
Di sepanjang perjalanan pulang, Daniel dan Lea lebih banyak diam. Mereka bahkan masih terlihat menyeka air mata sesekali.
Lea tak pernah menyangka jika takdir hidupnya akan serumit ini. Ia dilahirkan tanpa ayah, hidup dalam kesusahan, jatuh ke tangan pria yang sangat sulit jatuh cinta.
Lalu ketika cinta sama-sama menghampiri keduanya, mereka harus dihadapkan pada kenyataan yang pelik ini. Kenyataan jika pria yang ia cintai, adalah sahabat dari ayah kandungnya sendiri.
Richard memang salah, namun tak bisa terlalu disalahkan. Dia seorang ayah, meski baru mengenal puterinya dalam beberapa waktu belakangan ini.
Daniel adalah sahabat yang ia kenal sejak kecil, ia yang tau segala kebaikan dan keburukan yang dimiliki pria itu. Adalah sebuah ketakutan terbesar, ketika seseorang yang telah kita ketahui baik buruknya. Tiba-tiba jatuh cinta pada darah daging kita sendiri.
Ketakutan Richard sangatlah beralasan. Mengingat Lea masih begitu muda, sedang Richard tahu bagaimana bejatnya laki-laki. Meski ia tahu jika Daniel memiliki banyak sisi baik, namun ia juga tak lantas begitu buta dengan sisi tabu dari sahabatnya itu. Ia hanya berusaha melindungi anaknya, dari segala kemungkinan buruk.
Namun kini semua telah berakhir, Richard ingin belajar mempercayai kesungguhan Daniel. Ia berharap sahabatnya itu tidak akan pernah menyakiti Lea.
***
"Mas, badan mas koq panas."
Lea bertanya ketika tanpa sengaja ia menyenggol lengan suaminya, yang hendak memegang persneling.
"Aku nggak apa-apa koq." jawab Daniel lalu kembali fokus ke jalan.
"Pelan-pelan aja mas." ujar Lea kemudian.
"Iya." jawab Daniel.
Pria itu pun menurunkan kecepatan, lagipula sebentar lagi mereka akan tiba di penthouse.
***
"Mas, mas sakit ya?"
Lea kembali bertanya pada Daniel, ketika mereka telah tiba di lobi dan masuk ke dalam lift. Daniel kemudian menghela nafas dan menjawab.
"Aku nggak apa-apa, Le. Nggak usah mikir macem-macem, ok?"
Lift naik ke atas, tak lama mereka tiba di unit dan langsung melangkah keluar. Namun tiba-tiba Daniel tampak sempoyongan.
"Mas, tuh kan."
Lea menjadi begitu cemas, Daniel masih berusaha tertawa di depan istrinya itu. Namun kini Lea memaksa sang suami untuk duduk di sofa.
"Udah, duduk dulu disini kamu." ujarnya dengan nada mirip emak-emak yang tengah marah.
"Le, kamu mirip emak-emak." ujar Daniel.
"Emang bentar lagi aku jadi emak-emak. Liat aja ntar aku sein kanan, puter balik di jalur verboden."
Lea berkata dengan nada sewot, membuat Daniel kian tertawa-tawa. Perempuan itu segera mengambil air putih dan menyerahkannya pada sang suami.
"Nih mas minum dulu."
Daniel meminum air tersebut.
__ADS_1
"Yang banyak." ujar Lea sambil melotot.
"Enek, Lea."
Lea diam, namun matanya masih melihat wajah sang suami. Membuat Daniel akhirnya mengalah dan meminum air tersebut sampai habis.
"Kamu mau makan nggak?" tanya Lea.
"Ntar aja, mau mandi dulu aku." ujar Daniel.
"Ok."
Daniel mengambil nafas panjang sejenak, sesaat setelahnya ia pun naik ke atas untuk mandi.
***
Beberapa saat berlalu, suasana sudah sedemikian tenang. Lea pergi ke dapur untuk membuat makan siang. Karena memang hari pun telah beranjak meninggalkan pagi.
Daniel tak jadi berangkat ke kantor lantaran sudah keburu terlambat. Lagipula suasana hatinya masih naik turun, pasca tadi bertemu dengan Richard. Ia butuh mengistirahatkan diri sejenak.
"Mas, ayo makan."
Lea mengetuk pintu kamar Daniel ketika semua telah siap, namun tak ada jawaban.
"Mas." Lea berujar sekali lagi.
Ia mencoba membuka pintu, dan ternyata pintu tersebut memang tidak terkunci. Segera saja Lea masuk, dan menemukan Daniel yang tengah tertidur lelap.
"Mas."
"Mas?"
Lea meraba kening Daniel.
"Ya ampun mas, panas banget badan kamu."
