Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Lepas Kangen


__ADS_3

"Mas."


Lea mencium bibir Daniel dengan sangat, dan begitupun sebaliknya. Beberapa hari terpisah jarak membuat gairah didalam diri mereka seperti sebuah bom waktu. Dan inilah saatnya untuk meledak.


"Mas, hmmh."


"Aku kangen sama kamu Lea, hmmh."


Daniel mencium bibir Lea, sambil mengarahkan tangannya ke area sensitif perempuan itu.


"Kamu kangen kan sama aku, bagian ini kangen kan sama punya aku, hmm?"


"Ssshh, iya. Ah mas, hmmh."


Daniel mengusap perut istrinya, membuat gerakan memutar-mutar dan menurunkan usapan itu ke area sensitif Lea. Lalu menaikkannya kembali ke area perut, hingga dada dan leher. Membuat Lea melayang di udara.


Dalam sekejap Keduanya sudah terlihat sangat berantakan. Dress Lea sudah naik hingga ke dada, sementara jas dan pakaian Daniel di bagian atas sudah tertanggal sepenuhnya.


Hanya sisa bagian bawah lagi, itupun resleting sudah diturunkan sejak tadi. Membuat sesuatu yang tegang, mencuat di bawah sana.


Pemanasan terus berlanjut, hingga terjadilah sebuah penusukan yang membuat keduanya tenggelam dalam kenikmatan. Untuk selanjutnya, aktivitas dipenuhi oleh erangan, racauan dan juga ******* di setiap saat.


***


Suasana terasa begitu jernih dalam pandangan. Seakan tak ada kabut sedikitpun yang menutupi dunia.


Lea menengadah menatap langit-langit kamar dengan wajah yang begitu bahagia, begitupula dengan Daniel. Baru saja mereka berdua terhempas, setelah tubuh mereka sama-sama menegang dan mendapatkan pelepasan yang begitu nikmat.


"Mas."


"Hmm?"


"Aku sayang sama kamu."


Daniel menarik seutas senyuman tipis. Pria itu menoleh, ia mencium kening sang istri sambil mengelus perutnya.


"Mas ngapain aja selama aku tinggalin jalan?"


"Mmm." Daniel tampak berfikir.


"Banyak hal." jawabnya kemudian.


"Misalnya?"


"Ya, ngerjain kerjaan kantor."


"Terus?"


"Menemui klien, mengadakan rapat penting, membangun peradaban, membantu Spiderman, Ironman dalam membasmi kejahatan."


Lea tertawa kecil.


"Tapi nggak gedein perut cewek lain kan?" tanya nya sambil menoleh dan menatap Daniel. Lagi-lagi Daniel menarik senyum tipis.


"Nggak dong, perut kamu doang udah." ujarnya lalu kembali mencium pipi Lea.


"Janji ya mas, aku takut banget soalnya."


"Takut kenapa?"


"Aku abis liat trailer serial gitu di situs nonton online. Tentang suami yang ih amit-amit, manipulatif banget terus selingkuh."

__ADS_1


"Oh ya?"


"Iya, kesel banget aku. Baru liat trailernya doang, udah emosi jiwa aku mas."


Daniel tertawa kecil.


"Mana tokoh istrinya itu lagi hamil juga di serial itu. Sumpah pengen aku pecahin itu kepala lakinya."


"Yang main siapa sih?" tanya Daniel.


Lea lalu menyebut nama beberapa cast.


"Wah, jangan nonton deh kamu. Soalnya akting mereka tuh bagus-bagus dan menjiwai banget. Ntar ubun-ubun kamu berasap, terus prasangka buruk lagi sama aku." ujar Daniel sambil membelai rambut sang istri.


"Iya sih, ngeliat trailernya aja aku udah emosi."


Daniel tertawa.


"Lagian orang selingkuh tuh ngapain ya mas?"


Daniel menaikkan bahunya.


"Mas pernah selingkuh nggak, selama hidup Dari pacar-pacar mas selama ini?."


"Nggak pernah." jawab Daniel.


"Emang iya?" tanya Lea tak percaya.


"Ya terserah sih, mau percaya apa nggak. Emang aku nggak pernah gitu koq." jawab Daniel lagi.


Lea memberikan lirikan nakal, seakan ia memang masih belum meyakini perkataan sang suami.


"Mau kamu kasih aku lirikan kayak gimana pun Lea, kalau aku nggak ngerasa ya nggak bakal."


"Iya deh, aku percaya." ujar Lea seraya tersenyum.


"Ya kamu nilai sendiri lah, aku sih nggak mau memuji diri terlalu banyak." ujar Daniel.


"Tapi kamu nggak tergoda gitu mas?"


