Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Sebuah Perkara Mengejutkan


__ADS_3

Lea berjalan di pelataran kampus, sambil sesekali memegangi perutnya yang membuncit. Seisi kelasnya sudah tau jika ia telah menikah, dan lagi mereka adalah mahasiswa dan mahasiswi yang kebanyakan mengurusi urusan pribadi ketimbang urusan orang lain.


Tak ada mode gosip-menggosip ditempat tersebut, tak seperti semasa SMA nya dulu. Dimana mulut para siswa nya lebih mirip mulut emak-emak tukang ghibah, yang biasa nongkrong di depan rumah.


Padahal mereka semua anak orang kaya, biasanya anak-anak orang kaya tak banyak mengurusi kehidupan orang lain. Karena sibuk mengejar prestasi dan mencari cara bagaimana mempertahankan kekayaan keluarga.


Mungkin itulah bedanya antara si kaya dari lahir karena usaha orang tua di jalan yang benar. Dengan yang kaya hasil korupsi atau bisnis culas orang tua. Kesan noraknya masih kental terasa.


"Bumil ngerujak."


Ariana berteriak pada Lea, ketika ia sedang nongkrong di tukang buah. Ini sudah pukul 9 pagi, tapi masih terlalu dini untuk memakan rujak yang asam.


"Gila lo jam segini ngerujak." seloroh Lea seraya mendekat. Saat itu Ariana tengah bersama Cindy, salah satu teman sekelas mereka. Posisi mereka tepat disisi kiri gerbang masuk kampus.


"Ngidam gue." ujar Ariana seraya tertawa.


"Nujuh bulan ya wak." seloroh Cindy. Ariana dan Lea tertawa.


"Adisty mana?" tanya Lea kemudian.


"Lagi kejebak macet sama Rama." jawab Ariana, namun dengan senyum penuh maksud.


"Mereka pergi berdua?" tanya Lea.


"Lo nggak tau rumornya?" Ariana balik bertanya.


"Ih gue mah kagak tau."


Lea langsung mencari bangku plastik dan duduk disisi temannya itu.


"Mereka emang lagi deket gitu, Adisty cerita sama gue."


Mereka pun lalu tersenyum, Lea sendiri senang jika Adisty dekat dengan Rama. Karena Rama merupakan pemuda yang baik, sama seperti Iqbal maupun Dani.


"Ini neng rujaknya." Si abang tukang rujak menyerahkan pesanan Ariana dan Cindy.


"Nih Le." ujar Ariana.


"Duh ngiler sih gue, tapi masih pagi. Mana gue abis makan banyak buah tadi di rumah. Takut makin lancar pencernaan."


"Udeh nggak apa-apa, ayo." Ariana kembali menjadi racun, Lea pun tak kuasa menolak.


Saat tengah asik memakan rujak tersebut, tiba-tiba Arsenio melintas. Ia menatap Lea cukup lama dan begitupun sebaliknya. Sesaat kemudian Arsenio berlalu, seperti orang yang tidak mengenali Lea sama sekali.


"Lo ada masalah apa sih, sama dia?" tanya Ariana pada Lea.


Ia pernah setidaknya sekali, mendengar desas-desus yang terjadi antara Lea dan juga senior mereka tersebut.

__ADS_1


"Ya gitu deh, dia pernah nembak gue." ujar Lea.


"Dia ngira lo single gitu?" tanya Ariana lagi.


"Ember." jawab Lea.


"Mana dia nembak gue, ternyata abis nolak Vita. Tau kan, teman gue yang temennya Nina juga."


"Iya tau gue."


"Ternyata Vita tuh suka sama Arsen. Ngeliat lah dia pas si Arsen ngajak gue mojok, dan denger pas dia nembak gue."


"Vita nya marah sama lo?"


"Banget, dia bilang gue sok kecakepan lah. Segala cowok mau gue ambil. Padahal gue kan nggak tau ya, kalau si Arsen itu suka sama gue. Berinteraksi aja jarang, jalan bareng juga nggak pernah. Lebih seringan gue sama Iqbal malah."


Ariana dan Cindy memperhatikan Lea secara seksama.


"Sekarang lo diem-dieman gitu sama si Arsen?" tanya Cindy.


"Ya gue diemin, abisnya dia nggak terima waktu itu. Kalau gue bilang, gue udah nikah dan lagi hamil."


"Lah kocak." ujar Ariana.


"Iya dan yang bikin gue sebel itu, dia mengira gue ini diperdaya sama laki gue. Dia membandingkan gue sama orang-orang di komunitasnya dia. Dia bilang gue hanya terperdaya sama harta nya mas Dan. Apa banget nggak sih tuh orang?"


