
Lea terbangun di pagi hari dan bertemu degan Daniel di meja makan. Semalaman mereka tak bertemu maupun berinteraksi, sebab Daniel yang masih kesal tidur dikamar atas.
Belakangan ia sudah suka tidur dikamar Lea, bahkan hampir setiap hari. Tapi tidak dengan semalam.
"Pagi mas."
Lea menyapa sang suami, meski wajah Daniel masih terlihat sedikit tidak ramah.
"Pagi." jawab Daniel lalu duduk di salah satu kursi.
"Mas masih marah sama aku?"
Lea juga menarik sebuah kursi dan duduk disana.
"Nggak." jawab Daniel.
"Kenapa masih asem mukanya?" tanya Lea lagi.
"Masih kesel aja." jawab Daniel.
"Lah apa bedanya marah sama kesel?"
Daniel tak menjawab. Lea lalu diam dan mengambil selembar roti untuk sarapan paginya. Tampak dimeja sudah ada sereal siap minum yang sepertinya dibuat oleh Daniel.
Keduanya pun lalu sarapan, dengan obrolan yang hanya sesekali terjadi. Lea ingin sedih karena melihat Daniel yang begitu cuek. Namun rasa lapar yang ia rasakan mengalahkan segalanya. Bahkan ia tetap saja makan banyak dalam keadaan seperti itu.
***
"Gue kalau jadi lo, udah nangis parah tuh Le."
Adisty berujar ketika Lea menceritakan, jika saat ini ia tengah di acuhkan oleh Daniel.
"Apalagi gue." timpal Ariana.
"Hans marah dikit aja, gue galaunya langsung kemana-mana." lanjutnya lagi.
"Cie yang jadian sama Hans."
Lea dan Adisty memberikan lirikan sambil senyum-senyum pada Ariana. Hingga gadis itu kini salah tingkah dan pipinya bersemu merah.
"Ih apaan sih?" ujarnya kemudian.
"Cie pipinya merah." goda Adisty.
Ariana pun kian tersipu malu.
"Gaes, ntar siang makan bareng yuk. Gue yang traktir."
Tiba-tiba Iqbal muncul dan menjadi ibu peri.
"Serius bal, mau traktir?" tanya Ariana diikuti tatapan Lea dan juga Adisty.
"Serius dong." jawab Iqbal.
"Dalam rangka apa nih?" tanya Lea.
"Iqbal ulang tahun tau hari ini." ujar Rama.
"Oh iya, sorry bal lupa." Adisty dan Ariana menepuk jidat.
"Temenan udah lama, bisa-bisanya lo berdua kagak inget."
__ADS_1
Dani berseloroh dengan nada sewot pada kedua gadis itu.
"Kecuali kayak Lea yang baru kenal, wajar dia nggak tau. Lah elu berdua, kenal sama Iqbal dari jaman kolonial. Ulang tahunnya aja kagak inget." lanjut Dani lagi.
"Hehehe, iya deh maaf." ujar Adisty diikuti Ariana yang nyengir lebar.
"Ya udah deh bal, lo mau kado apa dari kita?" tanya Adisty.
"Udah nggak usah, kayak bocil aja gue di kadoin segala." ujar Iqbal.
"Ih nggak apa-apa, iya kan Ar, Le?" Adisty meminta dukungan pada Ariana dan juga Lea.
"Iya ih, ntar kita beliin." ujar Lea.
Iqbal terkekeh.
"Gue pengennya punya jet pribadi, punya duit lo pada buat beliin gue?" selorohnya kemudian.
"Punya lah, beli miniaturnya aja dulu." ujar Lea.
Mereka pun lalu tertawa-tawa.
"Ntar siang ya, di kafe green garden jam 2." ujar Iqbal.
"Ok."
Lea, Adisty, dan Ariana menjawab dengan penuh semangat.
***
Siang harinya sesuai janji, Lea dan kedua teman perempuannya menyambangi kafe yang dimaksud oleh Iqbal. Sebelum itu ketiganya sempat mampir di sebuah store.
"Nih bal, buat lo." ujar Lea, Adisty, dan Ariana serentak.
"Udah gue bilang nggak usah, masih aja. Kan gue jadi enak." Iqbal menerima hadiah-hadiah tersebut.
