
Nama Arsenio mendadak viral di jagat Twitter. Setelah seorang wanita yang berlindung di balik username @wanitatanpanama. Mengunggah sebuah thread yang menyatakan jika dirinya adalah seorang mantan sugar baby.
Wanita tersebut mengatakan jika ia dididik untuk mengejar pria kaya sejak kecil. Tanpa diajarkan bagaimana menjadi wanita kaya dari hasil kerja keras sendiri. Akibatnya ia tumbuh menjadi gadis yang ambisius dan menganggap bahwa, mendapatkan pria kaya adalah sebuah goals yang harus dicapai.
Sampai-sampai, ia tak peduli apakah pria kaya tersebut merupakan lelaki single ataupun suami orang. Muda ataupun tua, semuanya dikesampingkan demi bisa hidup enak.
Lalu ia menyebut nama Arsenio, seorang yang ia tulis sebagai relawan di sebuah lembaga perlindungan dan pemberdayaan perempuan.
Ia juga mengatakan jika Arsenio dan para anggota yayasan tersebutlah, yang telah merubah cara pandangnya mengenai hidup.
Ia yang berkecimpung di dunia simpanan sebagai seorang sugar baby itu tersadar, jika perempuan hanya meminta dan mengharap kekayaan dari laki-laki. Maka dengan mudah perempuan itu akan dianggap sebagai sampah.
Sebab laki-laki akan cenderung meremehkan jika mereka sudah tidak tertarik lagi dengan kita. Akibatnya kita akan melakukan berbagai cara demi mengemis agar laki-laki itu tetap memilih kita. Semata karena kita butuh uang dari laki-laki tersebut.
"Dia (Arsen). Adalah satu diantara relawan yang membuka pandangan mata saya. Tentang betapa seorang wanita haruslah mandiri."
"Wanita harus bisa membangun kekayaannya sendiri, agar tidak diremehkan. Sebab cinta bisa saja luntur, dan lelaki kaya bisa saja langsung berpindah pada lain hati dalam sekejap."
"Mereka punya uang, punya kekuasaan. Ada banyak wanita-wanita fakir uang yang akan mendekat pada mereka, demi bisa hidup enak. Lalu kita pun akan ditinggalkan."
Begitulah bunyi penggalan dari thread tersebut dan masih banyak lagi. Karena di ucapkan secara gamblang, dan wanita tanpa nama itu menspill akun yayasan yang memberdayakannya. Maka netijen pun kepo, lalu berbondong-bondong menuju ke sana.
Mereka mencari Arsenio dan langsung menemukan pemuda itu. Ditambah parasnya yang tampan dan juga manis, Arsenio mendadak kebanjiran followers terutama dari kaum hawa.
Umumnya mereka salut dan sangat mengagumi apa yang Arsen dan teman-temannya telah lakukan.
"Sen, ini lo lagi viral banget nih."
Lea berkata pada Arsenio yang tengah mengambil minuman di kulkas. Saat ini mereka semua tengah berkumpul di rumah Richard.
Karena seperti biasa Richard mengadakan gathering dadakan, dan semua yang ia undang harus datang. Sekedar untuk menemani kesepiannya dan menemani ia makan.
"Kenapa, Le?"
Reynald bertanya pada Lea, sementara Arsen kini melihat handphone. Daniel, Richard dan Ellio menongolkan kepala karena kepo.
"Viral kenapa?" tanya Ellio penasaran.
Lea menunjukkan mulai dari berita, hingga thread yang tengah trending tersebut.
__ADS_1
"Nah loh, jadi terkenal kamu." ujar Richard pada keponakannya itu.
Semua mata kini tertuju pada Arsen. Sementara Arsen sendiri tak bereaksi apa.
"Koq lo datar, sih?" tanya Lea pada Arsen.
"Ya terus gue harus gimana, Le?. Loncat-loncat nembus plafon gitu?"
Semua orang pun kini tertawa, tak terkecuali Lea.
"Lagian juga gue kan udah nggak di yayasan itu lagi sekarang. Gue takut ada yang emosi dan nyelakain. Iya kalau gue yang dicelakai, gue sih nggak masalah. Kalau papa, atau kalian?. Kan gue jadi jadi ngerasa bersalah ujungnya."
