lain.
Daniel mencintai Lea dan begitupula sebaliknya. Mereka juga sama-sama menyayangi anak mereka.
"Delil mau susu?" tanya Lea pada sang anak.
"Uwawawa." jawab Darriel.
"Nanti aja Le, tunggu sampe sebentar lagi. Ntar dia muntah kayak kemaren." ujar Daniel.
"Oh ya udah." jawab Lea.
Maka perempuan itu pun menunggu mereka tiba dirumah terlebih dahulu. Kemarin ada sempat Lea memberi ASI pada Darriel di mobil dan tiba-tiba Darriel muntah setelahnya.
Mungkin karena banyak guncangan, sebab jalan yang mereka lewati cukup banyak polisi tidur.
"Hokhoaaa."
Darriel bersuara.
"Iya sabar ya. Bentar lagi kita sampai rumah." ucap Lea.
Saat tiba, Lea segera memberi anak itu susu dan Darriel tak lantas langsung tidur, melainkan berceloteh sepanjang waktu. Sementara ayah dan ibunya sibuk beberes rumah.
"Pluk."
Sebuah benda terjatuh dari dalam lemari ketika Lea tengah membersihkan area tersebut. Pada saat yang bersamaan, Daniel melintas dan mengambil hal tersebut.
"Apaan, Le?" tanya Daniel pada Lea.
Kemudian Lea mengambil benda yang terjatuh tersebut. Ternyata itu adalah kotak berisi testpack yang pernah begitu drama diantara mereka.
Lea hendak memberitahu Daniel jika dia hamil, tetapi saat itu Daniel malah salah paham dan marah padanya. Lea diam mengingat kejadian tersebut.
"Jangan sedih, Le. Maafin aku soal itu."
Daniel mengingat pula peristiwa kala itu.
"Nggak apa-apa sih." ujar Lea seraya tertawa.
"Ye, aku pikir kamu sedih." Seloroh Daniel.
"Ngapain aku sedih, laper lagu iya." ujar Lea.
Perempuan muda itu kemudian beranjak ke dapur dan mencari cemilan.
__ADS_1