Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Hari Murung


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Lea memberanikan diri untuk pergi ke sekolah, meski saat ini dirinya masih dalam pengawasan psikiater. Ia tak bisa berdiam diri lama-lama, karena ini juga menyangkut sekolah dan masa depannya nanti.


Lea tiba di lembaga pendidikan itu dengan penuh kecemasan. Ia kembali ke tengah-tengah puluhan pasang mata, yang masih memandang sinis ke arahnya. Meskipun lembaga tersebut tengah menghadapi tuntutan dari Daniel, namun tetap saja siswa dan siswinya masih memberi pandangan yang mengintimidasi pada Lea.


Mereka tak begitu takut, karena merasa orang tua mereka juga punya power dan bisa menolong dalam kondisi apapun. Lea jadi merasa semakin tidak nyaman, bahkan ia lebih banyak diam di kelas saat jam istirahat tiba.


Lea tak mengadukan hal tersebut pada Daniel, karena ia tak ingin menambah beban pikiran sugar daddy nya itu. Daniel terlalu banyak berbuat untuk dirinya, dan ia tak ingin menambahkan apapun lagi. Jadilah sejak hari itu Lea menjalani kembali sekolahnya, dengan penuh ketidaknyamanan.


"Jangan pernah berfikir kalau gue akan minta maaf sama lo, walaupun om-om lo itu mengancam gue. Gue nggak akan mau temenan sama simpanan kayak lo."


Itulah kata-kata yang diucapkan oleh Sharon, ketika terakhir kali bertatapan dengan Lea. Selanjutnya Sharon dan siswa-siswi lain tak ada yang mengganggu Lea secara langsung, sebagian dari mereka malas jika harus dilaporkan oleh Daniel nantinya.


Namun mereka masih bisa mengganggu Lea tanpa bersentuhan. Ya, salah satunya adalah melalui sindiran. Lea akan sulit melawan pada hal tersebut, apalagi sindiran itu tak menyebutkan nama yang dituju secara spesifik.


Bisa saja si penyindir akhirnya ngeles, jika kita terpancing dan marah terhadapnya. Padahal memang sindiran itu dimaksudkan untuk menghina kita. Hal itu sangat efektif untuk merusak mental seseorang, karena rasanya lebih sakit ketimbang di tantang secara terbuka.


***


Hari demi hari berlalu, sebagian pelaku perundungan terhadap Lea telah berurusan dengan hukum. Terutama sang kepala sekolah, karena dialah yang dianggap paling bertanggung jawab dalam hal ini.


Ia juga mendapat sangsi dari yayasan, dengan dimutasikan ketempat lain. Agaknya yayasan mulai memperhitungkan power yang dimiliki oleh Daniel, mereka takut sekolah itu akan tercoreng nantinya.


Namun meskipun begitu, hidup Lea tak lantas menjadi mudah. Ia makin banyak disindir di berbagai sudut sekolah, sebagai sampah pembawa masalah. Meski masih didampingi psikiater, namun tekanan demi tekanan kerapkali membuat dirinya stress. Hingga suatu ketika, dampak yang lebih buruk pun akhirnya menimpa.


Saat itu Lea baru saja pulang dan tiba di kediaman Daniel dengan wajah kusut, penuh kesedihan. Daniel yang kebetulan tengah berada di rumah itu pun bertanya.


"Lea, kamu kenapa?" tanya Daniel pada gadis itu.


Lea menggeleng, lalu masuk ke dalam kamar. Namun disusul oleh Daniel, pria itu mendorong pintu sebelum Lea sempat menguncinya.


"Bilang, aku kan udah pernah ngomong sama kamu. Kalau ada apa-apa, jangan di simpan sendiri."


Lea kemudian jujur, ia berkata pada Daniel bahwa ia telah gagal ujian masuk perguruan tinggi impiannya.


"Ketiganya gagal semua?" tanya Daniel seraya menatap gadis itu.


Lea mengangguk, sebelumnya ia juga telah gagal dan Daniel mengetahui hal tersebut. Daniel lalu memeluk gadis itu dan tak berkata apa-apa lagi. Ia memberi ruang bagi Lea untuk kesal dan berkeluh kesah sejenak, sampai kemudian....


"Kamu nggak mau cari beasiswa ke luar negri?" Daniel kembali membuka suara, Lea menatap pria itu.