Lea menatap sang suami.


"Padahal ayah sama om Ellio kan doyan cewek sana-sini." lanjutnya kemudian.


"Ellio itu main cewek, kalau lagi nggak pacaran doang. Tapi kalau dia punya pacar, dia lumayan setia koq. Cuma mulutnya aja yang kadang sok-sok an punya cewek banyak, biar dikata Casanova."


"Emang iya, bukannya dia sama siapa aja ya mas?"


"Kalau lagi nggak punya cewek yang mau dia seriusin, ya dia main-main sama siapa aja. Dan kebanyakan cewek-cewek yang dia buat main-main itu, adalah tipikal cewek yang juga sekedar mau have fun doang. Mereka juga bukan cewek yang mendambakan hubungan yang serius."


"Kayak playgirl gitu?" tanya Lea.


"Iya, buaya betina lah." ujar Daniel.


"Biasanya om Ellio itu mau serius sama cewek yang kayak apa?" tanya Lea lagi.


"Ya, yang dia cinta." jawab Daniel seraya menatap Lea.


"Berarti dia harus merasa klik dulu gitu?"


"Ya harus dong, kalau nggak cinta ya akan sulit untuk serius. Gimana mau serius, kalau ngeliatnya aja udah nggak suka."

__ADS_1


"Tapi mas mau nikah serius sama aku, walau nggak cinta."


"Tapi kan sekarang aku cinta." ujar Daniel.


"Berarti cinta itu bisa di usahakan dong?"


"Tergantung."


"Koq tergantung?"


"Ya tergantung orangnya mau apa nggak mengusahakan itu, dan yang di usahakan mau apa nggak menerimanya."


Lea diam.


"Intinya harus tetap ada timbal balik." ujar Daniel lagi.


"Iya sih."


"Kalau Ellio itu, tipikal orangnya yang percaya sama cinta pada pandangan pertama. Kalau dari awal udah nggak ada bibitnya, dia nggak akan mau capek-capek mengusahakan semua itu. Makanya dia bener-bener nyari pasangan serius itu, yang udah klik sejak awal sama dia."


"Pernah berapa kali om Ellio menjalin hubungan serius?"


"Mmm, adalah beberapa kali." jawab Daniel.


"Kenapa nggak berhasil?"


Daniel menghela nafas.


"Rumit sih, Ellio itu selalu jatuh cinta sama cewek yang kebebasannya selalu nggak bisa di genggam secara penuh. Sedangkan Ellio itu orangnya masih yang cemburunya gede, dan dia bersifat selalu ingin melindungi orang yang dia sayang. Baik sih tujuannya, tapi untuk cewek-cewek yang nggak suka di kekang, mereka akan merasa hubungan itu kayak penjara."


"Iya sih, aku aja nggak mas izinkan jalan-jalan, udah ngerasa kayak gimana banget. Apalagi kalau mas juga cemburu parah, nggak boleh ini dan itu."


"Nah, Ellio tuh masih kayak gitu. Padahal udah sering aku sama Richard nasehatin. Ya berubah paling 10%, sisanya masih aja. Makanya dia sering banget ditinggalin sama cewek. Udah tau itu penyebabnya, pas punya cewek masih terulang lagi. Udah kayak mesin pengulang otomatis."


"Kalau ayah, gimana?" tanya Lea.


"Richard." Daniel agak menjeda ucapannya.


"Aku kenal dia dengan baik dari kecil. Tapi kalau untuk urusan hati dan percintaan, aku benar-benar nggak paham sama dia. Apa yang dia butuhkan, apa yang dia cari, aku bener-bener nggak ngerti." lanjutnya.


"Ayah tuh emang playboy dari dulu ya?"


"Sangat." seloroh Daniel sambil tertawa.


Lea pun jadi ikut-ikutan tertawa.


"Diantara kita bertiga, dari dulu, dari jaman masih sekolah. Dia yang paling banyak ceweknya. Kadang cewek-cewek sampe berantem, jambak-jambakan demi ngerebutin Richard."


"Hahaha, serius mas?"


"Serius."


"Terus tanggapan ayah gimana?"


"Di diemin doang udah, ditinggal ke kantin sama dia. Atau ditinggal kemana kek."


"Sangat tidak bertanggungjawab ya." ujar Lea.


"Ya begitulah di Bambang satu itu." ujar Daniel.


"Semoga ayah berubah ya mas, kasihan kak Dian soalnya."

__ADS_1


"Ya mudah-mudahan, apalagi kan sekarang dia punya anak perempuan. Semoga Richard bisa bertobat."


Keduanya saling menatap, lalu tersenyum satu sama lain.


__ADS_2