Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Hari Itu Tiba


__ADS_3

Hari itu akhirnya tiba.


Lea tampak tengah duduk di depan kaca, sambil membiarkan makeup artis menyelesaikan sentuhan terakhir di wajahnya.


Sementara Adisty, Ariana, Vita, dan Nina telah selesai di makeup terlebih dahulu dan kini mereka sudah mengenakan pakaian bridesmaids berwarna pastel.


"Nah udah selesai."


Makeup artis tersebut berujar pada Lea, sesaat kemudian Lea pun berdiri. Teman-teman Lea membantu merapikan gaun pengantin dari perempuan itu.


Lea tersenyum pada dirinya sendiri di depan kaca. Dan teman-temannya tersenyum melihat sahabat mereka tersebut. Gaun yang ia pilih serta riasan yang ia kenakan seakan menyatu dan membuatnya menjadi terlihat berbeda kali ini.


"Tok, tok, tok."


Terdengar suara ketukan pintu. Makeup artis memberikan buket bunga pada Lea, karena itu sudah pasti adalah ketukan dari Richard.


Lea melangkah ke arah pintu. Adisty dan Ariana membukakan pintu tersebut, sementara Vita dan Nina mengiring dari belakang.


Lea menarik nafas, meski ini adalah kali keduanya ia melangsungkan acara pernikahan dengan Daniel. Namun entah mengapa hatinya berdebar-debar, seperti baru pertama kali menjalani.


Richard menoleh kearahnya dan menatap Lea dengan takjub. Sebab kali ini Lea memang terlihat lebih cantik dari biasanya.


Dan entah mengapa emosi Richard seakan menyatu dengan Lea. Matanya berkaca-kaca menahan tangis seakan baru hendak melepaskan anak gadisnya untuk menikah.


Mungkin karena pada saat Lea dan Daniel menikah, ia tidak tahu jika Lea adalah anak perempuannya. Kini ia menjadi seorang ayah yang utuh, yang akan mengantarkan sang anak kepada laki-laki yang ia pilih.


"Usah siap?" tanya Richard.


Lea mengangguk. Pria itu kemudian mengulurkan tangan dan disambut oleh Lea. Lea mulai melangkah, diikuti teman-temannya.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Daniel yang sudah tiba terlebih dahulu bersama Ellio kini menunggu. Para undangan sudah memadati tempat acara sejak beberapa waktu lalu. Bahkan hampir seluruhnya telah datang.


"Lo koq nervous gitu, bro?" ledek Ellio kepada Daniel.


"Nggak tau anjir, padahal udah jadi bini gue." jawab Daniel seraya menahan tawa.


Tak lama kemudian para pengiring kecil yang terdiri dari adik-adik Lea dan keponakan teman-temannya pun muncul. Mereka bergandengan tangan sambil membawa bunga.


Daniel, Ellio, dan para undangan tersenyum melihat wajah-wajah lucu tak berdosa tersebut. Sedang adik Lea yang lain yakni Leo, ada di kursi hadirin bersama sang ibu. Darriel sendiri di gendong oleh Marsha, yang juga ada di kursi hadirin.


Richard mulai terlihat, ia berjalan sambil menggandeng Lea. Jantung Daniel berdegup kencang, seolah ia baru akan menikah pertama kali.


Sebuah lagu dari wedding singer pun mengalun, seiring dengan langkah istri dan mertuanya tersebut.


Semua orang tampak bahagia dan melempari area tengah dengan kelopak bunga. Lea tersenyum pada semua yang hadir. Dan meski telah sering melihat Lea berdandan, namun sentuhan makeup artis kali ini benar-benar membuat Daniel merasa takjub.


Lea terlihat begitu cantik dimatanya. Terlebih ia membandingkan dengan saat mereka menikah dulu. Dimana Lea hanya mengenakan riasan seadanya. Bahkan terkesan seperti menikah dengan bukan pria kaya. Mungkin yang menikah dengan pria sederhana di luar sana, dandannya lebih wah ketimbang Lea saat itu.


"Tarik nafas, bro."