Tampak Dani dan Rama juga memberikan kado padanya.
"Repot banget lo berdua." ujar Iqbal pada Dani dan juga Rama.
"Repot apaan, itu isinya voucher google play. Buat lo beli skin mobile legends." canda Dani.
Padahal ia membelikan sebuah dompet untuk Iqbal. Sedang Rama membelikannya dua buah buku motivasi.
Tak lama beberapa orang teman Iqbal yang lain pun datang. Mereka kemudian makan bersama sambil berbincang.
Cindy dan satu orang lainnya lagi datang di pertengahan, mereka membawa kue untuk Iqbal. Akhirnya mereka beralih ke acara tiup lilin dan foto-foto untuk insta story. Mereka semua tampak begitu gembira.
"Lo mau kemana Le?"
Adisty bertanya pada Lea, ketika perempuan itu akhirnya beranjak dari tempat dimana ia duduk.
"Ke toilet." jawab Lea.
"Mau gue temenin nggak?" tanya Adisty lagi.
"Nggak usah."
"Hati-hati." Adisty kembali berujar.
"Iya." jawab Lea.
__ADS_1
Perempuan itu pun menuju ke toilet. Sekembalinya dari toilet, ia melihat ke arah luar dari kaca kafe tersebut. Tampak disana ada Rangga dan juga seorang perempuan. Mereka tengah duduk di sebuah meja sambil berbicara dan tertawa-tawa.
Lea tersenyum menatap semua itu. Ada rasa damai dihatinya melihat Rangga sudah menemukan tambatan hati.
Tak lama Rangga pun melihat Lea tanpa sengaja. Sebab kaca pemisah antara luar dan dalam kafe tersebut, adalah kaca bening transparan dan bukan rayben.
Rangga menatap Lea dan begitupun sebaliknya. Cukup lama mereka saling memandang satu sama lain. Sampai akhirnya Lea beranjak, untuk kembali ke meja tempat dimana teman-temannya berada.
***
"Pak Ellio, ada wartawan nyariin bapak."
Yoo Ra salah satu karyawan Ellio yang merupakan warga negara Korea Selatan berkata pada Ellio.
"Wartawan apaan?" tanya pria tampan itu pada Yoo Ra.
"Nggak tau pak dari media apa, dari lambe murah kali. Ada tiga orang tuh di lobi." jawab Yoo Ra.
"Bilang sama Ismi."
Ellio menyebut nama salah satu resepsionis yang bekerja di kantornya.
"Saya tidak ada janji dengan wartawan manapun." lanjutnya lagi.
"Lagian mereka kalau mau ketemu saya, harusnya ya buat janji dulu dong. Jangan main datang-datang aja."
Ellio benar-benar menunjukkan sisi kemarahannya hari itu.
"Jadi bilangnya gimana pak?" Yoo Ra kembali bertanya.
"Bilang bapak nggak ada, sibuk, atau apa?" lanjutnya kemudian.
"Ya terserah kalian lah, gimana baiknya. Improvisasi sendiri." ujar Ellio lagi.
"Oh ya sudah pak, kalau begitu kami bilang bapak meninggal aja gimana?"
Ellio menarik nafas dan menatap ke arah Yoo ra
"Ya nggak meninggal juga, samyang." ujarnya sewot.
"Kan kata bapak improvisasi."
"Ya improvisasi nggak harus pake nyumpahin orang segala kali. Omongan itu doa loh." Ellio makin sewot.
"Hehehe, ya udah deh. Ntar saya sampaikan ke Ismi pak." ujar Yoo Ra.
"Alasannya jangan yang aneh-aneh, inget...!" Ellio memperingatkan.
"Iya pak."
Yoo Ra pun lalu pergi meninggalkan ruangan Ellio. Tinggallah kini Ellio yang duduk sambil menarik nafas panjang.
"Mau apa lagi sih tuh wartawan. Udah dibilang gue kagak terlibat apa-apa, masih aja. Kayak gini kan gue jadi terganggu hidupnya." Ellio terus menggerutu.
Sejenak ia diam, lalu kembali gusar.
"Aargghh." ujarnya kemudian.
***
Follow nya Instagram @p_devyara
__ADS_1