__ADS_1


"Banyak loh orang yang gagal SNMPTN, SBMPTN. Terus nyari beasiswa dan malah keterima di luar negri. Kuliahnya bahkan tanpa biaya, sekaligus bisa punya pengalaman tinggal di negara orang dan mempelajari banyak hal di sana."


"Tapi kalau nanti ada apa-apa gimana?. Aku mau ngomong sama siapa?"


"Kan ada aku, emang kamu pikir aku bakalan lepasin kamu gitu aja. Tetap kalau kamu butuh apa-apa, ya ngomong sama aku. Aku juga bakal sering kesana untuk kamu."


Lea menghela nafas dan kembali menatap Daniel.


"Kecuali kamu udah punya pasangan dan nggak butuh aku lagi, itu beda cerita." lanjut Daniel kemudian.


"Om mau, kalau aku jatuh cinta lagi sama orang lain?" tanya Lea.


Kali ini Daniel yang menghela nafas.


"Aku nggak bisa memaksa hati dan perasaan orang, Lea. Kalau itu yang jadi mau kamu, aku bisa apa?"


Lea menundukkan pandangan, namun kemudian ia memeluk Daniel secara perlahan. Daniel pun membalas pelukan tersebut.


"Udah nggak usah sedih lagi, nggak masuk ke universitas impian itu bukan akhir dari segalanya. Kuliah di kampus swasta pun, nggak buruk-buruk amat. Memang sampai saat ini masih banyak perusahaan, yang memperhatikan almamater para calon karyawannya. Tapi ya selama periode bekerja, kalau kamu nggak berkembang juga percuma. Mau punya latar belakang dari kampus bergengsi sekalipun, kalau dalam hal pekerjaan kamu stuck di situ-situ aja. Tergeser kamu sama orang yang kreatif dan inovatif, walau dia bukan dari universitas yang katanya bagus."


"Bukannya di perusahaan-perusahaan besar, kalau nggak dari universitas yang bagus. Lamarannya di tolak-tolakin ya, om?"


"Nggak juga, jaman sekarang banyak koq perusahaan yang sudah lebih terbuka. Karena kita semua juga tau, banyak orang yang berpotensi. Tetapi mungkin emang nasibnya aja, nggak bisa masuk universitas bergengsi. Bisa karena faktor ekonomi, kuota dari universitas itu sendiri dan lain sebagainya."


"Nanti kalau misalkan aku cari beasiswa keluar negri, terus dapat. Aku tinggal sendiri dong, di sana?"


"Ya nggak apa-apa, belajar mandiri. Semua yang sekolah di luar negri juga, pada akhirnya terpaksa mandiri."


Lea makin erat memeluk Daniel.


"Apa kamu mau, kita jalan-jalan dulu aja ke luar negri. Biar bisa melihat kehidupan di sana seperti apa. Kamu juga udah selesai sekolah ini, nggak ada salahnya jalan-jalan sedikit."


"Om serius?" tanya Lea


"Emang aku kelihatan bohong?" Daniel balik bertanya.


Lea pun mendadak sumringah.


"Om serius ngajak aku ke luar negri?" tanya nya sekali lagi.

__ADS_1


"Iya." jawab Daniel.


"Aaa, makasih."


Lea makin erat memeluk Daniel dan begitupun sebaliknya.


"Kita mau ke negara mana nih?" lagi dan lagi Lea bertanya.


"Kemana aja, yang deket-deket dulu pastinya. Kamu belum pernah kan?"


"Belum om, dan aku penasaran banget." ujar Lea kemudian.


"Ya udah nanti aku urus dulu semuanya, kamu punya paspor?"


Lea menggeleng.


"Ntar aku temenin bikinnya."


"Aaa, baik banget sih." ujar Lea lagi, Daniel pun tertawa.


"Udah nggak sedih lagi kan?"


Lea menggelengkan kepalanya.


"Ya udah aku mau mandi dulu."


"Ntar aja sih, om."


"Kenapa emangnya?"


"Masih pengen peluk."


Lea berujar dengan nada yang begitu manja. Daniel pun tersenyum, lalu merebahkan diri ke atas tempat tidur Lea. Dengan Lea tetap berada dalam pelukannya.


"Ya udah, peluk seberapa yang kamu mau." ujar Daniel kemudian.


Lea mendekatkan wajahnya ke wajah Daniel, lalu Daniel pun mencium bibir gadis itu.


"Aku jadi ngantuk tau." ujar Daniel lagi.

__ADS_1


Lea tersenyum dan meletakkan kepalanya di dada pria itu.


__ADS_2