"Udah kamu tenang aja." Daniel mencoba menenangkan pemuda itu.
"Kita akan saling jaga koq." lanjutnya lagi.
"Iya, Sen. Nikmatin aja hidup, nggak usah banyak pikiran." Ellio menimpali.
"Papa kamu dan om, akan selalu saling menjaga. Termasuk melindungi kamu dari bahaya apapun."
Richard berkata sambil menatap keponakannya tersebut. Sama halnya seperti Reynald, yang matanya tak terlepas menatap Arsen.
***
Meski terbilang kecewa atas perilaku Clarissa, namun sampai saat ini Marvin belum juga membuka hati untuk Helen.
Meski telah di sodor-sodorkan oleh orang tuanya dan meski Helen ada di sisinya setiap waktu, namun Marvin masih tetap saja tak memiliki rasa apa-apa.
"Kamu yang sabar ya, Helen."
Ibu Marvin menasehati perempuan itu. Sebab ia datang memenuhi undangan untuk kembali makan malam bersama. Namun ternyata Marvin tidak datang.
Marvin sendiri saat ini tengah sibuk menyusun beberapa rencana jahatnya, untuk menjatuhkan lawan-lawan yang ia anggap berbahaya bagi kelangsungan perusahaannya.
"Saya, sabar koq om, tante." jawab Helen sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu, om dan tante lega sekali mendengarnya." Ayah Marvin menimpali.
Mereka kemudian makan malam hanya bertiga saja. Helen terlihat biasa, meski dalam hatinya sangat sesak. Ia telah jatuh cinta pada Marvin sejak lama, namun Marvin hanya menganggapnya sebagai teman.
__ADS_1
Sakit memang, tapi ia tak akan pernah menyerah. Apalagi untuk orang seperti Marvin, ia berjanji untuk benar-benar memperjuangkan pria itu.
Beberapa saat berlalu, makan malam tersebut pun usai. Helen kemudian pamit untuk pulang. Helen masuk ke dalam mobil, dan mobil itu meninggalkan pelataran parkir kediaman orang tua Marvin.
Tiba di sebuah jalan yang cukup sepi, tiba-tiba Helen teringat jika ia harus membeli sesuatu di minimarket.
"Pak di jalan dekat sini ada minimarket kan ya, kalau nggak salah." Ia bertanya pada supir.
"Ia mbak, ada koq di ujung situ. Mbak mau mampir kesana?"
"Iya pak, mau beli pengharum ruangan." jawab Helen.
"Oh ya udah."
Supir itu sedikit menaikkan kecepatan, hingga tak lama mereka pun tiba di minimarket yang dimaksud. Helen membeli pengharum ruangan, kemudian keluar.
"Mbak, saya ke toilet dulu deh." sang supir berujar.
"Oh oke." jawab Helen.
Maka sang supir buru-buru menuju toilet minimarket. Sedang Helen kini menunggu sambil berdiri di dekat mobil.
"Heh, perempuan gatel."
Seseorang tiba-tiba datang dan langsung menjambak rambut Helen. Helen kaget sekaligus heran karena merasa tak mengenalnya.
"Gue tau lo kegatelan sama Marvin kan?. Gue juga tau kenapa tuanya Marvin menjodohkan elo sama dia." Perempuan yang menjambak rambut Helen itu pun berkata.
"Lepasin, sakit."
Helen mencoba memberontak dan menarik rambutnya. Namun seperti sudah kesetanan, Clarissa makin mempererat cengkraman tangannya di rambut gadis itu..
"Gue hamil anaknya Marvin. Jadi elo nggak usah kegatelan lagi. Gue udah ikutin lo dari awal dan jangan sampe lo gue habisi, terus gue buang ke kali." ancamnya.
"Buuuk."
Clarissa membanting tubuh Helen hingga menghentak mobilnya sendiri.
"Sekali lagi lo berusaha mendekati Marvin, gue akan buat lo menyesal." ujarnya lagi.
__ADS_1
Tak lama supir Helen kembali dan Clarissa langsung pergi meninggalkan tempat itu.