Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Salah Duga


__ADS_3

Flashback


Kembali pada Sharon.


Maya dan Tasya mencari keberadaan teman mereka tersebut ke rumahnya, dihari ia menghilang. Namun tak ada tanda-tanda Sharon ada di tempat tersebut.


Mereka lalu menghubungi nomor teman mereka itu berkali-kali, namun tetap tak ada jawaban.


"Sharon kemana sih, bikin khawatir aja deh."


Maya benar-benar cemas, begitupula dengan Tasya.


Kedua gadis itu kemudian menghubungi teman-teman mereka yang lain. Pada orang-orang yang diperkirakan mengetahui keberadaan Sharon.


Sementara di kediaman Herman yang besar dan mewah, seorang asisten rumah tangga mengantarkan makanan kepada Sharon. Namun Sharon kemudian memukul kepalanya dan keluar dari kamar.


Ia berlarian karena hendak kabur, namun ternyata Herman memiliki penjaga yang banyak dan akhirnya Sharon kembali tertangkap. Herman datang beberapa saat kemudian.


Seperti sebelumnya, ia bersikap sangat baik dan lembut. Namun tetap menjijikkan di mata Sharon. Sekalipun pria itu berwibawa dan terlihat cukup tampan. Namun di mata Sharon ia tak lebih dari om-om tua yang membuatnya ingin muntah.


"Sharon, om cuma minta satu sama kamu. Kamu nurut aja sama om. Om nggak akan nyakitin kamu."


Sharon memalingkan wajahnya. Ingin sekali ia meludah di wajah teman ayahnya itu, saking ia jijiknya harus dicintai oleh orang tua seperti dia.


Namun Sharon tak melakukan hal tersebut, lantaran ini adalah wilayah Herman. Ia takut jika berbuat kasar, Herman akan murka dan memperkosa dirinya.


Melihat Herman yang bersikap baik begini saja, sudah horor bagi Sharon. Apalagi jika ia bersikap kasar.


"Kamu makan ya, ibu kamu biayanya sudah om urus semuanya."


Sharon benar-benar terkejut.


"Anda memaksa saya berhutang pada anda. Saya nggak pernah minta bantuan apa-apa."


Kali ini dirinya marah, karena merasa dipaksa berhutang budi oleh pria itu.


"Kamu nggak perlu balas, melihat kamu disini saja om sudah senang."


"Saya masih kuliah dan saya butuh pendidikan saya. Saya nggak mau hidup di kamar ini selamanya, saya mau pulang." ujarnya lagi.


"Om akan pikirkan soal ini, sekarang kamu makan dulu."


Herman mencium kening Sharon, meski Sharon menolak dan berusaha memberontak. Herman kemudian berlalu meninggalkan tempat itu.


"Aarrgghh, bajingan." gerutu Sharon.


"Praaang." Ia menjatuhkan lampu duduk yang ada di samping tempat tidur.


"Mana handphone gue di ambil lagi sama si tua bangka itu." lanjutnya lagi.


"Brengsek."

__ADS_1


Sharon menghela nafas dan melihat makanan yang disediakan untuknya. Ia memang sudah sangat lapar sekali, sebab sejak tadi ia belum makan apa-apa. Namun jika saat ini ia paksa makan pun, ia belum tentu bisa menelan semua itu. Sebab kini dirinya masih dikuasai perasaan marah.


***


Kembali pada Lea saat ini.


Perempuan itu sudah dibawa ke kamar oleh sang suami. Daniel meminta izin pada Richard untuk satu hari lagi berada di sana, sebab Lea masih malas untuk pulang.


Richard mengatakan bahwa tak masalah jika sampai satu bulan pun mereka ingin tinggal disana. Richard bukan tipe orang seperti Daniel yang lebih menyukai privasi dan kesendirian. Richard suka jika rumahnya diramaikan oleh keluarga.


Itulah kenapa sejak dulu Daniel dan Ellio selalu datang ke rumah sahabat mereka itu. Sebab Richard sangat menyukai interaksi dengan orang lain.


"Enak nggak?" tanya Daniel pada Lea.


"Enak mas, agak ke atas mas."


Richard yang melintas di sekitar kamar Daniel dan Lea kembali mendengar aktivitas kotor didalam sana. Dan hal itu pun juga di dengar oleh Ellio yang menguping di dekat Richard. Ia melihat Richard menempelkan telinga dan menuruti tingkah sahabatnya itu.