Buru-buru Lea pergi ke bawah, mengambil air dingin dan juga sapu tangan dari dalam lemari kamar. Segera ia mengompres pria itu dan mencoba membangunkannya.
"Mas."
Daniel belum juga bergeming, namun nafasnya masih terdengar. Tanpa basa-basi Lea segera turun, mencari kotak P3K. Ada, namun obatnya yang tidak ada. Hanya ada kasa dan perban di sana.
"Mas Dan nggak pernah nyimpen obat apa ya, itu kan penting." ujarnya dengan nada cemas.
Perempuan itu beralih ke kamar, mengambil dompet dan masuk ke dalam lift. Ia menuju ke bawah, tepatnya pada bagian keamanan. Di sana ia bertanya mengenai di mana ia dapat menemukan apotek.
Pihak keamanan menginformasikan jika Lea harus keluar dan mengambil arah kanan, ada sebuah apotek kira-kira 500 meter jaraknya dari gerbang depan. Lea pun bergegas, ia berlarian namun teringat jika tengah mengandung. Akhirnya dengan berat hati ia pun berjalan perlahan, meski hatinya sangat cemas memikirkan kondisi Daniel.
Selesai membeli obat, perempuan itu segera pulang. Namun ketika sampai di halaman penthouse, tiba-tiba saja Daniel muncul dan langsung memeluknya secara serta merta.
"Lea, dari mana aja kamu?" ujarnya cemas, namun ia terlihat lemas. Karena saat ini dirinya terserang demam.
"Mas, aku dari apotik. Beli obat buat mas."
__ADS_1
"Hhhh."
Daniel menghela nafas, terlihat jelas jika saat ini ia sedang membuang kepanikan.
"Aku udah mikir yang macem-macem, Lea. Tadi aku bangun, aku coba cari kamu tapi kamu nggak ada. Aku panik, takut kalau Richard berubah pikiran dan bawa kamu pergi."
"Nggak mas, kamu nggak usah sampe ketakutan gitu."
Daniel menarik nafas lagi dan lagi. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu kembali memeluk Lea. Mereka kemudian bersiap masuk, namun tubuh Daniel sedikit limbung.
"Mas." Lea menahan tubuh sang suami.
Sekuriti yang melihat pun, langsung membantu mereka. Daniel dan Lea diantarkan sampai ke depan lift. Beruntung tak terjadi apa-apa pada Daniel. Setibanya di atas Lea langsung memberinya obat.
"Nih, mas minum dulu...!"
Tanpa menunggu lebih lama, Daniel segera meminum obat penurun panas tersebut. Pria itu kini menatap sang istri yang duduk di pinggiran tempat tidur.
"Aku udah panik banget tadi, karena aku mimpi berantem lagi sama Richard. Pas bangun, kamu nggak ada."
"Gimana nggak mimpi buruk, badan kamu nya panas banget gitu." ujar Lea.
"Maaf ya, jadi nyusahin." ujar Daniel.
"Nggak apa-apa mas, namanya juga suami istri. Kalau nggak saling neyenengin, ya saling nyusahin, saling nyebelin."
"Kamu belakangan ini mendadak jadi dewasa banget, belajar dari mana?" tanya Daniel seraya tersenyum tipis pada Lea.
"Banyak." jawab Lea.
"Aku curhat sama psikolog di aplikasi chat dokter. Aku mengadukan semuanya, termasuk soal menyikapi pernikahan. Ada juga yang aku baca melalui blog di Google dan lain-lain. Aku emang harus belajar banyak kan, biar bisa mengimbangi mas." lanjutnya lagi.
Kali ini Daniel benar-benar tersenyum.
"Cie yang mau jadi ibu, belajar terus." ujarnya kemudian.
Lea tersipu malu mendengar semua itu.
"Kan aku jadi ibu juga gara-gara mas, mas yang ngehamilin aku."
"Oh ya, koq gara-gara aku?. Orang gara-gara itu."
Daniel melirik ke bawah, ke arah juniornya yang bersembunyi di balik celana.
"Ih, mas Dan tuh ganjen banget deh."
Lea mengambil bantal guling dan memukul area tersebut.
"Le, Le, Le. Jangan, Le. Nanti dia ngambek nggak mau bangun, kamu juga nanti yang rugi. Ini enak loh." ujar Daniel lagi.
"Ih, lagi sakit aja masih nyebelin. Dasar mesum, kamu mas. Aku tuh masih di bawah umur tau nggak, aku masih polos."
"Masih polos tapi bunting."
__ADS_1
Lea memukul bahu dan tubuh suaminya itu dengan guling. Daniel tertawa-tawa, lalu ia pun menarik Lea ke dalam pelukannya.