Seloroh Ellio dengan nada menggoda dari arah belakang. Daniel hanya tersenyum dan menarik nafasnya dalam-dalam. Richard dan Lea terus melangkah dan semakin mendekat.


Ketika telah tiba di muka, Richard menyerahkan Putri tunggalnya itu kepada Daniel. Kemudian diadakanlah sebuah prosesi yang mirip dengan pengajuan pertanyaan. Bersediakah Daniel mendampingi Lea selamanya dan begitupun sebaliknya.


Ini hanya sebagai simbolis saja, kemudian mereka sama-sama memasangkan ulang cincin pernikahan di jari pasangan mereka. Tepuk tangan dan sorak-sorai pun memecah di tempat tersebut.


Lea sempat sedikit menitikkan air mata, sebab pernikahan impiannya kini telah terwujud. Ia jadi punya kenangan dan cerita yang bisa ia simpan untuk anak-cucunya kelak. Sementara Daniel merasa lega sebab hutangnya telah terbayarkan.


Meskipun menikah secara sederhana itu tidak ada salahnya. Dan lebih baik, ketimbang memaksa pesta besar tetapi uangnya dari hasil meminjam sana-sini.

__ADS_1


Tetapi kali ini Daniel mampu dan memiliki biaya untuk itu. Jadi apa salahnya untuk merayakan, sebab ini akan dikenang seumur hidup mereka nantinya.


***


"Saya tidak pernah tau kalau saya memiliki seorang anak."


Hadirin mendengarkan Richard berbicara, sambil duduk di tempat masing-masing. Mereka saat ini tengah menikmati hidangan pembuka sambil mendengarkan agenda sambutan dari orang-orang terdekat mempelai.


"Tapi hari ini saya mengantarkan anak saya untuk menikah dengan laki-laki yang dia cintai. Laki-laki yang saya harap akan menjaga anak saya selamanya, dengan segenap jiwa raga dan cinta kasih yang dia miliki. Laki-laki yang saya harap tidak akan menyakiti dan mengkhianati anak saya, walau apapun yang terjadi."


Hadirin terdiam dan larut dalam suasana yang penuh haru. Sementara Lea dan Richard sudah sedikit tertunduk sejak tadi.


Tentu saja karena Richard tak sedang bercanda. Ia tengah menyampaikan isi hati dan harapannya sebagai seorang ayah.


***


Beberapa saat berlalu.


"Daniel adalah sahabat yang sangat saya sayangi, selain Richard."


Ellio gantian berujar, mewakili pihak Daniel.


"Dia adalah laki-laki yang bisa menjaga istri serta anaknya dengan baik. Dia juga sangat menyayangi keluarga kecilnya. Dan melalui pembicaraan ini saya berharap. Bahwa Daniel akan terus menjadi seperti itu, dan tidak berubah meski waktu nanti akan bergerak menjauh. Saya sangat berharap rumah tangga yang dia jalani akan selalu berjalan mulus tanpa hambatan." Ellio menjeda sedikit ucapannya dengan menarik nafas.


"Saya juga harap, Lea menjadi semakin dewasa kedepannya. Dan semakin bisa bekerjasama dalam rumah tangga. Itu saja harapan dari saya, selain Daniel berhenti ngorok kalau tidur."


"Heh, sat. Yang ngorok itu elo ya, gue mana pernah." celetuk Daniel seolah hendak melempar piring ke kepala Ellio..


Semua yang hadir di tempat itu pun kini tertawa-tawa. Ellio memang sangat susah untuk diajak serius. Seserius-seriusnya ia, pasti ada saja ujungnya yang membuat orang menjadi tertawa. Padahal semua yang hadir sudah larut kedalam perasaan yang kian emosional, setelah tadi Richard juga melakukan hal serupa.

__ADS_1


Satu demi satu sambutan dari ibu dan teman-teman Lea pun terdengar di tempat tersebut. Suasana pernikahan itu tak hanya sekedar makan, tapi juga penuh dengan pengharapan.


Setelah sambutan, kembali terdengar nyanyian dari wedding singer. Dan tentu saja hal tersebut menambah syahdu suasana.


__ADS_2