"Nah gitu mas, enak. Remasnya agak kuat mas, enak banget soalnya."


"Enak?"


"Iya enak."


"Gini?"


"Iya, aaah."


"Iri kan lo?" ujar Ellio pada Richard dengan nada berbisik.


Richard langsung bersikap sok cool dan berlalu meninggalkan tempat itu. Sementara di dalam Lea dan Daniel masih dengan aktivitas mereka.


"Pijatan mas enak." ujar Lea.


"Iya dong."


Daniel terus memijat kaki Lea, karena itulah aktivitas mereka sejak tadi. Ellio pun menahan tawa, sebab Richard telah mengira jika anak dan menantunya tengah bermain tusuk-tusukan. Padahal kaki Lea begitu pegal terasa dan Daniel memijatnya.


"Braaak."


Ellio tak sengaja menginjak remote air conditioner, yang tak tau mengapa ada di lantai. Ia hampir terjatuh dan refleks berpegang pada gagang pintu.


Tentu saja hal tersebut membuat Daniel dan Lea yang ada di dalam jadi terkejut. Sebab gagang pintu jadi bergerak. Ellio kemudian kabur sebelum ketahuan.


"Siapa ya mas?" tanya Lea heran.


"Paling kalau nggak Richard, ya Ellio. Mungkin mereka ngira kita..."


Daniel dan Lea kemudian tertawa, karena isi dugaan yang ada dipikiran mereka kini sama. Pastilah Richard atau Ellio mengira jika Daniel dan juga Lea tengah melakukan aktivitas suami-istri. Mereka kemudian cekikikan.


***

__ADS_1


"Vit, besok gue pengen ngampus deh."


Nina berujar di telpon.


"Emang lo udah sehat?" tanya Vita kemudian.


Gadis itu merasa senang, namun masih mengkhawatirkan keadaan Nina..


"Iya, udah nggak apa-apa gue. Besok jemput gue ya Vit." ujar Nina lagi.


"Ok deh, kalau lo udah yakin." jawab Vita.


"Ini lo dimana Vit?" tanya Nina.


"Di rumah sakit."


"Lo sakit?"


"Bukan gue, tapi Arsen."


"Arsen?" Nina terkejut.


"Bisa sakit juga tuh anak?" selorohnya.


Ia berkata demikian karena selama mengenal Arsen dari jaman SMA. Pemuda itu bisa dibilang sangat jarang terkena penyakit.


"Dia thalasemia, Nin." ujar Vita lagi.


"Hah, thalasemia?" Nina kembali terkejut, kali ini lebih besar ketimbang sebelumnya.


"Thalasemia bukanya gangguan pembekuan darah ya?" tanya Nina lagi. Ia kini mulai cemas pada kondisi Arsen.


"Iya Nin, ternyata selama ini Arsen tuh menyembunyikan sakitnya dari kita semua. Lo sadar nggak sih, Arsen tuh nggak ada ikut kegiatan ekstrakurikuler?"


"Iya sih." Nina kembali mengingat-ingat saat mereka sekolah dulu. Arsen tak pernah ikut kegiatan ekstrakurikuler apapun, namun tak di marahi oleh guru. Semua orang mengira Arsen di istimewakan oleh guru, lantaran ia pintar. Karena Arsen memang merupakan siswa paling berprestasi di sekolah.


"Tapi dia olahraga masih, kan kalau thalasemia nggak bisa olahraga. Takut memar dan pendarahan." ujar Nina lagi.


"Thalasemia itu masih bisa olahraga Nin, kayak renang, sepedaan, lari, push up, kayak gitu-gitu."


"Emang iya?"


"Iya, yang nggak boleh tuh olahraga kontak fisik. Kayak karate dan berbagai jenis beladiri lainnya. Terus basket, sepak bola. Karena takutnya dia ketabrak temen atau lawan pas lari. Bisa aja dia jatuh atau memar akibat tabrakan itu."


"Oh gitu. Sekarang dia gimana?" tanya Nina lagi.


"Ada di dalam, abis gue suapin makan." ujar Vita.


"Ih nggak nyangka gue, Vit. Nggak mungkin deh kayaknya. Orang sehat banget begitu, cakep lagi."


"Ya sama, gue juga nggak nyangka." jawab Vita.

__ADS_1


Kedua sahabat itu kemudian melanjutkan perbincangan.


__ADS_2