"Mungkin gini loh, dia mikirnya lo itu masih muda. Terus lo nikah sama yang taroklah om-om ya buat seumur kita. Si Arsen mungkin menilai lo itu nggak cinta sama laki lo, cuma silau di harta doang. Dengan latar belakang komunitas dia itu, yang sering menyelamat cewek. Dia jadi over percaya diri Sam persepsi nya dia, tentang lo." Ariana menimpali.


"Gue juga mikirnya ke arah sana sih." ujar Lea.


"Tapi ya, lama-lama gue nggak nyaman. Mau ngadu ke laki gue, takut laki gue mencak-mencak. Kan gue nggak enak jadinya."


"Lo jangan apa-apa ngadu, Le. Laki lo aja bentukannya ngeri gitu, biarpun ganteng. Gede, tinggi, atletis, keliatan suka berantem orangnya. Nggak bisa pake kepala-kepala dingin gitu, kalau udah marah."


"Iya makanya gue berusaha nggak mencari masalah, takut sama laki gue. Takut kalau dia ngamuk ke orang." jawab Lea lagi.


"Heh, brengsek sini lo...!"


Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari suatu sudut. Mendadak Lea, Ariana dan Cindy pun menoleh. Ternyata Sharon yang tengah berteriak pada Nina.


"Nina?" Lea berkata lalu beranjak. Ariana dan Cindy pun ikut-ikutan.


"Pak jangan diberesin dulu, belum kelar." ujar Cindy pada si abang tukang rujak.


"Ok neng." ujar si tukang rujak itu kemudian.


Mereka kini berlarian ke arah Nina, yang tampak tengah di rundung oleh Sharon.

__ADS_1


"Apa-apaan nih?"


Nina melawan pada gadis itu. Ia mengingat Sharon sebagai seseorang yang pernah bermasalah dengan Lea. Nina terkejut mengapa gadis itu bisa berteriak padanya, bahkan menyeret tangannya.


"Woi."


Lea berteriak pada Sharon dan Sharon pun menyadari sesuatu.


"Oh jadi dua pelacur lagi bunting." teriak Sharon mengundang perhatian sekitar.


Ia melihat ke arah perut Lea dan juga Nina. Sementara Maya dan Tasya tampak merekam kejadian tersebut.


"Hati-hati lo ya kalau ngomong." Lea mendorong Sharon.


"Heh Lea, gue nggak ada urusan ya sama lo. Gue ada urusan sama si pelacur satu ini."


"Maksud lo apa, bangsat?" teriak Nina dengan penuh emosi.


"Oh berani bilang bangsat ke gue, mulut lo sama kotornya sama nyokap lo ternyata."


"Maksud lo apa bawa-bawa nyokap gue, emang lo kenal sama gue dan nyokap gue?." Nina kembali berteriak.


"Nyokap lo perempuan hina, ngengodain bokap gue sampe bunting elo bangsat."


Sharon mendorong wajah Nina dengan tangannya, menyebabkan Nina hampir terjatuh dan semua yang melihat kejadian itu pun bereaksi.


"Woi hati-hati dong lo." teriak mereka semua kepada Sharon. Sementara Nina terlihat begitu syok, ia benar-benar tidak mengetahui perkara ini.


"Lo semua pada ngebelain anak perempuan nggak bener ini?. Dia dan nyokapnya sudah menghancurkan keluarga gue tau nggak?"


"Ya kalau lo mau marah, marah ke bokap lo lah." teriak Lea.


"Bener, ngapain lo nyalahin Nina. Nina nya aja nggak tau apa-apa."


Ariana ikut berujar dengan berapi-api. Tak lama Adisty, Iqbal, dan yang lainnya tiba dari suatu arah.


"Lo semua sama hina nya tau nggak sama dia, anak pelacur di belain. Untung aja gue nggak kuliah di kampus murahan kayak gini, isinya sampah semua."


"Eh, elo yang sampah nggak tau adab. Bapak lo yang salah, orang yang jadi sasaran." teriak salah seorang mahasiswi.


Adisty, Iqbal, Rama dan Dani bertanya pada sekitar mengenai apa yang terjadi.


"Gue akan viralkan perempuan ini dan lo semua." ujar Sharon lagi.


"Lo juga bakal kita viralkan, bangsat." teriak Lea dan yang lainnya.


"Urusan kita belum selesai."

__ADS_1


Sharon menunjuk wajah Nina, ia dan kedua temannya pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Sementara kini Nina menangis sejadi-jadinya.


__ADS_2